Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 14

Memuat...

Sin Cie lihat serangan itu, ia berkelit sambil berlompat.

Ciu San lihat serangan itu, ia paksa bangkit, untuk berdeku dengan sebelah kaki. Dia masih pegang dia punya ruyung, dengan itu, ia timpuk orang yang pegang siangtoo. Dia ini kaget, sampai tak sempat dia berkelit, maka kepalanya kena tiatpian, syukur tidak hebat. Sedangnya dia melengak, Ciu San enjot tubuh sekuat tenaga, akan tubruk musuh ini. Beruntung untuk dia, dia bisa sambar tenggorokan orang.

Musuh kaget, dia membacok, tapi bacokan ditangkis dengan lengan oleh Ciu San, siapa kerjakan tenaganya kepada semua jerijinya, maka dilain saat, musuhnya tecekek keras, tubuhnya rubuh, napasnya berhenti jalan tanpa berkaok lagi.... Inilah hebat, menampak itu, musuh dengan kwietautoo ditangan jadi jeri, lantas ia putar tubuh untuk lari. Melihat ini, dua kawannya, yang menyusul belakangan, yang memang telah terluka, turut dia dan lari juga.....

Ciu San sendiri mengeluarkan darah tak putusnya dari lukanya itu, kaki kanannya sudah lenyap rasa sakitnya, beku tanpa rasa apa juga. Tapi ia kertak gigi, ia kumpul tenaga, dengan bantuan golok, yang ditandalkan ketanah, ia coba berbangkit. Ia insyaf, musuh lari tentu akan sebentar kembali bersama pasukan tentaranya, jadi ia tak punya tempo untuk disia-siakan.

"Mari!" ia ajak muridnya. Ia jalan dengan separuh merangkak, karena sebelah tangannya dipakai sebagai gantinya kaki. Ia separuh menyeret tubuh.

Sin Cie jalan disebelah kanan gurunya itu, ia pasang pundaknya untuk gurunya cekal dengan tangan kanan, akan kasi dirinya digelendoti. Jadi, separuh dipepayang, Ciu San paksa jalan, setindak demi setindak.

Jalan sekian lama, keadaannya Ciu San tambah hebat. Mulai dari kaki, bekunya naik ke tangan, hingga pelahan dengan pelahan, habislah tenaga tangannya itu - tangan kiri. Sekarang ia mengandal pada tangan kanan saja.

Sin Cie merasai bandulan makin berat pada pundaknya, ia lawan itu, ia diam saja. Ia telah mandi keringat.

Mereka jalan terus, sampai si bocah pun lelah sekali. "Cui Siokhu, didepan ada rumah orang, mari kita pergi

kesana," kata sang murid, apabila ia tampak sebuah rumah.

"Kita beristirahat disana sambil umpatkan diri. "

Ciu San manggut, ia paksa kumpul tenaganya. Adalah setelah sampai didepan pintu, tenaganya habis, terlepaslah cekalannya, hingga ia rubuh tanpa muridnya dapat mencegah.

"Cui Siokhu!" Sin Cie menjerit, sambil ia lekas membungkuk. "Cui Siokhu!"

Hampir itu waktu, daun pintu rumah terpentang, seorang perempuan usia pertengahan muncul diambang pintu.

"Toa-nio," berkata Sin Cie, "kami bertemu tentara negeri, pamanku ini terluka, tolong kau ijinkan kami menumpang bermalam, satu malam saja. "

Perempuan tani itu murah hati, ia manggut, lalu ia teriaki satu anak tanggung, umur delapan atau sembilan- belas tahun, untuk bantui si bocah angkat tubuhnya Ciu San, buat diangkat kedalam, direbahkan atas kong.

Karena ia ada tangguh dan kuat semangatnya, walaupun kaki dan tangannya beku sebelah, Ciu San tidak pingsan atau kalut pikirannya, sebaliknya, ia sadar benar-benar. Ia lantas suruh Sin Cie geser pelita, untuk ia periksa lukanya.

Kaget semua orang, akan tampak luka dikaki itu. Sebab kaki kiri itu bengkak besar, yang sepotong sudah matang- biru, dilihatnya mengerikan.

"Tolong bungkus luka dipundakku," Ciu San minta si tuan rumah muda. Kemudian, ia minta dibungkus keras juga pahanya, guna cegah racun naik dan menyerang ke jantungnya. Habis itu, ia cabut senjata yang melukai padanya. Segera keluar darah hitam.

Ciu San coba tunduk, ia niat isap darah dari lukanya, supaja racunnya tersedot, tapi bengkaknya demikian besar, mulutnya tak dapat sampaikan luka itu.

Melihat demikian, tanpa bersuara apa-apa, Sin Cie gantikan gurunya sedot darah itu, ia menyedot berulang- ulang, saban-saban ia muntahkan darah hitam itu. Setelah menyedot kira empat-puluh kali, Baru ia kena hisap darah bersemu merah.

Akhir-akhirnya jago itu menghela napas.

"Syukur ini bukannya racun yang sangat berbahaya," kata ia. "Sin Cie, lekas kau kekumur!"

Nyonya rumah, yang mengawasi sedari tadi, lalu berdoa.

Besoknya, lohor, tuan rumah muda, yang dimintai pertolongannya, pulang dengan laporan bahwa tentara negeri sudah mundur dari gunung Lau Ya San. Disatu pihak, kabar itu melegakan hati. Akan tetapi, dilain pihak, keadaannya Cui Ciu San menguatirkan sekali. Bengkaknya mulai kempes, tapi disebelah itu, tubuhnya menjadi panas, dia mulai mengaco-belo.

Sin Cie ada satu bocah, walaupun ia cerdik, ia toh bingung, ia tidak bisa berbuat suatu apa.

"Tuan kecil," berkata nyonya rumah," aku lihat racun dalam kakinya pamanmu ini belum habis semua, perlu kau pergi kekota kepada tabib guna periksai lukanya itu."

Sin Cie anggap usul itu baik. "Aku nanti pergi," kata ia.

Nyonya rumah, yang baik hati, pergi pinjam gerobak kerbau dari tetangganya, dengan naik itu, Sin Cie pergi dengan diantar si anak tanggung. Ciu San direbahkan diatas gerobak.

Anak tanggung itu mengantari sampai dikota, sampai Sin Cie telah dapati sebuah rumah penginapan, lantas ia berangkat pulang.

Sekarang, setelah berada dikota, Sin Cie kembali bingung. Mereka tidak punya uang. Ia bengong mengawasi

97 saja gurunya, hingga ketika jongos tanya, ia hendak dahar apa, ia tidak dapat menyahuti.

"Aku tidak lapar," kemudian ia kasi alasan. Tapi, seperginya si jongos, ia nangis seorang diri.

Selama itu, Ciu San rebah tak ingat dirinya, adalah sesudah lewat sekian lama, ia mendusin juga.

"Bagaimana, siokhu?" Sin Cie tanya. "Apa siokhu merasa baikan?"

Guru itu manggut.

"Apakah kau ada bawa barang berharga apa-apa?" tanya dia kemudian.

Tiba-tiba Sin Cie ingat suatu apa, lantas dia menjadi girang.

"Ada ini!" kata ia, yang terus keluarkan sarungnya.

Itu ada kalung emas tertabur delapan buah batu permata, dan dirantainya ada ukiran beberapa huruf, kapan Ciu San baca itu, bunyinya ada empat huruf "Hui Koan Hoan Ciang" yang berarti "Kejayaan makmur". Dibawah itu ada lagi dua baris huruf-huruf kecil, yang berbunyi: "Selamat bahagia ulang bulan Wan Kongcu" dan "Selamat dari Cou Tay Siu".

Jadi itu ada tanda-mata dari Cou Tay Siu, panglima nomor satu dari Wan Cong Hoan, untuk peringatan usia sebulan dari Wan Sin Cie.

Cou Tay Siu ini, diwaktu mudanya, ada gagah dan berandalan, kemudian ia kena ditawan Tok-bu Sun Sin Cong dari Kie-liau, diwaktu ia hendak dihukum mati, Wan Cong Hoan mintakan keampunan, dengan begitu, ia jadi sangat berterima kasih, keduanya jadi bersahabat bagaikan saudara, maka dikemudian hari, waktu Wan Cong Hoan binasa teraniaya, Cou Tay Siu jadi sangat gusar, dia bawa kabur tentaranya, dia tinggalkan kota raja tanpa pedulikan titah kaisar Beng. Dikota raja, semua orang berkuatir, kuatirkan panglima ini, yang berkuasa atas tentara, nanti berontak, sukur ibu dan isterinya Tay Siu ada orang-orang bijaksana, mereka bisa bujuk Tay Siu jangan berkhianat, hingga kesudahannya, Tay Siu ajak barisannya menentang desakan tentara Boan.

Pikirannya Ciu San sedang kusut, ia tidak perhatikan bunyinya kata-kata pada kalung itu.

"Pergi ajak jongos gadai kalung ini." Ia kata pada muridnya. "Dibelakang hari, kita boleh datang pula kemari untuk menebusnya."

Sin Cie juga tidak pikirkan huruf-huruf ukiran itu. "Baik," sahut ia, yang terus ajak satu jongos, untuk

menggadai.

Pengurus pegadaian terkejut ketika ia periksa kalung yang hendak digadaikan itu.

"Sahabat cilik, tunggu sebentar , ya?" kata ia.

Pengurus ini masuk kedalam, sampai lama, hingga Sin Cie dan si jongos tidak sabaran, baiknya kemudian, dia muncul juga.

"Sahabat cilik, kami terima gadai untuk dua-puluh tail." Kata ia.

Sin Cie tidak tahu apa-apa, ia mau terima, tapi jongos mintakan tambahan lagi lima tail, kalung itu jadi digadai buat dua-puluh lima tail.

Sambil bawa uang dan surat gadai, Sin Cie ajak jongos mampir sekalian pada tabib. Diluar tahu mereka, mereka sudah lantas dikuntit dua orang polisi, terus sampai dihotel. Ciu San sedang tidur, kepalanya panas seperti api. Karena thabib, yang menyusul belakangan, belum juga sampai, Sin Cie menjadi kuatir pula, hingga ia pergi keluar, akan melihat, mengharap-harap kedatangan sang tabib.

Belum lama, mendadakan datanglah delapan orang polisi ke hotel, mereka itu bekal thie-cio dan rantai belengguan.

"Ini dia si bocah," kata satu opas seraya tunjuk Sin Cie. "Eh, anak, apa kau she Wan?" tanya opas yang jadi

kepala.

Sin Cie kaget, tak tahu ia mesti menjawab apa. "Bukan," jawab ia akhirnya, dalam bingungnya.

Opas itu tertawa, dari sakunya, ia keluarkan kalung emas tadi.

"Habis, kalung ini kau curi dari mana?" tanya dia.

"Itu bukan barang curian, itu ada barangku sendiri," sahut Sin Cie, yang dengan tidak langsung toh mengaku.

Kembali opas itu tertawa.

"Wan Cong Hoan itu pernah apa denganmu?" tanya dia.

Sin Cie kaget, ia tidak berani menyahuti, hanya ia lari kedalam, ke kamarnya, akan segera gebrak bangun pada Ciu San.

Diluar segera terdengar teriakannnya kawanan opas tadi

: "Berandalan dari Lau Ya San bersembunyi dalam hotel ini! Jangan kasi mereka lolos!"

Sementara itu, Ciu San mendusin dengan kaget, ia berbangkit, akan duduk, akan turunkan kakinya kelantai, tapi ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, begitu kakinya diturunkan, bukannya ia berdiri, ia justru rubuh terguling.

100 Disaat itu, rombongan opas telah nerobos kedalam hotel.

Dalam bingungnya, hingga ia tak keburu kasi bangun gurunya, Sin Cie lompat kepintu, disini ia berdiri untuk merintang.

Hotel sendiri lantas jadi berisik, tetamu-tetamu lainnya jadi berkumpul di pekarangan, akan saksikan hamba-hamba negeri melakukan penangkapan pada penjahat pemburon. Mereka jadi heran kapan mereka lihat, kawanan opas itu justru menghadapi satu bocah cilik.

Post a Comment