Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 17

Memuat...

Masih nyonya An menimpuk dengan sebutir telur yang lain, yang kali ini mengenai mata kiri si culik, hingga dia gelagapan. Walaupun hanya telur, toh timpukan ini ada cukup keras.

Dalam gusarnya, culik ini lepaskan Siau Hui, dengan tangan kirinya, ia usap mukanya, kemudian ia maju, akan serang si nyonya.

An Toa-nio tidak bersenjata, ia melayani sambil senantiasa berkelit.

Sin Cie sudah bangun, ia telah pungut korekan barahnya, dengan tidak pedulikan lukanya, ia maju, akan serang culik itu, guna bantu nyonya penolongnya. Ia jadi tambah semangat, berulang-ulang ia menikam dengan ilmu tumbaknya Gak Hui.

Karena didesak Sin Cie, culik itu tak bisa desak An Toa- nio seperti bermula, hingga nyonya ini dapat sedikit waktu senggang, sebab mana, ia jadi ingat cita yang Baru saja ia beli untuk Sin Cie. Segera ia keluarkan cita itu dari dalam rantangnya, terus ia lempar kekali kecil didekatnya untuk dibasahkan. Ia pun gunai kesempatan menjumput tiga buah batu, yang dipakai menimpuk, hingga culik itu jadi repot juga, karena mana, Sin Cie tidak sampai kena terlalu terdesak.

Selagi si culik terpaksa mundur, An Toa-nio sudah angkat citanya, untuk dibuka hingga mirip dengan angkin atau sabuk, lalu ia maju lagi, akan dekati orang itu. "Ou Lo Sam!" berseru nyonya ini. "Selagi aku tidak ada dirumah, kau datang menyatroni, kau perhina segala bocah cilik! Adakah kau satu laki-laki?"

Teguran itu ditutup berbareng dengan serangan dengan sepotong cita itu, yang digunakan sebagai joan-pian atau cambuk lemas. Setelah basah, cita itu dapat digunakan bagaikan toya juga.

Culik itu, yang dipanggil Ou Lo Sam, nampaknya sibuk. Ia tendang rubuh pada Sin Cie, lantas ia layani sungguh- sungguh pada si nyonya.

An Toa-nio sedang gusar, ia berkelahi dengan hebat, setelah mendesak, dua kali berhasil ia menyerang dengan toya atau cambuknya yang istimewa itu. Ou Lo Sam tidak sampai terluka, tetapi ia merasakan sakit pada bebokongnya, yang kena terpukul. Karena ini, gerakannya jadi lambat sendirinya.

Masih An Toa-nio mendesak, akan akhirnya, ia dapat libat golok lawan, maka lantas saja ia menarik dengan kaget dan keras! Ou Lo Sam terkejut, tak dapat ia mencekal keras, goloknya terlepas dan terbetot oleh si nyonya, tapi ia tertawa dingin. Ia telah lompat dua tindak, lalu ia kata sambil bersenyum iblis: "Aku adalah orang yang terima pesan dari suamimu! Selama alusku belum buyar, maka ada satu hari yang aku nanti cari pula padamu...!"

Alisnya si nyonya berdiri, ia sahuti ancaman itu dengan sabatan cambuk istimewanya.

Lo Sam telah bersedia agaknya, sebelum serangan sampai, ia sudah putar tubuh dan lari, lari turun gunung dengan lekas.

Melihat orang angkat kaki, An Toa-nio tidak mengejar, hanya ia balik, untuk lekas-lekas lihat Siau Hui dan Sin Cie. Siau Hui tidak terluka, dia melainkan kaget, ia tubruk ibunya lantas ia menangis. Dasar bocah cilik! Sin Cie berlumuran darah, ia diajak pulang untuk lantas dipetali darahnya, sesudah bersih, lukanya diobati, dibungkus dengan rapi. Dia peroleh dua luka, syukur tidak berbahaya; benar ia keluarkan banyak darah tetapi itu tidak sampai membahayakan jiwanya. Ia dipondong, untuk direbahkan di pembaringan.

Sampai disitu, Siau Hui cerita pada ibunya bagaimana, selagi keluar sebentar, ia ketemu Ou Lo Sam, yang terus tawan ia, buat dibawa lari, bagaimana Sin Cie pergoki mereka, lantas bocah itu lawan Lo Sam, untuk tolongi padanya.

"Aku tidak sangka, begini muda usianya, dia berhati mulia, dia gagah sekali," berkata An Toa-nio. "Tak dapat kita berayal pula, aku mesti tolong ia supaya jadi seorang sempurna." Kemudian nyonya ini lanjuti pada puterinya. "Kau pun pergi tidur, sebentar malam kita berangkat."

Siau Hui tidak heran atas kata-kata ibunya itu, ia lantas beristirahat.

An Toa-nio lantas berkemas, ia siapkan dua buntalan, kemudian ia tunggu datangnya sang sore. Habis bersantap, bertiga mereka duduk menghadapi pelita. Nyonya ini tidak kunci pintu, ia tidak jeri.

Benar kira-kira jam dua, diluar terdengar tindakan kaki, yang terus masuk kedalam.

Itulah si gagu, yang telah kembali. Ia bertubuh besar dan keren tapi tindakannya enteng, suatu bukti bahwa kepandaian entengi tubuhnya telah sempurna.

An Toa-nio menyambut sambil berbangkit, ia bicara sama si gagu itu dengan mainkan kedua belah tangannya, dengan mainkan juga mulutnya. Si gagu rupanya mengerti, dia manggut-manggut.

"Mana Cui Siokhu?" Sin Cie tanya. "Apa dia baik?"

"Dia baik, kau jangan kuatir," An Toa-nio menghibur. "Mari, aku hendak omong sama kau."

Nyonya itu masuk kedalam kamar dimana ia duduk atas pembaringan.

Sin Cie mengikuti, si nyonya lantas tarik tangannya.

"Sin Cie!" katanya dengan manis-budi, "begitu lihat kau, aku suka padamu, dari itu, aku pandang kau sebagai anak sendiri. Tadi kau telah berkorban untuk Siau Hui, itulah budimu yang aku tidak nanti lupakan. Malam ini kami hendak pergi kesuatu tempat jauh, maka itu, pergilah kau ikut empeh gagu."

"Tidak, aku ingin ikut kau bersama," kata Sin Cie.

"Aku pun tidak tega berpisah dari kau," terangkan An Toa-nio. "Aku ingin empeh gagu bawa kau kepada satu orang, dia adalah guru Baru namanya saja dari Cui Susiokmu. Baru beberapa bulan Cui Susiok belajar silat pada orang itu, ilmu silatnya sudah liehay sekali. Locianpwee itu ada punya ilmu silat yang tidak ada tandingannya, dari itu aku ingin kau berguru kepadanya."

Mendengar itu Sin Cie berdiam, agaknya dia ketarik. "Seumur hidupnya, locianpwee itu cuma terima dua

murid," An Toa-nio terangkan lebih jauh. "Itu adalah

kejadian pada belasan tahun yang lampau. Meskipun demikian, masih belum tentu dia suka menerima murid pula. Tapi aku ada berbakat baik, hatimu pun mulia, aku percaya dia pasti akan suka padamu. Empeh gagu ada bujangnya locianpwee itu, aku ingin dia ajak kau untuk minta locianpwee terima padamu. Maka pergilah kau dengan baik-baik. Umpama kejadian locianpwee tidak suka terima kau, empeh gagu nanti bawa kau kembali padaku."

Sampai disitu, Sin Cie telah ambil putusannya. Dia manggut.

"Bagus!" kata nyonya An. "Sekarang baik kau ketahui tabiatnya locianpwee itu. Dia adalah seorang aneh. Umpama kau tidak suka dengar perkataannya, lantas dia tidak sukai padamu. Umpama kau terlalu dengar kata, dia juga akan cela kau terlalu tolol dan tidak punya semangat! Maka segala-galanya tinggal terserah kepada peruntunganmu sendiri!"

Dari lengannya, nyonya itu loloskan sepotong gelang emas, ia masuki itu kelengannya bocah ini, apabila ia lengkuk sedikit, gelang itu menjadi kecil dan tidak akan lolos lagi.

"Jikalau nanti kau sudah rampungkan pelajaran ilmu silatmu, apabila kau telah menjadi satu bocah besar, jangan kau lupakan encim Anmu ini dan Siau Hui!" kata nyonya yang baik budi itu sambil tertawa.

"Andaikata locianpwee sudi terima aku," berkata Sin Cie," apabila ada ketika senggang, aku minta encim suka ajak Siau Hui datang melongok aku!"

Matanya nyonya itu menjadi merah, saking hatinya terharu.

"Baik, aku akan senantiasa ingat kau," ia jawab.

Lantas An Toa-nio menulis sepucuk surat, yang ia serahkan pada si gagu.

"Sekarang kita berangkat," kata ia sambil ia bawa dua buntalannya. Berempat mereka keluar dari rumah, sesampainya diluar, mereka berpisah dalam dua rombongan, masing-masing dengan tujuannya sendiri.

Sin Cie berkumpul Baru beberapa hari dengan An Toa- nio dan Siau Hui, akan tetapi perpisahan itu membuat ia merasa sangat berat. Ia senantiasa ingat itu bibi dan puterinya.

Si gagu tahu bocah ini telah keluarkan banyak darah karena luka-lukanya, dari itu, ia angkat tubuh orang untuk dipondong, sesudah mana, segeralah ia buka tindakannya yang lebar, ia jalan cepat sekali tak peduli jalanan ada jalanan pegunungan yang sukar. Ia lakukan perjalanan siang, setiap malam mereka mondok ditempat dimana mereka sampai sorenya, tetapi bukannya dihotel atau rumah orang, hanya didalam gua-gua atau rumah berhala. Kalau toh mereka singgah di hotel, melulu untuk beristirahatnya si bocah, untuk beli barang makanan.

Dalam halnya sendiri, si gagu dahar secara sembarangan, melainkan sekali tangsel perut, sedikitnya mesti dua kati mie! Sering Sin Cie tanya, mereka telah sampai ditempat apa, jawabannya adalah menunjuk jari tangannya kearah depan.

Lagi tiga hari telah dilewatkan, jalanan jadi bertambah sukar, makin sukar, hingga lebih benar disebut, sudah tidak ada jalanan lagi, untuk maju terus, si gagu gunai kedua tangannya, akan merayap naik atau merambat antara pepohonan oyot. Sebab mereka sedang mendaki gunung.

Selama itu, lukanya Sin Cie telah jadi sembuh, cuma diatasan alisnya ada ketinggalan tanda cacat kecil. Dia menggemblok di bebokongnya empeh gagu itu, kedua tangannya merangkul leher orang dengan keras. Ia jeri kapan ia lihat tempat yang curam. Kalau mereka terpeleset dan jatuh, habislah.......

Satu hari lamanya si gagu mesti manjat, sampailah ia diatas puncaknya gunung yang tinggi dimana tepinya ada sebidang tanah yang lebar dimanapun ada tumbuh banyak pohon cemara yang tinggi-tinggi, yang merupakan rimba saja. Disini si gagu jalan melewati lima atau enam rumah batu, melihat mana, ia bersenyum sendirinya, hingga dia mirip seorang perantauan lama yang Baru kembali ke kampung asalnya sendiri.

Didepan sebuah rumah batu, si gagu tuntun Sin Cie untuk masuk kedalamnya, Galagasi malang melintang, sebagai tanda rumah itu sudah lama tidak diisi, tetapi dengan bantuannya sesapu, si gagu bersihkan itu, malah ia terus sapui semua, dalam dan luar, sesudah mana, ia nyalakan api untuk masak air dan nasi.

Gunung ada demikian tinggi, entah bagaimana caranya si gagu sediakan beras dan lainnya itu.

Ada sulit untuk Sin Cie bicara sama empehnya ini, tetapi ia tidak banyak cerewet, ada selang tiga hari, ia sibuk juga. Dengan gerakan tangan, ia tanya si gagu, mana dia si locianpwee yang katanya dia bakal angkat jadi gurunya.

Si gagu mengerti pertanyaan itu, dia menunjuk kebawah gunung.

"Mari kita turun," Sin Cie mengajak. Ia memberi tanda- tanda pula.

Si gagu menggeleng-geleng kepala, ia tak mau meluluskannya.

Dengan terpaksa, Sin Cie diam saja. Ia jadi sangat masgul. Ia pun kesepian. Tidak dapat ia pasang omong dengan si empeh itu. Pada suatu malam, selagi Sin Cie sedang tidur, ia mendusin dengan tiba-tiba. Didepan matanya berkelebat cahaya terang, yang membuat ia terperanjat. Ia geraki tubuhnya, untuk berbangkit, duduk diatas pembaringan, sebelah tangannya mencekal lilin yang apinya menyala. Orang tua itu perlihatkan roman berseri-seri, tandanya ia girang.

Dasar otaknya cerdas, Sin Cie lekas-lekas turun dari pembaringan, lantas saja ia paykui empat kali.

"Suhu!" berkata dia. "Akhirnya suhu datang juga!" Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.

Post a Comment