Dengan kepala tunduk, Peng Kie bertiga keluar dari pintu, mereka hampirkan kuda mereka, akan buka tambatannya, lalu dengan menunggang binatang tunggangan itu, malam-malam mereka kabur, kearah timur. Tidak satu diantara mereka, yang buka mulut. Mereka laratkan kuda mereka, sampai belasan lie jauhnya, Baru mereka mulai merasa legaan. Tiba-tiba terdengar berketoprakannya kaki kuda disebelah belakang mereka, segera terdengar suara nyaring dari satu orang: "Hei, berhenti! Berhenti!"
Mereka kaget, mereka jadi takut pula, mereka kabur terus, kuda mereka dikepraki.
Sekonyong-konyong satu orang melesat disampingnya tiga orang ini, untuk mendahului mereka.
Kudanya Peng Kie kaget, sampai binatang itu berjingkrak sendiri.
Peng Kie ayun goloknya, akan serang orang itu. Dia ini bertangan kosong, dia kelit, lantas dia membalas menyerang.
Mereka bertempur dengan seru.
Sebelah tangan siorang tak dikenal menyambar tempilingan kanan dari Peng Kie, dia ini angkat goloknya, akan dipakai membabat, tapi orang nyata menggertak saja, serangannya ditarik setengah jalan, dikembalikan, buat dipakai mencekal lengan yang bersenjatakan golok itu.
"Turun!" demikian orang itu berseru sambil ia menarik dengan keras.
Peng Kie sedang membacok, tak keburu dia menarik pulang tangannya atau kelitkan itu, ia tercekal, ia tertarik, tidak ampun lagi, dia rubuh dari atas kudanya, sedang goloknya, tahu-tahu sudah kena dirampas lawannya. Tapi si lawan tidak gunai senjata itu untuk balas membacok, dia lepaskan cekalannya kepada lengan si piausu, dia pakai tangannya itu pegang golok dengan kedua tangannya, atau dilain saat, golok itu kena dipatahkan dua! Diantara sinar guram dari bintang-bintang dilangit Peng Kie, yang dapat berdiri pula setelah ia rubuh dari kudanya, dapat kenali lawannya adalah si Cu, tuan rumahnya. "Mari turut aku kembali!" kata si Cu dengan tenang. Lalu, tanpa perduli apa juga, ia kasih kudanya jalan kembali.
Peng Kie mati daya, ia naik atas kudanya, kemudian dengan satu tanda, ia ajak Tiau Cong dan Hau Kong balik. Dua kawan ini, yang telah tahan kuda mereka selagi orang bertempur, juga tidak berdaya lagi, mereka turut tanpa bilang suatu apa.
Kapan Tiau Cong bertiga sampai dirumah si petani, kemana mereka lantas masuk, mereka lihat ruangan tengah terang sekali dengan api lilin. Si bocah angon bercokol di- tengah-tengah,dikiri dan kanan, duduk empat orang lainnya ialah si Lo, si Eng, si Cu dan si Nie. Semua mereka berdiam, roman mereka sungguh-sungguh, hingga nampaknya jadi keren.
Peng Kie percaya dia ada bakalan mati, maka ia jadi berani.
"Hari ini Yo Thayya terjatuh di tangan kamu, hayo jangan banyak omong lagi, hendak kamu bunuh, bunuh!" kata ia dengan gagah.
"Eng Toako, bagaimana?" tanya si Cu.
Orang yang ditanya itu diam saja, cuma romannya tetap keren.
"Merdekakan Hau Kongcu dan kacungnya, bunuh orang she Yo ini!" si Nie gantikan menjawab.
"Orang she Yo ini menjadi piausu, dengan begitu ia jadi anjingnya segala hartawan," kata si Eng akhirnya, "pantas saja jikalau dia dibikin mampus. Tapi sekarang ini dia telah hunjuk perbuatan mulia dan gagah dengan membantu Hau Kongcu, dia pun berani, baik kasi dia ampun. Saudara Lo, silakan kau bikin bercacat dua anggauta penggapeannya." Si Lo lantas saja berbangkit.
Mukanya Peng Kie jadi pucat, saking kaget.
Tiau Cong tidak mengerti bahasa rahasia orang Kangouw, ia tak tahu, dengan "anggauta penggape" diartikan sepasang mata, yang mesti dikorek buta. Ia cuma duga, orang hendak bikin celaka piausu penolongnya itu. Maka itu, ia ingin buka mulut, untuk mohonkan keampunan.
Tiba-tiba si bocah angon kata : "Encek Eng, kasihan aku melihat dia, kasi ampun saja padanya!"
Si Eng dan tiga kawannya saling memandang, semua berdiam, tapi akhirnya, dia kata pada Yo Peng Kie, si piausu: "Sekarang telah ada orang yang mohonkan keampunan bagimu, bisa atau tidak kau bersumpah akan tak bocorkan apa yang kau alami disini malam ini?"
"Sebenarnya tak niat aku menyelidiki segala apa disini, hanya kebetulan saja aku menemuinya," sahut Yo Peng Kie. "Aku harus sesalkan diriku, yang seperti tidak punya mata, hingga tak dapat aku kenali siapa adanya enghiong semua. Aku janji, sejak ini aku tidak nanti melangkah ke Siamsay ini sekalipun setengah tindak. Mengenai urusan saudara-saudara disini, aku sumpah akan tutup mulut seperti rapatnya botol. Dibelakang hari, apabila aku langgar sumpahku ini, Langit dan Bumi bakal binasakan aku!"
"Bagus!" berseru si Eng. "Aku percaya kau ada satu laki- laki sejati! Pergilah!"
Peng Kie angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat, lalu ia memutar tubuh.
Mendadakan, si Nie berbangkit dari kursinya. "Apakah kau hendak pergi secara begini saja?" dia menegur.
Peng Kie melengak, tapi segera ia mengerti maksud orang. Ia lantas tertawa meringis.
"Baiklah," kata ia. "Kasi aku pinjam golok!"
Si Cu keluarkan sebatang golok dari kolong meja, dengan dilintangi, dia lemparkan kepada piausu itu.
Peng Kie sambuti golok itu, ia maju mendekati meja, diatas mana, ia letaki tangan kanannya dengan semua jarinya dibeber, kemudian cepat luar biasa, ia membacok dengan tangan kiri, hingga sapatlah empat buah jarinya.
"Seorang yang berbuat, seorang yang tanggung jawab!" kata dia sambil tertawa. "Semua pekerjaanku tidak ada sangkutannya dengan si orang she Hau!"
Semua orang kagum melihat ketangguhannya piausu ini. "Bagus!" berseru si Nie, yang perlihatkan jempolnya.
"Beginilah selesainya urusan malam ini!"
Terus ia bertindak kedalam, akan keluar pula dengan cepat bersama obat luka dan kain putih untuk obati dan bungkus tangannya piausu she Yo itu.
Peng Kie tidak mau berdiam lama, setelah selesai pengobatan, ia kata pada Hau Kongcu, "Mari kita berangkat!"
Tiau Cong lihat muka orang pucat, ia mengerti penolongnya ini menahan sakit yang hebat, ia berniat mengajak menanti dahulu, tetapi ia tak bisa buka mulutnya untuk mengutarakan itu.
Si Eng lihat segala apa didepannya, ia kata: "Hau Kongcu, kalau dibicarakan, kau dan kita sebenarnya ada hubungan satu sama lain. Sahabat she Yo inipun ada satu
35 laki-laki, maka baiklah, aku nanti berikan barang ini kepadamu!"
Dari sakunya, si Eng keluarkan serupa barang, yang dia terus serahkan pada si anak muda.
Kapan Tiau Cong sudah sambuti, dia lihat itu adalah sepotong tek-pay atau surat bambu dengan huruf-bakaran "San Cong", sedang bagian belakangnya, pun dibakar hangus merupakan tali air. Ia tidak tahu, apa artinya tek- pay itu.
"Sekarang ini Negara sedang kacau," berkata si Eng pula, "kau ada satu mahasiswa lemah, tak selayaknya kau berkelana, dari itu, aku kasi nasihat padamu, baik kau lekas pulang. Umpama kau hadapi bahaya ditengah jalan, kau keluarkan tek-pay ini, nanti ancaman bencana akan berubah menjadi keselamatan."
Tiau Cong periksa tek-pay itu, masih ia tak dapatkan keanehan atau kemujizatannya, maka itu, ia mau percaya, itu adalah benda yang cuma membawa alamat baik.....
"Terima kasih," kata ia akhirnya seraya serahkan tekpay itu kepada Hau Kong, untuk disimpan dalam buntalan.
Habis itu, tiga orang itu pamitan, mereka berlalu dengan naik kuda mereka. Sekarang mereka jalan malam-malam, dengan pelahan-lahan, terus sampai terang tanah diwaktu mana mereka sampaikan sebuah kampung.
"Kita singgah disini," mengajak Tiau Cong.
Mereka cari pondokan, untuk beristirahat satu hari dan satu malam, akan besoknya pagi, mereka lanjuti perjalanan mereka. Kembali mereka lewati dusun dimana tentara negeri pernah rampok dan bunuh-bunuhi penduduk, tak tega melihat bekas-bekas kekejaman itu, Tiau Cong ajak dua kawannya jalan ngidar. Diwaktu tengah hari, mereka
36 singgah ditengah jalan, lalu kemudian berangkat lebih jauh melalui dua-puluh lie lebih.
Adalah diitu waktu, dari arah depan, ada mendatangi satu penunggang kuda, yang lewati mereka disamping mereka, selagi berpapasan, dia itu mengawasi Tiau Cong bertiga. Debu mengepul selagi dia lewat.
Tiau Cong bertiga jalankan kuda mereka seperti biasa, tapi Baru lima atau enam lie, mereka dengar pula tindakan kaki kuda dibelakang mereka, makin lama datangnya makin dekat, akhirnya penunggang kuda itu lewati mereka, hingga mereka tampak orang ada bungkus kepala dengan cita hijau, romannya gagah.
"Ini orang aneh kelakuannya," kata Tiau Cong. "kenapa dia balik pula?"
Memang, itulah ada penunggang kuda yang tadi papaki mereka.
Peng Kie tidak menjawab, hanya ia bilang: "Sebentar lagi, Hau Kongcu, kau lari sendiri saja!"
Pemuda itu terperanjat.
"Apa? Kembali ada penyamun?" tanya dia.
"Kita jalan tak usah sampai lima lie, bakal terbit lelakon," kata Peng Kie. "Kita tak dapat mundur, dari itu, kita mesti menerjang dan lolos!"
Hatinya Tiau Cong, juga kacungnya, jadi tidak tetap. Peng Kie sendiri tegang sendirinya. Tapi masih mereka jalankan kuda mereka dengan pelahan.
Mereka Baru lewat kira-kira tiga lie, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya anak panah, yang melayang di udara, kemudian menyusul itu, tiga penunggang kuda, yang melintang ditengah jalan. Peng Kie maju didepan dua kawannya, ia rangkap kedua tangannya.
"Aku ada si orang she Yo dari Bu Hwee Piau Kiok," ia perkenalkan diri, “tetapi aku bukannya sedang antar piau, kita sedang bikin perjalanan saja, itulah sebabnya kenapa aku tidak kirim karcis nama untuk mengunjungi ciongwie. Ini ada Hau Siangkong, yang sedang pesiar, dia adalah satu anak sekolah. Aku harap kebaikan ciongwie supaja kami diberi jalan lewat."
Peng Kie berpengalaman, namanya cukup terkenal, tapi karena tangannya terluka, dan menyangka rombongan didepannya ada punya hubungan sama rombongannya si Cu beramai ia sengaja berlaku merendah.
Satu diantara tiga pemegat itu, yang tangannya tak bersenjata, tertawa sendirinya.
"Kami kekurangan uang, kami mau minta pinjam seratus tail," kata dia. Dia omong dengan lidah Amoy, Hokkian.
Peng Kie dan Tiau Cong saling mengawasi dengan melengak, tak mengerti mereka akan kata-katanya orang itu.
"Kami hendak pinjam uang seratus tail, kamu mengerti atau tidak?" tegaskan si penunggang kuda dengan ikat kepala hijau, yang tadi mundar-mandir dengan kudanya.
Menampak orang ganas, Peng Kie jadi gusar.