Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 06

Memuat...

"Sudah belasan tahun aku si orang she Yo berkelana, belum pernah aku menemui orang-orang begini kurang ajar!" ia berseru.

"Tapi hari ini aku akan bikin kauorang lihat!" kata orang yang pertama buka suara, yang lantas turunkan gandewa dan peluruh dari bebokongnya, lalu dengan beruntun, ia lepaskan tiga biji pelurunya keudara, menjusul mana, ia memanah pula, terhadap tiga peluru yang pertama, hingga semuanya mengenai dengan jitu, hingga kesudahannya, enam peluru runtuh sendirinya.

Peng Kie melongo menyaksikan keliehayan orang itu, tapi justeru itu, mendadakan ia rasakan sakit pada lengannya kiri, hingga goloknya terlepas dan jatuh tanpa ia merasa. Nyata ia telah dipanah peluru dengan ia tidak diketahui! Orang yang ketiga segera maju dengan joan-pian ditangan, dengan "Kou teng bek sie", atau "Rotan tua melilit pohon", segera saja ia sambar pinggangnya piausu dari Bu Hwee Piau Kiok.

Peng Kie majukan kudanya, akan menyingkir dari serangan itu.

Penjerang itu menyabat ketanah, untuk sambar dan lilit goloknya si piausu, untuk ia ambil, selagi berbuat demikian, sembari tertawa, ia majukan kudanya melewati Hau Kong, terhadap siapa, ia membacok, maka sekejab saja, buntalan dibelakangnya kacung itu terputus dan jatuh. Habis membacok, dia kasi kudanya kabur terus.

Sementara itu, si tukang panah larikan kudanya, akan susul dia punya kawan, ia berlaku begitu cepat hingga dia dapat tanggapi buntalan yang lagi jatuh hingga buntalan itu tak sampai jatuh ketanah, cuma untuk itu, ia perlu cenderungkan tubuhnya.

"Terima kasih!" kata ia sembari tertawa, sebab ia rasakan buntalan itu antap.

Orang yang ketiga menyusul pergi, maka dilain saat, ketiganya sudah menghilang. Peng Kie jadi sangat lesu, ia sangat berduka, karena mendongkol pun sia-sia saja, tak sanggup ia berbuat suatu apa menghadapi tiga orang liehay itu.

Hau Kong bingung tidak kepalang.

"Mana bisa kita pulang?" katanya. "Uang itu semua ada didalam buntalan itu. "

"Mari kita jalan," mengajak Peng Kie, yang tetap lesu. "Masih untung yang jiwa kita tidak turut lenyap!"

Tiau Cong tunduk, ia ikuti piausu itu. Ia lihat, memang mereka tak berdaya.

Kira setengah jam mereka sudah berjalan, lantas mereka dengar tindakan kaki kuda dibelakang mereka, berketoprakan sangat berisik, hingga mereka menoleh, dan mereka jadi sangat kaget. Mereka tampak, tiga penyamun tadi balik kembali, debu mengepul naik tinggi.

Peng Kie bergidik sendirinya. Entah apa maunya mereka itu.

Tiga orang itu dapat menyandak dengan cepat, selagi tiga korban mereka mengawasi dengan bengong, ketiganya loncat turun dari kuda mereka, lalu menghadapi diaorang itu, mereka memberi hormat.

"Nyata kita ada orang-orang sendiri!" kata satu diantaranya. "Maaf, maafkan kami. Kami tak kenali jiewie, kami telah berbuat keliru, harap jiewie tidak buat kecil hati."

Lantas seorang diantaranya sodorkan bungkusan yang dirampasnya pada Hau Kong. Ia menyerahkan dengan kedua tangannya.

Hau Kong tidak berani lantas menyambuti, ia awasi dulu kongcunya. Tanpa bersangsi, Hau Kongcu manggut, atas mana, kacungnya sambuti bungkusan itu.

"Aku minta tanya she dan nama jiewie?" lalu menanya orang yang bersenjatakan joan-pian, rujung lemas.

Tiau Cong sebutkan nama mereka, mendengar mana, orang itu mengawasi dua kawannya, sebab heran mereka dengar, dua orang itu ada satu piausu dan satu mahasiswa putera seorang berpangkat.

"Aku sendiri she Thio dan ini dua saudara ada persaudaraan Lau," kemudian ia perkenalkan diri. "Hau Kongcu, coba setelah bertemu, kau perlihatkan tek-pay, tak nanti jadi terjadi salah mengerti ini. Beruntung kami tak sampai melukai kamu."

Mendengar itu, Baru Tiau Cong mengerti khasiatnya tek- pay itu, karena mana, ia tertawa sendirinya. Ia tetap tidak bilang suatu apa.

"Tentunya jiewie hendak pergi ke gunung Lau Ya San," kata pula si orang she Thio itu. "Mari kita berjalan bersama- sama. Dua saudara Lau ini ada asal Hokkian, mereka tak bisa bicara dialek utara, tetapi mereka dapat mengerti omongan kita."

Dua saudara Lau itu manggut, untuk benarkan si Thio.

Tiau Cong dan Peng Kie percaya mereka ini ada penyamun-penyamun besar, tetap hati mereka tidak tenteram.

"Bersama saudara Yo ini, aku hendak pulang ke Hoolam, kami tak pergi ke Lau Ya San," akhirnya Hau Kongcu bilang.

Mendengar jawaban ini, nampaknya si Thio gusar. "Lagi tiga hari adalah Pee-gwee Cap-lak," kata dia. "Dari tempat ribuan lie kami sengaja datang ke Siamsay ini, maka kenapa kamu, yang sudah sampai, tidak mau naik gunung?"

Bingung juga Tiau Cong dan kawannya. Mereka tak tahu, apa perlunya mesti panjat gunung Lau Ya San. Mereka tak ketahui juga, apa bakal dilakukan Pee-gwee Cap-lak - tanggal enambelas bulan delapan itu. Tapi mereka tak sudi akui bahwa mereka tak tahu itu semua.

"Di rumahku ada urusan sangat penting hingga aku mesti segera pulang," Tiau Cong kata pula.

"Dengan panjat gunung, tempomu cuma terganggu dua hari!" kata pula si Thio, romannya tetap gusar. Dengan melewati gunung, kamu tidakhendak hunjuk hormatmu, apa dan artinya sahabat-sahabat dari San Cong?"

Kembali Hau Kongcu bingung. Apakah itu "San Cong"? Benda apakah itu? Peng Kie berpengalaman, ia mengerti, tak dapat mereka tak pergi ke Lau Ya San. Laginya, ia insaf, bencana lebih besar bagaimana juga, mereka mesti berani hadapi, sebab itu nampaknya mesti dihadapi. Disebelah itu, nampaknya orang tidak bermaksud buruk.

"Kita orang Baru saja bertemu, samwie ada begini baik hati, baiklah, bersama-sama Hau Kongcu, aku nanti turut samwie," akhirnya dia kata.

Dengan segera si Thio perlihatkan roman girang, dia tertawa.

"Mestinya telah aku duga, tak mestinya jiewie tak hargai persaudaraan," kata ia.

Sampai disitu, berenam mereka jalan sama-sama. Selama itu, si Thio jadi seperti pemimpin. Dimana mereka sampai cuma dengan gerak-gerakan tangan, dengan kata-kata yang Tiau Cong tak mengerti, mereka lewat tanpa rintangan,

42 semua rumah penginapan, semua rumah makan, tak sudi terima pembayaran penginapan dan makanan, sebaliknya, pelayanan ada perlu dan manis sekali.

Selang dua hari, mereka ini sudah mendekati kaki gunung Lau Ya San, gunung Gaok Tua. Disitu mereka lantas lihat banyak orang lain, yang berlerot seperti tak putusnya, dandanan mereka berlain-lainan, potongan orangnya pun berbeda, ada yang gemuk, ada yang kurus, yang jangkung dan kate, hanya yang sama, mereka semua seperti mengerti ilmu silat. Dan kebanyakan dari mereka itu kenal dengan si Thio dan dua saudara she Lau itu, mereka saling tegur.

Peng Kie dan Tiau Cong bersikap tak hendak cari tahu rahasia orang, maka itu, selagi orang bicara, mereka sengaja berdiri jauh-jauh, tapi mereka bisa dengar pembicaraan mereka, yang berlidah Selatan dan utara, Timur dan Barat, tidak ketentuan. Mereka pun tahu pasti, diaorang datang dari tempat yang jauh.

Buat apa mereka datang kemari? Ini ada hal yang gelap untuk Tiau Cong berdua.

Malam itu, Tiau Cong berenam mondok disebuah penginapan dikaki gunung, untuk siap akan besok pagi-pagi manjat gunung Lau Ya San.

Benar sedangnya orang bersantap sore, mendadakan ada datang satu orang yang terus memberi kabar: "Cou Siangkong sampai!" Atas itu, delapan atau sembilan bagian orang segera berbangkit dan merubul keluar dari penginapan.

"Mari kita pun melihat," mengajak Yo Peng Kie kepada Tiau Cong, ujung baju siapa ia tarik.

Tiau Cong menurut, keduanya turut keluar. Diluar hotel, semua orang berdiri dengan rapi dan tenang, mereka seperti lagi menantikan orang, entah siapa.

Tidak terlalu lama, terdengarlah tindakan kaki kuda diarah barat gunung, maka semua mata ditujukan kesana.

Segera juga tertampak datangnya seorang anak muda umur dua-puluh tujuh atau delapan tahun, yang kudanya dikasi jalan pelahan-lahan, tapi setelah dia lihat banyak orang menyambut, dia larikan kudanya, untuk menghampirkan, setelah sampai, dia loncat turun cepat sekali.

Dari antara orang banyak segera maju seorang bertubuh besar, akan sambuti kudanya si anak muda, siapa sendirinya bertindak, akan manggut kepada semua penyambutnya. Ketika ia tampak seorang dengan dandanan sebagai mahasiswa, ia memberi hormat.

"Siapa tuan ini?" tanya dia.

"Aku yang rendah she Hau," sahut Tiau Cong. "Bolehkah aku mengetahui she dan nama besar dari tuan?"

"Aku ada Cou Tiong Siu," jawab si anak muda, dengan lakunya hormat.

Tiau Cong memberi hormat sambil memuji.

Tiong Siu bersenyum, terus ia bertindak kedalam rumah penginapan.

Peng Kie tarik sahabatnya kepinggiran.

"Nampaknya mahasiswa she Cou ini ada berpengaruh," berbisik dia. "Pergi kau bicara dengannya, supaja dia ijinkan kita lanjuti perjalanan kita. Sama-sama orang sekolahan, tentu leluasa untuk kamu berbicara. "

Tiau Cong anggap pikiran sahabat ini benar, ia lantas bertindak kedalam, ke pintu kamar sianak muda, yang

44 sudah lantas masuk kedalam sebuah kamar, Ia sengaja batuk-batuk, sesudah mana, ia mengetok dengan pelahan. Ia pun dengar suaranya orang membaca buku didalam kamar, yang segera berhenti setelah ia mengetok beberapa kali, segera disusul sama terbukanya daun pintu.

"Didalam rumah penginapan ada sepi, saudara Hau datang untuk bicara, inilah bagus!" kata si orang she Cou, yang sambut tetamunya.

Tiau Cong masuk, segera ia tampak sejilid buku diatas meja dimana ada tulisan, rupanya ada rencana kerajaan.

Kuatir orang curiga, Tiau Cong tidak mengawasi lama- lama, terus saja ia duduk.

Mulai bicara, Cou Tiong Siu tanya asal-usul orang, atas mana Tiau Cong tidak umpatkan dirinya.

"Oh!. " Tiong Siu keluarkan seruan tertahan, apabila ia

ketahui, tetamunya ada puteranya Hou-pou Siang-sie Hau Sun. "Ayahmu itu ada satu menteri yang putih-bersih, kami semua ada hargai dia."

"Tak berani aku terima pujian ini," Tiau Cong merendahkan diri. Kemudian ia ceritakan bagaimana, sedang pesiar, ia bertemu sama opas dan serdadu-serdadu yang jahat, bagaimana Peng Kie tolongi dia, sampai ia ketemui orang-orang yang berikan mereka tekpay. Ia tidak tuturkan bahwa itu malam mereka pergoki banyak emas- perak dan kepala orang dalam peti kayu.

Cou Tiong Siu tertawa.

Post a Comment