Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 15

Memuat...

Siapa muridmu, hakikatnya nonamu tidak kenal!" "Kau tidak kenal?" si kakek kurus menegas.

"Coba jawab, sebulan yang lalu, pernahkah kau membutakan mata seseorang?" "Ahhh!" Yak-leng berseru kaget.

Tak perlu ditanya lagi, jelas buah karyanya.

-ooo0dw0ooo- Diam-diam Peng-say menggeleng kepala, pikirnya: "Adik Leng ini keterlaluan juga, mengapa suka melukai murid orang.

Belum lagi satu peserpun diusut, dibereskan, kini datang lagi seorang yang dilirik saja marah!" Kiranya kakek tinggi kurus ini bernama Kwa Liong dan berjuluk "kong-ju-pit-po" atau dilirik saja tidak terima, artinya biarpun dipandang sekejap saja dia tidak mau, dia terlebih ganas dari pada Pang Bong-ki, sedikit orang mengganggunya, maka celakalah orang itu, pasti akan dibunuh olehnya.

Begitulah Kwa Liong lantas berkata kepada Pang Bongki: "Pang-heng, kau bilang hendak taruhan dengan dia, maka aku harus turut ambil bagian untuk melampiaskan dendam muridku itu." "Cara bagaimana Kwa-laute akan melampiaskan dendam?" tanya Pang Bong-ki.

"Karena budak itu akan kau bawa pulang untuk dijadikan alat kesenangan muridmu, dengan sendirinya aku tidak dapat membunuhnya," kata Kwa Liong.

"Maka begini saja, cukup kukorek sepasang matanya itu." "Eh, tumben Kwa-laute kenal belas kasihan." ujar Pang Bong-ki dengan tertawa.

"Habis bagaimana, murid Pang-heng penujui budak itu, anggaplah nasibnya lagi mujur," kata Kwa Liong.

"Cuma belas kasihan juga ada batasnya, selain dia, setiap sanak keluarganya harus ikut memberi ganti rugi sepasang biji mata." Yak-leng menjadi gusar, ia segera membentak, "Kawanan bangsat, memangnya sanak keluargaku berbuat salah apa padamu?" "Dan muridku berbuat salah apa pula padamu?" "Dia.

dia berani meng.

mengintip nona mandi.

" Yak-leng menjawab dengan gelagapan dan muka merah.

"Hahahaha!" Kwa Liong bergelak tertawa.

"Kan kau sendiri menyamar sebagai Suseng, kelakuanmu yang ke-bencong2an dengan sendirinya menimbulkan rasa curiga orang, tentu saja setiap orang ingin tahu sehingga muridku itu mengintip kau mandi.

Yang penting, mestinya tidak perlu kau butakan matanya dengan Am-gi (senjata gelap atau rahasia)." "Hm, muridmu yang kotor itu berani mengintip tubuhku, kalau bisa ingin kucabut nyawanya!" damperat Yak-leng dengan gemas.

"Budak busuk, melulu ucapanmu ini saja cukup alasan bagiku untuk babat habis setiap sanak keluargamu," bentak Kwa Liong dengan murka.

Soat Peng-say lantas melangkah maju dan berkata: "Ah, rasanya ucapanmu ini agak berkelebihan!" "Nah, Kwa-laute, ada orang memprotes!" kata Pang Bong-ki dengan ter-bahak2.

Kwa Liong melirik Soat Peng-say sekejap, ucapnya dengan tak acuh: "Huh, untuk apa banyak omong dengan keroco begini, kirim saja dia ke akhirat!" Tapi Pang Bong-ki lantas bisik-bisik ditepi telinga Kwa Liong: "Ssst, jangan kau remehkan boch ini!" "Habis bertaruh apa?" teriak Kwa Liong.

"Pertarungan yang belum pasti menang lebih baik jangan pakai taruhan.

Marilah saudara, kita maju bersama." Pang Bong-ki lantas menyengir terhadap Soat Peng-say, katanya: "Kakek Kwa ini tidak mau bertaruh seperti kukatakan tadi, tapi mengajak maju bersama.

Eh, cucu yang baik, setelah kau tahu apa yang bakal terjadi, apakah kau masih berani berlagak?" Peng-say tahu pertarungan sengit sukar dihindarkan, ia tidak menghiraukan olok2 orang, dari sakunya lantas dikeluarkannya seutas benang hitam panjang.

Mendengar kedua kakek itu akan maju sekaligus.

Yakleng menjadi kuatir, ia lantas mencibir dan mencemooh: "Huh, tidak tahu malu, dua kakek maju bersama mengerubut seorang anak muda, kalian tidak kuatir tersiar ke Kangouw dan ditertawakan orang?" "Ini bukan pertandingan mencari nama, tapi bertempur demi membalas sakit hati murid, maka tidak perlu pakai aturan satu-lawan-satu segala," jengek Kwa Liong.

"Lagi pula, mulai sekarang, mana ada kesempatan lagi bagi kalian untuk menyiarkan kejadian ini?" Segera Yak-leng hendak mendamperat pula, tapi Soat Peng-say lantas memanggilnya: "Adik Leng, kemarilah, tolong ikat tali ini pada tubuhku." Yak-leng mengira pemuda itu hendak memakai ikat pinggang, segera ia mendekatinya dan menerima tali hitam itu, katanya dengan kuatir: "Kakak Peng, engkau mungkin bukan tandingan mereka berdua, apa perlu kitapun maju bersama melawan mereka?" "Tidak, tidak perlu," jawab Peng-say sambil menggeleng, "Bila aku kalah, hendaklah cepat kau lari.

Eh, salah, tidak cuma ikat bagian pinggang, tapi sekalian ikat juga lengan kananku!" Kiranya Cin Yak-leng hanya melibatkan tali hitam tadi pada pinggang anak muda itu.

Ia terkejut mendengar pemintaan Peng-say, katanya: "Masa kau.

kau.

" "Jangan tanya dulu, ikatlah lekas, makin erat makin baik!" pnta Peng-say.

Diam-diam Yak-leng heran, pikirnya: "Jika lengan kananmu terikat, lalu cara bagaimana menggunakan dua pedang?" Meski penuh tanda tanya, diikatnya juga lengan kanan Peng-say bersama tubuhnya menurut permintaan anak muda itu, malahan ia lilit tali itu hingga dua-tiga kali sehingga terikat erat.

Peng-say coba menarik lengan kanan dan terasa sukar bergerak lagi, lalu ia melangkah ke depan.

Sudah tentu Pang Bong-ki dan Kwa Liong melenggong menyaksikan cara Soat Peng-say menghadapi mereka itu, Pikir mereka: "Apakah bocah ini mahir ilmu sihir, kalau tidak masakah sengaja mengikat sebelah tangan sendiri untuk menempur kerubutan dua orang?" Setiba di depan kedua kakek itu, Soat Peng-say angkat pedang tangan kiri yang masih berselubung itu di depan dada, lalu berkata: "Silakan mulai!" "Kurang ajar!" teriak Pang Bong-ki mendongkol, "Kau berani memandang enteng kedua kakekmu"!" Sekali bersuara, Soat Peng-say tidak sungkan-sungkan lagi, baru habis ucapan Pang Bong-ki, "sret", sarung pedang terlepas, sinar perak terus menyambar ke depan.

Pang Bong-ki dan Kwa Liong memang bukan kaum keroco, keduanya tidak kalah lihaynya dibandingkan Beng Eng-kiat.

Mendadak mereka menyongsong maju, berbareng mereka menghantam.

Karena dua orang bergabung, mereka rikuh untuk mengeluarkan senjata andalan mereka yang sudah terkenal.

Maka terjadilah pertarungan sengit antara tiga orang itu, sama2 cepat dan sama lihaynya.

pandangan Yak-leng sampai kabur dan sukar membedakan siapa kakak Peng dan siapa kedua kakek itu.

Sejenak kemudian, keluarlah pedang kedua Soat Pengsay dari sarungnya, inilah jurus serangan "Siang-liu-kiam-hoat" tulen.

Mendadak Soat Peng-say melepaskan pedang pertama yang berantai lembut di pergelangan tangan itu, hampir pada saat yang sama ia mencabut pedang kedua untuk ikut menyerang.

Dengan sendirinya daya serangannya sukar dibayangkan.

Terdengar suara berdering nyaring dan ketiga orang lantas terpencar mundur.

Dalam sekejap itu pedang kedua Soat Peng-say sudah masuk kembali sarungnya, lalu pedang pertama yang berantai kecil itupun ditarik kembali.

Ia berdiri tegak dengan pedang tetap terhunus, sikapnya seperti tidak pernah menyentuh pedang kedua di belakang pundaknya.

Kalau memandang kearah Pang Bong-ki dan Kwa Liong berdua, ternyata senjata andalan masing-masing sudah dikeluarkan.

Malahan butiran keringat tampak menghias kening mereka, keduanya berdiri di kanan-kiri depan Soat Peng-say.

Rupanya pada detik yang gawat itu, secepat kilat Pang Bong-ki telah mengeluarkan senjatanya yang khas, yaitu berupa sebuah Suipoa emas, alat yang biasa dibuat berhitung.

Sedangkan senjata Kwa Liong berwujud sebuah gunting raksasa.

Dengan mengeluarkan senjata mereka itulah baru sekadar mampu menangkis jurus Siang-liu-kiam-hoat Soat Peng-say tadi.

Namun dalam hati mereka cukup gamblang, bila mana mereka tidak bergabung dua lawan satu, biarpun menggunakan senjata juga sukar menangkis serangan Soat Peng-say yang liha itu.

Diam-diam kedua orang itu bersyukur di dalam hati, walaupun begitu mereka masih penasaran, Pang Bong-ki mengedipi Kwa Liong, segera mereka hendak menerjang lagi.

Cuma pada saat itu juga mendadak terjadi keajaiban.

Soat Peng-say yang berdiri tegak di tengah kalangan itu mendadak tersabet oleh cambuk yang menyambar keluar dari semak2 tetumbuhan di samping sana.

Kontan anak muda itu jatuh tersungkur.

Rupanya Kin-sok-hiat bagian punggung tepat tersabet oleh cambuk itu.

Bahkan sebelum tubuh Soat Peng-say menyentuh tanah, secepat kilat cambuk itu berputar terus menyambar tiba pula, sekali ini bukan lagi menyabat Hoat-to, tapi cambuk itu berubah seperti ular yang hidup, dalam sekejap saja tubuh Peng-say telah terbelit oleh cambuk yang panjang itu hingga beberapa lilitan.

Waktu Soat Peng-say jatuh ke tanah, tubuhnya berikut kedua lengannya sudah terbelit erat oleh cambuk kulit, pedang kiri terlempar di sebelahnya, tubuh tidak mampu berkutik sedikitpun.

Meski sudah menyerang dua kali dengan cambuknya, tapi pemain cambuk itu belum lagi memperlihatkan diri.

Cambuk yang lemas itu digunakan menutuk atau menyabat Hoat-to dan dipakai meringkus orang pula, caranya cepat dan ajaib, sungguh sukar untuk dibayangkan.

Kalau Soat Peng-say telah roboh diringkus orang, ini berarti pemain cambuk itu telah memberi bantuan kepada Pang Bong-ki berdua, seharusnya mereka bergembira dan berterima kasih.

Tapi aneh, mereka sama sekali tiada tanda2 bergirang, sebaliknya malah ketakutan hingga muka pucat dan berdiri mematung.

"Enyah!" terdengar bentakan tertahan di balik rumpun pohon sana.

Karena disuruh "enyah", Pang Bong-ki berdua menjadi girang, mereka saling pandang sekejap, tanpa omong lagi mereka terus lari sipat kuping.

Kejadian mendadak tadi telah mengejutkan Cin Yakleng, setelah Pang Bong-ki dan Kwa Liong kabur barulah ia tenangkan diri dan cepat menubruk Soat Peng-say, ia berusaha membuka belitan cambuknya.

"Berani kau"!" kembali terdengar bentakan dari balik pohon sana.

Namun Yak-leng tidak peduli, ia tetap berusaha membuka ringkusan Peng-say, tapi sukar membukanya.

Pada saat itulah seorang lantas melayang keluar dari balik pohon sana, belum lagi Yak-leng sempat menoleh, satu kali tepuk, "Hong-hu-hiat" di belakang kepala nona itu tertepuk oleh orang itu dan jatuh pingsan.

Ketika pendatang ini berdiri tegak, kiranya seorang nenek yang bertubuh agak tinggi, tapi rada bungkuk punggungnya, mukanya penuh keriput dan rambut putih.

Post a Comment