Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 16

Memuat...

Segera si nenek berseru ke arah pepohonan: "Lekas keluar mengenali orang, setan cilik!" Dari balik pepohonan sana lantas menerobos keluar seorang anak laki-laki dengan pakaian merah, usianya mungkin belum genap sepuluh tahun.

Nenek itu tarik cambuknya sehingga Soat Peng-say terangkat keatas, lalu ia bertanya pula: "Apakah orang ini?" "Ya, tidak salah, memang orang ini!" jawab anak laki-laki itu dengan tegas.

Dalam keadaan masih teringkus oleh cambuk, Soat Peng-say dibawa pergi oleh si nenek ke jalanan kecil menyusur pepohonan sana.

Soat Peng-say tak dapat berkutik, tapi mulutnya masih bisa bicara, segera ia bertanya: "Lau-thaypo (nenek), kau apakan adik perempuanku?" Si nenek tidak menggubris pertanyaannya dan tetap melanjutkan perjalanannya.

Karena tidak tahu keadaan Cin Yak-leng, segera Pengsay berteriak: "Adik Leng, adik Leng.

" Karena melihat Cin Yak-leng terbaring disana tanpa bergerak dan juga tidak menjawab seruannya, maka ia memanggil lagi terlebih keras.

Anak laki-laki tadi mengikut di belakang si nenek, ia merasa kasihan melihat Soat Peng-say berteriak-teriak menguatirkan temannya, anak kecil umumnya memang besar rasa simpatinya, segera iapun berkata: "Nenek, bagaimana kalau biarkan dia bertemu sekali lagi dengan adik perempuannya?" "Peduli amat!" damperat si nenek.

Sejenak kemudian, Peng-say tak dapat melihat Cin Yakleng lagi, disangkanya anak dara itu sudah meninggal, maka ia berteriak pula dengan suara parau: "Adik Leng, adik Leng.

" Karena gembar-gembornya, biarpun taman ini sangat luas, tidak urung didengar juga oleh kaum budak keluarga Cin.

Beramai-ramai mereka keluar, ada yang membawa lampu dan ada ang berteriak bertanya: "Siapa itu?" Karena luasnya taman, maka suara kawanan budak itu hanya terdengar sayup-sayup di kejauhan saja.

Sudah tentu Peng-say mendengar suara ribut-ribut itu, segera ia berteriak terlebih keras lagi.

Si nenek lantas mengancamnya: "Bila berteriak lagi, akan kupotong lidahmu!" Namun Soat Peng-say tidak peduli, ia justeru ingin menimbulkan perhatian seluruh penghuni istana agar mereka dapat menemukan Cin Yak-leng, bila mana nona itu tidak mati, tentu mereka akan menyelamatkannya.

Si nenek menjadi gusar karena peng-say masih terus menggembor, meski tidak benar-benar memotong lidahnya, tapi ia lantas menabok pula kepala anak muda itu dan membuatnya pingsan.

Entah sudah lewat berapa lama lagi, siang hari esoknya, lamat-lamat Soat Peng-say bari siuman kembali.

Agaknya ada Hiat-to yang belum terbuka, meski sudah siuman, tapi dia masih belum mampu bergerak.

Ia coba memandang sekitarnya, ternyata tertutup oleh kain tenda kereta kuda, terdengar kusir sedang berseru di bagian depan, jelas dia berada didalam sebuah kereta.

Anak laki-laki berbaju merah yang duduk di sebelahnya dapat melihat Peng-say telah siuman, segera ia mendekatkan mukanya dan bertanya: "Kau lapar tidak?" Leher Soat Peng-say tidak dapat bergerak, hanya bagian atap tenda kereta yang terlihat, ia menjawab dengan suara lemah: "Tidak!" Sejenak kemudian, ia coba bertanya: "Adik kecil, mana nenekmu?" "Nenek berduduk di depan." jawab anak laki-laki itu.

"Entah nenekmu memukul mati adik perempuanku atau tidak"!" ujar Peng-say dengan menyesal.

"Tidak." kata anak berbaju merah itu dengan tertawa.

"Nenakmu bilang begitu padamu?" Peng-say menegas.

"Tidak," jawab anak itu dengan tertawa, "Bila mana adik perempuanmu sudah mati, saat ini tentu tak dapat bernapas lagi." Peng-say jadi melengak.

Tapi anak laki-laki itu lantas menyambung: "Pagi tadi baru kuperiksa pernapasannya, kukira tidak lama lagi dia akan siuman dengan sendirinya seperti kau." "He, adikku juga berada di kereta ini?" tanya Peng-say dengan girang.

"Bukankah dia berbaring di sampingmu?" jawab si anak laki-laki berbaju merah.

Segera Peng-say ingin menoleh, akan tetapi, apa daya, kehendak ada tenaga kurang, sedikitpun kepalanya tak dapat bergerak.

Ia menjadi gelisah.

Ia tanya pula kepada anak laki-laki itu: "Adik cilik, apakah kau paham ilmu Tiam-hiat?" "Tentu saja paham!" jawab anak laki-laki itu.

Peng-say lantas memohon: "Adik cilik yang baik, maukah kau menolongku, bukalah Hoat-to yang tertutuk agar aku dapat melihat keadaan adik perempuanku!?" "Tidak, aku tidak berani," jawab anak itu sambil menggeleng.

"Bila kulakukan, aku akan dihajar nenek.

Karena diam-diam kubawa adikmu keatas kereta, hal ini mengakibatkan aku didamperat oleh nenek, katanya aku suka cari gara-gara." Peng-say tidak memohon lagi, pikirnya; "Bisa jadi anak laki-laki baju merah ini kasihan padaku karena teriakanku, maka pada waktu aku pingsan diam2 ia kembali kesana membawa adik Leng kesini.

Meski masih kecil, tapi hatinya sangat baik.

Dia sudah diomeli neneknya, tidak boleh kubikin dia dihajar lagi." Tidak lama kemudian, Peng-say merasa Cin Yak-leng yang meringkuk disebelahnya bergerak sedikit, disangkanya si nona telah siuman, cepat ia berseru: "Adik Leng.

" Tapi Yak-leng hanya bergerak saja tanpa menjawab.

Peng-say menjadi kuatir, tanyanya kepada si anak laki2: "Adikku sudah siuman belum?" "Siuman sih sudah, tapi nenek bilang, seumpama sudah siuman juga pikirannya takkan jernih lagi, kecuali diberi minum Leng-ju-coan (air susu ajaib), kalau tidak, selamanya dia akan linglung." Karuan Peng-say terkejut, cepat ia tanya pula: "Pada bagian mana nenekmu memukul adikku itu?" "Hong-hu-hiat." jawab anak itu.

Hampir saja Peng-say jatuh kelengar pula.

Hong-hu-hiat itu terletak pada ubun-ubun kepala dan merupakan Hiat-to yang fatal, bila terpukul ringan hanya akan mengakibatkan pingsan, kalau berat bisa mati seketika.

"Dimana bisa didapatkan Leng-ju-coan?" tanya Peng-say pula.

"Di rumahku banyak sekali air begituan." jawab sia anak laki2.

"Nenek bilang, setiba dirumah segera akan diberi minum kepada adikmu, asal saja jangan timbul maksud lari dalam benakmu." "Dimana letak rumahmu?" tanya Peng-say.

Anak itu menggeleng, sahutnya: "Nenek melarang kukatakan padamu." Peng-say menghela napas, katanya pula: Ai, entah dalam hal apa kuperbuat salah kepada kalian"! Adik cilik, apakah kau kenal padaku?" "Sudah tentu kukenal, kalau tidak masakah nenek membawaku untuk mencari kau?" jawab si anak.

"Kau kenal padaku, mengapa aku tidak kenal kau, janganlah kau salah mengenali orang!" ujar Peng-say.

Pada umumnya anak kecil enggan mengaku salah, maka anak kecil itupun cepat menggeleng dan menjawab: "Tidak, tidak mungkin keliru.

Kau tidak kenal diriku, soalnya kau asyik menemani bibi sehingga tidak memperhatikan diriku." "Bibi" Bibimu maksudmu?" peng-say menegas dengan melongo.

"Siapa nama bibimu?" "Ai, masa nama bibi saja kau lupakan, pantas nenek bilang kau tidak punya Liangsim (hati nurani yang baik)." seru si anak laki-laki.

Peng-say yakin setan cilik ini pasti keliru mengenali orang, maka dengan sungguh-sungguh dan tegas ia berkata pula: "Adik cilik, coba, kenali diriku lebih teliti, coba amat2i lagi lebih jelas, aku ini orang yang pesiar bersama bibimu itu?" "Ah, jangan kau bikin bingung padaku." ujar anak laki-laki itu dengan tertawa, "Kemarin hanya sekali pandang saja lantas kukenal kau sebagai orang yang menemani bibi itu, masa bisa keliru!" Umumnya anak kecil suka kukuh pada pendapatnya, biarpun salah juga tidak mau mengaku.

Setelah berpikir sejenak, Peng-say ganti siasat, ia coba main gertak, katana: "Ya, sudahlah, percuma kuribut dengan kau.

Tapi awas, hendaklah kau periksa lagi lebih teliti, bila setiba di rumah dan bibimu mengetahui orang kau bawa pulang ternyata keliru, nah, bukan mustahil nenek akan membeset kulitmu." "Tidak, pasti tidak keliru!" si anak yakin pada pendiriannya.

Walaupun begitu, mau tak mau timbul juga rasa sangsinya, terbayang olehnya bilamana benar dia salah mengenali orang, bisa jadi nenek akan menghajarnya, maka ia menjadi ragu-ragu, ia terus mengawasi Soat Peng-say dari samping.

Tiba lohor, kereta kuda itu berhenti pada suatu tempat, si nenek memebeli makanan dan diantar kedalam kereta serta memberi pesan kepada anak laki-laki berbaju merah itu: "Setan cilik, makan dulu, setelah kenyang, suapi mereka." Pada kesempatan itu cepat Peng-say berseru: "Hei, nenek, kalian salah mengenali orang!" "Coba jawab, siapa namamu?" tanya si nenek.

"Soat Peng-say," kata Peng-say.

"Soat salju, Peng-nya Peng-an (selamat), Say-nya barat, betul tidak?" "Betul!" jawab Peng-say.

"Jika begitu jelas tidak salah lagi!" jengek si nenek.

Habis itu tanpa peduli gembar-gembor Soat Peng-say lagi, ia kembali ke depan kereta.

Soat Peng-say mati kutu, ia termenung-menung sejenak, kemudian ia tanya si anak laki-laki: "Orang yang pesiar bersama bibimu itu bernama siapa?" "Soat Peng-say," jawab si anak.

Jawaban ini membikin Soat Peng-say menjadi bingung sendiri, ia pun tidak jelas lagi apakah dirinya memang orang yang pernah menemani bibi si anak atau bukan.

Karena tak berdaya, percuma Peng-say kelabakan sendirian, akhirnya iapun masa bodoh dan pasrah Allah.

Lohor hari ketiga, berhenti kereta itu di suatu tempat.

Anak laki2 itu melompat turun, tidak lama kemudian tenda kereta lantas dibuka, datang beberapa babu muda dan menggotong turun Soat peng-say.

Si nenek berjalan didepan, ia menjengek: "Dan kaupun jangan lupa menyembuhkan penyakit Siocia (tuan puteri)!" "Menyembuhkan penyakit!" teriak Peng-say kaget, "Hei, nenek, jangan kau keliru, aku sama sekali tidak paham ilmu pengobatan segala, ada penyakit harus mencari tabib, bila aku Soat Peng-say yang disuruh mengobati orang sakit, pasti orang hidup akan berubah menjadi orang mati!" "Setan cilik, orang hidup dan orang mati apa, mulutmu hendaklah bicara yang bersih sedikit!" omel si nenek, "Pokoknya kalau penyakit Siocia tidak dapat kau sembuhkan, maka tubuhmu akan dipereteli oleh lima ekor kuda." Nenek ini sudah sangat tua, tapi cara bicaranya seperti orang muda, galak dan cepat marah.

Post a Comment