"Inilah jodoh yang kita bertemu disini," kata dia. "Besok saudara boleh ikut aku naik kegunung, untuk belajar kenal dengan banyak orang gagah, pasti kau akan bergembira. Asal saudara tidak uwarkan pengalamanmu disini, aku tanggung kau tidak bakal hadapi ancaman malapetaka." Lega juga hatinya Tiau Cong mendengar kata-kata itu, karena itu, ia suka pasang omong, terutama mengenai ilmu sastera, tetapi justeru karena ini, ia dapat kenyataan, orang she Tou itu tidak terlalu terpelajar, sebaliknya dilain pihak, Cou Siangkong ini kagumi dia.
Pasang omong sampai jam dua, Baru Tiau Cong kembali kekamarnya dimana Peng Kie sibuk menanti-nanti dia, piausu ini sampai jalan mundar-mandir saja, dia lega hatinya melihat si anak muda berwajah terang.
0o-d.w-o0
Besoknya ada Ting Ciu, harian tanggal lima-belas bulan delapan yang indah, Tiau Cong bertiga turut Cou Tiong Siu panjat gunung Lau Ya San. Mereka berangkat pagi-pagi, diwaktu tengah hari, sampailah mereka ditengah gunung dimana sudah menantikan belasan orang dengan barang hidangan, untuk semua orang berhenti sebentar, akan bersantap dan minum, untuk sekalian beristirahat, kemudian Baru mereka mendekati terlebih jauh. Adalah sejak ini, seterusnya, saban-saban ada orang-orang yang menjaga, yang menanya dan memeriksai sesuatu pengunjung. Ketika gilirannya Tiau Cong bertiga dimintai keterangan, Tiong Siu cuma manggut pada si petugas, lantas mereka dikasi lewat tanpa pertanyaan apa jua.
"Sungguh berbahaya!" kata si kongcu dalam hatinya. Ia makin insaf pengaruhnya orang she Cou ini. Ia girang semalam ia telah pasang omong dengan orang ini yang berpengaruh. Ia hanya belum tahu, apa akan terjadi terlebih jauh. Diwaktu magrib sampailah semua orang diatas gunung dimana ada beberapa ratus orang yang berbaris rapih, untuk menyambut, mereka itu jangkung dan kate, kurus dan gemuk, tidak rata, semua beroman keren. Satu diantaranya, rupanya yang jadi kepala, maju untuk sambut Tiong Siu,sesudah mana, sambil bergandengan tangan, mereka sama-sama masuk kedalam sebuah rumah yang besar.
Diatas gunung itu ada terdapat beberapa puluh rumah, yang letaknya berpencaran, yang paling besar adalah rumah tadi, yang mirip dengan sebuah kuil. Tidak ada panggung atau pagar-pagar seperti benteng, hingga keadaan itu tak mirip-miripnya dengan sarang berandal.
Peng Kie tidak sangka bahwa rumah-rumah itu ada demikian sederhana. Ini ada pengalaman Baru bagi ia, yang sudah belasan tahun berkelana. Ia pun tidak mengerti mengenai wajahnya semua orang itu, yang datang dari pelbagai penjuru. Mereka ada sahabat kekal satu dengan lain, pertemuan mestinya menggirangkan mereka, tapi buktinya, orang rata-rata ada berduka dan tak puas.....
Tiau Cong bertiga diantar kesebuah kamar kecil, untuk mereka sendiri, sebentar kemudian, ada orang mengantari barang hidangan, ialah nasi serta empat macam sayur dan dua-puluh lebih bahpau.
"Entah apa yang mereka bakal bicarakan...."begitu Tiau Cong dan Peng Kie saling tanya malam itu. Mereka tidak tahu juga, mereka itu bakal lakukan apa.
Besoknya ada Peegwee Caplak - tanggal enam-belas bulan delapan, Tiau Cong dan Peng Kie bangun pagi-pagi, setelah bersihkan diri dan sarapan, mereka keluar akan jalan-jalan ditepi gunung. Ini kali mereka lihat juga orang- orang dengan kepala atau muka bercacat, kurang tangan atau kaki, suatu tanda dari medan pertempuran. Mereka tidak ingin terbitkan gara-gara, maka lekas-lekas mereka kembali kekamar mereka, terus mereka tak keluar lagi.
Siang itu, sampai sore, barang makanan tetap sama seperti paginya, sayur melulu, hingga Peng Kie mendumel dalam hatinya : "Celaka, orang desak aku dengan ini macam hidangan yang tawar melulu!. "
Mendekati malam, seorang datang kekamarnya Tiau Cong.
"Cou Siangkong undang kamu ke pendopo untuk saksikan upacara," kata dia, yang menyampaikan undangan.
Tiau Cong dan Peng Kie, yang sudah dandan, lantas ikut keluar.
Hau Kong hendak turut majikannya, tapi si pengundang tolak dia.
"Saudara cilik, kau tidur saja siang-siang," katanya.
Tiau Cong lewati beberapa rumah batu, Baru mereka sampai di kuil, yang pakai nama Tiong Liat Su, tulisannya bagus dan keren.
"Entah kuil siapa ini," pikir Tiau Cong, menduga-duga. Bersama Tiong Siu ia ikut masuk terus kedalam. Di serambi, dikiri dan kanan, ada banyak para-para senjata dengan pelbagai macam senjatanya, delapan-belas rupa, yang semua terawat baik, bersinar bergemirlapan.
Di pendopo sudah berkerumun banyak sekali orang, barangkali dua atau tiga-ribu, yang memenuhi ruangan yang luas.
Tiau Cong dan kawannya heran kenapa digunung itu bisa berkumpul demikian banyak orang. Di tengah ruangan, Tiau Cong lihat satu patung yang beroman sebagai satu panglima perang, kopiahnya kopiah perang emas, jubahnya jubah perang berlapis baja, tangan kirinya mencekal pedang kebesaran, Siang-hong Poo-kiam, dan tangan kanannya memegang leng-kie, bendera titah.
Patung itu punyakan muka yang kecil dan bersih tapi keren romannya, kumis-jenggotnya tiga aliran,matanya memandang kedepan, sinarnya rada guram, seperti orang berduka. Dikedua sampingnya ada masing-masing sebaris sin-wie.
Karena ia berdiri jauh, Tiau Cong tidak dapat baca tulisan namanya patung itu.
Diempat penjuru ruangan dikibarkan banyak bendera, disitu pun kedapatan banyak kopiah perang, pelbagai alat senjata dan pakaian kuda, dan benderanya beraneka-warna, ada yang bertuliskan huruf-huruf. Disini pun semua roman ada berduka, hingga Hau Kongcu jadi sangat bingung.
Akhir-akhirnya, berbangkitlah satu orang jangkung- kurus, yang duduk disamping patung, ia sulut lilin, ia pasang hio, lalu ia serukan : "Mulai sembahyang!"
Semua orang berlutut serentak, maka Tiau Cong dan Peng Kie pun turut tekuk lutut.
Cou Tiong Siu maju kemuka, untuk angkat cee-bun, untuk dibacakan.
Peng Kie tidak mengerti bunjinya cee-bun itu, tidak demikian dengan Tiau Cong, yang heran dan kaget, hingga ia keluarkan keringat dingin. Disitu pemerintah Boan dicaci habis, dan kaisar Cong Ceng pun tidak dikasi hati, kaisar ini dkatakan tolol dan tak dapat membedakan kansin dari tiongsin, antara dorna dan menteri setia, merusak Negara, melulu menjadi orang berdosa antara cucu-cucunya Uy Tee. Lebih jauh, Beng Thay-hou sendiri turut dicela sebab sudah membunuh Cie Tat, Na Giok dan Lau Kie, menteri- menteri berjasa. Yan Ong pun dimaki sebagai penyiksa rakyat dan Hie Cong sebagai pekakas orang kebiri, karena banyak menteri besar sebagai Him Teng Pek kena dihukum mati. Cong Ceng dikatakan sewenang-wenang, sudah celakai "jendral" mereka, jendral (Goan-swee) yang gagah dan berjasa besar.
Sampai disitu mengertilah Tiau Cong, patung itu ada patung sang jendral, ialah Tok-bu Wan Cong Hoan dari Liautong yang sudah berjasa berulang-ulang melabrak angkatan perang Boan, membinasakan Ceng Thay-cou Nuerhacha, hingga bangsa Boan sangat takut terhadapnya.
Setelah mendengar cee-bun itu, Tiau Cong awasi patung, lalu ia merasakan melihat patung itu bagaikan hidup bersemangat.
Akhirnya cee-bun, yang membuat Tiau Cong kembali kaget, adalah sumpah para hadirin untuk membasmi musuh Boan, guna melenyapkan penasaran jendral mereka supaja rohnya si jendral puas ditanah baka.
"Hormatilah Goanswee kita serta panglima yang turut dia berkorban!" Cou Tiong Siu akhirkan pembacaannya.
Semua orang lantas menjura, atas mana satu bocah yang berpakaian berkabung, yang telah maju kedepan, akan balas hormatnya orang banyak itu.
Melihat itu anak kecil, buat kesekian kalinya, Tiau Cong dan Peng Kie kaget, hatinya berdebaran. Mereka kenali, bocah itu adalah si kacung yang berani lawan harimau, yang dipanggil Sin Cie! Habis pemberian hormat, semua orang berbangkit, muka mereka berlinangkan air mata. "Saudara Hau," kata Tiong Siu kemudian pada Tiau Cong, "saudara terpelajar tinggi, bagaimana saudara lihat cee-bun ini? Kalau ada yang tidak sempurna, tolong kau ubah!"
"Aku tak berani, saudara Cou," jawab Hau Kongcu. Tapi Tiong Siu titahkan orang sediakan perabot tulis.
"Aku ajak saudara mendaki gunung ini justeru untuk mohon kau menulis suatu apa untuk tambah kegemilangan dari Wan Tay-goanswee!" ketua ini.
Tiau Cong jadi serba salah. Ia ketahui baik penasarannya Wan Cong Hoan, yang terbinasa sebagai korban dari tipu- muslihat merenggangkan dan mengadu-domba dari kaisar Boan, tapi karena goanswee itu dihukum mati kaisar, apabila dia dikatakan penasaran, itu berarti mencela kaisar, hukuman untuk ini perbuatan adalah leher kutung! Tapi Tiong Siu telah memohon, bagaimana itu dapat ditolak? Dasar ia pintar, ia cuma berpikir sebentar, lantas ia angkat pit dan menulis: "Naga kuning belum sempat dihajar, Bu Bok sudah mengandung penasaran.
Kerajaan Han sedang menantikan kebangunan, Atau bintangnya Cu-kat telah guram padam.
Bagaimana menyedihkan!"
Dengan "Naga Kuning", (Uy Liong) diartikan bangsa Tartar (Liau), sedang Bu Bok ada gelaran suci untuk Gak Hui, dan dengan Cu-kat dimaksud Cu-kat Liang. Secara begini, Tiau Cong bisa egos diri umpama cee-bun itu terjatuh kedalam tangan kaisar. Cong Siu senang sekali dengan tulisan itu, yang huruf- hurufnya bagus, sedang dengan begitu, Wan Cong Hoan dibandingkan dengan Gak Hui dan Cu-kat Liang. Ia lantas bacakan itu dan terangkan artinya pada semua hadirin, hingga mereka pun puas, semua menghaturkan terima kasih pada mahasiswa ini. Dengan begitu, Tiau Cong dan Peng Kie tidak lagi dipandang sebagai orang luar.
"Surat dan pujian saudara ini sempurna sekali," kata Tiong Siu kemudian. "Aku nanti perintah untuk ukir ini diatas batu disamping kuil ini."
Tiau Cong menjura, untuk merendahkan diri.
Habis itu, semua orang duduk kembali, lalu seorang berdiri, untuk membacakan laporan, maka Tiau Cong jadi ketahui, kebanyakan hadirin ada bekas sebawahan Wan Cong Hoan, setelah terbinasanya Goanswee ini, mereka bubar-mencar tapi gunung Lau Ya San dijadikan tempat berkumpul, untuk hormati kepala perang itu.
Hal yang belum jelas bagi Hau Kongcu adalah maksud terlebih dalam dari ini macam pertempuran, rupa-rupanya mereka masih kandung maksud apa-apa.
Setelah laporan itu, pembaca acara memanggil : "Hu Congpeng Cu Kok An dari Kee-tin!"
Satu orang lantas berbangkit, tetapi melihat orang itu, Tiau Cong dan Peng Kie terkejut. Orang itu ada si petani she Cu, yang ajak ia masuk kedalam rumah gubuknya, ke gua rahasia di dalam gunung.
"Kiranya dia ada satu panglima ternama yang menentang bangsa Liau," pikir piausu itu. "Masih berharga bagiku yang aku kalah ditangannya. "