Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 16

Memuat...

apa," ia menghibur. "Kau tunggu saja, tak lama pamanmu

sembuh dan akan kembali." Sin Cie cuma bisa menurut.

Sejak masih kecil sekali, Sin Cie sudah berpisah dari ibunya, selama itu, ia berada dibawah asuhannya Eng Siong dan Cu An Kok beramai, walaupun mereka merawatnya dengan sungguh-sungguh, sekarang, dibanding sama

108 perawatannya An Toa-nio, ia merasakan perbedaannya. Nyonya An merupakan sebagai ibu sejati, sedang disebelah si nyonya, ada Siau Hui yang manis, yang jelita, yang senantiasa menjadi kawannya. Baru beberapa hari, Sin Cie sudah betah.

An Toa-nio satu kali suruh Sin Cie jalankan semua ilmu silat yang pernah dipelajarkannya. Sin Cie menurut, setelah lihat itu, nyonya ini memuji, ia agaknya insaf sempurnanya pelajaran itu.

Berselang sepuluh hari, An Toa-nio anjurkan Sin Cie berlatih silat setiap hari, akan tetapi, diwaktu melakukan itu benar atau salah, ia antap saja, tidak pernah ia bilang suatu apa, malah selagi si bocah berlatih, jarang sekali ia menyaksikannya.

Siau Hui senantiasa temani Sin Cie, tapi disaat si bocah berlatih silat, ia dipanggil ibunya.

Pada suatu hari, An Toa-nio pergi kepasar, untuk belanja. Ia pun niat beli cita, guna bikinkan baju dan celana untuk Sin Cie, pakaian siapa sudah korat-karit, pecah disana-sini bekas dipakai buron dari Lau Ya San.

"Kamu memain didalam rumah saja, jangan keluar, nanti ada srigala," pesan si nyonya ketika ia hendak pergi.

Siau Hui dan Sin Cie terima pesan itu, seperginya si nyonya mereka main masak-masakan. Siau Hui keluarkan mangkok dan sumpit kecil.

"Kau potong ayam disini, aku hendak beli daging," kata si nona cilik.

Yang dinamakan "ayam" adalah sepotong lobak, yang di-potong-potong, dan "daging" adalah semacam ubi hutan, yang ada di pekarangan depan, untuk mana, Siau Hui pergi keluar. Tapi dia pergi sekian lama, hingga Sin Cie tidak sabaran.

"Siau Hui! Siau Hui!" bocah ini memanggil-manggil akhirnya.

Panggilan ini tidak dapat jawaban, hingga akhirnya si bocah ingat serigala, sebagaimana pesannya An Toa-nio. Ia lantas ambil korekan barah didapur, dengan bawa itu, ia lari keluar.

Bukan main kagetnya Sin Cie begitu lekas ia muncul diambang pintu, karena ia tampak Siau Hui dikempit seorang lelaki bertubuh besar, yang sedang memutar tubuh untuk lari pergi.

"Hei, hei!" berteriak bocah ini sambil mengubar. "Kemana kau hendak pergi?"

Tapi Sin Cie tidak mengubar saja, ia pun menyerang dengan korekan barah.

Culik itu tidak menyangka, ia kena ditikam Sin Cie. Sukur untuk dia, dia jangkung dan Sin Cie kate, lukanya tidak dibelakang hanya dikempolan. Dia kaget, dia merasa sakit, karenanya dia jadi gusar.

"Kurang ajar!" dia berseru. Dia turunkan Siau Hui, lalu dia hunus goloknya, untuk dipakai menyerang.

Sin Cie tidak takut, dia menangkis dengan korekan barahnya itu. Ia keluarkan pelajaran silat ajarannya Nie Hoo, ialah Gak Kee Sin-chio, ilmu silat tombak keluarga Gak (Gak Hui). Malah dengan ini, ia pun bisa balas menyerang.

Heran orang bertubuh besar itu, terpaksa ia melayani, hingga disitu terjadilah pertempuran kipa - seorang dewasa dan tubuh besar melayani satu bocah cilik. Dia ini pun mainkan Lo-han-too, ilmu golok dari Siau Lim Pay. Dia ada bertenaga besar, goloknya sampai menderu-derukan angin keras.

Sin Cie berkelahi sambil hunjuk kegesitannya, ia menyingkir dari bentrokan senjata, ia main kelit saja, dilain saat, ia menikam berulang-ulang.

Selang belasan jurus, orang dewasa itu sibuk sendirinya. Ia heran, ia penasaran, kenapa ia tidak sanggup rubuhkan satu bocah cilik! Karena ini, ia jadi berkelahi dengan sengit, ia ubah cara penyerangannya. Sekarang ia lebih banyak membabat kaki.

Untuk menyerang kaki, penyerangan mesti dilakukan dengan "Tee-tong-too", ialah permainan golok sambil bergulingan ditanah, tapi si culik tidak bertindak sampai begitu jauh, ia main jongkok atau mendak saja.

Perubahannya lawan itu membuat Sin Cie sibuk, dilain saat, ia mesti main mundur. Ia terancam bahaya.

Siau Hui, yang dilepaskan dari cekalan, tidak diam menonton, dia lari kedalam rumah, darimana ia kembali dengan pedang panjang ditangannya, dengan senjata ini ia serang culik itu, akan bantui kawannya. Ia menyerang dengan tusukan "Sian-jin cie lou" atau "Dewa menunjuki jalanan".

"Fui, perempuan cilik, kau pun hendak cari mati!" berseru culik itu. Ia berbalik, ia bacok si nona, Ia tidak gunai tenaga keras, ia tidak inginkan jiwa orang, ia cuma hendak sampok terlepas pedangnya nona itu.

Tapi si nona cerdik, gerakannya pun gesit. Dia berkelit dari serangan itu, dia menyingkir kebelakang, dari mana dia menyerang pula, dengan tikamannya "Sam-poo lian-tay" atau "panggung teratai mestika". Berbareng dengan itu, Sin Cie menyerang dengan "Tok liong cut tong" atau "Naga jahat keluar dari kedung".

Repot culik itu diserang dari dua pihak, ia mesti berlaku sebat sekali.

Tadinya Sin Cie berkuatir menampak majunya si nona cilik, tapi setelah lihat penyerangan orang beberapa kali, ia jadi girang. Nona itu bersilat dengan "Tat Mo Kiam-hoat", ilmu silat dari guru besar Tat Mo. Untuk tidak kalah pengaruh, ia menyerang dengan lebih seru.

Mengetahui orang desak ia, culik itu menjadi girang. Ia tahu bocah-bocah tidak ulet, tidak perduli ilmu silat mereka ada cukup untuk menjelamatkan dirinya dari pelbagai serangan.

Benar dugaan culik ini, selang sedikit lama, dua-dua Sin Cie dan Siau Hui mulai jadi lemah, maka sekarang adalah giliran dia untuk mendesak.

Siau Hui menikam, culik itu menangkis, demikian sebat, si nona sampai tidak keburu menarik pulang senjatanya untuk hindarkan bentrokan, maka begitu kedua senjata beradu, pedangnya terlepas, terlempar.

Sin Cie lihat kawannya terancam, ia menikam, tapi culik itu, sembari menangkis, angkat sebelah kakinya, akan tendang si nona, hingga dia ini terguling karena dia tak sempat egos tubuh.

Dalam kaget dan kuatirnya, Sin Cie lupa segala apa, waktu ia menikam pula, ia berlaku sembrono sekali.

Melihat sikap orang itu, culik itu tertawa menyengir. Ia berkelit dari tikaman, lalu ia merangsang goloknya diayun. Sin Cie angkat korekan barahnya, untuk menangkis, tapi selagi kedua senjata hendak beradu, si culik sambar ujung korekan, untuk ditarik sambil diputar. Sin Cie kesakitan pada tangannya, karena bentrokan kedua senjata, karena putaran itu, tak lagi ia bisa mencekal terus senjatanya itu, yang terlepas dengan segera.

Melihat orang telah tidak berdaya, culik itu lemparkan korekan barah,ia loncat pada Siau Hui, tubuh siapa ia sambar, untuk dikempit, buat lantas dibawa lari! Walaupun dia sedang kesakitan, melihat Siau Hui kena dibawa lari, Sin Cie lupai sakitnya itu. Ia jumput korekan barahnya, ia lari, akan mengejar.

"He, setan cilik, apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?" membentak si culik , yang lihat bocah itu demikian bandel. Ia kempit Siau Hui dengan tangan kiri, dengan tangan kanan cekal goloknya, ia balik tubuh, akan layani pula bocah itu.

Setelah bertempur lima-enam jurus, Sin Cie kena terbacok pada pundaknya, sia-sia ia berkelit, bajunya robek, pundaknya terkena sedikit, hingga darahnya mengucur keluar.

"Setan cilik, apa kau masih berani?" mengejek culik itu. Sin Cie benar-benar besar nyalinya.

"Lepaskan Siau Hui, aku tidak akan susul pula padamu!" ia jawab sambil ia menahan sakit. Ia jumput korekannya, kembali ia mengejar musuh, yang sudah lantas kabur pula.

Akhirnya culik itu habis sabar.

"Jikalau aku tidak bunuh dia, dia terang bakal ganggu aku," pikir dia. Maka ia berhenti lari, ia sambut serangannya Sin Cie.

Baru beberapa gebrak, korekan Sin Cie kena disampok, dia terus ditendang hingga rubuh berguling, sesudah mana, tidak berayal lagi, culik itu lompat maju seraya kirim bacokannya.

Siau Hui dalam kempitan lihat bahaya mengancam Sin Cie, ia geraki kedua tangannya, akan jambret lengannya culik itu, terus ia gigit lengan itu.

Culik itu kaget, dia kesakitan, karena mana, bacokannya jadi salah.

Sin Cie sendiri berkelit dengan buang diri, akan bergulingan di tanah.

Dalam sengitnya, culik itu sentil kupingnya Siau Hui, kemudian ia maju pula, lagi sekali, ia serang Sin Cie.

Bocah itu, yang belum sempat berbangkit, berguling lagi, tapi ujung golok mengenai jidatnya, hingga di jidat itu, diatasan alis sedikit, terluka dan mengeluarkan darah.

Percaya bahwa orang akan mati kutunya, culik itu hendak kabur pula bersama korbannya.

Sin Cie benar berani dan bandel, ia berlompat, akan tubruk orang punya kaki kiri, yang ia peluki dengan keras, lalu dengan tipu silat "To tiu kim ciang" atau "merubuhkan lonceng emas", ia tekuk kaki itu menurut sekuat tenaganya.

Sengit culik itu, walaupun ia tidak rubuh, ia toh merasakan sakit pada kaki kirinya itu, maka ia angkat kaki kanannya, untuk injak si bocah, atas mana, Sin Cie terpental terguling. Ia lantas maju pula seraja membacok.

Belum sampai golok turun, atau culik itu terkejut dan merasakan sakit pada kepalanya, karena batok kepalanya menerbitkan satu suara membeletuk, apabila ia menoleh, ia tampak An Toa-nio sedang ayun kedua tangannya. Ia jadi jeri, ia tinggalkan Sin Cie, lantas ia lari. Tapi Siau Hui ia kempit terus. An Toa-nio ayun tangan kanannya beruntun tiga kali, tiga butir telur menyambar culik itu, dia bisa kelit dua serangan tapi yang ketiga mengenai batang hidungnya, hingga disebelah merasa sakit, mukanya mandi putih dan merah telur.

Post a Comment