Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 09

Memuat...

Semua hadirin berubah menjadi girang melihat utusan itu demikian liehay, mereka yang hendak membantu pun urungkan niatnya masing-masing. Semua lantas menonton saja.

Selagi pertempuran berjalan, dua mata-matanya Co Thaykam sibuk sendirinya. Mereka insyaf, walaupun mereka mengepung berdua, sebenarnya mereka sendiri berada didalam sarang harimau, mereka dengan sendirinya terancam bahaya. Karena ini, mereka main mundur dengan pelahan-lahan, akan kemudian mendadakan merangsak, untuk mendesak.

Utusannya Lie Cu Seng berkelahi dengan hati-hati, tapi daripada membela diri, ia lebih banyak menyerang, tidak peduli ia bertangan kosong. Dengan begini, ia pun bisa merintangi kedua musuh, yang berniat menghampirkan pintu, untuk loncat keluar, untuk lari.....

Dalam sibuknya, si muka putih mainkan poan-koan pit secara hebat, ia ingin bisa totok jalan darah lawan, untuk dibikin rubuh, sedang si berewokan kuning mendesak dengan ilmu goloknya Bu-Seng-Bun asal Shoasay, satu kali ia mendak dengan tiba-tiba tetapi goloknya membacok kebawah. Ini kalipun desakan ada sangat berbahaya. Akan tetapi, orang semua lihat, utusan itu tetap tenang saja, benar ia mundur tapi dengan teratur.

Pertempuran berlanjut. Sebab pihak Co Thaykam ingin bisa angkat kaki, mereka coba merangsak terus. Tapi mendadakan, si berewokan kuning terdengar menjerit, menjerit kesakitan, goloknya terpental diantara hadirin.

Melihat demikian, Cu An Kok maju, akan tanggapi gegaman itu.

Berbareng sama terlemparnya golok, utusan Lie Cu Seng kirim tendangan terhadap lawannya yang berewokan kuning itu, tidak ampun lagi, lawan itu terjungkal rubuh. Tapi utusan itu tidak berhenti sampai disitu, Baru kaki kiri turun atau kaki kanannya menggantikan melayang akan tendang juga lawannya yang kedua, si muka putih.

Lawan yang kedua ini liehay, ia bisa loloskan diri dari ancaman kaki itu, dilain pihak, ia terus maju, akan balas menyerang. Lagi-lagi ia menotok kedada musuh, sepasang poan-koan-pit sengaja dimajukan silih-ganti.

Utusannya Lie Cu Seng berlaku gesit, ketika poan-koan- pit yang pertama, tangan kiri, hampir mengenai dadanya, dengan tiba-tiba ia miringkan tubuh dan tangannya dipakai menyambar ujung senjata musuh itu, begitu ia dapat mencekal, begitu ia membetot dengan dikageti, hingga dalam sekejab saja, ia telah rampas senjata itu.

Poan-koan-pit tangan kanan, yang dipakai menyusul, telah menyusul dengan tak dapat dibatalkan lagi, segera senjata ini diketok lawannya, yang gunakan poan-koan-pit kirinya itu, maka kedua senjata beradu keras, nyaring suaranya, muncrat lelatu apinya.

Celaka untuk si muka putih, selagi tangannya sesemutan dan sakit karena bentrokan yang hebat itu, ia juga tak dapat cekal lebih jauh sisa senjatanya itu, yang terlepas dan terpental! Si muka hitam lantas saja tertawa pandang, sembari tertawa, tangan kanannya menyambar dada musuh, untuk segera diangkat, lalu menyusul tangan kirinya, menyambar celana musuh itu, sesudah mana, kedua tangannya, yang masing-masing masih mencekal, dipentang dengan keras, hingga belum orang tahu apa-apa, terdengarlah suara memberebet yang nyaring.

Ternyata celana si muka putih kena terbeset pecah dan tertarik hingga copot, hingga orangnya Co Thaykam itu menjadi telanjang sebatas pinggang kebawah, hingga dilain pihak, semua hadirin mengawasi dengan melongo.

Si muka hitam bicara.

"Kau ada orang kebiri atau bukan, biarlah orang banyak persaksikan!" berkata dia.

Baru sekarang semua orang seperti tersadar. Memang benar, si muka putih adalah seorang kebiri, hingga - saking lucu - semua orang tertawa lebar, semua bertindak mendekati, mengurung thaykam itu, muka siapa pucat, bahna jengah.

Dilain pihak lagi, semua orang kagumi utusannya Lie Cu Seng itu untuk kegagahannya.

Sementara itu, dua-dua mata-matanya Co Thaykam telah ditelikung.

"Untuk apa Co Thaykam kirim kamu kemari?" Tiong Siu segera memeriksa. "Kamu ada punya berapa kawan? Cara bagaimana kamu bisa nyelundup masuk kesini?"

Dua orang itu bungkam.

Melihat orang membandel, Tiong Siu kedipi Lo Chamciang, siapa sudah lantas datang mendekati, dengan goloknya, ia bacok bergantian dua mata-mata itu, hingga kepala mereka kutung, sesudah mana, kedua kepala diletaki diatas meja sembahyang.

"Jikalau tidak ada sam-wie, tentu sekali kami bakal alami bencana," kata Tiong Siu kemudian kepada utusannya Lie Cu Seng bertiga. Ia memberi hormat seraya terus mengucap terima kasih.

"Tapi ini pun terjadi karena kebetulan saja," berkata Lau It Hou. "Selama ditengah jalan, kami lihat dua orang ini, yang sikapnya mencurigai, yang gerak-gerakannya gesit, karena itu, selagi mondok, kami intai mereka, kesudahannya kami ketahui siapa adanya mereka. Mereka rupanya tak sangka ada orang yang intai mereka, hingga mereka kasak-kusuk dengan leluasa."

Sampai disitu, Tiong Siu tanya dua kawannya orang she Lau ini.

Orang yang beroman cakap itu mengaku she Thian, dan kawannya yang mukanya hitam, she Cui.

Cu An Kok kagumi utusan yang gagah itu, sampai ia jabat orang punya tangan dan puji padanya.

Kemudian Lau It Hou bersama-sama Cou Tiong Siu dan beberapa orang lagi, pergi kebelakang, kekamar rahasia, untuk bicara. Utusan ini sampaikan amanatnya Lie Cu Seng, yang suka bekerja sama-sama untuk gulingkan pemerintah.

Atas usul perserikatan itu, pihak Cou Tiong Siu ragu- ragu, maka kemudian, Tiong Siu bilang : "Menurut aku, baiklah kitaorang bekerja sama-sama. Co Thaykam sudah ketahui gerakan kita, kita harus perbesar jumlah kita. Dimana tujuannya Lie Ciang-kun ada sama dengan cita-cita kami, kita bisa bekerja sama-sama untuk lawan pemerintah dengan berbareng kita sendiri bisa balaskan sakit hatinya Wan Thaygoanswee. Apa yang aku buat kuatir adalah Co Thaykam nanti mendahului menyerang kita."

Pikiran ini dapat kesetujuan, maka putusan segera diambil.

Selagi didalam orang rundingkan cara-cara untuk bekerja sama-sama, diluar, Cu An Kok, bersama si Nie, yang bernama Hoo, tarik tangannya si anak muda muka hitam she Cui, yang bernama Ciu San, untuk diajak ke tempat yang sepi.

"Cui Toako", kata An Kok, "Walaupun kita Baru pernah bertemu hari ini, hari pertama, aku percaya kita sudah seperti sahabat kekal, maka itu harap kau tidak pandang kita sebagai orang luar."

"Jiewie toako, dulu kamu telah hajar bangsa Tartar, kamu telah lindungi rakyat negeri" berkata Ciu San, "perbuatan itu ada perbuatan yang membikin aku kagum, sekarang aku bisa bertemu sama sahabat-sahabat dari San- cong, aku girang bukan main!"

"Aku ingin berlaku lancang aku ingin ketahui, guru toako itu siapa adanya?" tanya Nie Hoo.

Ditanya tentang gurunya, matanya Ciu San mendadakan menjadi merah.

"Guruku itu ada It-seng-lui Thio Pek Ya, sudah banyak tahun ia menutup mata," ia jawab.

Cu An Kok dan Nie Hoo saling mengawasi, terang mereka heran.

Nie Hoo ada polos, ia segera berkata pula: "Aku tahu It- seng-lui Thio Cianpwee, namanya yang besar kita kagumi, akan tetapi, Cui Toako, harap kau tidak gusar, sekalipun Thio Cianpwee berkepandaian tinggi, ia nampaknya masih beda jauh dengan kau."

Cui Ciu San berdiam, ia tidak menyahuti.

"Memang benar, hijau asalnya dari biru," An Kok turut bicara, "memang sering terjadi, murid suka melebihkan gurunya, akan tetapi barusan, melihat caranya toako kalahkan kedua mata-matanya Co Thaykam, pasti toako ada punya kepandaian lain. "

Ciu San bersangsi, tapi kemudian ia menyahuti juga. "Jiewie ada kedua sahabat baik, tidak selayaknya aku

sembunyikan apa-apa terhadapmu," demikian katanya.

"Memang, setelah suhu menutup mata, aku telah ketemu jodoh lain, seorang aneh. Dia ini merasa kasihan melihat aku, dia ajarkan aku beberapa rupa ilmu pukulan yang menjadi kebiasaannya, tetapi ia telah suruh aku bersumpah untuk tidak sebutkan nama atau gelarannya. Maka itu, jiewie toako, harap kau maafkan aku."

Kedua orang she Cu dan Nie itu lihat orang bicara sungguh-sungguh.

"Jangan omong tentang maaf, toako," berkata An Kok. "Kalau aku sampai menanyakan jelas kepadamu, itu disebabkan ada satu urusan yang penting."

"Apakah itu, jiewie?" Ciu San tanya. "Segala apa yang aku sanggup kerjakan, aku tentu suka lakukan untuk kamu. Diantara orang sendiri harap jiewie toako tidak sungkan- sungkan."

An Kok manggut.

"Harap tunggu sebentar, Cui Toako, kita hendak cari dua orang untuk bicara sebentar," kata ia.

Ciu San lihat orang berlaku sesungguhnya, ia manggut. An Kok lantas pergi, bersama-sama si Nie.

Mereka cari si Eng dan si Lo, yang diajak kesamping. "Ada apa?" si Eng tanya.

"Aku mau bicara perihal utusan she Cui itu," jawab An Kok. "Tak satu dari kita sanggup lawan bugeenya, sedang menurut caranya ia bicara, dia ada seorang jujur. "

"Melainkan mengenai gurunya, dia ragu-ragu bicara terus terang," Nie Hoo timpalkan.

Cu An Kok lantas tuturkan hal pembicaraan mereka sama si Cui itu. Ia pun kasi tahu ia dan maksudnya si Nie.

Si Eng, ketika pembuatan tembok kota di Leng-wan, itu adalah buah rencananya, pada itu, dia keluarkan tenaga tidak sedikit. Sedang si Lo , yang bernama Tay Kan, ada satu tukang tembak meriam jempolan, selama peperangan di Leng-wan, dialah yang sulut meriam besar Ang-ie Toa Pau, hingga bukan sedikit tentara Boan yang terbinasa. Karena jasanya, ia telah diangkat jadi Cham-ciang, letnan kolonel.

"Tak ada halangannya kita omong terus-terang dengannya." Kata Eng Siong kemudian. "Setelah kita minta, kita lihat bagaimana sikapnya."

"Aku pikir baik kita tanya dulu pikirannya Cou Siangkong," Cu An Kok mengusulkan.

Usul ini dapat persetujuan, maka mereka lantas pergi kebelakang dimana Cou Tiong Siu sedang bicara dengan asik sekali sama Lau It Hau. Ketua itu dipanggil sebentar, untuk diajak berdamai.

"Eng Suya," berkata si siangkong," urusan ini mengenai kepentingan seumur hidup dari tuan muda kita, sebelum kita ambil putusan, baiklah kau tanyakan dulu pikiran si orang she Cui itu."

Eng Siong setuju, maka ia lantas ajak Cu An Kok, Nie Hoo, dan Lo Tay Kan pergi pada Ciu San.

"Cui toako, kami ada punya satu urusan untuk mana kami harap benar bantuanmu," berkata Eng Siong. "Maka itu. "

Cui San lihat orang ragu-ragu, ia jadi tidak sabar.

"Aku ada seorang kasar, jikalau ada apa-apa, titahkanlah aku," kata ia. "Asal apa yang aku bisa, tidak nanti aku tidak menurut."

"Saudara Cui jujur, baiklah, kita juga hendak bicara terus terang," kata Eng Siong. "Ketika Wan Taygoanswee teraniaya, ia ada meninggalkan satu putera, waktu itu, sang putera Baru berumur tujuh tahun. Untuk tolongi putera itu, kita telah lakukan perampasan, karena mana, tiga kali kami lakukan pertempuran, hingga dua saudara kami terbinasa. Syukur untuk kami, kami berhasil menolongi putera itu."

Post a Comment