Satu orang polisi segera lemparkan rantai kelehernya Sin Cie.
Bocah ini mundur, akan berkelit, tetapi ia masih berdiri diluar pintu, untuk cegah orang masuk.
Opas itu jadi jengah, sebab ia, yang telah punyai pengalaman belasan tahun, tidak mampu bekuk seorang kacung, dari jengah, ia jadi gusar, maka ia ulur tangannya, akan sambar kuncirnya bocah itu.
Sin Cie takut melihat rombongan opas-opas itu, ia sudah mau menangis, tapi melihat orang demikian garang, dan sekali ini ia hendak dijambak rambutnya, ia jadi gusar, ia sambar tangan orang untuk dibetot dengan kaget. Ia gunai Hok-hou-ciang punya jurus "Heng ho tan pian" atau "tarik melintang satu cambuk". Si opas sempoyongan, ia jadi gusar, maka ia putar tubuhnya, akan tendang bocah itu. Ia pun mendamprat : "Anak haram, kau lihat tuanmu!"
Tubuhnya Sin Cie kecil dan kate, dengan mendak sedikit, ia kasi lewat tendangan itu, dengan kedua tangannya, ia tanggapi kaki dan kempolan orang, terus ia angkat dan mendorong dengan keras. Tidak tempo lagi, tubuh besar dari opas itu terlempar, jatuh terbanting dengan keras! Sebenarnya Sin Cie tidak punya tenaga demikian besar, ia sanggup berbuat demikian sebab ia berbareng pinjam tenaga tendangan dari si opas sendiri.
Banya orang bersorak. Mereka memang sebal melihat opas-opas itu, orang-orang dewasa dan tua, perhina satu bocah, tapi sekarang si bocah yang menang, mereka puas dan gembira, tanpa merasa lagi, mereka berikan pujian mereka! Opas-opas lainnya melengak, mereka heran hingga mereka hendak sangka bocah itu punya ilmu gaib. Tapi segera mereka saling melirik, lantas semuanya maju, dengan golok dan thiecio ditangan.
Menampak demikian, semua tetamu kaget dan takut, mereka pada mundur.
Biar bagaimana, Sin Cie masih terlalu muda, saking bingung, ia repot, tapi dalam saat yang berbahaya itu, sekonyong-konyong dari kamar samping lompat keluar satu orang, yang tubuhnya besar, mencelat kedepannya si bocah, terus ia geraki kaki-tangannya, entah bagaimana, dengan gampang ia dapat rampas senjatanya sekalian hamba wet itu, selagi opas-opas itu mundur dengan kekuatiran, ia mendesak, ia menyerang dengan kepalannya sampai orang babak belur. Habis itu, orang ini perdengarkan suara keras yang luar biasa.
"Siapa kau?" akhirnya satu opas menegor. "Kami hendak tangkap orang jahat, lekas mundur!"
Seperti juga orang yang tidak dengar pertanyaan, tubuhnya orang itu melesat kedepan opas ini, tahu-tahu tangannya sudah menjambret dada, apabila ia mengangkat, tubuh si opas dilemparkan, hingga tubuh itu melayang, bagaikan lajangan melewati tembok, ketika dia rubuh, dia terbanting keras, dia pingsan! Melihat demikian, semua opas lainnya lari sipat-kuping keluar. Orang kuat itu lalu hadapi Sin Cie, ia bicara, tangannya digerak-geraki, tapi suaranya "ah-ah uh-uh," maka sekarang ternyata dia adalah seorang gagu. Rupanya dia tanya si bocah, bagaimana duduknya hal.
Bingung Sin Cie, sebab ia tidak tahu bagaimana harus berikan keterangan. Selagi ia mengawasi dengan melongo, orang itu lantas saja angkat tangannya keatas, lalu kebawah, segera menyusul gerakan kakinya, maka tahu- tahu, dia sudah jalankan Hok-hou-ciang, sampai jurus kesepuluh, "Pek pok kie hie" jaitu "Egos serangan, tubruk kosong," ia lantas berhenti.
Baru sekarang Sin Cie mengerti. Sebagai jawaban, ia melanjuti jurus kesebelas. "Tek tou kwie," atau "menendang betis". Ia bersilat sampai empat jurus.
Si gagu menonton, lalu ia tertawa, ia manggut-manggut, kemudian ia ulur tangannya, akan tarik bocah itu, yang terus ia pondong.
Sin Cie ingat gurunya, walaupun ia girang, ia menunjuk kedalam kamarnya. Ia mau tunjuki bahwa dalam kamar itu ada orang.
Si gagu manggut, ia bertindak masuk kedalam kamar dengan masih empo bocah itu. Ketika ia lihat Ciu San numprah ditanah, mukanya pucat bagaikan mayat, ia kaget. Lekas-lekas ia turunkan Sin Cie, ia hampirkan orang she Cui itu.
Ciu San sadar, ia kenali si gagu ini, ia geraki kedua tangannya, ia tunjuk pahanya juga.
Si gagu itu mengerti, tidak tempo lagi, ia bekerja. Dengan tangan kiri, ia tarik Sin Cie, dengan tangan kanan, ia pondong Ciu San. Dengan tindakan lebar, ia lantas keluar dari kamar, dari hotel, akan lari sangat cepat, tidak peduli tubuhnya Ciu San ada seratus kati lebih beratnya.
Tuan rumah atau jongos tidak berani rintangi si gagu ini.
Si gagu ini berlalu bukan tanpa ada yang kuntit. Dua opas, yang umpatkan diri diluar hotel, telah memasang mata, lalu mereka mengikuti dari jauh-jauh, pikir mereka akan cari tahu, dimana si gagu nanti taruh kaki, mereka akan cari bala bantuan untuk melakukan penangkapan terlebih jauh.
Ciu San masih tak sadar akan dirinya, ia tak tahu suatu apa bahwa si gagu bawa dia kabur. Si gagu sendiri tak tahu ada orang bayangi dia, ia tidak dengar suara apa-apa diarah belakangnya, karena kedua opas terpisah jauh dari padanya. Akan tetapi Sin Cie, yang cerdik, lihat ada dua orang mengikuti saja, diam-diam ia tarik-tarik tangannya si gagu dan monjongi mulutnya, untuk mengasi tanda. Atas ini si gagu berpaling, ia lantas lihat kedua opas itu, tapi ia tak bikin gerakan apa-apa, ia bertindak terus dengan cepat.
Mereka melalui tempat yang berupa tegalan yang sepi, makin lama makin sunyi, selang dua-tiga lie, tiba-tiba si gagu letaki tubuhnya Ciu San ditanah. Nampaknya dia ingin berhenti, untuk menghilangi lelah, tidak tahunya, dengan sekonyong-konyong ia membalik tubuh, untuk berlompat, begitu pesat, hingga dalam dua-tiga enjotan saja, ia sudah sampai didepan kedua opas itu tanpa mereka ini menduga suatu apa.
Tentu saja kedua hamba wet itu menjadi kaget dan takut, tidak tempo lagi, mereka berhenti jalan, mereka putar tubuh, dengan niat mengangkat kaki. Tapi sudah kasep! Si gagu ada terlalu sebat untuk mereka, sebelum mereka bisa angkat kaki, dia ini sudah sampai, kedua tangannya diulur, hingga tak ampun lagi, mereka kena terjambak masing- masing! Si gagu tidak melainkan mencekuk kedua opas itu, tanpa pikir pandang lagi, ia angkat kedua tangannya, ia ayun itu kesampingnya, dimana ada jurang, apabila ia telah lepaskan jambakannya, kedua tubuh terlempar melayang kedalam jurang.
"Aduh!...." adalah jeritan hebat, yang tertahan, lantas sunyi-senyap. Sebab kedua opas telah terbanting hebat didalam lembah, kepala mereka pecah, otak mereka hancur berantakan! Habis tamatkan lelakon hidupnya kedua opas itu, si gagu kembali kepada Ciu San, tubuh siapa ia angkat pula, untuk dibawa pergi lagi, tetap dengan tindakannya yang lebar, cepatnya bagaikan terbang.
Sekali ini sibuk juga Sin Cie, ia coba berlari-lari keras, tak dapat dia mengikuti dengan saksama, ia paksakan kedua kakinya lari sekeras bisa, tetapi Baru satu lie, sudah tak sanggup dia, napasnya lantas memburu sengal-sengal.....
Si gagu menoleh, dia lihat orang sudah kehabisan tenaga, ia bersenyum, lalu ia menyambar dengan tangannya yang sebelah lagi, akan kempit bocah itu, akan lari terus. Malah sekarang dia bisa lari dengan terlebih keras lagi, sebab tak usah ia menantikan pula.
Setelah berlari-lari sekian lama, si gagu, yang tidak kenal lelah, membiluk kekiri, maka sekali ini, dia lari kearah gunung. Ia mendaki. Ia sudah sampaikan dua undakan, masih ia berlari-lari terus, hingga di depannya terlihat satu rumah gubuk dengan tiga ruangan.
Selagi mendekati rumah itu, seorang yang berada diambang pintu lantas lari keluar, untuk menghampirkan. Dia ini ada seorang perempuan umur dua-puluh lebih. Dia manggut terhadap si gagu, si gagu pun manggut terhadapnya, tetapi ia heran tampak si gagu mengempit dua orang. Segera ia mengajak masuk. "Siau Hui, lekas ambil tehkoan teh dan cangkirnya!" demikian si perempuan muda.
Dari kamar sebelah terdengar satu jawaban anak kecil, cepat sekali dia muncul, dengan membawa tempat air teh dan cangkirnya. Ia nampaknya heran, hingga setelah memandang si gagu, dia pun awasi Ciu San dan Sin Cie. Nyata dia ada punya sepasang mata yang celi.
Si perempuan muda, walaupun pakaiannya terdiri dari bahan cita kasar, ada punya kulit muka yang putih-bersih dan halus, sebagaimana si bocah sendiri nampaknya manis.
"Eh, anak, apa namamu?" tanya perempuan muda itu kepada Sin Cie, yang sudah diturunkan dari kempitan si gagu. "Bagaimana kau bisa bertemu sama dia ini?"
Sin Cie percaya orang perempuan ini ada sahabatnya si gagu, lalu ia berikan jawabannya dengan jelas.
Perempuan muda itu lantas saja masuk kedalam, untuk kembali dengan teromol obat-obatan, ia keluarkan dua rupa obat bubuk putih dan merah, ia ambil sedikit, untuk diaduk dengan air, setelah mana, Ciu San dicekoki. Habis itu, dia ambil satu pisau kecil dengan apa dia iris lukanya si Cui, sesudah mana, luka itu diborehkan obat bubuk kuning, lantas ditunggu sebentar, lalu dicuci dengan air, akan akhirnya diborehkan lagi. Tiga kali luka itu dirawat secara demikian.
Selama itu, Ciu San buka mulutnya, akan perdengarkan suara tidak jelas.
"Dia ketolongan!" kata si perempuan muda kepada Sin Cie, ia bicara sambil tersenyum. Lantas ia gerak-geraki tangannya terhadap si gagu, maksudnya supaja si gagu ini pondong orang yang luka kedalam, untuk antap dia beristirahat. Selagi si gagu memondong kedalam, perempuan itu benahkan teromol obatnya.
"Aku ada orang she An, panggillah aku Encim An," kata dia pada Sin Cie. "Ini ada anakku, namanya Siau Hui. Sekarang tinggallah kau sama kami disini."
Sin Cie manggut.
An Toa-nio lalu masuk kebelakang, untuk membuat mie, malah ia pun sembelih ayam, guna santapan kedua tetamunya. Sin Cie dahar lebih dahulu, habis itu, saking lelah dan ngantuk, dia tidur dengan kepala diletaki diatas meja. Dia tak ingin apa-apa lagi....
Besoknya pagi, Baru saja orang bangun, Siau Hui sudah tarik tangannya Sin Cie.
"Mari cuci muka!" kata si nona cilik.
"Aku hendak lihat dulu Cui Siokhu, bagaimana lukanya. " kata si bocah.
"Empeh gagu telah bawa dia pergi sejak pagi," Siau Hui kasih tahu.
Sin Cie terperanjat.
"Dibawa pergi? Apa benar?" tanya dia, hatinya mencelos. Nona itu manggut.
Lantas Sin Cie lari kedalam kamar, yang kosong. Tidak ada Ciu San dan si gagu disitu. Tiba-tiba saja ia menjerit, nangis.
"Ibu, ibu, lekas!" Siau Hui teriaki ibunya berulang-ulang. An toa-nio datang dengan cepat.
"Ibu, dia lihat encek Cui semua pergi, dia menangis," si anak memberitahukan. "Jangan sibuk, anak yang baik," nyonya An lantas menghibur. "Pamanmu terluka, lukanya parah, bukan?"
Sin Cie manggut.
"Aku cuma bisa berikan dia pertolongan pertama," nyonya itu terangkan. "Dia sudah terserang racunnya senjata rahasia, kalau dia tidak cepat dapat perobatan yang sempurna, sebelah kakinya itu bisa mati seterusnya, maka itu empeh gagu bawa dia pergi kepada satu orang lain, yang sanggup mengobatinya. Kau tunggu saja, kalau nanti dia sudah sembuh, pamanmu itu bakal datang pula kemari melihat kau..."
Sin Cie dapat dikasih mengerti, dengan pelahan, ia berhenti menangis.
"Pasti pamanmu akan sembuh," Toa-nio kata pula. "Sekarang pergi cuci muka, habis cuci muka, kita dahar."
Sin Cie menurut, maka sebentar kemudian, ia sudah duduk bersantap bersama itu ibu dan anak.
Setelah dahar, An Toa-nio tanya lebih jelas tentang bocah ini.
Sin Cie tuturkan segala apa, yang ia tahu mengenai dirinya.
Mendengar itu, nyonya rumah menghela napas. "Sekarang tinggallah kau sama kami, jangan kuatir apa-