"Bila bajuku selalu kutanggalkan diluar kamar mandi, mungkin satu dua kali kau ambil mutiara itu dan merasa tidak tertarik, namun pada akhirnya bisa jadi kau akan tertarik, lalu mengambilnya dan takkan dikembalikan padaku untuk selamanya." "Huh, kau kira aku ini orang serakah" Kalau ambil barang orang lain lantas tidak mau mengembalikannya?" omel Yak-leng.
"O, tentu kau kembalikan, tentu, seperti sekarang juga akan kau kembalikan Siang-jing-pit-lok itu kepadaku," ujar Peng-say dengan tertawa.
"Tidak, kalau tidak ditukar barang dengan barang, takkan kukembalikan," kata Yak-leng.
"Adik Leng yang baik, barang apa yang ingin kau tukar, asalkan bukan mutiara merah ini, apapun kuberikan." kata Peng-say dengan setengah memohon.
Yak-leng menjadi girang, segera ia menegas; "Apa betul?" "Tentu saja betul," jawab Peng-say tanpa ragu.
Ia pikir dirinya toh tidak mempunyai barang lain lagi yang dapat ditukarkan.
Dengan tertawa senang Cin Yak-leng lantas berkata; "Sebelum kulatih isi kitab pusaka itu, sungguh aku tidak rela mengembalikannya kepadamu, asalkan kau tukar dengan mengajarkan ilmu silat lain padaku, maka akan kukembalikan kitabmu itu." Peng-say terkejut, ucapnya; "Ganti dengan ilmu silat lain"! Dari.
darimana kupunya ilmu silat lain segala" Dalam kitab Siang-jing-pit-lok itu terisi macam-macam Kungfu, baik Lwekang, Ciang-hoat dan Am-gi, semuanya tertulis lengkap.
Memangnya ilmu silat apa yang kau harapkan dariku?" "Memang betul, sudah kubaca kitab Siang-jing-pit-lok itu, disitu memang tercatat lengkap pelajaran Kungfu sebagaimana kau sebut tadi, kalau mau melatihnya memang sangat mudah, cuma sayang, disitu tiada terdapat pelajaran Kungfu bersenjata, sedangkan mengenai senjata, pedang adalah pangkalnya segala macam senjata, kalau mau belajar tentu kupilih ilmu pedang, makanya.
" Makin tegang Peng-say mengikuti ucapan si nona hingga akhirnya dia seperti mau menangis, katanya; "Ai, adik Leng yang baik, kaupun tahu ilmu silatku kupelajari dari kitab Siang-jing-pit-lok itu masa kau anggap aku ini ahli pedang.
Kau sendiri bilang didalam kitab itu tiada terdapat pelajaran ilmu main pedang, aku.
akupun tidak pernah belajar ilmu pedang lain.
" Ia kuatir si nona yang bandel dan jahil itu akan merecokinya lagi, sedangkan ilmu pedangnya dengan tegas telah diperingatkan oleh Tio Tai-peng bahwa selain puteranya sendiri, biarpun murid juga tak boleh diajari, apalagi orang luar.
Bila larangan ini dilanggar dan ketahuan, maka tiada ampun lagi.
Sebab itulah dia tetap menyangkal pernah belajar ilmu pedang.
Cin Yak-leng menatap Peng-say tajam-tajam, biji matanya yang bening terang itu se-akan2 sedang berkata; "Hm, di depanku juga kau berdusta!" Peng-say menelan air liur sekedar menenangkan perasaan tegang orang yang suka bohong.
Lalu berkata pula; "Terhadap ilmu yang tercantum dalam kitab Siang-jing-pit-lok itu memang cukup banyak pengetahuanku.
Begini saja, akan kuajari kau Kungfu yang terdapat didalam kitab itu, setuju?" Tapi Cin Yak-leng menengadah dan menggeleng, jawabnya; "Untuk ini, kitab itu kan berada padaku, kalau mau dapat kulatih sendiri.
Kukira besok bolehlah kita mulai berlatih, tujuh tahun saja cukup.
Nah, kakak Peng, tujuh tahun lagi pasti akan kukembalikan Siang-jing-pit-lok itu!" "Akan.
akan tetapi.
" Peng-say menjadi gugup.
"Tidak ada tetapi segala." ujar Yak-leng sambil menarik muka.
"Jika ingin ambil kembali kitab itu sekarang, boleh, asalkan ditukar seperti permintaanku tadi.
Ini sudah menjadi keputusan nona, tidak ada tawar menawar." Melihat kenakalan si nona yang sukar diajak berdamai itu, Peng-say menjadi kelabakan, serunya; "Tapi aku benar-benar tidak paham ilmu pedang apa-apa." Yak-leng tertawa, tanyanya; "Jika begitu, coba jawab, untuk apa kau membawa dua bilah pedang yang tajam luar biasa?" "Da.
darimana kau tahu?" jawab Peng-say dengan tercengang.
"Biasa, entah mengapa aku memang suka memperhatikan dirimu secara diam-diam, lebih2 setelah berpisah selama lima tahun, hampir sudah asing terhadap dirimu, maka aku harus mempelajari betapa banyak perubahan dirimu selama lima tahun ini.
Tadi, waktu kau bersantap bersama ayah, diam-diam kugerayangi rangsal yang kau bawa, ingin kucari sesuatu yang sekiranya menarik bagiku.
" "Ai, mengapa kau selalu suka menggeledah barangku diluar tahuku." kata Peng-say sambil menggeleng, "Untung kau.
" Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa lanjutannya dia pasti akan bilang; "Untung kau bukan isteriku, jika punya isteri seperti kau, maka runyamlah Soat Peng-say." "Kan sudah kukatakan, sudah kebiasaan," kata Yak-leng pula, "Kebiasaan sejak kecil itu memang sukar berubah.
Namun begitu akupun sangat memahami dirimu, misalnya kau suka menaruh barangmu dimana, cara bagaimana kau melipat pakaianmu, semua itu akupun tahu dengan jelas.
Apabila hal2 seperti itu ada perubahan luar biasa, itu menandakan pikiranmu tidak tenteram.
Juga lantaran terbiasa kuperhatikan setiap gerak-gerikmu serta tutur katamnu, maka segera pula kudapat mengetahui kesalahan apa yang kau lakukan atau sedang berdusta.
" Diam-diam Peng-say terperanjat, pikirnya; "Wah, jadinya kau ini orang macam apa?" Padahal biarpun ibu Soat Peng-say sendiri juga belum tentu lebih memahami pribadinya daripada Cin Yak-leng.
"Dan baru tadi, kulihat sifatmu hampir tiada perubahan sama sekali, baik melipat pakaian, bicara, gerak-gerikmu, semuanya serupa dulu kau pada lima tahun yang lalu dan kau pada saat sekarang, bedanya cuma tubuhmu bertambah tinggi besar dan membuatku pangling, selain itu boleh dikatakan tiada bedanya.
Tadi kau telah berdusta dua hal, betul tidak" Tidak perlu kau menyangkal, soalnya aku sudah teramat memahami dirimu.
Dustamu yang pertama adalah karanganmu mengenai pengalaman selama lima tahun menghilang itu.
Dusta yang kedua, kau membohongi aku bahwa kau tidak mahir ilmu pedang, padahal menurut pandanganku serta perkiraanku, selama lima tahun ini tentu kau bersembunyi disuatu tempat dan belajar ilmu pedang yang maha lihai dengan seorang kosen.
Kau ingin bukti bukan" Sederhana sekali.
Kalau kau tidak belajar ilmu pedang kelas tinggi dengan orang kosen, tentu kau takkan komat-kamit dan ber-gerak2 sendirian waktu ber-jalan2 ditaman tadi.
Ini membuktikan kau selama lima tahun ini tidak pernah lalai menyelami intisari ilmu pedang yang tinggi itu dimana dan kapanpun juga." Karena rahasianya telah dipecahkan orang dengan tepat dan jelas, apapula yang dapat dikatakan Soat Peng-say" Terpaksa ia menyerah dan berkata; "Ya, memang, semuanya persis apa yang kau katakan." "Nah, setelah kubongkar dustamu, syarat tukar menukar tadi kau terima tidak?" tanya Yak-leng dengan tertawa.
"Tidak!" jawab Peng-say sambil menggeleng.
Sekali ini si nona tidak dapat memahami lagi jalan pikiran Soat Peng-say.
Jawaban anak muda yang tegas dan ketus itu telah melukai harga diri si nona.
Maka senjata kaum wanita yang utama lantas muncul, yaitu air mata, meneteslah air mata Cin Yak-leng.
Sejak kecil Peng-say paling takut bila Yak-leng menangis.
Sekarang meski si nona tidak mengeluarkan suara tangisan, tapi air matanya yang tak bersuara itu terlebih lihai daripada tangis yang berwujud.
Sekarang ia menjadi kelabakan.
Untuk menerima permintaan si nona tidak mungkin.
Jika berkeras menolak, rasanya tidak tega.
Dalam keadaan serba susah ini, sungguh dia berharap akan datang penolong yang dapat menghindarkan dia dari kesulitan ini.
Baru timbul pikiran ini, Thian telah memenuhi harapannya.
Mendadak terdengar bentakan keras seorang; "Budak busuk, akhirnya kutemukan juga kau!" Mendengar suara bentakan yang mirip benda pecah itu, seketika pucat wajah Cin Yak-leng.
Cepat ia mengusap air mata dan bersembunyi ke belakang Soat Peng-say sambil berkata dengan gemetar; "Kak.
kakak Peng, kau.
kau harus menolong diriku.
" Segera Peng-say membusungkan dada dan berseru kearah datangnya bentakan tadi; "Siapa itu" Silakan keluar untuk bicara!" "Siapa lagi, kakekmu!" jawab si suara seperti bende pecah itu.
Baru lenyap suaranya, seperti badan halus saja tahu-tahu segulung benda putih muncul didepan Peng-say.
Inilah seorang kakek buntak berjenggot putih panjang, berjubah sulaman huruf Hok (rejeki) didepan dada, pakai kopiah batok semangka, melihat potongan tubuhnya lebih mirip hartawan kampungan.
Akan tetapi mukanya yang bersungut itu sama sekali tiada tanda-tanda riang seorang hartawan, hanya air mukanya yang bersungut dan menakutkan inilah masih membuat orang ber-pikir2 kalau berhadapan dengan dia, kalau tidak, anak kecil saja berani menggodanya.
Pada waktu Peng-say hendak berpisah dengan Tio Taipeng, oleh gurunya itu telah diceritakan beberapa gembong iblis yang disegani didunia Kangouw serta bentuk tubuhnya yang khas.
Dan kakek buntak sekarang ini paling gampang dikenalinya, segera ia memberi hormat dan menyapa; "Eh, kiranya Pang Bong-ki, Pang-loyacu." "Ehm, cucu yang baik, kenal juga kau kepada kakekmu," ujar Pang Bng-ki sambil berdehem.
Peng-say tidak marah meski orang menarik keuntungan atas dirinya dengan kata-kata, yaitu menganggap dirinya sebagai kakek Peng-say.
Ia pikir, usiamu memang jauh lebih tua, jika kau menjadi kakekku juga sepadan.