Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 18

Memuat...

Padahal nenek itu tidak terkenal didunia Kangouw, paling-paling cuma kaum hamba Pak-cay saja.

Kalau budaknya saja selihay itu, apalagi majikan atau ahli-waris Pak-cay" Kini Soat Peng-say sudah tahu orang yang memalsukan dirinya dan main roman dengan Siocia yang disebut si nenek jelas adalah karya Cin Yak-leng.

Tapi ia kuatir bilamana hal ini diceritakan terus terang, bisa jadi dari malu sang Siocia akan menjad marah, maka ia tidak membicarakannya dengan si nenek, a pikir biarkan saja, yang penting dirinya sendiri memang Soat Peng-say tulen, apa yang akan terjadi nanti akan dihadapinya menurut gelagat.

Maka ia tidak banyak omong lagi dan ikut si nenek menuju ke villa yang indah itu.

Dilihatnya bagian depan villa itu, pada kanan kirinya masing-masing ada sebuah ruangan duduk yang menghadap ke utara, ditengahnya adalah sebuah ruangan panjang yang menjurus keujung sana dibatasi dengan sebuah dinding terkapur putih, kalau dipandang ke selatan melalui lubang-lubang dinding, di dalamnya adalah sebuah lapangan yang luas dengan macam-macam alat latihan Kungfu, tentulah disini se-hari2 penghuni villa ini berlatih.

Soat Peng-say dibawa ke sebuah kamar yang terletak dibelakang ruangan duduk sebelah kanan, kemudian mendengar suara, seorang pelayan menyambut keluar dan bertanya: "Siapa?" Dan ketika melihat si nenek membawa seorang lelaki yang tak dikenal, selagi pelayan itu hendak bertanya pula, cepat si nenek mengedip dan mendesis: "Ssst.

" Pelayan itu seperti menyadari sesuatu, ia mengangguk dan bertanya dengan suara tertahan: "apakah dia ini Soat Peng-say?" Si nenek mengangguk perlahan dan memberi tanda agar pelayan lain yang berada didalam kamar dipanggil keluar.

Pelayan ini tahu maksud si nenek agar Soat peng-say dapat bertemu sendirian dengan Siocia mereka, maka dengan mengulum senyum ia lantas berseru: "Siau Tho, Siau Tho, lekas keluar, dipanggil Lolo (nenek)!" Pelayan yang bernama Siau Tho itu tampak keluar, tanpa memberi kesempatan bicara padanya, pelayan yang pertama lantas menariknya pergi.

Segera si nenek menarik muka dan berkata kepada Soat peng-say dengan suara tertahan: "Sekarang kuserahkan padamu!" Bahwa Soat peng-say diharuskan menemui seorang nona yang belum dikenalnya didalam suatu kamar tersendiri, betapapun ia merasa kikuk dan serba susah, cepat ia menggoang tangan dan berkata: "Jangan.

" Tapi si nenek tidak memusingkan apa yang dipikir Soat Peng-say, sekali dorong, kontan Peng-say terhuyunghuyung masuk kedalam kamar, lalu pintu kama dirapatkan.

Setelah berdiri tegak didalam kamar, Soat peng-say meng-amat2i kamar itu.

Sungguh sebuah kamar yang sangat luas dan indah, setiap meja kursi berukir hasil karya seni yang bernilai tinggi, rak buku yang bersusun-susun, sebagian besar tertaruh kitab, bagian lain diberi benda-benda antik pajangan.

Dinding sekeliling kamar bergantung lukisan dari pelukis ternama, terdapat pula kecapi dan pedang yang bergantungan di dinding.

Jelas inilah sebuah kamar baca, manabisa kamar tidur orang perempuan" Hati Peng-say rada tenteram, ia coba mendekati rak buku, selagi hendak mengambil salah satu kitab itu untuk dibaca, tiba-tiba didengarnya sayup-sayup suara langkah orang.

Ia coba memandang kesamping sana, tadi tak diperhatikannya, baru sekarang dia melihat jelas kamar baca ini ada pintu tembus kedalam sana dan suara langkah orang berkumandang dari dalam situ.

Soat Peng-say dapat menduga siapa yang datang sini, ia menjadi tegang, cepat ia duduk pada sebuah kursi malas yang berada disebelahnya.

Lagaknya itu mirip seorang tamu yang sedang menunggu munculnya tuan rumah.

Dari tempat duduknya itu ia dapat melihat orang yang bakal muncul, tapi orang yang datang itu belum pasti dapat melihatnya dengan segera.

Sejenak kemudian, seorang perempuan muda berbaju putih tipis melangkah keluar, rambutnya yang panjang hitam gompiok semampir dibelakang pundak sehingga bajunya yang memang putih kelihatan lebih putih dan rambutnya yang hitam tampak lebih pekat.

Tapi lantaran dia merangkul sebuah kecapi sehingga mukanya tidak kelihatan, hanya nampak potongan tubuhnya yang semampai serta pinggangnya yang kecil.

Nona itu mendekati meja panjang yang terletak didepan jendela dan menaruh kecapinya dengan pelahan, "cring-cring", sekenanya dia menyentil senar kecapi, lalu terdengar dia menghela napas pelahan.

Meski si nona berdiri membelakangi Soat Peng-say sehingga anak muda ini tidak melihat bagaimana air mukanya, tapi dari gerak-geriknya dapat diketahuinya si nona sedang kesal dan murung, hal ini semakin terungkap dari helaan napasnya tadi.

Diam-diam Peng-say membayangkan betapa Cin Yakleng telah membikin susah si nona, ia tahu sebabnya Cin Yak-leng menyamar sebagai lelaki tidak bertujuan mencelakai orang lain, tapi mengakibatkan nona ini terpikat dan merindukan dia, hal ini adalah tidak pantas, mestinya penyamarannya itu harus dijelaskan sejak mula.

Ada maksud Peng-say hendak menyapanya, tapi ia bngung sebutan apa yang harus digunakannya, karena itu tanpa terasa ia berdehem pelahan.

Sudah tentu nona itu tidak menduga-duga di kamarnya ada orang lain, dengan terkejut ia berpaling.

Sekarang dapatlah Peng-say melihat wajahnya, ternyata cantiknya luar biasa dan sukar dilukiskan.

Belum pernah Peng-say melihat perempuan secantik ini.

Sekalipun Cin Yak-leng juga cantik, tapi belum apa-apa kalau dibandingkan nona jelita yang sekarang ini.

Lebihlebih raut wajahnya yang ke-kurus2an dan pandangannya yang sayu, melankolis, kata orang jaman kini, sungguh menimbulkan rasa kasih-sayang setiap orang yang memandangnya.

Setelah melengak, kemudian si nona melihat Peng-say yang rada-rada mirip orang yang telah mencuri hatinya, tapi belum pernah dikenalnya, entah cara bagaimana bisa berada didalam kamar bacanya, segera ia berkerut kening dan menegur dengan kurang senang: "Siapa kau" Siapa suruh kau duduk disini" Keluar, lekas keluar!" Belum lagi Soat Peng-say memperkenalkan diri untuk menjawab pertanyaan "siapa kau" dan baru saja terdengar "siapa suruh kau duduk disini", menyusul lantas kata-kata mengusir, hakikatnya Soat peng-say tidak diberi kesempatan untuk bicara.

Tapi watak Peng-say memang sabar, biarpun oran bicara kasar padanya, dia tetap tenang-tenang saja.

Tapi orang mengusirnya, jika tidak keluar, rasanya tidak pantas karena dirinya masuk kesitu tanpa permisi.

Karena itulah ia lantas berbangkit, tidak terburu-buru juga tidak pelan-pelan, lalu menuju ke pintu kamar dengan sewajarnya.

Tapi ketika pintu terbuka, dilihatnya si nenek berdiri menghadang ditengah pintu, Peng-say memberi tanda dengan merangkap kedua tangannya didepan dada, maksudnya memohon si nenek memberi jalan baginya.

Dengan kurang senang si nenek berkata: "Kenapa disuruh keluar segerapun kau keluar"!" Di balik ucapannya ini jelas si nenek menganggap Soat peng-say terlalu penurut dan melupakan maksud tujuan kedatangannya ini.

Segera Peng-say bermaksud menjawab, tapi cepat si nenek menambahkan pula: "Masuk dulu dan bicara belakang!" Mendadak nona tadi berkata: "Liok-ma (mak Liok), apakah kau sudah pikun" Tempatku ini mana boleh sembarangan didatangi orang luar?" Lolo atau nenek itu sejak ecil sudah menjual diri sebagai budak di keluarga Sau, penguasa Pak-cay ini.

Aslinya si nenek she Liok, hanya sang majikan saja yang suka memanggilnya Liok-ma, orang lain, terutama kaum hamba tidak berani menyebutnya demikian melainkan memanggilnya Lolo.

Sepanjang hidup Liok-ma telah melayani kakek dan ayah sang Siocia, iapun menyaksikan kelahiran Siocia asuhannya ini, sesudah besar, kasih-sayangnya tidak kurang daripada ayah-bunda kandung sang Siocia sendiri.

Maka dengan tertawa Liok-ma menjawab: "Dia bukan orang luar, dia inilah Soat peng-say!" "Siapa bilang dia ini Soat Peng-say?" jengek si nona.

"Ang-hay-ji yang bilang begitu, ia sendiri juga mengaku bernama Soat peng-say," ujar Liok-ma.

"Tidak nanti kupangling kepada Soat peng-say, dia ini jelas bukan Soat peng-say," kata si nona.

Liok-ma menjadi gusar, ia meraung terhadap Soat Pengsay: "Kurang ajar, anak busuk, jadi kau berdusta kepada Lolo"!" Berbareng sebuah tamparan segera akan mampir di muka Soat peng-say.

Untung pada saat itu juga mendadak seorang membentak: "Nanti dulu!" Liok-ma melengak dan berpaling, dilihatnya seorang Kongcu cakap diantar datang oleh Ang-hay-ji.

Hampir saja Soat peng-say berteriak: "Adik Leng", tapi dilihatnya Cin Yak-leng mengedip padanya serta menegur dengan tertawa: "Ai, bikin susah kau, Toako!" Dalam pada itu terdengar Ang-hay-ji atau si anak berbaju merah, sedang berseru: "He, nenek, inilah Soat Peng-say yang tulen, yang palsu itu memang benar rada tinggi sedikit." Entah darimana Cin Yak-leng mendapatkan seperangkat pakaian anak sekolahan, setelah berdandan, jadilah dia seorang Kongcu yang cakap, sambil mengebas kipas lempit dia mendekati Soat Peng-say dengan tersenyum simpul.

Dipandang sepintas lalu Cin Yak-leng sekarang memang rada-rada mirip Soat peng-say, waktu dia meninggalkan rumah dan berkelana mencari anak muda itu, lantaran namanya sendiri tidak mirip nama orang lelaki, maka selama itu dia menggunakan namanya Soat peng-say.

Dia berkenalan dengan Siocia dari Pak-cay ini pada waktu malam sehingga sukar dibedakan dengan jelas antara lelaki dan perempuan.

Kejadian itu sudah berselang setengah tahun.

Ang-hay-ji tidak ingat lagi dengan, maka ketika melihat Soat Peng-say yang tulen, tanpa ayal dia bilang inilah Soat Peng-say yang sedang dicarinya.

Padahal kalau dibandingkan, sedikitnya Cin Yak-leng lebih pendek satu kepala daripada Soat Peng-say, tapi Ang-hay-ji hanya bilang "agak lebih tinggi sedikit" saja.

Melihat Cin Yak-leng sudah dapat bergerak dengan bebas, segera Soat Peng-say bertanya: "Apakah sudah kau minum Leng Ju-coan?" Yak-leng kuatir Liok-ma mengetahui siapa dia sebenarnya, cepat ia berdehem dan memegang tangan nona cantik tadi dengan rayuan mesra: "Enci Kim-leng, setengah tahun tidak bertemu, sungguh sangat merindukan daku." Siocia yang bernama Sau Kim-leng itu ingin menarik tangannya, tapi tidak melepaskannya dengan sungguhsungguh, ucapnya dengan menunduk malu: "Mengapa orang itu memalsukan namamu, dia pernah apamu?" "Dia kakakku, sesungguhnya dia inilah yang bernama Peng-say, aku sendiri bernama Soat Yak-leng," jawab Yak-leng.

"Karena nama Yak-leng terasa kurang gemilang, maka diluaran aku menggunakan nama kakakku." Sau Kim-leng mengangkat kepalanya dan tersenyum kikuk terhadap Soat Peng-say, katanya: "Kiranya engkau adalah kakaknya, silahkan masuk kemari, silahkan!" Habis berkata ia berpaling dan memandangi Cin Yakleng dengan mesra.

Post a Comment