Esoknya keluarga Cin baru mengirim orang mencari dan menanyai keluarga Beng tentang diri Soat Peng-say.
Tapi waktu itu keluarga Beng lagi sibuk mengurusi kematian Beng Si-hian, supaya tidak tambah repot, maka jawaban Kay Hiau-thian adalah tidak tahu.
Setelah dicari kian kemari tetap tidak ketemu, terpaksa keluarga Cin menganggap Peng-say hilang diculik orang.
Kejadian inipun membuat Cin-lohujin berduka sampai sekian lamanya.
Kini melihat anak muda ini pulang dengan selamat, bahkan sudah tumbuh tinggi besar begini, tentu saja nyonya tua ini sangat girang dan menegurnya dengan nada setengah mengomel.
Dengan hormat Soat Peng-say kemudian berkata: "Thayhujin, diluar sini angin sangat kencang, silakan masuk saja, didalam nanti hamba akan menjelaskan." Dengan dipapah dayangnya Cin-lohujin lantas masuk keruangan dalam, sudah tentu Soat Peng-say tidak menceritakan pengalamannya dengan sungguh-sungguh, melainkan mengarang sekedarnya bagi nyonya tua itu.
Waktu Peng-say bertutur, Siocia yang mengenali Soat Peng-say tadi, yaitu Cin Yak-leng selalu menatap Peng-say dengan sorot matanya yang bening tajam se-akan2 hendak menembus hati anak muda yang bersuara itu.
Belum lagi Soat Peng-say habis berbohong, tampak datanglah seorang tabib tua, Cin-lohujin lantas sibuk menanyai keadaan luka cucunya sehingga tidak tanya lebih lanjut pengalaman Peng-say, seorang pelayan dipesannya agar mengatur tempat pondokan anak muda itu.
Petangnya ter-gesa2 Cin Ci-wan pulang dari kantornya, syukur luka Cin Siau-hoay tidak berbahaya, lengan kiri tidak sampai terkutung, tulang lengan juga tidak remuk, kalau dirawat sebulan dua bulan tentu akan sembuh.
Maka legalah hati Cin Ci-wan, ia panggil Soat Peng-say untuk ditanyai kejadian sampai terlukanya Cin Siau-hoay.
Secara ringkas Peng-say bercerita.
Karena dia sendiri tidak hadir pada waktu itu.
ia pun tidak terlalu jelas bagaimana terjadinya, yang diketahuinya adalah Cin Siau-hoay bertanding pedang dan dilukai seorang perempuan muda.
Cin Ci-wan tahu pertarungan antara orang Kangouw tak dapat dituntut dengan undang-undang negara.
andaikata mengirim petugas untuk menangkap si pengganas juga sukar menemukannya.
Diam-diam ia bersyukur puteranya tidak sampai terbunuh oleh perempuan muda itu.
Kalau gurunya saja yang jagoan itupun terbunuh, maka boleh dikatakan sangat beruntung jiwa puteranya tidak ikut melayang.
Malamnya sehabis makan, Peng-say berjalan-jalan sendirian ketaman bunga dibelakang rumah.
Waktu makan, dengan cerita bohongnya iapun memenuhi sekedar pertanyaan Cin Ci-wan tentang pengalamannya selama menghilang lima tahun.
Malam ini bulan sabit tampak menghiasi angkasa nan kelam.
Pada musim semi ini semuanya serba segar, Soat Peng-say mencium bau bunga yang harum, semangatnya terangsang, sambil menyusuri jalan kecil mengitari taman sembari merenungkan lagi ilmu pedang yang telah dipelajarinya dengan tekun selama lima tahun ini.
Ia terkadang mendongak memandangi bulan diangkasa, lain saat berkomat-kamit sambil menggerakkan kaki dan tangannya, orang yang tidak tahu bisa mengira dia orang sinting.
Selagi lupa daratan, tiba-tiba didengarnya suara tertawa ngikik orang perempuan.
Seketika Soat Peng-say terkejut, cepat ia berpaling dan siap siaga sambil membentak; "Siapa itu?" Waktu tangkai tetumbuhan tersiah, muncul seorang siocia yang cantik.
Legalah hati Peng-say setelah mengenalinya, ucapnya dengan tertawa; "Kiranya Siocia." Siocia ini ialah Cin Yak-leng.
Katanya; "Jika diriku lantas tidak menjadi soal bukan?" "Maksudku asalkan bukan orang luar yang menerobos ketaman ini." jawab Peng-say.
"Memangnya dikala berlatih pedang kau kuatir diintip orang?" ujar Yak-leng dengan tertawa.
"Mana.
mana kulatih pedang segala?" jawab Peng-say dengan gugup.
"O, ya, Siocia, kepulangan hamba sekali ini antara lain bermaksud meminta kembali kepada Siocia buku 'Siang-jing-pit-lok' yang pernah Siocia ambil itu." "Siang-jing-pit-lok apa" Aku tidak tahu?" jawab Cin Yak-leng sambil menggeleng.
"Yaitu buku yang pernah Siocia ambil ketika bermain kekamar hamba dulu," kata Peng-say pula dengan cemas, "Kan Siocia sudah mengakui mengambil buku itu dan tidak mau mengembalikan padaku, katanya Siocia akan baca dulu, setelah melatihnya baru akan dikembalikan padaku.
Sekarang urusannya sudah berselang tujuh tahun, hamba yakin Siocia sudah berhasil melatih isinya dengan baik, maka kuharap sudilah Siocia mengembalikannya padaku." Cin Yak-leng mengerut kening dan berkata; "Ai, bicaramu tidak karuan, pakai Siocia dan hamba segala! Kau juga bukan kaum budak sungguh-sungguh, mengapa nadamu berbau budak"!" Muka Peng-say menjadi merah, ucapnya; "Tapi aku.
melayani kakakmu dan menyebut kakakmu sebagai Siauya, dengan sendirinya kupanggil engkau sebagai Siocia, kalau tidak bagaimana harus kupanggil?" "Kau lebih tua dua tahun daripadaku, boleh kau sebut aku adik Leng saja dan aku pun akan memanggil kau kakak Peng, nah, kau setuju?" "Eh, mana boleh jadi!" seru Peng-say sambil menggoyang tangannya, "Mana hamba berani, Engkau adalah Siocia terhormat, sedangkan aku.
aku.
" "Kau adalah putera bibi Soat, kan bukan kaum budak dan juga bukan orang luar," kata Yak-leng.
"Dar.
darimana kau tahu?" tanya Peng-say dengan hati tergetar.
"Sesungguhnya nenek juga keterlaluan, sudah tahu asal-usulmu, mengapa tidak mau mengakui kau sebagai cucu keponakannya, tapi membiarkan kau menjadi pesuruh kakak," kata Yak-leng dengan gegetun.
"Masa Thayhujin juga tahu?" tanya Peng-say.
"Tentu saja tahu, kalau nenek tidak tahu, darimana pula kutahu?" ujar Yak-leng dengan tertawa.
Soat Peng-say menjadi sedih, ucapnya dengan muram; "Seumpama beliau hendak mengakui diriku juga tiada dasarnya, cara bagaimana nenekmu dapat mengakui diriku sebagai cucu keponakannya" Nenekmu she Soat, ibuku she Soat dan akupun she Soat, bisakah nenekmu mengakui aku sebagai cucu keponakannya?" "Masa.
masa kau benar-benar tidak tahu she ayahmu?" tanya Yak-leng dengan tergagap.
Peng-say menggeleng, jawabnya; "Siocia, harap engkau jangan menanyai asal-usulku, silakan kembalikan saja buku itu." "Lagi2 Siocia segala," omel Yak-leng, "Baiklah, terserah cara bagaimana kau akan memanggil diriku.
Tentang buku" Maaf, Siociamu tidak pernah mengambilnya!" Cepat Peng-say memberi hormat dan berkata; "Siocia yang baik.
eh, salah, adik Leng yang baik, kembalikanlah bukuku." "Nah, begini baru pantas," ujar Yak-leng dengan tertawa.
"Tapi tidak ada aturan sang kakak memberi hormat kepada adik perempuannya.
Kakak Peng, aku mengakui pernah mencuri Siang-jing-pit-kip itu.
Sebenarnya waktu itu juga akan kukembalikan padamu, tapi kaupun setuju setelah berhasil kulatih isinya baru akan kukembalikan, sayang sekarang belum berhasil kulatihnya, maka harap ditunda lagi beberapa tahun." Sudah tentu Peng-say tahu si nona sengaja mempersulit, kembali ia memberi hormat dan berucap; "Adik Leng yang baik, kitab itu bukan milikku sendiri, waktu ibuku akan meninggal, beliau meninggalkan pesan agar kukembalikan buku itu kepada pemiliknya bilamana aku berusia dua puluh, sekarang aku tepat berumur dua puluh, pesan ibuku itu harus kulaksanakan.
Maka kumohon dengan sangat, janganlah engkau mempersulit kakak Peng, tidak mungkin kau belum melatihnya, harap kembalikan saja padaku." "Ck, ck-ck! Kasihan! Rasanya aku menjadi rikuh kalau tidak kukembalikan," ucap Cin Yak-leng sambil ber-kecek2, "Cuma aku memang tidak melatih isi kitab itu, bila kukembalikan begitu saja rasanya tidak rela.
Bagaimana kalau kita main tukar barang saja?" "Tukar barang bagaimana"!" tanya Peng-say dengan terkejut.
"Adik Leng yang baik, memangnya apa yang kau kehendaki dariku?" Ia pikir waktu ibu meninggal hanya meningalkan satu jilid Siang-jing-pit-lok dan satu biji mutiara Pi-tun-cu, dia minta tukar barang lain, jangan-jangan yang diincar adalah mutiaraku ini" Apalagi anak perempuan pada umumnya tentu suka pada batu permata, tanpa terasa ia lantas meraba tempat menyimpanan mutiara mestika itu se-akan2 kuatir mendadak mutiara itu akan direbut oleh Cin Yak-leng.
Sudah tentu si nona dapat merasakan gerak-gerik Pengsay itu, ia tertawa ngikik, katanya; "Kau ini, sejak kecil sudah kuperhatikan dirimu, barang apa yang kau miliki akulah yang paling tahu.
Apakah kau kuatir kuminta tukar dengan mutiaramu yang berwarna merah itu?" Soat Peng-say tidak sempat pikir cara bagaimana si nona bisa mengetahui dirinya memiliki sebiji mutiara yang selalu tersimpan dalam bajunya, maka ia hanya menggeleng dan menjawab; "Jika mutiara ini yang ingin kau tukar, maka jelas tidak boleh jadi.
Mutiara ini adalah satu2nya benda tinggalan ibuku." "Jangan pelit, memangnya kau kira aku mengincar mutiaramu?" kata Yak-leng dengan tertawa.
"Padahal akupun tidak suka mutiara, jika suka sudah kucuri sejak dulu." "Manabisa kau curi." ucap Peng-say tidak percaya.
"Kitab itu memang selalu kutaruh dikamar sehingga tak dapat kujaga, tapi mutiara ini selalu kubawa, cara bagaimana kau akan mencurinya?" "Apanya yang sulit?" ujar Yak-leng.
"Suatu hari pernah kuintip kau mandi.
" Sampai disini cepat ia berhenti.
Urusan pribadi ini mana boleh diceritakannya.
Meski waktu itu usianya masih kecil, tapi anak perempuan mengintip anak lelaki mandi, betapapun hal ini bukan perbuatan yang terhormat, apalagi sekarang sudah besar, kalau diceritakan kan terasa malu.
"Ah, kiranya kau mencuri pada waktu kumandi, Wah, berbahaya.
Untung bajuku jarang kutinggalkan diluar kamar mandi.
Kalau tidak, demi melihat mutiara ini sangat menarik, tentu sudah kau ambil." Diam-diam Yak-leng bersyukur anak muda itu tidak menyinggung persoalan mengintip orang mandi, sikap kikuknya menjadi tenang kembali, dengan tertawa ia berkata pula; "Tapi pernah dua kali kuambil, tapi aku tidak tertarik, maka kutaruh kembali pada tempat semula.
Padahal kalau aku menaksirnya, tentu sudah lama kuambil dan kusembunyikan." "Tapi tetap berbahaya juga." ujar Peng-say.