Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 11

Memuat...

Sin Cie gunakan otaknya, ketika ia Baru diajari tiga kali, ia sudah lantas ingat semua, dengan pelahan-lahan, ia bisa jalankan Hok-hou-ciang itu, maka dilain saat, sang guru mulai pecahkan artinya, keperluannya sesuatu jurus.

Sin Cie ingat dengan baik semuanya itu, ia terus berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia ketarik hati, gurunya pun suka terhadapnya, yang demikian rajin dan ulet, guru ini tungkuli terus padanya, hingga malam pertama itu mereka berlatih terus sampai jauh malam, Baru berhenti.

Besoknya pagi-pagi, Ciu San pergi keluar, untuk cari hawa fajar yang segar.

Betapa keheranannya, ia dapatkan Sin Cie asyik berlatih seorang diri ditanah lapangan, dan untuk kekagumannya, murid itu bisa jalankan semua jurus dengan baik. Ia jadi sangat girang. Dengan diam-diam, ia mendekati murid itu, akan akhirnya lompat melesat, untuk dupak bebokong orang.

Sin Cie sedang madap kelain jurusan, ia tidak lihat gurunya, akan tetapi ia dengar angin menyambar, segera ia egos tubuh kesamping, sembari berbalik, ia ulur tangan kanannya, untuk sambar kaki yang menendang ia, tapi kapan ia kenali gurunya, ia tarik pulang tangannya.

"Encek Cui!" ia berseru. Ciu San tertawa.

"Jangan berhenti, hayo menyerang terus!" kata guru ini sambil dia menyerang muka orang.

Sin Cie kelitkan kepalanya, kakinya dimajukan satu tindak, sedikit kesamping, dari situ ia kirim kepalannya yang kecil kepada pinggangnya sang guru. Inilah pukulan ke-89 dari Hok-hou-ciang, yang dinamakan "Cim jip hou hiat", atau "Masuk jauh dalam guha harimau".

"Bagus, begini memang maunya!" Ciu San memuji sambil ia berkelit. Kemudian, kembali ia serang murid itu.

Sin Cie layani guru itu, sampai sekian lama. Beberapa kali ia berbuat keliru, sang guru lantas ajarkan, untuk dibenarkan, hingga ia jadi sangat gembira. Terus-terusan ia layani gurunya, hingga habislah semua tiga-ratus dua-puluh empat jurus. Malah itu diulangi dan diulangi.

Bocah ini girang bagaikan ia peroleh azimat atau mustika, ia dapat kenyataan, Hok-hou-ciang menggenggam banyak rupa rahasia pukulan.

"Mari beristirahat," Kata Ciu San, sesudah lihat muridnya mandi keringat. Tapi sambil berduduk, ia pun berikan pelbagai penjelasan. Kemudian, habis mengaso, latihan diulangi. Guru dan murid ini berhenti untuk bersantap pagi, sekian lama habis itu, mereka berlatih pula. Hingga itu hari, dari pagi sampai jauh malam, mereka cuma berhenti untuk berdahar dan beristirahat saja.

Sin Cie lanjuti cara belajarnya ini terus menerus sampai tujuh hari, selama itu, sang guru juga terus layani dia, kemudian dimalam kedelapan, Baru Cio San kata pada muridnya: "Aku telah ajarkan semua kepada kau, bagaimana nanti jadinya, segala itu terserah kepada peryakinanmu sendiri. Diwaktu menghadapi lawan, orang mengandal tujuh bagian pada latihannya, tiga bagian pada kecerdasannya, apabila orang andalkan melulu latihan, kemenangan sukar didapat."

Sin Cie terima baik pesanan berarti ini.

"Besok aku hendak kembali kepada Lie Ciangkun," Ciu San terangkan kemudian. "Maka itu dibelakang hari, kau mesti berlatih sendiri saja."

Merah matanya Sin Cie mendengar perkataan guru itu, air matanya berlinang. Benar mereka berkumpul Baru beberapa hari tapi ia telah sangat sukai guru itu, yang manis-budi, yang mengajar ia dengan sungguh-sungguh.

Ciu San ada seorang peperangan ulung, tapi melihat sikapnya murid ini, ia terharu, maka ia lantas usap-usap kepala orang.

"Jarang aku menemui orang berbakat dan cerdik sebagai kau," kata guru ini, "maka sayang sekali kita berdua tidak berjodoh untuk berkumpul lama-lama..."

"Bagaimana kalau aku ikut pergi pada Lie Ciangkun, encek Cui?" Sin Cie tanya.

"Kau masih begini kecil, mana bisa?" sahut sang guru. Sin Cie hendak jawab guru itu atau mendadakan mereka dengar suara binatang buas diluar rumah.

"Binatang apa itu?" tanya si bocah. "Itu bukan suaranya harimau atau serigala. "

"Itulah suara harimau tutul," Ciu San terangkan. Mendadakan, ia tambahkan : "Mari kita tangkap binatang liar itu. Ada perlunya. "

"Perlu apa itu, suhu?" tanya Sin Cie, yang merasa heran.

Ciu San tidak menjawab, dia melainkan tertawa, segera ia bertindak keluar.

Murid ini terpaksa lantas menyusul.

"Encek Cui, senjata apa kau pakai untuk lawan macan tutul itu?" ia tanya kapan ia ingat gurunya tidak bekal senjata.

Ciu San tidak menyahuti, dia cuma bersenjum. Ia juga tidak ambil pintu depan hanya bertindak kesamping, diluar kamarnya Cou Tiong Siu, ia memanggil : "Cu Toako! Nie Toako!"

Dua orang yang dipanggil itu berada di dalam kamar, mereka lantas buka pintu.

"Tolong toako bantu aku," kata Ciu San sambil tertawa," di luar ada seekor macan tutul , harap toako beramai usir dia masuk kedalam rumah, aku membutuhkan dia."

"Baik, baik," jawab Nie Hoo, si tukang memburu harimau. Malah dia segera sambar cagaknya, untuk mendahului keluar.

"Nie Toako, jangan lukai binatang itu!" Ciu San pesan. Nie Hoo tidak menyahuti, ia keluar terus. Ciu San menyusul bersama-sama Cu An Kok dan Lo Tay Kan. Sin Cie bekal tumbak pendek, ia hendak turut.

"Sin Cie, jangan kau ikut, tunggu disini saja gurunya mencegah.

Bocah ini terpaksa menurut, maka itu, ia berdiam bersama Tiong Siu dan Eng Siong. Mereka mengawasi dari jendela.

Ciu San bertiga membawa obor, masing-masing berdiam ditiga penjuru. Nie Hoo sendirian saja, ditepi gunung, lagi tempur sang binatang liar, tapi ia taat kepada pesannya si Cui, ia tidak mau lukai binatang itu, ia cuma menyerang mengancam sambil bela diri.

Begitu lekas lihat api obor, macan tutul itu kaget, berniat melarikan diri, tetapi ketika dia mundur untuk lari, Cu An Kok bertiga pegat dia di tiga jurusan, hingga dia jadi makin bingung. Diantara tiga orang itu, Ciu San tidak pegang senjata, dia lantas terjang gurunya Sin Cie ini.

Ciu San tidak takut, ia tidak kaget mendengar gerungan, ketika ia ditubruk, ia egos tubuh sambil menyerang kepalanya binatang itu, atas mana si macan tutul rubuh bergulingan, saking kerasnya pukulan. Tapi dia lekas bangun pula, untuk terus lari, kearah selatan, yang tak ada yang jaga. Ini ada jalanan untuk masuk kedalam rumah, itulah pintu muka. Dia cerdik, dia urung memasuki pintu itu. Tapi ia telah dikurung dari segala penjuru, cahaya api bikin dia bingung.

Ciu San maju dengan berani, selagi berada dibelakangnya si macan tutul, ia lompat untuk menendang, hingga saking kaget dan kesakitan, binatang itu loncat kedepan. Maka sekali ini, mau atau tidak, ia masuk juga kedalam rumah. Eng Siong didalam rumah sudah siap, ia telah tutup semua pintu kecuali pintu barat, maka kesitu, macan itu lari. Binatang ini menyingkir tanpa pilih jalanan lagi. Begitulah dia memasuki pendopo barat, sesudah mana, Lo Tay Kan kuncikan dia pintu.

Setelah berkumpul, semua orang, yang bergembira, awasi Ciu San. Mereka masih belum tahu maksud utusan dari Lie Cu Seng itu.

Ciu San tertawa, ia kata pada muridnya : "Sin Cie, pergi masuk kedalam, kau hajar macan tutul itru!" ia menitah.

Semua orang tercengang.

"Aku kuatir ini tak sempurna...." Kata Tiong Siu, yang berkuatir.

"Aku nanti mengawasi dari samping, tidak ada bahayanya," Ciu San bilang, sikapnya tenang.

"Baik!" jawab Sin Cie, yang terus bertindak kepintu, sambil bawa tumbaknya.

Bocah itu tercengang, tapi segera ia mengerti, gurunya rupanya ingin dia gunai Hok-hou-ciang. Tentu saja ia bersangsi.

"Kau takut?" sang guru tanya.

Sin Cie tidak menjawab, hanya ia cabut palangan pintu, terus ia buka daun pintu, akan nyeplos kedalam.

Segera juga terdengar suara menggeram, lalu satu bajangan berlompat nubruk.

Sin Cie berkelit kesamping, sebelah tangannya dipakai menyerang, mengenai kuping si macan tutul, tetapi ia bertenaga kecil, binatang itu seperti tidak merasai sakit, tapi dia membalik tubuh, untuk menerjang pula. Dengan gesit Sin Cie lompat, kebelakang macan itu, akan betot ekornya.

Sementara itu, Cui Ciu San juga sudah njeplos masuk, ia terus berdiri dipinggiran seraja pasang mata.

Sin Cie tendang macan itu, atas mana, binatang ini tarik ekornya, hingga si bocah mesti lepaskan cekalannya. Setelah memutar tubuh, harimau itu menubruk pula.

Dengan berkelit sambil mendekam, Sin Cie selamatkan diri, karena ia berada disamping, kembali ia kirim kepalannya, hanya seperti tadi, binatang buas itu tidak bergeming karenanya.

Itu waktu Cou Tiong Siu beramai turut menonton, biar bagaimana, mereka kuatirkan itu pemimpin cilik, yang masih terlalu muda usianya. Mereka bantu menjaga, diantaranya ada yang terus pegangi obor, sedang An Kok dan Nie Hoo siapkan senjata rahasia mereka. Segera juga mereka menyaksikan dengan kekaguman, mlihat bagaimana bocah she Wan itu bergerak gesit sekali.

Mulanya tertampak Sin Cie masih ragu-ragu atau sedikit jeri, tetapi setelah pertarungan ganjil ini berjalan sekian lama, hatinya jadi mantap. Nyata ia bisa gunai dengan sempurna Hok-hou-ciang, itu ilmu pukulan "Menakluki Harimau". Ia pun insaf, percuma ia main kelit, sia-sia saja ia mengajar dengan kepalannya, macan itu ada terlalu tangkas untuk dia, maka diakhirnya, ia pakai akal. Ialah saban-saban ia loncat kebelakang macan tutul itu, ia membetot, habis itu, ia jambak bulunya, untuk dibetot copot.

Dicabuti bulunya, yang mana sering kejadiannya, lama- lama macan tutul itu berasa juga sakit, , maka saban-saban dia menderum, berbareng diapun jadi semakin gusar, tubrukan-tubrukannya jadi semakin sengit dan hebat. Tapi

79 tetap saja, tidak pernah dia mampu terkam itu bocah, yang tubuhnya sangat gesit dan licin. Maka diakhirnya, dari kewalahan, dia mulai jeri juga, hingga dia lalu tukar siasat, dari saban-saban menerkam, dia main mundur, dia pentang mulutnya akan mengancam dengan giginya yang besar dan tayam.

Sin Cie cerdik, ia ganggu macan itu, sampai dia saban- saban diterkam pula, saban diterkam, dia loncat kesamping

, atau kebelakang, selalu dia cabut bulunya! Cou Tiong Siu beramai, dari berkuatir, jadi tertawa melihat lagak-lagunya bocah ini, kelincahan siapa mereka sangat kagumi.

Biar bagaimana, macan tutul itu tidak dapat dirubuhkan cuma karena bulunya dicabuti, pun sia-sia saja pukulan kepalan dan tendangannya Sin Cie, dari itu, juga ini bocah lalu menukar siasat.

Sekonyong-konyong Sin Cie mendekam, ia loncat kedepan macan tutul itu. Gerakan ini membuat heran itu binatang buas, yang jadi melengak, tapi meski demikian, dia lantas ingat untuk lompat menerkam. Gerakannya ada sangat gesit, sedang itu waktu, Sin Cie sampai didepan binatang itu, hingga ia jadi berada dibawah perutnya si raja hutan.

Post a Comment