Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 09

Memuat...

Selagi Tio Tai-peng merasa penasaran, kesempatan itu digunakan Soat Peng-say untuk menyelinap keluar.

Tapi dari lagak lagu anak muda itu Tai-peng sudah tahu ia bermaksud lari, maka begitu tubuh orang bergerak, serentak ia pun mencengkeram.

Tak tersangka gerak tubuh Soat Peng-say ternyata sangat licin, sedikit mengengos saja ia dapat menghindari cengkeraman Tio Tai-peng.

Karuan Tai-peng terkejut, secepat kilat tangannya membalik dan mencengkeram pula.

Cengkeraman kedua kalinya ini memakai gerak cepat tusukan pedang, sedangkan Soat Peng-say belum cukup tinggi kepandaiannya untuk "mendengarkan suara angin membedakan arah", cengkeraman Tai-peng dari belakang itu sukar diraba kemana tujuannya, ketika dia berkelit kekanan, kebetulan jatuh kecengkeraman Tio Tai-peng yang pura-pura bergerak kekiri, tapi terus menangkap kekanan itu.

Seperti elang mencengkeram anak ayam saja, seketika Soat Peng-say terpegang Hiat-to bagian kuduknya hingga sama sekali tak dapat berkutik lagi terus diangkat keatas.

"Lepaskan, lepaskan aku," teriak Soat Peng-say," Aku tidak mau berguru padamu, aku tidak ingin menjadi orang yang cacat." Merasa anak muda itu hendak menghindari dirinya, sebagai ayah, diam-diam Tio Tai-peng merasa berduka.

Tapi ia sengaja me-nakut2inya; "Tidak, betapapun kau harus mengangkat guru padaku.

Cacat badan saja apa halangannya?" Apa pun juga Soat Peng-say masih terlalu muda, usianya belum genap lima belas, demi teringat peraturan Tio Taipeng yang menerima murid dengan menguntungi lengan kanan calon murid, ia menjadi takut dan menangis.

Selagi Tai-peng hendak membawa pergi Soat Peng-say, se-konyong2 terdengar seorang membentak; "Orang jahat, lepaskan dia!" Yang bersuara ini kiranya Beng Siau-gi.

Sejak tadi ia menangis sambil mendekap jenazah ayahnya, akhirnya air matapun terkuras kering, pada saat itulah ia menengadah dan melihat Soat Peng-say hendak dibawa pergi oleh Tio Tai-peng.

Terpikir olehnya: "Dengan tulus hati dia telah menyelamatkan aku, sekarang dia mengalami kesulitan, adalah pantas kalau kubalas menolong dia!" Dalam hati kecilnya timbul pikiran yang luhur dan ingin menolong sesamanya tanpa memikirkan ilmu silat sendiri sesungguhnya selisih sangat jauh dengan Tio Tai-peng.

Segera ia jemput pula pedang tadi terus memburu kesana.

Melihat Beng Siau-gi akan menyerempet bahaya, sama sekali Kay Hiau-thian tak mencegah atau menghalanginya, sebaliknya diam-diam ia malah berharap semoga sekali tabas Tio Tai-peng akan membinasakan anak dara itu.

Ketika pedang Beng Siau-gi menusuk tiba, sambil tertawa Tio Tai-peng melayang belasan tombak jauhnya kedepan, setiba dipintu gerbang keluarga Beng itu, ia sempat meninggalkan pesan: "Budak cilik, belajarlah baik-baik kepada kakekmu, lima tahun lagi akan kusuruh anak-didikanku ini kesini untuk bertanding dengan kau!" Dengan cepat Beng Siau-gi memburu maju dan menusuk pula dengan pedangnya.

Tapi Tio Tai-peng lantas melayang keatas pohon besar diluar rumah, disitu pepohonan ber-deret2 ditepi jalan.

Begitulah, sebelum Beng Siau-gi mengejar tiba, dengan mengempit Soat Peng-say, Tio Tai-peng terus melayang pergi seperti terbang diatas pepohonan itu.

== ooo OdOwO ooo == Dengan cepat lima tahun telah berlalu.

Selama waktu lima tahun yang singkat ini, bagi kota tua seperti Pakkhia, selain usia para penduduknya bertambah banyak, suasana dan keadaan kota ini tidak ada perobahan sedikitpun.

Hari itu tepat hari raya Jingbeng, hari orang melakukan pembersihan makam sanak famili dan leluhur.

Pagi-pagi sekali penduduk Pakkhia sudah ber-bondong2 menuju keluar kota untuk berziarah kemakam leluhur masingmasing.

Baru saja Kong-an-bun, pintu gerbang selatan kota pakkhia dibuka, orang pertama yang keluar kota adalah seorang nona berbaju putih sebagai tanda berkabung dengan kuda tunggangan berbulu putih pula.

Kaum puteri keluarga berpangkat atau bangsawan di Pakkhia tidak nanti keluar kota dengan menunggang kuda, biasanya mereka pasti menggunakan kereta kuda, Tapi nona penunggang kuda ini meski bukan puteri keluarga bangsawan, namun hampir setiap penduduk Pakkhia pasti kenal dia.

Siapapun tahu nona cantik dan menyenangkan ini adalah cucu tunggal kesayangan Beng-loyacu, Beng Engkiat yang termashur, Seringkali orang melihat jago tua yang terhormat dan disegani itu membawa serta cucu perempuan satu2nya itu pesiar keluar, Tapi sekarang, cucu perempuan jago tua itu yakni Beng Siau-gi keluar kota sendirian dengan menunggang kuda, hal ini memang jarang atau hampir tidak pernah terjadi.

Sebenarnya Beng Siau-gi memang tidak keluar kota sendirian, kakeknya sudah berjanji akan menyuruh dua muridnya, yaitu paman guru Siau-gi untuk mengiringi nona itu keluar kota.

Tapi pagi-pagi hari ini Beng Siau-gi sudah menunggu sekian lama, ternyata satu diantara kedua Susiok itu tidak kunjung muncul, ia menjadi tidak sabar untuk menunggu lagi, diam-diam ia menguluyur keluar kota sendirian.

Ia pikir pada hari Jingbeng itu, harus se-pagi2nya berziarah, perlu apa ditemani para Susiok" Beng Si-hian putera tunggal Beng Eng-kiat, dimakamkan disuatu tempat kira-kira lima li diluar pintu kota Kong-an-bun.

Dengan menunggang kuda tidak perlu setengah jam sudah bisa sampai disitu.

Belum lama Siau-gi keluar kota, tiba-tiba terdengar seekor kuda membedal cepat dari belakang, Siau-gi berkerut kening, disangkanya sang kakek merasa kuatir ketika mengetahui dia keluar kota sendirian, maka Kay-supek disuruh menyusulnya.

Segera ia berpaling, tapi bukan paman guru Kay Hiauthian yang dilihatnya, melainkan seorang pemuda gagah dan tampan sedang melarikan kudanya yang hitam mulus kejurusan sini.

Karena bukan Kay-supek yang disangkanya, Siau-gi tidak meng-amat2i lagi penunggang kuda serba hitam itu, cepat ia berpaling kembali kedepan.

Ketika penunggang kuda berbaju hitam itu membedal kudanya sampai dibelakang kuda Beng Siau-gi, mendadak ia memperlambat lari kudanya, lalu berseru memanggil; "No.

nona.

" Agaknya penunggang kuda berbaju hitam yang kelihatan gagah ini ternyata bermuka tipis, malu-malu, baru berseru memanggil "Nona", lanjutannya lantas sukar diucapkan lagi.

Menurut pengalaman Siau-gi, memang sering dia dibuntuti oleh anak muda dan dipanggil "nona", lalu tak berani bicara lagi, Maka seperti biasanya, iapun anggap sepi saja, sama sekali tak digubrisnya.

Dengan demikian ia berharap orang akan malu sendiri dan tinggal pergi.

Ia pikir jika Kay-supek ikut mengawalnya, tentu penunggang kuda ini sudah didamperatnya dan disuruh pergi.

Cuma sayang, sekarang ia sendirian, sedangkan penunggang kuda berbaju hitam ini tetap tidak tahu diri, tidak digubris masih tetap saja mengintil dibelakang.

Sekarang Siau-gi jadi menyesal Kay-supek tidak ikut datang, ia pikir orang ini pasti dari luar daerah, karena tidak kenal dia, maka mencari kesempatan untuk pasang omong.

Kalau penduduk setempat kebanyakan tahu siapa Beng Siau-gi dan tentu tak berani main gila padanya.

Memangnya siapa yang berani mengganggu cucu tunggal jago tua Beng loyacu yang termashur itu" Rupanya penunggang berbaju hitam itu teramat polos, setelah kata2nya sukar terucapkan dan si nona juga tidak menggubrisnya, ia tambah kikuk dan lebih-lebih tidak sanggup bicara lagi.

Entah apa maksudnya dia hanya mengintil saja dibelakang dengan diam.

Perbuatan begini sesungguhnya teramat tidak sopan bagi seorang anak perawan, jika anak perempuan biasa dan bernyali kecil, tentu menyangka pemuda baju hitam ini bermaksud jahat dan tak berani melanjutkan perjalanan.

Tapi Beng Siau-gi bukanlah gadis biasa.

Kungfunya tinggi dan nyalinya besar, ia pikir; "Baiklah, boleh mengintil terus, Nanti kalau berani berbuat kasar terhadapku, segera akan kuhajar adat padamu supaya kau tahu kelihayan nonamu!" Setelah mengambil keputusan begini, segera ia melarikan kudanya dengan cepat.

Pemuda baju hitam itu se-olah2 kuatir Beng Siau-gi akan kabur, begitu si gadis membedal kudanya, segera iapun mengejar dengan cepat, bahkan senantiasa mempertahankan jarak sedemikian dekatnya sehingga sepintas pandang orang bisa mengira sepasang kekasih yang sedang bercanda.

Beng Siau-gi terus membedal kudanya dengan cepat, hanya sekejap saja sudah sampai disuatu persimpangan jalan kecil.

Kedua tepi persimpangan jalan kecil itu penuh pepohonan lebat, diujung sana ada sebuah tanah pekuburan, karena hari masih pagi, dijalan simpang sana tiada terdapat peziarah lain.

Sampai disini timbul rasa waswas Beng Siau-gi, ia pikir jalan simpang ini agak panjang, harus hati-hati terhadap segala kemungkinan.

Ia kuatir ditengah jalan simpang sana sipenunggang kuda berbaju hitam itu bisa jadi akan berbuat tidak senonoh padanya.

Karena itulah, waktu belok kejalan simpangan situ, ia sengaja melambatkan kudanya.

Dengan demikian penunggang kuda hitam itu mendapatkan kesempatan lagi, iapun ikut belok kejalan simpang situ, dengan tabahkan hati ia bertanya pula; "Nona.

nona akan membersihkan makam?" Diam-diam Siau-gi mendongkol, pertanyaan ini benar2 berlebihan.

Memangnya mau apa pagi2 datang ketanah pekuburan jika tidak hendak berziarah atau membersihkan makam" Ia yakin si pemuda baju hitam sengaja hendak memancing bicara padanya, maka dia tetap tidak menggubrisnya.

Karena tidak digubris si nona, pemuda baju hitam itu menjadi risi sendiri, katanya pula dengan ter-gagap2; "Cay.

cayhe juga datang untuk membersihkan makam.

" tiba-tiba teringat olehnya kata-kata "membersihkan makam" terasa tidak tepat, maka cepat ia bungkam.

"Kiranya dia juga datang berziarah, jadinya akulah yang salah sangka padanya." demikian pikir Siau-gi.

Karena itu, diam-diam timbul rasa menyesalnya karena prasangka tadi.

Post a Comment