Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 17

Memuat...

Soat Peng-say digotong ke suatu kamar dan dibaringkan di suatu tempat tidur dengan seperai bersulam indah, waktu tinggal pergi dan merapatkan pintu kamar, si nenek tidak lupa memberi pesan: "Akan kubuka Hiat-to yang tertutuk setelah kau mandi." Peng-say pikir kebetulan, memang badan terasa lelah dan kotor, tentu akan terasa segar setelah mandi nanti.

Tidak lama kemudian datanglah beberapa pelayan, ada yang menyiapkan baskom mandi besar, ada yang mengisi air, ada yang menyediakan handuk, semuanya sibuk menyediakan peralatan mandi.

Peng-say baru kelabakan ketika pelayan pertama mulai membelejeti bajunya, cepat ia berteriak: "He, jangan, lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, jangan pegang-pegang." "Kalau tidak boleh pegang-pegang, cara bagaimana kami dapat memandikan Siauya?" ujar pelayan itu dengan mengikik tawa.

Muka Peng-say menjadi pucat, serunya: "Tidak, kumandi sendiri, kumandi sendiri saja.

" Tapi beberapa pelayan genit itu tidak menghiraukannya lagi, mereka terus membuka semua pakaian Soat Peng-say dan merendamnya di baskom besar itu, sudah tentu digosok dan dipijat pula.

Jika orang lain mungkin akan gembira karena dapat mandi dilayani perempuan2 cantik, tapi mandi Soat pengsay ini hampir membuatnya kelengar di dalam bak mandi itu.

Selesai mandi, Soat Peng-say berbaring pula di tempat tidur, sambil memandangi langit-langit kelambu ia berpikir: "Kenapa belum ada yang datang membuka Hiat-toku?" Syukur tidak lama kemudian berkumandang suara tindakan kaki orang di luar.

Lalu terdengar si anak laki-laki berbaju merah sedang berseru: "Nek, nenek, rasanya makin lama makin tidak cocok.

" Si nenek berhenti di depan pintu kamar dan bertanya: "Tidak cocok bagaimana?" "Rasanya Soat peng-say yang ini tidak sama dengan Soat Peng-say yang itu," kata anak laki-laki baju merah.

"Tidak sama"! Dalam hal apa tidak sama?" tanya si nenek dengan mendongkol.

"Yang ini agak lebih.

lebih tinggi." tutur anak itu dengan ter-gagap2.

"Cara bicaranya juga berbeda, suaranya lebih kasar.

" "Setan cilik," raung si nenek, "Jadi kau salah mengenali orang"!" "O, ti.

tidak, belum.

belum pasti, aku cuma.

cuma melihatnya dua kali dan tidak.

tidak begitu jelas.

" "Kalau tidak jelas, mengapa kau berkeras bilang pasti dia"!" si nenek meraung gusar pula.

Kemudian leher baju anak laki-laki itu terus ditarik dan diangkat keatas oleh si nenek sehingga anak itu berteriakteriak ketakutan: "Jang.

jangan, nenek, jangan.

jangan membeset kulitku!" "Katakan terus terang, dia atau bukan"!" bentak si nenek dengan bengis.

"Iy.

iya!" jawab anak itu.

"Bluk", nenek itu melemparkan si anak baju merah dan meraung pula dengan gusar.

"Pokoknya kalau keliru akan kubeset kulitmu!" "Kukira dia.

dia agak lebih tinggian dikit.

" si anak berusaha menjelaskan pula dengan takut-taku.

"Kalau cuma lebih tinggi sedikit, akan kupotong saja kakinya." kata si nenek.

Lalu nenek itu masuk ke kamar dan bertanya: "Soat Peng-say, coba jawab, kau benar-benar Soat Peng-say?" "Sudah tentu benar, tanggung tulen!" jawab Peng-say penasaran.

"Tapi Ang-hay-ji (anak merah) bilang kau agak tinggian sedikit, apakah kau memang agak tinggi?" tanya pula si nenek.

Peng-say menjadi kuatir orang benar2 akan memotong kakinya, cepat ia menjawab: "O, tidak, tidak tinggi, tinggi Soat peng-say yang tulen memang pas begini, yang palsu sih aku tidak tahu." Nenek itu mengangguk, katanya: "Kupercaya padamu, masakah kau berani memalsukan Soat peng-say untuk menipu nenek?" "Aku memang Soat peng-say tulen, kenapa mesti memalsu"!" ujar Peng-say dengan mendongkol.

Melihat anak muda ini bersitegang, si nenek tidak sangsi lagi, segera ia membuka Hiat-to yang tertutuk tempo hari.

Begitu dapat bergerak, serentak Soat peng-say melompat turun, tapi tak dapat berdiri tegak, ia jatuh tersungkur.

"Jangan terburu-buru." kata si nenek.

"Ketahuailah Tiam-hiat-hoat nenek lain daripada orang lain, setelah Hiat-to terbuka, dalam dua hari tidak dapat mengerahkan tenaga dan juga tidak dapat mengerahkan tenaga dan juga tidak boleh berjalan cepat." Terkesiap Peng-say, buyarlah harapannya untuk melarikan diri.

Agaknya si nenek dapat meraba maksud Peng-say yang ingin kabur itu, segera ia menjengek: "Hayo ikut padaku!" "Kemana?" tanya Peng-say.

Si nenek mendongkol, ia anggap anak muda itu sudah tahu sengaja tanya lagi, jawabnya kemudian: "Suruh kau ikut ya ikut saja, rewel apa lagi?" Tiada jalan lain, terpaksa Peng-say berkata dengan menghela napas: "Baik, ikut juga boleh, cuma ingin kukatakan sebelumnya, aku tidak pernah belajar ilmu pengobatan, jika aku disuruh mengobati Siocoa kalian, mungkin orang.

" Mendadak si nenek menoleh dengan sorot mata yang tajam, seketika Peng-say mengkeret dan kata-kata "orang hidup akan berubah menjadi orang mati" ditelan kembali mentah-mentah.

Si nenek mendahului keluar dari kamar serambi itu, karena tidak mampu melarikan diri, terpaksa Soat Peng-say mengikut pergi.

Di luar adalah serambi panjang yang mengitari rumah besar, membelok dan berliku dan akhirnya menembus kesuatu serambi lain yang lurus, pada ujung jalan serambi yan ini terlihat sebuah pintu bundar, dipandang dari luar, kelihatan beraneka warna yang semarak, mungkin di balik pintu sana adalah taman bunga yang indah.

Setelah melalui pintu bulan itu, Peng-say mengendus bau harum yang memabukkan, ditengah taman bunga berwarna-warni itu berdiri sebuah rumah mungil.

Jalan yang menuju ke villa itu adalah suatu jalan kecil diapit oleh tanaman bunga yang mekar semerbak.

Untuk melalui jalan sempit itu terpaksa harus berhimpitan dengan pohon bunga yang rimbun.

Soat peng-say menyukai bunga yang berwarna-warni itu, dengan pelahan ia menyiak tumbuhan yang melambai menghadang di jalan sempit itu, ia kuatir kalau tangkai bunga akan patah bilamana terpegang terlalu keras.

Si nenek jalan di depan, mungkin kuatir Soat peng-say mengeluyur pergi maka terkadang dia berpaling ke belakang.

Melihat kelakuan anak muda yang kuatir mematahkan tangkai bunga itu, segera ia mendengus: "Hm, Siocia kami terlebih cantik dari pada bunga, bahwa kau sayang pada bunga, tapi tidak sayang kepada Siocia kami, hm, memangnya kau kira penghuni Leng-hiang-cay boleh kau ganggu sesukamu?" Peng-say terkejut mendengar istilah "Leng-hiang-cay" atau perpustakaan harum dingin.

Tapi mengingat dirinya tidak berbuat sesuatu kesalahan apapun, ia merasa tidak perlu gentar, segera ia bertanya: "Kau bilang apa, nenek" Sedikitpun aku tidak paham!" Si nenek berpaling, selagi dia hendak mendamperat, tibatiba terdengar bunyi suara kecapi, menyusul mana terdengar suara orang bernyanyi pelahan, jelas itulah suara orang perempuan yang merdu.

Lagunya sedih mengharukan.

Peng-say dapat menangkap arti syair lagu itu yang menyatakan rasa sedih karena ditinggal kekasih.

Jadi perempuan ini sedang merindukan kekasihnya.

Lantas siapakah kekasihnya, apakah lelaki itu seorang yang tidak punya perasaan" Selagi Soat peng-say termenung, mendadak si nenek mendorongnya dan berkata: "Tampaknya kau masih punya sedikit Liangsim" Soat Peng-say melengak, jawabnya dengan bingung: "Aku punya Liangsim apa".

" "Justeru lantaran kau tidak punya Liangsim sehingga Siocia kami kau bikin merana, sekarang kucari kau kesini, tujuanku supaya kau sembuhkan sakit rindu Siocia kami." tutur si nenek dengan ketus.

"Awas, jika tidak kau sembuhkan Siocia, akan kupenggal kepalamu." "Kalian salah mengenali orang, hakikatnya aku tidak kenal Siocia kalian," sahut Peng-say sambil menggeleng.

"Sakit rindu itu jelas aku tidak mampu menyembuhkannya." "Bangsat cilik," maki si nenek, "Kau sudah mencuri hati Siocia kami, sekarang kau bilang tidak kenal dia.

Coba kutanya padamu, masa di dunia ini ada kejadian yang begini kebetulan.

Orang itu mengaku bernama Soat pengsay, katanya tinggal di istana Kiu-bun-te-tok di Pakkhia, memangnya ditempat gubernur itu ada dua orang yang punya nama sama?" Sampai disini.

Peng-say seperti memahami sesuatu, ia tanya: "O, jadi 'Soat peng-say' itu mengaku bertempat tinggal di istana Kiu-bun-te-tok Pakkhia?" "Setan cilik yang tidak punya Liangsim." si nenek mendamperat pula dengan gusar, "Masa kau melupakan ucapannya sendiri, tapi Ang-hay-ji tidaklah lupa, dengan jelas dia mendengar apa yang pernah kau katakan kepada Siocia kami." Soat Peng-say jadi teringat pula kepada keterangan anak berbaju merah itu, ia bergumam: "Lebih tinggi sedikit" Ehm, memang agak lebih tinggi.

" Tapi si nenek tidak gubris kepada gumamannya, ia berkata pula: "Aku tidak perdulikan kau tulen atau palsu, pokoknya kau harus menyembuhkan penyakit Siocia, kalau tidak, akan kupereteli tubuhmu dengan lima ekor kuda dan kupenggal kepalamu!" Diam-diam Peng-say menggerutu, pikirnya: "O, Cin Yak-leng, gara-gara perbuatanmu, akulah yang kau bikin celaka.

Jika terhadap orang lain mungkin kakak Peng masih sanggup menghadapinya, tapi memusuhi orang Leng-hiang-cay, aku menjadi mati kutu." Di dunia persilatan jaman ini terkenal sebutan "Lam-han Pak-cay", yaitu nama dua aliran persilatan yang sangat disegani.

Leng-hiang-cay adalah Pak-cay yang dimaksudkan itu.

Konon ilmu pedang Pak-cay tiada bandingannya di duna persilatan, bahkan Bu-tong-pay yang termashur selama beratus tahun karena ilmu pedangnya juga tidak lebih hebat daripada ilmu pedang Pak-cay.

Waktu Soat Peng-say tamat belajar dan mau berpisah dengan Tio Tay-peng, pernah Tay-peng memperingatkan kepadanya agar jangan sekali-kali bermusuhan dengan anak murid Pak-cay, lebih-lebih jangan pamer ilmu pedangnya dihadapan anak murid Pak-cay, sebab Co-pi-kiam-hoat (ilmu pedang tangan kiri) yang diajarkan itu boleh dikatakan tiada artinya sama sekali bagi anak murid Pakcay.

Meskipun pesan itu diam-diam membikin penasaran Soat peng-say, tapi fakta telah membuktikan dia memang jauh bukan tandingan si nenek.

Post a Comment