Maka ia bertanya pula; "Pang-loyacu ada keperluan apa berkunjung kesini?" Sorot mata Pang Bong-ki yang tajam itu menyapu muka Cin Yak-leng yang sedang mengintip dari belakang Pengsay itu, lalu katanya dengan ter-kekeh2; "Hehe, budak busuk, apa gunanya kau sembunyi dibelakang seorang lelaki?" Merasa ada sandaran, meski belum jelas sandarannya itu mampu membelanya atau tidak, dengan nakal Yak-leng lantas mencibir kepada kakek buntak itu dan menjawab; "Bola semangka, mulutmu hendaklah cuci bersh sedikit, kau tahu siapa dia" Dia ini kakakku." Alangkah mesranya dia menyebut "kakakku" sehingga Peng-say merasa "sreg" didalam hati.
Dalam keadaan demikian, biarpun persoalan ini bakal mencabut nyawanya juga dia tidak peduli.
Pada umumnya manusia suka sirik bila ciri lahiriahnya diperolokkan.
Sekarang Cin Yak-leng menyebut si kakek buntak yang tubuhnya memang gemuk bundar dan cebol itu sebagai "bola semangka", tentu saja alis Pang Bong-ki lantas berjengkit, dengan murka ia mendamprat; "Budak busuk, kau berani kurang ajar padaku" Akan kurobek tubuhmu menjadi dua keping!" Habis berkata segera ia hendak mencengkeram nona itu.
Sudah tentu Peng-say tidak tinggal diam, cepat ia menangkis, katanya dengan tertawa; "Sabar Pang-loyacu, ada urusan apa boleh bicara saja baik-baik." Sekali gebrak saja bagi kaum ahli akan segera mengetahui pihak lawan berisi atau tidak.
Maka Pang Bong-ki lantas menarik kembali tangannya dan menyurut mundur ketempatnya semula, ia pandang Soat Peng-say dan berpikir; "Tampaknya bocah ini jauh lebih lihai darpada adik perempuannya." Tapi ia lantas menjengek; "Cucu yang baik, jika kau tahu nama kebesaran kakekmu ini, tentunya kaupun tahu nama julukanku didunia Kangouw." Agar sesuatunya dapat diselesaikan dengan damai, Soat Peng-say menjawab dengan tertawa; "Usia adik perempuanku masih muda dan tak tahu urusan sehingga membikin marah engkau, untuk itu kuharap kemurahan hatimu agar sudi mengampuni dia sekali ini." "Mengampuni dia sekali ini?" teriak Pang Bong-ki.
"Hm, tidak boleh jadi! Kakek berjuluk 'Kin-kin-kek-kau' (satu katipun dipersoalkan, artinya satu peser saja dihitung).
Melulu sebutannya padaku yang kurang ajar itu sudah cukup menghukum mati dia, apalagi dia telah membuntungi tangan muridku." Yak-leng lantas menjengek, "Siapa suruh muridmu itu berkelakuan jahat dan tangannya berani sembarangan menggerayang.
Hm, dasar setali tiga uang, guru yang tak karuan tentu mengeluarkan murid yang tidak genah.
Si cebol tidak nanti melahirkan anak jangkung!" Rupanya murid Pang Bong-ki juga seorang pendek.
Padahal dia paling benci jika orang menyinggung tentang kecebolannya, karuan ia lantas berteriak dan hendak mencengkeram si nona pula.
Cepat Peng-say mencegah lagi dan berkata; "Nanti dulu, Pang-loyacu, bolehkah kutanyai sebentar adik perempuanku?" "Hm, cucu lelaki memang berbeda daripada adik perempuannya," jengek Pang Bong-ki.
"Mengingat sikapmu yang sopan-santun ini, biarlah kuberi kesempatan hidup padanya sebentar lagi." Segera Peng-say menarik Cin Yak-leng kesamping, lalu betanya dengan suara tertahan; "Adik Leng, sesungguhnya apa yang terjadi?" "Untuk apa bertanya!?" seru Yak-leng.
"Pendek kata, tangan muridnya itu memang pantas ditabas." "Adik Leng," ucap Peng-say dengan tertawa, "Kabarnya murid Pang Bong-ki itu juga orang jahat, seorang bandit yang biasa malang melintang didunia Kangouw, ilmu silatnya juga tidak lemah, bahwa kau dapat menguntungi tangannya, sungguh kejadian tidak sederhana." Muka Yak-leng menjadi merah, katanya dengan tergagap; "Ah, itu.
itupun kebetulan saja, Thian yang memberkati diriku sehingga berhasil menabas buntung tangannya." = Sebab apa sehingga Cin Yak-leng membuntungi tangan murid Pang Bong-ki itu" = Darimana puteri gubernur militer ini belajar Kungfunya" = Siapakah kedua perempuan yang membunuh Beng Eng-kiat dan kedua muridnya" -ooo0dw0ooo- "Ah, kenapa adik Leng rendah hati," ujar Peng-say, "Sekarang kedudukan kita sama satu satu, aku berdusta, kaupun telah berdusta." "Aku.
aku berdusta apa?" tanya Yak Leng dengan melengak.
"Kau membohongi aku, katanya tidak pernah melatih ilmu yang tercantum didalam Siang-jing-pit-lok itu, hal ini tidak betul, bukan?" kata Peng-say dengan tertawa.
Terpaksa Yak-leng menunduk dan tak dapat menjawab, ucapnya kemudian: "Kau mau membantu aku tidak?" "Sudah tentu kubantu kau, biarpun kepala akan dipenggal juga takkan kubiarkan kakek itu mengganggu seujung rambutmu," jawab Peng-say tegas, "Cuma, kau harus menceritakan duduknya perkara agar aku dapat bicara dengan orang tua itu, jika dia tetap tak dapat diajak bicara secara baik-baik, nah, baru pakai kepalan." Yak-leng melirik Peng-say sekejap sambil menunduk, katanya dengan lirih: "Baiklah, takkan kubohongi kau lagi.
Sejak tahun yang lalu sudah berhasil kulatih ilmu yang tercantum didalam kitab pusaka pinjaman itu.
Demi mencari dirimu, diluar tahu orang rumah aku keluar dengan menyamar sebagai Suseng pelancongan, yang benar aku ingin menyelidiki jejakmu." Pelahan Peng-say memegangi tangan Yak-leng dan si nona ternyata diam2 saja dan melanjutkan ceritanya: "Hampir setahun kucari engkau dan tidak memperoleh kabar apapun.
Tapi pada akhir tahun yang lalu kepergok murid Pang Bong-ki, muridnya itu adalah seorang bandit besar, bahkan juga.
juga penjahat cabul, entah cara bagaimana penyamaranku dapat diketahuinya, dia pura-pura bersahabat denganku, akupun tidak tahu bahwa dia sesungguhnya dia orang jahat, malahan ingin kutanyai dia kabar berita dirimu, kulihat sikapnya sangat sopan, maka lantas seperjalanan dengan dia.
Dia mengira aku mudah ditaklukkan, maka cuma beberapa hari saja kedoknya lantas terbuka.
Suatu malam, diam2 dia menyusup ke kamarku, disitulah kukerjai dia, baru saja tangannya terjulur ke balik kelambu segera kutabas.
" Sampai disini ceritanya dia merandek sejenak, mungkin hawa panas yang terpancar dari tangan Peng-say membuatnya tidak tahan, ia meronta dan melepaskan pegangan anak muda itu, hal ini tidak diperhatikan oleh Peng-say, dengan muka merah Yak-leng lantas menyambung: "Sesudah itu barulah bangsat cabul itu mengetahui akupun memiliki kungfu, cepat dia kabur.
Habis itu akupun tidak menaruh perhatian atas kejadian itu dan melanjutkan pencarianku padamu.
Tapi hari ketiga aku telah disusul oleh bangsat tua she Pang itu, jelas aku bukan tandingan tua bangka itu, syukur Thian melindungi diriku dan aku berhasil lolos, maka terjadilah lari dan kejar, akhirnya kulari pulang kerumah, kukira urusan akan selesai, siapa tahu.
" Peng-say mengangguk, katanya: "Pang Bong-ki itu seorang tokoh Kangouw kawakan terkenal pula 'satu peserpun diusut'.
Setelah kau tabas kutung tangan muridnya, sekalipun lau lari ke ujung langit juga dia sanggup menemukan kau.
Sekarang persoalannya sudah jelas, kita di pihak yang benar, biarlah kubicara secara baikbaik dengan dia.
Tapi untuk menjaga segala kemungkinan, harap kau ambilkan kedua pedangku itu.
Tanpa pedang jelas aku bukan tandingan kakek itu." "Kau, kau harus hati-hati." pesan Yak-leng.
"Jangan kuatir, tanggung tidak menjadi soal." jawab Peng-say dengan tertawa.
Lalu ia memutar tubuh mendekati Pang Bong-ki.
"Hayo, budak liar, jangan lari!" segera Pang Bong-ki berteriak demi melihat Cin Yak-leng melangkah kedalam rumah.
Peng-say lantas menghadang didepan si kakek, katanya: "Peng loyacu, marilah kita bicara menurut aturan." Diam-diam Pang Bong-ki berpikir, disini adalah rumahnya, andaikan budak itu bisa kabur, masa rumahnya bisa berpindah pula, maka tanpa kuatir ia lantas menjawab; "Bicara aturan apa?" "Pang-loyacu seorang tua yang terhormat dan disegani.
" sampai disini Peng-say sengaja merandek.
"Kalau terhormat dan disegani, lalu ada apa?" Pang Bong-ki menegas, ia pikir anak muda ini pintar juga menjilat pantat, tapi apa gunanya kau menjilat.
Maka terdengar Peng-say telah menyambung: "Tapi nama muridmu.
" "Sudahlah, tidak perlu kau teruskan, kutahu maksudmu," potong Pang Bong-ki, "Tindak-tanduk muridku itu memang tidak dapat dipuji, tapi juga bukan sesuatu soal yang perlu direcoki.
Dahulu, ketika gurunya masih muda, tindak-tanduk gurunya juga tidak banyak berbeda dari pada dia." "Hm, jika begitu, tampaknya memang tidak salah pepatah yang mengatakan tikus tidak melahirkan kucing, kalau gurunya begitu, masakah muridnya bisa lain?" ejek Peng-say.
Anehnya Pang Bong-ki tidak menjadi marah, juga tak malu, ia hanya berdehem lalu berkata: "Ada perbedaan sedikit, betapapun murid tidak dapat lebih unggul dari pada sang guru, dia kurang becus sehingga tangannya ditabas budak itu.
Dia malah belum kapok dan memohon padaku agar menangkap si budak untuk dijodohkan kepadanya.
Sebenarnya, betapapun juga budak itu akan kurobek menjadi dua keping tapi mengingat dirimu, kuberi kelonggaran padanya, boleh kau suruh adikmu membuntungi sebelah tangannya sendiri, lalu ikut pergi bersamaku dan jiwanya dapat ku-ampuni." Melihat orang tak dapat diajak bicara menurut aturan, Peng-say lantas menggeleng dan berkata: "Tidak, hal ini tidak mungkin terjadi." "Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak mungkin," ujar Pang Bong-ki.
"Eh, itu dia, si budak liar itu sudah datang lagi.
Kebetulan!" Betul.
Cin Yak-leng sudah muncul pula dengan membawa dua pedang bersarung hitam dan bergaran hitam, untaian benang mainan pada garan pedang itupun berwarna hitam.
Peng-say menerima kedua pedang, yang satu disandangnya di punggung, yang lain dipegang dengan tangan kiri.
Pang Bong-ki tidak mengganggu selama Peng-say menyandang pedang dan menghunus pedang yang lain pula, habis itu barulah ia menegur dengan tertawa: "EH, kau ingin main senjata denganku?" "Betul," jawab Peng-say.
"Hahahaha!" Pang Bong-ki bergelak tertawa, "Tak tersangka, baru bertambah memegang dua pedang, sikapmu lantas garang.
Baiklah, bagaimana kalau kita pakai taruhan." "Taruhan apa" Aku ikut!" Se-konyong2 sesosok bayangan orang melayang tiba, datangnya hampir berbareng dengan terdengarnya suara.
Pang Bong-ki memandang pendatang itu, lalu berkata: "Kwa-laute, angin apa yang meniup kau kesini?" Kiranya orang itu juga seorang kakek, cuma tubuhnya tinggi kurus, boleh dikatakan tinggal kulit membalut tulang.
Tubuhnya sudah cukup jangkung, tapi memakai lagi topi yang berujung tinggi, berjenggot panjang seperti jenggot kambing, saking tinggi dan kurusnya, angin meniup saja rasanya dapat menerbangkan dia.
Diam-diam Peng-say terkejut, pikirnya: "Mengapa datang pula iblis ini?" Ia menoleh, dengan sorot matanya ia ingin bertanya kepada Yak-leng apakah kenal pendatang ini, tapi si nona menggeleng sebagai tanda tidak tahu.
"Angin apa" Serupa kau!" demikian jawab si kakek kurus.
"Kenapa" Muridmu itu.
" "Muridku telah dirusak oleh budak ini!" sela si kakek kurus sebelum lanjut ucapan Pang Bong-ki, lalu ia melototi Cin Yak-leng dengan sorot mata yang benci.
Segera Yak-leng berteriak: "He, jangan kau sembarangan memfitnah orang.