Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 10

Memuat...

Ciu San tidak bilang suatu apa, ia cuma perdengarkan suara tak nyata.

"Putera itu, yang menjadi tuan muda kita, bernama Wan Sin Cie," kata Eng Siong terangkan lebih jauh. "Kami berempat adalah yang didik ia dalam ilmu surat dan ilmu silat. Dia ada berotak sangat terang, bahannya baik sekali, apa yang diajari dia lantas bisa, Baru dua tahun, hampir habis semua kebisaan kami diturunkan kepadanya. Dia masih sangat muda, ada beberapa rupa pelajaran yang ia masih belum menginsafinya, maka itu kami pikir, apabila ia tetap berada dibawah pimpinan kami, sukar untuk dia peroleh kemajuan terlebih jauh." Mendengar sampai disitu Ciu San segera mengerti maksud orang.

"Jadi saudara ingin aku yang teruskan mendidik dia?" ia tegasi.

Cu An Kok manggut.

"Tadi kami saksikan toako layani itu dua mata-mata dorna, kami dapat kenyataan toako ada sepuluh kali lebih pandai daripada kami," berkata dia," maka jikalau toako sudi terima dia sebagai murid, untuk didik padanya, kami percaya rohnya Wan Thayswee didunia baka pasti akan sangat berterima kasih kepadamu. "

Lantas saja empat saudara itu menjura kepada sahabat baru ini.

Dengan cepat-cepat, Cui Ciu San membalas hormat.

Segera ia berdiam.

"Saudara-saudara sangat menghargai aku, turut pantas, tak dapat aku menampiknya," kata ia kemudian. "Hanya sayang sekarang ini aku mesti berdiam didalam tangsinya Lie Ciangkun, siang dan malam, tidak ada ketentuannya waktu, saban-saban aku mesti keluar untuk lakukan tugas, malah satu waktu, kami mesti bertempur dengan tentara negeri, hingga tak dapat dipastikan, berapa hari lagi ada umurku. Maka itu, jikalau Wan Kongcu mesti tinggal bersamaku didalam tangsi, aku sangat kuatir kegagalannya, Tidak ada tempo senggang untuk aku mendidik dia, dilain pihak, keselamatannya berada dalam ancaman bencana."

Alasan itu ada beralasan, mendengar itu, Eng Siong berempat jadi putus asa.

Ciu San lihat orang berputus asa. "Ada satu orang bugee siapa dapat menangkan aku berlipat-lipat," kata dia kemudian," jikalau dia suka terima Wan Kongcu, sungguh itu ada keberuntungan besar bagi kongcu itu..." Tapi mendadakan ia goyang-goyang kepala, lalu ia ngoceh seorang diri: "Tidak, tidak, inilah tak bisa menjadi. "

Eng Siong beramai heran.

"Siapa orang itu?" tanya dia begitupun Cu An Kok. "Itulah si orang aneh yang aku sebutkan tadi," jawab Ciu

San. "Kepandaiannya tidak ada batasnya. Dia ajari aku Baru enam bulan, aku telah punyakan kebisaanku seperti sekarang ini, toh itu Baru kulitnya saja. "

"Siapa sebenarnya orang aneh itu?" tegaskan An Kok, yang girang tak kepalang.

"Dia ada seorang yang tabiatnya aneh," terangkan Ciu San. "Dia telah ajarkan ilmu silat padaku tetapi dia larang aku panggil guru kepadanya dan dia pun larang aku beritahukan namanya kepada lain orang, maka itu, aku kuatir taklah bisa berhasil apabila Wan Kongcu disuruh pergi belajar padanya."

"Dimana tinggalnya orang aneh itu?" Nie Hoo tanya. "Dia juga tidak punya tempat kediaman yang pasti. Dia

biasa pergi kesegala tempat, setiap kali dia pergi, dia tidak

mau beritahukan kemana perginya."

Eng Siong berempat kewalahan, tapi si Eng ini terus panggil Wan Sin Cie untuk bocah ini diperkenalkan kepada utusannya Lie Cu Seng itu.

Cui Ciu San senang melihat ini anak, yang romannya cakap,yang tubuhnya sehat sekali, kapan ia tanyakan pelajarannya Sin Cie, Sin Cie menyahuti dengan rapi. "Eh, encek Cui," tiba-tiba bocah ini tanya," ketika tadi encek rubuhkan kedua mata-mata, ilmu pukulan apakah yang encek gunai?"

Ciu San tertawa.

"Itu ada pukulan Hok Hou Ciang, Harimau mendekam, salah satu pecahan dari Shacap-lak Lou Kim-na-hoat."

"Demikian cepat gerakan encek, sampai aku tak melihat tegas!" bocah itu kata.

"Apakah kau ingin pelajarkan itu?" tanya Ciu San. Sin Cie sangat cerdik.

"Ja, encek Cui, ajarkanlah aku!" ia lantas minta. Ciu San menoleh pada Eng Siong.

"Pada Lie Ciangkun aku telah bicara akan berdiam disini beberapa hari, biar aku gunai ketikaku akan ajarkan ini anak," ia bilang.

Tentu sekali, Eng Siong girang, sedang Sin Cie sudah lantas menghaturkan terima kasih.

Pada waktu itu, Lau It Hau dan Cou Tiong Siu telah mencapai permufakatan untuk perserikatan, maka juga dihari kedua, dihadapan patung Wan Cong Hoan, kedua pihak resmikan itu dengan angkat sumpah, untuk mati dan hidup bersama.

Pun pagi-pagi, Tiong Siu telah kasi selamat jalan pada Tiau Cong dan Peng Kie bertiga, selagi berpisahan , ia bilang pada mereka berdua: "Kita telah bertemu secara kebetulan, inilah jodoh. Tentang kami disini, asal ada yang bocor, kesudahannya dua saudara harus ketahui sendiri, tak dapat aku jelaskan lagi!" "Itulah pasti, kami sudah mengerti," sahut Tiau Cong berdua.

Tiong Siu bekali lima puluh tail perak dan perintah dua orang antar mereka ini turun gunung.

Sejak itu, sesampainya mereka dirumah masing-masing, selagi Tiau Cong rajin belajar surat dengan tak suka pesiar lagi, hingga kemudian ia jadi terpelajar tinggi.

Yo Peng Kie tutup Piau-kioknya, akan hidup menyendiri, sebab ia insyaf, kepandaian tak ada ujung- pangkalnya, orang pandai ada yang lebih pandai, maka ia anggap lebih baik ia bertani, bercocok-tanam saja.

Lau It Hou pulang berdua saja sama kawannya, si orang she Thian.

Dengan pertemuan telah sampai diakhirnya, kaum San- cong pun bubaran, akan masing-masing pulang, tetapi diantaranya, ada yang kemudian pergi hubungi diri pada Lie Cu Seng.

Cou Tiong Siu bersama Cu An Kok, Nie Hood an Eng Siong beramai masih terus berdiam diatas gunung. Mereka masih mesti urus Wan Sin Cie. Sebaliknya, Sin Cie sendiri seperti tak perdulikan hal-ikhwalnya sendiri saking kegirangan lantaran janjinya Cui Ciu San akan ajarkan dia ilmu silat Hok-hou-ciang.

Malam itu Sin Cie tak dapat tidur nyenyak, sedang dihari besoknya, dia sibuk sendiri, karena belum sempat orang perhatikan dia. Habis rapat, orang semua sibuk menjelesaikan ini dan itu, akan antar mereka yang berangkat pulang. Mereka ini pun pada pamitan dari pemimpin muda ini.

Adalah setelah sore, Baru Tiong Siu perintah siapkan sebuah meja serta satu kursinya, begitupun lilin dan hio.

70 Cui Ciu San diminta duduk dikursi itu, untuk terima hormatnya Sin Cie. Disitu hendak diadakan upacara sederhana pengangkatan guru atau penerimaan murid.

"Saudara Wan kecil ini, sekali aku lihat, aku lantas suka padanya," kata Ciu San. "Dia suka Hok-hou-ciang, aku nanti pakai tempoku beberapa hari untuk ajarkan dia sekedarnya. Tentu saja, tempo hanya beberapa hari, tidak cukup, hingga harus disangsikan ia bisa gunakan itu atau tidak apabila ia sudah bisa melatihnya sendiri. Semua- semua ada bergantung dengan bakat, kerajinan, dan keuletannya. Biarlah kita menjadi sahabat-sahabat saja bukannya guru dan murid, suatu hal yang tak dapat dibicarakan."

"Asal dia diajari, walaupun cuma satu-dua gebrak, dia sudah berarti murid dan saudara adalah guru," Eng Siong bilang. "Harap Cui Toako tidak terlalu merendah."

Tapi putusannya Ciu San tak dapat diubah, hingga akhirnya orang mengalah.

Sama-sama ahli silat, Eng Siong semua ketahui baik aturan orang memberi pelajaran, apapula mengenai Ciu San dan Sin Cie, guru dan murid istimewa. Tentu sekali, orang luar tak dapat tonton mereka. Maka itu, semua lantas undurkan diri.

Ciu San tunggu sampai semua orang sudah pergi, ia duduk dikursi yang disediakan tadi, untuk bicara sama ahli warisnya mendiang Wan Cong Hoan.

"Sin Cie," katanya dengan sungguh-sungguh. "Ini ilmu silat Hok-hou-ciang aku peroleh dari seorang berilmu yang telah berusia lanjut, aku sendiri masih belum meyakinkannya sampai sempurna, akan tetapi, apabila dipakai melayani lawan yang umum, sudah cukup. Ketika aku diwariskan ilmu pukulan ini, orang berilmu itu

71 wajibkan aku angkat sumpah, ialah tak boleh aku gunakan untuk menghina orang baik-baik atau mencelakai tanpa alasan. "

Sin Cie ada sangat cerdik, segera ia mengerti maksud gurunya ini, lantas ia bertekuk lutut seraya katanya : "Murid Wan Sin Cie, apabila telah berhasil mempelajari Hok-hou- ciang, tak akan gunakan itu untuk menghina orang baik- baik dan mencelakai tanpa alasan, Baru ia meneruskan : ". biarlah suhu nanti pukul mati padaku!"

Mendengar sumpah itu, Ciu San tertawa.

"Bagus!" berkata dia, yang tubuhnya mencelat dengan mendadakan.

Sin Cie angkat kepala dengan heran, karena sang guru lenyap dari hadapannya, kapan ia menoleh, guru itu kembali telah berada dibelakangnya dan pundaknya lantas ditepuk.

"Kau tangkap aku!" menganjurkan guru ini.

Sin Cie telah peroleh ajaran dari Cu An Kok dan Nie Hoo, kecuali dasarnya baik, dia pun cerdik, maka atas anjuran gurunya ini, ia tidak lantas memutar diri, hanya ia mendak dulu, sembari berbuat demikian, tangan kirinya digeraki, tangan kanannya menyusul - ia pun sembari dengari anginnya gerakan tubuh sang guru - lalu dengan tiba-tiba,ia menyambar kearah kaki.

"Inilah cara yang tidak bercela!" terdengar sang guru, kaki siapa tapinya tidak kena disambar. Dilain pihak, pundaknya si murid kembali kena ditepuk. Murid ini memutar tubuh dengan siasia, ia tak lihat gurunya itu.

Kembali Sin Cie perlihatkan kecerdikannya, ia ingat baik-baik, ajarannya Nie Hoo. Ia tidak membalik tubuh, ia tidak menyambar lagi, hanya ia jalan setindak demi setindak kearah tembok, begitu lekas sudah sampai, mendadakan ia putar tubuhnya seraja berseru: "Encek Cui, aku dapat lihat padamu!"

Dengan sebenarnya, diakui cara demikian, Ciu San tak lagi bisa singkirkan diri.

"Bagus, bagus!" kata Ciu San sambil tertawa. "Kau cerdik, kau ada punya bakat, kau pasti bakal bisa jakinkan Hok-hou-ciang!"

Lantas saja guru istimewa ini mulai berikan pelajarannya, sejurus dengan sejurus, sampai diakhirnya, yang semua terdiri dari seratus delapan gerakan, dan saban gerakan mempunyai lagi tiga perubahan, untuk mengelakkan diri dan menyerang saling ganti, hingga semuanya jadi jumlah tiga-ratus dua-puluh empat jurus.

Post a Comment