Nie Hoo terkejut, tidak ayal lagi, ia menyerang dengan sepasang piau.
Macan itu tidak kena terserang senjata rahasia itu, kaki depannya dapat menyampoknya hingga jatuh.
Berbareng itu, Sin Cie lenyap dari kolong harimau, sebaliknya tubuhnya nempel sama perutnya binatang itu. Entah bagaimana, kedua kakinya telah menyangkul keras kebebokong macan tutul, kepalanya sendiri menyundul janggutnya, hingga ia tidak bisa digigit binatang itu. Kedua tangannya juga turut memeluk.
Macan tutul itu jadi kewalahan, untuk bikin orang terpelas, dia jatuhkan diri, bergulingan dilantai.
Sin Cie tetap menjepit dan merangkul dengan keras, ia tidak kasih tubuhnya terpisah dari tubuh lawannya yang luar biasa itu. Tapi ia insaf, lama-lama ia bisa habis tenaga, apabila ia pisahkan diri, ia bisa celaka diterkam binatang itu.
"Encek Cui, mari lekas," akhirnya ia memanggil. "Matanya!" adalah jawaban Cui Ciu San.
Ini pemberian ingat menyadarkan bocah itu, tidak ajal lagi, ia ulur tangan kanannya, beberapa jarinya mencari sebelah matanya yang terus ia korek dan betot keluar! Binatang itu kaget dan kesakitan, dia berjingkrakan sambil menderum-derum, darah mengucur keluar dari matanya itu.
Menampak demikian, Ciu San lompat maju, ia dekati macan tutul itu tanpa si binatang buas dapat lihat padanya, segera ia menyerang dengan keras dengan kedua tangannya kearah kepala, atas mana, macan itu jadi pusing, segera dia rubuh terguling.
Selagi si raja hutan rubuh, Ciu San sambar Sin Cie, untuk diangkat.
"Bagus,bagus!" ia puji murid itu.
Kapan si Cui menoleh pada kawan-kawannya, Tiong Siu semua berkuatir hingga mereka mandi keringat! Ciu San pentang pintu, ia dekati macan itu pada belakangnya, lalu ia mendupak. "Pergilah, aku merdekakan padamu!" kata ia.
Tendangan itu keras, sang harimau, yang mulai merangkak bangun, terjerunuk kedepan, sesudah mana, dia terus loncat, untuk kabur, Menyusul itu, diluar terdengar riuh jeritan kaget dari banyak orang.
Menyangka bahwa macan tutul itu menerbitkan kecelakaan, Tiong Siu semua berlari keluar, untuk melihat, tapi begitu lekas mereka berada diluar, mereka juga kaget tidak terkira.
Seluruh gunung terang dengan api, yang mendatangi dari arah bawah, diantara itu, tertampak pelbagai senjata yang berkilatan.
Itulah tentara kerajaan Beng, yang mengurung Lau Ya San dengan tiba-tiba! Orang-orang Lau Ya San Baru saja bubar, yang masih ada tinggal sedikit, ini menyulitkan mereka. Mereka pun tidak dapat kabar lebih siang, karena mereka disergap dan penjaga-penjaga di saban pos telah terbunuh mati, sampai mereka ini tidak bisa memberi tanda bahaya.
Cou Tiong Siu ada seorang peperangan ulung, walaupun ia kaget, hatinya tidak gentar. Tadinya, dia pun adalah orang yang pangkatnya paling tinggi.
"Lo Ciangkun," ia segera beri titah pada Lo Tay Kan, "pergi kau pimpin saudara-saudara tukang masak, tukang sapu dan penjaga-penjaga kuil, lepaslah api digunung sebelah timur seraya berteriak-teriak, untuk menyesatkan musuh!"
Lo Tay Kan terima titah, ia berlalu dengan cepat.
"Cu Ciangku, Nie Ciangkun!" Cou Tiong Siu panggil Nie Hoo dan Cu An Kok. "Pergilah kedepan, masing- masing memanah belasan kali, untuk cegah tentara musuh terlalu mendesak, habis itu, lekas kembali!"
Dua punggawa itu berlalu dengan titah tersebut.
"Cui Toako, ada satu tugas penting aku mohon kau yang pegang!" kata Tiong Siu pada Ciu San.
"Kau ingin aku yang lindungi Sin Cie?" Ciu San tegaskan.
"Benar," jawab pemimpin itu. Lalu bersama-sama Eng Siong, dia menjura terhadap utusan Lie Cu Seng ini.
Ciu San kaget, dengan tersipu-sipu, ia membalas hormat. "Bicaralah, jiewie, tapi jangan berbuat begini!" ia
mencegah.
Suara gemuruh diluar bertambah besar, malah terdengar juga suara tambur dan gembreng tentara yang riuh, tapi itu datangnya dari atas gunung, maka Tiong Siu menduga kepada perbuatannya Lo Tay Kan, ialah siasat akan mengelabui musuh.
"Inilah satu-satunya darah daging dari Wan Tayswee, tolong Cui Toako antar dia turun gunung!" Tiong Siu minta kepada Ciu San.
"Aku nanti lakukan itu!" Ciu San berikan janjinya.
Itu waktu, Cu An Kok dan Nie Hoo kembali habis melepas panah.
"Aku akan ambil jalan bersama Cu Caingkun," Tiong Siu mengatur diri, "kami nanti gabungkan diri sama Lo Ciangkun, akan menerjang turun disebelah timur. Eng Sinshe bersama Nie Ciangkun boleh menerjang dari barat. Kita akan menerjang lebih dulu, buat tarik perhatiannya tentara musuh, supaja mereka tercegah, setelah itu, Cui Toako bersama Sin Cie boleh nerobos turun dari gunung
83 belakang. Biarlah kitaorang berkumpul ditempat Lie Ciangkun!"
Semua orang kagum, disaat segenting itu, Cou Tiong Siu masih bisa mengatur diri demikian sebat dan tepat, coba mereka punyakan tentara, tentu keadaan mereka ada lain sifatnya.
Sin Cie sedih bukan main, sebab telah begitu lama ikuti Eng Siong semua, yang pun telah didik dia, sekarang mereka mesti berpisahan secara demikian mendadakan dan dalam ancaman malapetaka hebat juga. Ia paykui berulang- ulang terhadap mereka.
"Cou Siokhu, Eng Siokhu, Cu Siokhu, Nie Siokhu," kata ia, "aku, aku. "
Ia tak dapat bicara lebih jauh, tenggorokannya seperti terkancing.
"Kau ikuti Cui Siokhu, kau dengar perkataannya," kata Tiong Siu.
Masih Sin Cie tak dapat bicara, ia cuma bisa manggut.
Suara berisik makin hebat, itulah tandanya tentara negeri sudah mulai mendaki tinggi.
"Marilah!" mengajak Eng Siong. "Cui Toako, kau berangkat sebentar lagi sedikit. "
Lantas mereka itu bertindak keluar.
Nie Hoo lihat Cu Cio San tidak punya senjata, ia lemparkan kongcee kepadanya.
"Cui Toako, sambut ini!" ia kata.
"Aku tak butuhkan itu," sahut Ciu San, yang menyambuti tapi terus hendak kembalikan, hanya Nie Hoo sudah lari jauh, ia jadi batalkan niatnya. "Mari!" katanya, yang terus tarik tangannya Sin Cie, sedang tangannya yang lain tetap pegangi tumbak cagak itu.
Berdua mereka pergi kebelakang dimanapun ada terang cahaya api, hingga kelihatan berlapis-lapis tentara, entah berapa jumlahnya. Anak panah pun dipanahkan naik bagaikan hujan. Maka terpaksa Ciu San lari balik kekuil, kedapur, akan cari dua buah kwali, yang satu besar, yang lain kecil yang kecil ia serahkan pada muridnya.
"Inilah tameng!" kata ia. "Mari!"
Dengan berlompatan secara enteng, mereka lari kearah tempat gelap.
"Kejar, kejar!" begitu tentara kerajaan Beng berteriak- teriak, ketika mereka lihat dua orang berlari-lari. Dan mereka segera mengejar seraya terus memanah juga.
Ciu San lari dibelakang Sin Cie, dengan kongcee, dan tameng kwali, ia tangkis pelbagai gandewa, hingga kwalinya menerbitkan suara berisik berulang-ulang.
Disebelah depan mereka, ada beberapa serdadu, yang merayap naik, yang memegat, tapi berdua, guru dan murid itu, serang mereka, hingga belasan serdadu rubuh.
Sin Cie bersenjatakan tumbak pendek, diwaktu demikian, senjata itu tidak leluasa dipakainya, karena itu, ia lebih banyak lindungi diri.
Tidak lama, mereka telah sampai ditengah gunung, Baru mereka bernapas lega sedikit, lantas terdengar suara riuh, disusul sama munculnya sebarisan serdadu Beng Tiau dengan yang maju dimuka ada satu cian-bu atau kapten, yang bersenjatakan sebatang golok besar, malah terus saja dia bacok Ciu San. Cu Ciu San tangkis bacokan itu, ia merasakan tenaga musuh yang besar, maka dengan sebat, ia balas menyerang.
Kapten itu menangkis seraya ia serukan barisannya: "Saudara-saudara, maju!"
Ciu San tidak mau melayani lama-lama, dengan tamengnya, ia ancam kapten itu, dengan cagaknya, ia membarengi menikam, berbareng dengan mana, ia pun membentak.
Celaka adalah kapten itu, iganya kena tertusuk.
Selagi Ciu San cabut senjatanya, ia menoleh, ia tidak lihat Sin Cie, bukan main terkejutnya ia. Disebelah kiri ada suara berisik, ia lihat serdadu-serdadu berkerumun, ia lari kesana. Beberapa serdadu mundur sendirinya melihat ia merangsak.
Nyata disitu Sin Cie sedang dikepung tiga serdadu, tumbak pendeknya sudah terlepas jatuh, maka dia melawan dengan gunai Hok-hou-ciang, dengan tangan kosong. Kelihatan nyata ia sedang terdesak.
Tanpa bersuara lagi, Ciu San berlompat kepada musuh, terus ia menyerang. Satu serdadu rubuh, menyusul yang lain, dengan begitu, Sin Cie dapat ditolong.
"Mari!" mengajak sang guru. "Kejar!" berseru serdadu yang ketiga.
Tidak jauh dari situ masih ada kawan mereka, dua diantaranya lantas maju.
Dengan satu loh-bee, gerakan berbalik, Ciu San rubuhkan dua serdadu, kemudian ia terjang yang ketiga, yang coba merangsak. Serdadu yang ketiga itu kena dilemparkan hingga dia rubuh terbanting sambil perdengarkan jeritan hebat. Menampak demikian, serdadu-serdadu yang lainnya merandek, tak berani mereka mendesak.
Ciu San sambar Sin Cie, untuk dipondong, buat dibawa kabur dengan gunai ilmunya entengi tubuh. Ia tunggu sampai ia sudah terpisah jauh dari tentara negeri, Baru ia lepas turun muridnya itu.
"Apakah kau terluka?" dia tanya.
Sin Cie usap mukanya, ia kena raba barang bergenjik, waktu ia lihat tangannya antara cahaya rembulan, ia lihat barang cair merah, ialah darah. Ia terkejut. Ia pun kaget, akan lihat muka gurunya berlepotan darah juga.
"Encek Cui, darah, darah. " ia berseru.
"Tidak apa, inilah darahnya lain orang," sahut Ciu San. "Kau terluka atau tidak?"
"Tidak," jawab sang murid.
"Bagus! Mari kita pergi!" guru itu mengajak.
Mereka lantas nyelusup antara pepohonan, akan pergi dari tempat berbahaya itu. Mereka sudah jalan kira-kira setengah jam, sampai tidak ada pepohonan lagi, ketika Tiong Siu melongok kebawah, ia tampak cahaya terang, ada beberapa ratus serdadu menjaga disitu.
"Kita tak dapat turun, mari mundur. " Ia bilang.
Mereka jalan beberapa ratus tindak, sampai mereka lihat sebuah gua cetek yang tertutup pepohonan. Keduanya masuk, untuk umpatkan diri.
Sin Cie merasa sangat lelah, dasar anak kecil, ketika ia rebahkan diri, cepat sekali, ia jatuh pulas.
Ciu San angkat tubuh orang, buat dipeluki, supaya murid itu tidur dipangkuannya, sembari berbuat begitu, ia pasang kuping, hingga ia dengar, suara riuh masih belum berhenti. Kemudian ia dengar suara merotok keras, disusul sama naik tingginya cahaya api.
Teranglah sudah, kuilnya Wan Cong Hoan telah dibakar tentara Beng.