Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 08

Memuat...

Cu Kok An berdiri buat terus berkata : "Ilmu silat pemimpin muda kita selama satu tahun ini telah peroleh

52 kemajuan pesat dan surat pun ia mengenal tambah banyak. Ilmu silatku, ilmu silatnya saudara-saudara Nie dan Lo, semua telah diwariskan kepadanya, maka itu sekarang aku hendak minta saudara-saudara pujikan lain guru untuk didik ia terlebih jauh."

"Bagus!" jawab Cou Tiong Siu. "Tentang itu, sebentar kita damaikan pula. Bagaimana urusan menyingkirkan orang jahat?"

Si Nie, si pembunuh harimau, berbangkit, menggantikan si Cu, yang telah berduduk pula. Kata ia : "Si pengkhianat she Un telah dibinasakan Lo Cham-ciang di propinsi Ciatkang dalam bulan yang lalu, dan pengkhianat Du akulah yang bunuh pada sepuluh hari yang lalu ketika aku susul dia di Tiang-an. Kepala mereka berdua ada disini."

Habis berkata, si Nie jumput satu kantong yang diletaki dilantai, ia buka itu, untuk keluarkan dua kepala orang.

"Bagus, bagus!" banyak orang berseru, kemudian pun terdengar cacian dan kutukan terhadap dua pengkhianat itu.

Tiong Siu sambuti dua kepala orang itu, untuk diletaki diatas meja sembahyang, setelah mana, ia berlutut menjalankan kehormatan.

Tiau Cong kenali dua kepala itu, ialah yang Peng Kie pergoki didalam peti kayu. Baru sekarang ia mengerti, itulah dua musuhnya Wan Tok-bu.

Setelah itu beberapa orang lain, dengan bergiliran, keluarkan masing-masing satu kepala orang, yang juga diletaki diatas meja sembahyang, hingga disitu semua ada belasan kepala tanpa tubuh.

Sesuatu dari orang-orang itu berikan laporannya seperti si Nie, dari situ jadi dapat diketahui, salah satu kepala adalah kepalanya satu giesu yang Tiau Cong dengar dari

53 ayahnya dulu pernah dakwa Wan Cong Hoan, yang dituduh bersekongkol hendak menjual Negara, pantas sekarang dia dibinasakan.

"Sekarang tinggallah satu musuh besar kita terhadap siapa kita belum mencari balas!" kata Tiong Siu setelah pelbagai laporan itu. "Raja Tartar dan kaisar Cong Ceng masih bercokol atas tahtanya! Bagaimana kita mesti menuntut balas? Coba saudara-saudara utarakan pikiranmu masing-masing."

Seorang kate berbangkit.

"Cou Siangkong!" berkata ia dengan suaranya yang nyaring luar biasa, hingga Tiau Cong dan Peng Kie jadi heran, sebab itulah suara tak dinyana dari surang kate sebagai dia.

"Tio Congpeng hendak bicara apa?" tanya Tiong Siu. "Silakan!"

"Menurut aku," berkata si kate itu. Tapi dia belum sempat meneruskannya ketika dari luar muncul satu orang, sikapnya tergesa-gesa, terus saja ia kata : "Ciangkun Lie Cu Seng ada kirim utusan! "

Mendengar ini, banyak orang perdengarkan suara tak nyata.

"Tio congpeng, mari kita sambut dulu utusannya Lie Ciangkun," Tiong Siu mengajak.

"Baik," jawab chamciang itu, malah dialah yang mendahului bertindak keluar.

Sekalian hadirin berbangkit, untuk pergi keluar.

Pintu besar sudah lantas dipentang, dua orang, dengan obor-obor besar ditangan, berdiri dikiri dan kanan, kemudian tertampak tiga orang bertindak masuk. Selama ia berada di Siamsay, Peng Kie telah dengar nama besar dari Lie Cu Seng yang berani bunuh pembesar negeri dan berontak, maka sekarang ia ingin ketahui utusannya pemberontakan itu.

Dari tiga orang itu, yang jalan terdepan, ada seorang umur empat-puluh lebih, romannya bengis, tetapi dandanannya seperti rakyat jelata saja, sebab rambutnya kusut, kakinya bersepatu rumput saja, tanpa kaos, dan bajunya, yang kapas hitamnya molos keluar, tangan bajunya sudah pada pecah. Itulah roman umum dari petani di Siamsay.

Dari dua yang lain, yang satu berumur tiga-puluh lebih, kulitnya putih, romannya cakap, tak miripnya dia dengan petani, dan kawannya, yang berusia dua-puluh lebih, bertubuh besar-kekar, kulit mukanya rada hitam, tapi dia mirip dengan petani.' Sampai di thia, orang yang pertama masih mengucap apa-apa, dimuka meja, ia berhenti untuk berdiri diam. Adalah si muka putih, yang menggendol buntalan dibelakangnya, keluarkan lilin dan hio, untuk disulut dan dipasang, sesudah mana, bertiga mereka menjalankan kehormatan sambil berlutut dan manggut- manggut, atas mana si bocah pengangon kerbau turut tekuk kaki, untuk membalas hormat itu.

Setelah upacara ini, si rambut kusut kata dengan nyaring

: "Ciangkun kami Lie Cu Seng ketahui halnya Wan Tayciangkun telah labrak bangsa Tartar di Liautong, dia telah membuat jasa besar, ciangkun kami sangat kagum, maka sayang kemudian Wan ciangkun telah dihukum mati oleh raja, hingga rakyat menjadi gusar dan berontak karenanya. Kami, untuk dapat makan, sudah rampas rangsum Negara, kami bunuh pembesar negeri, untuk ini, kami mohon perlindungan roh suci Wan Ciangkun. Mari kita menerjang ke Pakkhia, buat bekuk raja dan menteri- menteri dorna, untuk bunuh mereka satu demi satu, supaja dengan demikian, bisa kita balas sakit hati Taygoanswee serta semua rakyat!"

Semua hadirin ketarik mengetahui Lie Cu Seng hargai jendral besar mereka (taygoanswee). Mereka pun dapat kenyataan, walaupun suaranya kaku, utusan ini bicara dengan sungguh-sungguh.

Tiong Siu menjura, untuk beri hormat pada utusan itu. "Terima kasih, terima kasih," kata ia, yang terus tanya

she dan nama si utusan.

"Aku ada Lau It Hou," jawab si utusan. "Lie Ciangkun ketahui saudara-saudara hendak rayakan peringatannya Wan Taygoanswee, ia telah utus kami datang kemari."

Kembali Tiong Siu menghaturkan terima kasih, kemudian ia perkenalkan dirinya.

"Saudara jadinya ada saudara muda dari ciangkun Cou Tay Siu," kata si utusan. "Kami ketahui nama besar dari Cou Ciangkun, kami semua kagumi dia. "

Selagi Tiong Siu hendak pasang omong sama tetamunya ini, yang bermuka hitam si tetamu, kawannya yang telah awasi para hadirin, mendadakan berlompat kepintu besar dimuka mana segera ia berhenti, berdiri dengan membalik tubuh.

Semua orang heran, semua awasi tetamu ini.

Dengan tiba-tiba utusannya Lie Cu Seng itu tunjuk dua orang usia pertengahan diantara para hadirin, terus ia tanya: "Kamu adalah orang-orang sebawahan Co Thaykam, apa kamu hendak perbuat disini?"

Kata-kata ini membuat kaget semua orang. Kaisar Cong Ceng sudah binasakan Gui Tiong Hian dan keluarga Keh dan singkirkan kambratnya mereka ini, tetapi ia tetap curigai semua menteri besar, ia terus pakai orang- orang kebiri sebagai orang-orang kepercayaannya, maka juga, ia andalkan Thaykam Co Hoa Sun siapa telah pimpin semua pahlawan rahasia dari kaisar, tugasnya melulu untuk selidiki berbagai menteri. Inilah sebabnya kenapa semua hadirin heran.

Dua orang yang dituding itu, yang satu berumur kira-kira empat-puluh tahun, mukanya berewokan kuning, dan yang kedua, rupanya putih tak berkumis, tubuhnya kate-dampak. Si kate-dampak ini terkejut tapi segera ia tenang pula.

"Kau maksudkan aku?" tanya dia sembari tertawa. "Ah, jangan main-main. "

"Hm, main-main?" sahut si muka hitam. "Aku tahu bagaimana kau kasak-kusuk di rumah penginapan, lalu kamu menyelusup masuk ke San-cong ini. Tentu, kemudian kamu akan beri laporan kepada Co Thaykam, hingga akhirnya, balatentara akan dikirim untuk menyerbu kesini. Itulah buahnya kasak-kusuk kamu itu!"

Mendengar itu, si berewokan kuning hunus goloknya, dia hendak segera menyerang tapi si muka putih cegah dia. Si muka putih ini bersikap tenang.

"Lie Cu Seng hendak bereskan sahabat-sahabat dari San- cong, siapa pun ketahui ini!" kata dia. "kau berniat merenggangkan kami, itulah tak mungkin terjadi!"

Suara ini halus tetapi tajam, itulah terang suaranya seorang kebiri, tetapi walaupun demikian, suara ini memberi pengaruh, hingga banyak hadirin mengawasi si penuduh itu. Lau It Hou dandan sebagai petani, akan tetapi dia adalah seorang peperangan ulung, dia cerdik, dia lantas bisa lihat orang curigai pihaknya.

"Kau siapa, tuan? Adakah sahabat dari San-cong?" ia tanya dengan tenang.

Ditanya demikian, orang muka putih itu tergugu, dia berdiam.

Tiong Siu lantas mendekati, untuk tanya: "Sahabat, adakah kau bekas sebawahan dari Wan Taygoanswee? Kenapa mataku yang lamur tak kenali kau? Kau sebenarnya ada sebawahan dari congpeng mana, dari kota mana?"

Si muka putih lihat tak dapat berpura-pura pilon lebih lama, ia lirik kawannya, ia kedipi mata, lantas ia loncat kepintu. Perbuatannya ini segera disusul sahabatnya itu, malah dia ini segera membacok pada si muka hitam, penuduhnya.

Si muka putih mirip orang banci tetapi gerakannya pesat sekali, dengan cepat telah keluarkan senjatanya, sepasang poan-koanp-pit, yang mirip alat tulis, dengan itu, iapun serang si muka hitam, yang ia arah dadanya. Senjata ini pun bisa dipakai menotok jalan darah.

Utusannya Lie Cu Seng datang untuk hunjuk hormat, ia tidak siapkan senjata, menampak dia diserang, semua hadirin kaget dan berkuatir. Dua rupa senjata serang ia dengan berbareng. Maka itu, beberapa orang lantas bersiap, untuk bantu padanya. Akan tetapi segera ternyata, dia liehay.

Dengan kesebatan luar biasa, dengan tangan kirinya, utusan Lie Cu Seng ini mendahului sambar lengannya si berewokan kuning, tubuhnya cuma mendak sedikit, berbareng dengan itu, tangan kanannya, dengan dua jari, menyambar kearah sepasang matanya si penyerang dengan poan-koan-pit. Karena ia telah mendak sambil mengegos sedikit, ia tidak kuatir senjata musuh mengenai sasarannya.

Utusan ini diserang terlebih dahulu, akan tetapi karena kegesitannya, kedua tangannya dapat melayani kedua musuh.

Dua-dua musuh lantas mundur sambil tarik pulang tangan mereka, si berewokan sambil lebih dahulu loloskan tangannya dari cekalan.

Post a Comment