Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 10

Memuat...

Pemuda baju hitam itu ingin bicara pula, tapi dilihatnya si nona membedal lagi kudanya kedepan.

Ia pandang bayangan punggung si nona dan menghela napas pelahan, ia merasa dirinya terlalu penakut, masa menjelaskan siapa dirinya sendiri saja tidak berani.

Setiba diujung jalan simpang itu, Beng Siau-gi sedikit melirik kebelakang, tidak terlihat si pemuda baju hitam menyusulnya, Diam-diam ia berbalik merasa kesal, Pikirnya: "Sebentar dia tentu akan datang kemari.

Entah dia anggota keluarga mana dan hendak berziarah makam siapa?" Di tanah pekuburan dengan rerumputan yang tumbuh lebat disana-sini ini tak terhitung banyaknya makam yang malang melintang tak teratur, Siau-gi turun dari kudanya da menuntunnya menuju kemakam ayahnya.

Sambil berjalan, dalam benaknya terbayang wajah pemuda baju hitam yang ganteng tadi, ia merasa wajah itu seperti sudah dikenalnya, tapi entah pernah dilihatnya dimana" Setiba didepan sebuah kuburan yang dibangun dengan megah, Siau-gi menambat kudanya pada tetumbuhan didekat situ, lalu diturunkannya alat-alat pembersih rumput seperti arit dan cangkul kecil serta sesajian, kertas bakar dan sebagainya.

Karena setiap bulan dia pasti berziarah satu kali, maka rumput liar dikuburan Beng Si-hian itu tidak banyak, setelah dibabati sejenak, ia lantas mengatur sesajian dan mulai bersembahyang.

Habis membakar kertas sembahyang, selagi dia duduk termenung menghadapi makam sang ayah, tiba2 terdengar suara langkah orang mendatangi.

Waktu ia menoleh, ternyata dia lagi! Mau-tak-mau tegang juga perasaannya, Disangkanya pemuda ini bukan berziarah tujuannya, buktinya dia tidak membersihkan makam yang dituju, sebaliknya mendekati makam ayah Siau-gi ini.

-ooo0dw0ooo- Kini ditanah pekuburan yang luas dan sunyi ini hanya terdapat mereka berdua saja, meski Siau-gi tidak takut diperlakukan kasar oleh pemuda baju hitam itu, tanpa terasa timbul juga rasa cemasnya.

Dilihatnya pemuda baju hitam itupun membawa beberapa ikat Gin-coa (kertas sembahyang), tampaknya memang benar hendak berziarah.

Malahan kertas sembahyang itu lantas ditaruhnya pada sisa abu yang baru dibakar Siau-gi itu, maka sejenak kemudian kertas itupun terjilat bara dan mulai berkobar.

Orang membakar kertas sembahyang di makam ayahnya, meski Siau-gi menduga orang tidak bermaksud baik, hanya ingin mendekati dia dan mengajak ngobrol saja, tapi apapun juga dia tak dapat menolak, Pikirnya; "Seingatku ayah tidak mempunyai kenalan pemuda begini, tanpa sebab dia membakar kertas sembahyang kemakam ayah, dia pasti mempunyai sesuatu maksud tujuan." Tapi pemuda baju hitam itu tidak cuma membakar kertas sembahyang saja, bahkan ia lantas berlutut didepan makam Beng Si-hian dan menyambah tiga kali dengan khidmat.

Perbuatan ini membuat Siau-gi melenggong, apalagi dilihatnya cara memberi hormat pemuda itu sedemikan khidmatnya, sedemikian tulusnya, mau-tak-mau Siau-gi merasa terharu, cepat ia berdiri dan balas memberi hormat dan sambil berkata: "terima kasih atas kedatangan anda berziarah kemakam mendiang ayahku.

Mohon tanya siapakah nama anda yang mulia agar Siaulicu (anak perempuan kecil) tahu cara bagaimana harus menyebut anda." Pemuda baju hitam itu berbangkit, iapun memberi hormat, lalu berkata: "Nona Siau-gi, engkau sudah pangling padaku?" Kembali Siau-gi melengak, dalam benaknya terlintas lagi perasaan seperti sudah kenal orang, akan tetapi betapapun juga dia memang tidak ingat lagi bahwa pemuda ini taklain-tak-bukan ialah Soat Peng-say, si kacung yang pernah dilihatnya lima tahun yang lalu.

Hal inipun dapat dimaklumi selama lima tahun ini mereka sudah sama-sama tumbuh besar, lebih2 Soat Pengsay, perawakannya sekaran tinggi besar, kekar gagah, sama sekali berbeda daripada bentuk kacung dimasa lalu, pantaslah kalau Siau-gi pangling padanya.

Sebaliknya Soat Peng-say sebenarnya juga pangling pada Beng Siau-gi.

Banyak perubahan pada diri si nona, sekalipun Siau-gi berjalan lalu didepannya juga tak dikenalnya lagi.

Sebabnya Peng-say mengetahui nona ini ialah Beng Siau-gi adalah ketika nona itu keluar kota, Peng-say mendengar percakapan dua penduduk Pakkhia yang menyatakan keheranannya mengapa cucu tunggal Bengloyacu pagi-pagi keluar kota sendirian.

Kebetulan saat itu Soat Peng-say juga akan keluar kota, mendengar keterangan itu, hatinya tergerak, segera ia tanya lebih jelas nona mana yang dimaksudkan sebagai Beng Siau-gi, cucu Beng-loyacu yang termashur itu.

Maksud tujuan Soat Peng-say keluar kota adalah untuk menunaikan cita-cita Tio Tai-peng.

Rupanya Tio Tai-peng merasa menyesal lima tahun yang lalu telah membunuh Beng Si-hian, maka sekarang setelah Soat Peng-say tamat belajar dan hendak berpisah, ia lantas memberi pesan agar setiba di Pakkhia hendaklah Soat Peng-say berziarah ke makam Beng Si-hian dan bersembahyang baginya.

Baru semalam Soat Peng-say sampai di Pakkhia, ia sudah mencari tahu dimana makam Beng Si-hian, maka pagi-pagi hari ini dia akan menuju kesana.

Siapa tahu Beng Siau-gi terlebih pagi daripada dia dan keluar kota lebih dulu.

Dari keterangan yang diperoleh, Peng-say hanya tahu kuburan Beng Si-hian terletak diluar pintu gerbang Kongan-mui, tempatnya yang tepat belum diketahui, ia pikir akan mencarinya nanti jika sudah tiba ditempat tujuan.

Maka ketika diketahui Beng Siau-gi berjalan didepan, ia lantas menyusulnya dengan maksud hendak tanya letak makam ayah si nona.

Ketika dia berhasil menyusul Siau-gi, dilihatnya si nona sedemikian cantiknya, seketika ia menjadi kikuk dan tak dapat omong sehingga menimbulkan prasangka Siau-gi.

Kemudian ia coba menyapa, tapi timbul pula rasa kuatirnya bilamana si nona mengetahui dia adalah murid pembunuh ayahnya, maka dia tidak berani bicara terus terang akan maksud kedatangannya, dia hanya bertanya satu kaliamat yang sama sekali tiada artinya.

Sekarang si nona menanyakan namanya, setelah raguragu sejenak, akhirnya ia menjawab terus terang: "Nona Siau-gi, aku.

aku Soat Peng-say.

" "Soat Peng-say", nama ini mana bisa dilupakan Siau-gi" Begitu mendengar nama ini, segera teringat olehnya anak muda yang pernah mendekapnya lima tahun yang lalu.

Seketika muka Siau-gi bersemu merah dan berseru; "Ahh, kiranya engkau ini Soat-toako!" Soat Peng-say tidak menduga si nona tidak marah padanya, sebaliknya malah memanggilnya "Soat-toako", ia menjadi girang, katanya pula dengan tersenyum; "Nona Siau-gi, kiranya engkau masih ingat pada namaku." Beng Siau-gi tidak memperhatikan rasa likat atau jengah meski memanggil pemuda itu sebagai "Toako", maklumlah, tutur kata dan tindak-tanduk Soat Peng-say yang baik dimasa dahulu itu telah berkesan mendalam dalam lubuk hatinya untuk menghormatinya sebagai toako.

Dipandangnya lengan kanan Soat Peng-say yang utuh tanpa cacat itu, Siau-gi bertanya dengan tertawa; "Kemudian cara bagaimana engkau meloloskan diri dari cengkeraman Okjin (orang jahat) itu?" Terkesiap juga Soat Peng-say oleh pertanyaan ini, tapi ia berlagak seperti bergurau dan menjawab; "Aku tidak meloloskan diri, kuangkat dia sebagai guru!" Siau-gi tidak percaya sedikitpun, ia menggeleng dan berkata; "Apabila kau angkat guru kepada Okjin itu, mustahil lengan kananmu masih dapat dipertahankan." Dari sebutan "Okjin" yang ber-ulang2 terlontar dari mulut si nona, Peng-say tahu dendam Siau-gi terhadap gurunya sangat mendalam, maka dirinya se-kali2 tidak boleh mengakui benar-benar telah menjadi muridnya.

Dengan tertawa ia lantas berkata; "Ditengah jalan aku pura-pura ingin buang air, dia melepaskan aku waktu kumasuk hutan untuk buang air, kesempatan itulah kugunakan untuk kabur." Keterangan yang sederhana ini ternyata dipercaya penuh oleh Beng Siau-gi, katanya dengan tertawa; "Memang sudah kuduga, engkau pasti dapat meloloskan diri dari cengkeraman Okjin itu." Gurunya sendiri ber-ulang2 disebut orang sebagai "Okjin", sudah tentu hati Soat Peng-say merasa tidak enak.

Tiba-tiba terdengar Siau-gi berkata pula dengan menghela napas; "Entah tinggal dimana sekarang Okjin itu"!" Peng-say sengaja balas bertanya, "Kau ingin mencari dia?" Tampak Siau-gi mengertak gigi penuh rasa dendam, jawabnya; "Mengapa tidak" Sudah tiga tahun kakek membawaku berkelana di Kangouw, namun sedikitpun tidak mendapat kabar beritanya, barangkali Okjin itu sudah mampus." Kalimat terakhir itu sangat menusuk perasaan Soat Pengsay, ia tersenyum getir dan bertanya, "Lalu mau apa bila kalian dapat menemukan dia?" Siau-gi memandang Soat peng-say sekejap, ia meragukan apa maksud pertanyaan anak muda itu.

"Tentunya hendak menuntut balas bagi ayahmu," sambung Soat Peng-say setelah berdehem pelahan.

"Ya, sudah tentu, sakit hati kematian ayah sedalam lautan, kakek telah mengajarkan segenap ilmu pedangnya dan membawaku mencari Okjin itu, tujuannya adalah agar aku dapat menuntut balas dengan tanganku sendiri." Sungguh tak tersangka anak perempuan secantik bidadari begini dapat mengucapkan kata2 segarang ini.

Diam-diam Peng-say merasa ngeri, tapi iapun tidak enak untuk membujuknya, teringat olehnya dahulu ia sendiri pernah berkata kepada si nona bahwa selama gunung tetap menghijau jangan kuatir tiada kayu bakar.

Arti dari kata-kata itu adalah isyarat bahwa untuk menuntut balas masih cukup waktunya dan tidak perlu ter-buru2.

Dan sekarang apakah dirinya dapat membujuknya pula" Tentu juga tidak boleh lantaran Tio Tai-peng telah menjadi gurunya, lalu ia menyuruh si nona jangan menuntut balas kematian ayahnya" Se-konyong2 Siau-gi pasang kuping mendengarkan dengan cermat, lalu berkata; "He, siapa itu yang datang, begitu kencang dia melarikan kudanya"!" Soat peng-say juga sudah mendengar suara kuda lari itu, katanya dengan tertawa; "Kita berziarah, dengan sendirinya masih ada orang lain juga ingin berziarah." "Soat-toako," kata Siau-gi dengan tersenyum manis, "Terima kasih atas kedatanganmu yang khusus bersembahyang di makam ayahku ini." Belum habis ucapannya, dari persimpangan jalan sana seorang penunggang kuda tampak membedal kudanya kearah sini dengan gugup, begitu melihat Siau-gi dari jauh orang muda itu lantas berteriak; "Beng-sumoai, lekas pulang, lekas.

" Dengan gelisah orang itu melarikan kudanya kedepan kuburan terus melompat turun, dengan napas ter-engah2 ia berseru pula; "Suhu dan Cin.

Cin-susiok, mereka.

mereka sudah habis semuanya.

" "Bagaimana persoalannya, Ci-suheng, hendaknya kau bicara pelahan dengan lebih jelas." tanya Siau-gi dengan kuatir.

Post a Comment