Anak muda ini adalah murid Kay Hiau-thian, dia mengembus napas, lalu bertutur; "Pagi-pagi tadi, kira-kira tidak lama setelah Sumoai pergi, di rumah kedatangan dua orang perempuan, yang satu berusia agak tua, seorang lagi mungkin belum ada dua puluh umurnya, begitu datang yang muda itu lantas menyatakan hendak berkenalan dengan Gway-hoat-kiam-hoat keluarga Beng.
Kebetulan Cin-susiok datang dan memergoki kejadian itu, maka Cinsusiok lantas melayani pihak penantang.
Siapa tahu, belum.
belum sampai sepuluh jurus, Cin-susiok lantas dikalahkan.
" Siau-gi berkerut kening, pikirnya: "Meski Cin-susiok baru lima tahun belajar pedang dengan kakek, tapi sudah mendapatkan segenap keahlian kakek, masa tidak sampai sepuluh jurus sudah dikalahkan orang?" "Kemudian Suhu juga turun kalangan," tutur pula anak muda tadi, "tapi.
tapi beliau juga.
juga tidak sanggup bertahan sampai sepuluh jurus.
" "Kay-supek juga kalah?" Siau-gi menegas dengan terkejut.
Anak muda itu meng-angguk2, katanya dengan sedih; "Cin-susiok masih ada harapan untuk hidup, tapi Suhu telah meninggal karena terluka parah." Selama lima tahun ini Beng Eng-kiat telah mengajarkan intisari Gway-hoat-kiam-hoat kepada Kay Hiau-thian.
Latihan selama lima tahun dengan tekun telah banyak menambahkan kemahiran Kay Hiau-thian dalam hal ilmu pedang itu sehinga jauh berbeda daripada kepandaiannya lima tahun yang lalu, siapa tahu dalam sepuluh jurus iapun dikalahkan orang, hal ini benar-benar membuat Beng Siau-gi terkejut, sebab biarpun ilmu pedangnya sekarang memang lebih banyak memperoleh petunjuk khusus dari kakeknya, tapi juga tidak selisih banyak dibandingkan kepandaian Kay Hiau-thian.
Setelah berhenti sejenak, lalu anak muda tadi berkata pula dengan menangis: "Suhu sudah meninggal, tiada orang lagi yang sanggup menghadapi tantangan perempuan muda itu, terpaksa.
terpaksa Suco (kakek guru) dipanggil.
" "Dan kakek telah mengalahkan perempuan muda itu?" tanya Siau-gi dengan tegang.
Namun anak muda itu menjawab dengan menggeleng kepala.
"Apa benar begitu"! Kakek juga tidak sanggup melawannya"!" jerit Siau-gi, hampir-hampir ia tidak percaya kepada keterangan anak muda murid Kay Hiau-thian itu.
"Sebenarnya Suco dapat mengalahkan perempuan muda itu." tutur orang itu.
"Tapi baru bergebrak belasan jurus, perempuan setengah baya yang datang bersama perempuan muda itu lantas berteriak menyuruh yang muda mundur, dia sendiri lantas maju untuk menghadapi Suco.
Meski perempuan setengah baya itu memainkan ilmu pedang yang sama dengan perempuan muda, bahkan dia cuma bertangan satu, namun ilmu pedangnya jauh lebih tinggi daripada yang muda.
Melihat gelagatnya tidak menguntungkan Suco, diam-diam kami berunding dan aku disuruh memanggil Sumoai supaya lekas pulang.
" Sampai disini, hati Beng Siau-gi menjadi cemas dan gelisah seperti dibakar, cepat ia menceplak keatas kudanya dan dibedal ke kota secepat terbang.
Soat Peng-say lantas menyusulnya dengan kencang.
Tidak berapa lama, Soat Peng-say telah ikut Beng Siau-gi sampai diruangan berlatih keluarga Beng, terlihat disitu sudah berkurumun anak murid angkatan kedua, salah seorang melihat pulangnya Beng Siau-gi dan segera berteriak; "Itu dia Sumoai sudah pulang!" Be-ramai2 semua orang lantas memberi jalan.
Tertampaklah tiga sosok tubuh yang bermandi darah bersandar pada tiga buah kursi besar, seorang diantaranya adalah Beng Eng-kiat sendiri.
Sambil menjerit Siau-gi terus menubruk kesana.
Melihat cucu perempuan satu2nya sudah pulang, Beng Eng-kiat sedikit membuka kelopak matanya yang terasa berat itu, ucapnya dengan lemah; "Siau-gi, kem.
kembali Siang-liu-kiam.
Ing.
ingat kakek dan ayahmu sama-sama mati dibawah Siang-liu-kiam.
Siang-liu-kiam dan keluarga Beng kita mempunyai dendam kesumat yang sukar diukur, kau harus.
harus.
" karena lukanya terlalu parah, suaranya hampir tak terdengar lagi.
Dengan menahan air mata duka, dengan suara pelahan Siau-gi berkata; "Siau-gi tahu, Yaya (kakek), Siau-gi pasti akan menuntut balas, akan kubunuh habis setiap musuh yang bisa memainkan Siang-liu-kiam-hoat!" Mulut Beng Eng-kiat setengah terpentang, seperti mau bicara apa-apa lagi, tapi napasnya sudah terlalu lemah, sekali terhembus, mangkatlah dia.
Air mata Siau-gi berderai, jeritnya melengking: "Yaya, Yaya.
" Tapi sang kakek tidak bergerak lagi, sang kakek tak dapat mendengar lagi suaranya.
Tidak kepalang sedih Beng Siau-gi, ia menangis ter-gerung2 sambil mendekap mayat sang kakek.
Peng-say berdiri dibelakang Siau-gi, ia dapat mendengar semuanya, ia merasa heran siapakah perempuan bertangan satu yang juga mahir Siang-liu-kiam-hoat itu.
Siapakah dia sebenarnya" Suara tangis Beng Siau-gi masih tergerung hinga menggema ruangan seluas itu, para anak murid angkatan kedua juga ikut mencucurkan air mata, hampir Soat Pengsay juga ikut meneteskan air mata, ia mengusap matanya yang basah dan berusaha menghiburnya: "Nona.
nona Siau-gi, janganlah engkau terlalu berduka, engkau masih harus menyelesaikan banyak urusan." Tapi Siau-gi tidak menggubrisnya dan masih terus menangis.
Dia benar-benar teramat berduka, satu2nya anggota keluarganya yaitu sang kakek sekarangpun meninggal, tentu saja dia sangat sedih dan kalau bisa ingin ikut mati saja.
Peng-say menghela napas, ia tahu membujuk lagi juga tiada gunanya, dengan muram ia mendekati kursi yang lain, dilihatnya menelentang orang yang disebut "Cin-susiok" itu.
Kiranya Cin-susiok yang dimaksudkan ini bukan lain daripada Siauya yang dulu pernah dilayani Soat Peng-say, yaitu Cin Siau-hoay, putera kesayangan gubernur militer kota Pakkhia.
Sejak Peng-say dibawa pergi oleh Tio Tai-peng, setelah Beng Eng-kiat pulang, lalu Cin Siau-hoay datang lagi memohon agar diterima menjadi murid jago tua itu.
Karena Cin Siau-hoay memang mempunyai perawakan dan bakat yang bagus, pula putera pembesar berkuasa setempat, terpaksa Beng Eng-kiat menerimanya.
Selama lima tahun ini banyak juga pelajaran yang diperoleh Cin Siau-hoay, cuma sayang, sebelum tamat belajar dia sudah dikalahkan oleh seorang perempuan yang lebih muda daripada dia.
Hanya luka Cin Siau-hoay saja yang tidak begitu gawat, namun begitu iapun tak sadarkan diri, setengah badannya bagian kiri tampak berlepotan darah, jelas tulang pangkal lengan kirinya tertabas luka.
Segera Soat Peng-say memondong tubuh Cin Siau-hoay, iapun tidak pamit kepada Beng Siau-gi, hanya berpesan sekedarnya kepada salah seorang murid angkatan kedua keluarga Beng, lalu dibawanya pergi.
Diluar Soat peng-say menyewa sebuah kereta kuda dan menyuruh kusir lekas membawanya kerumah gubernur.
Letak istana gubernur itu dibagian tengah kota Pakkhia, gedungnya megah dan halaman luas.
Setiba didepan istana, Peng-say memondong Cin Siauhoay turun dari kereta.
Terharu juga sejenak Soat Peng-say memandangi gedung megah yang telah ditinggalkan lima tahun lamanya itu.
Segera ia melangkah kepintu gerbang yang bercat merah itu.
Dengan sendirinya penjaga tidak kenal dia lagi, tapi kenal Cin-siauya yang dipondongnya, tanpa tanya lebih jelas penjaga itu lantas berlari kedalam untuk melapor.
Sekejap kemudian pintu gerbang lantas terpentang dan berbondong menyongsong keluar serombongan orang perempuan, yang paling depan adalah seorang nyonya tua bertongkat, begitu melihat cucu lelakinya yan berada dalam pangkuan Soat peng-say seperti orang mati, segera ia berteriak dan menangis; "O, anak Hoay.
Anak Hoay.
" Cepat Peng-say setengah berlutut dan berkata; "Thayhujin (nyonya tua), luka Siauya tidak terlalu parah, lekas mengundang tabib saja untuk mengobatinya." Mendengar cucunya tidak berbahaya, cepat si nenek memberi perintah; "Cin Hok, lekas panggil tabib!" Seorang hamba tua mengiakan dan berlari pergi.
Seorang hamba yang muda dan kuat lantas memondong Cin Siauhoay dari pangkuan Soat Peng-say.
Nyonya tua itu meng-amat2i Soat Peng-say sejenak, lalu bertanya; "Siapa she yang terhormat engkoh cilik ini, terima kasih atas kebaikanmu yang sudi mengantar pulang Siauhoay.
Siapakah yang melukai dia?" "Pengganas yang melukai Siauya itu entah kabur kemana, aku.
" Belum habis Soat Peng-say bertutur, salah seorang Siocia (puteri) yang berdiri disamping si nenek yang sejak tadi selalu mengawasi Soat Peng-say, mendadak berseru: "He, kau ini Soat Peng-say"!" Sudah lima tahun Soat Peng-say menghilang dan sekarang muncul mendadak, tentu saja para pelayan yang mengitari Lohujin sama terkejut.
"Kau.
kau benar Peng-say?" tanya nyonya tua itu dengan suara rada gemetar.
"Thayhujin, hamba memang betul Soat Peng-say yang pergi selama lima tahun itu," jawab Peng-say sambil memberi hormat.
Nyonya tua itu rada terguncang perasaannya, katanya: "Ke.
kemana saja kau selama ini, kami mencari kau ubek2an dan menyangka kau telah diculik orang, aku menyesal karena tak dapat memenuhi pesan keponakan perempuanku itu." Kiranya ibu Soat Peng-say adalah keponakan nyonya tua keluarga Cin, yaitu ibu Cin Ci-wan, nenek Cin Siau-hoay.
Waktu Soat Peng-say berumur sepuluh, ibunya sakit berat dan membawanya mondok dirumah keluarga Cin.
Tidak lama setelah berada disini, ibu Soat Peng-say meninggal.
Oleh karena Soat Peng-say adalah anak haram, anak yang dilahirkan diluar perkawinan, ibunya malu untuk memberitahukan kepada orang lain bahwa Peng-say adalah anak kandungnya, tapi mengakui Peng-say sebagai anak seorang sahabatnya.
Sebab itulah setelah ibu Peng-say meninggal, keluarga Cin tidak menganggap Peng-say sebagai sanak famili sendiri dan juga tidak dapat memandangnya sebagai kaum budak, maka dia disuruh meladeni Cin Siau-hoay sebagai kacung pribadinya.
Hanya Cin-lohujin saja diam-diam mengetahui Soat Peng-say adalah anak kandung keponakan perempuan sendiri dari perkawinan tidak resmi, tapi ia pun tidak enak untuk bicara terus terang, maka membiarkan anak muda itu menjadi kacung pribadi cucu kesayangannya.
Cin Siau-hoay sendiri sejak kecil sudah kehilangan ibu, yaitu mati pendarahan waktu ibunya melahirkan adik perempuannya, Cin Yak-leng.
Ci-lohujin yang mendidik dan membesarkan Cin Siauhoay dan Cin Yak-leng.
Karena Siau-hoay adalah keturunan lelaki satu2nya, dengan sendirinya dia sangat disayang oleh sang nenek.
Lima tahun yang lalu, setelah Cin Siau-hoay lari pulang dari tempat Beng Eng-kiat, kemudian diketahui Soat Pengsay tidak ikut pulang.