Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 08

Memuat...

Kacung itu berdiri membelakangi Tio Tai-peng dan tidak menduga akan didepak, keruan ia terus terpental dan terguling2.

Tapi segara kacung itu melompat bangun tanpa mengeluh, cuma dari bajunya mendadak mendadak terjatuh sesuatu benda kecil.

"Setan cilik, memangnya kau perlu ikut main sandiwara!" damperat Tai-peng.

Tapi demi mendadak melihat benda yang terjatuh dari baju kacung itu, benda itu sedang menggelinding, ia bersuara heran, segera ia melangkah maju dan dijemputnya benda kecil yang berwarna merah tua itu.

Setelah memegang benda itu, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, segera ia pandang sikacung dengan melenggong.

Karena benda kesayangannya diambil Tio Tai-peng, sikacung menjadi gelisah, serunya, "Kembalikan mutiaraku!" "Mutiara ini sangat menarik, jual saja padaku!" kata Tai-peng sengaja.

"Tidak, tidak dijual!" jawab sikacung tegas.

"Seratus tahil perak, kubeli," kata Tai-peng pula.

Kay Hiau-thian ter-heran2 menyaksikan kejadian itu, ia pikir cuma satu biji mutiaran saja masakah berharga seratus tahil perak.

Tapi sikacung sama sekali tidak terpikat oleh tawaran seratus tahil perak itu, ia berteriak: "Sekali kukatakan tidak dijual, tetap tidak kujual, seribu tahil.

" "Baik, jadi seribu tahil, Nah, inilah uang kertas seribu tahil, barang kuterima dan harga kubayar lunas!" sela Tai-peng sambil mengeluarkan secomot uang kertas dan dilemparkan kepada sikacung.

Kejadian ini juga membikin sipemuda perlente tadi melongo heran, ia pikir biarpun Ya-beng-cu (mutiara bercahaya diwaktu malam) juga tidak laku seribu tahil perak, tapi orang buntung ini berani membayar mutiara anak kecil semahal ini, apakah dia sudah sinting" Kacung tadi telah memungut uang kertas yang dilemparkan kepadanya itu dan disodorkan kembali kepada Tio Tai-peng, katanya: "Maksudku biarpun seribu tahil atau selaksa tahil juga tidak kujual!" Bahwa Tio Tai-peng berani membeli sebiji mutiara begitu dengan harga seribu tahil perak, hal ini cukup membuat orang ter-heran2.

Sebaliknya anak yang bekerja sebagai kacung ternyata tidak sudi menjual barangnya dengan harga sebagus itu, hal ini membuat orang terlebih heran.

Tio Tai-peng ternyata bukan orang yang tidak kenal aturan, orang tetap tidak mau menjual, maka iapun tidak mau memaksa, ia terima kembali uang kertasnya dan mengembalikan pula mutiara itu, lalu dengan suara halus ia bertanya: "Adik cilik, mengapa mutiara ini tidak kau jual?" Mendadak mata sikacung menjadi merah dan berkilau, jawabnya: "Inilah satu2nya barang yang dapat membuatku terkenang kepada ibuku." Dengan hati-hati lalu ia menyimpan kembali mutiara itu kedalam bajunya.

Tergerak hati Tio Tai-peng tanyanya pula: "Apakah ibumu sudah meninggal?" Kacung itu mengangguk.

Tay-peng menghela napas, sikapnya bertambah ramah, tanyanya pula: "Adik cilik, kau she apa?" Melihat sikap Tio Tai-peng mendadak berubah ramah padanya, sikacung tidak dendam lagi karena dirinya ditendang tadi, ia menjawab: "Aku she Soat." Meski sebelumnya Tai-peng sudah dapat menerkanya, tapi demi mendengar kacung itu menjawab she "soat", tanpa terasa ia tetap tergetar seperti mendengar bunyi guntur yang menggelegar.

Kacung itu tidak memperhatikan perubahan air muka Tio Tai-peng, ia terus membalik kesana dan berseru kepada pemuda perlente tadi: "Bangunlah, Siauya!" "Bukan urusanmu, Soat Peng Say, berdiri dipinggir sana!" kata sipemuda perlente.

Si kacung, Soat Peng Say lantas membujuk; "Siauya, orang she Tio ini bukan orang baik.

Dia sendiri buntung, maka dia ingin membalas dendam kepada setiap orang didunia ini.

Tidakkah Siauya menyaksikan dia membikin remuk tulang pangkal lengan kanan Kau dan Nge Suhu tadi" Didunia ini tidak mungkin ada orang yang mau menerima murid bertangan buntung, hanya dia saja yang berwatak aneh begini, tampaknya jika dia mempunyai anak lelaki mungkin juga lengan kanan anaknya akan dibikin buntung." "Ngaco-belo!" bentak Tai-peng.

Mendadak Soat Peng-say berpaling, dengan tabah ia bertanya; "Seumpama betul aku ngaco-belo, tapi mengapa kau menghendaki muridmu harus serupa dengan kau?" Tio Tai-peng memandangi kedua mata Soat Peng-say yang besar itu dengan terkesima, makin dipandang makin dirasakan mata anak muda itu mirip benar dengan matanya sendiri.

Demi menghindarkan salah paham Soat Peng-say yang mengira dia mempunyai kelainan jiwa akan menuntut balas kepada setiap manusia didunia ini, maka ia coba memberi penjelasan; "Kau tahu ilmu pedangku adalah Coh-pi-kiam-hoat (ilmu pedang dengan tangan kiri), jika ingin belajar ilmu pedangku, orang yang bertangan dua malahan sukar belajar dengan perhatian penuh.

Makanya orang yang ingin menjadi muridku diharuskan buntung juga.

Jadi aku bukanlah orang berwatak aneh dan juga tiada maksud tujuan hendak menuntut balas sakit hatiku kepada setiap orang didunia ini." Bicara sampai disini, mendadak ia berpaling kearah sipemuda perlente dan berkata pula; "Nah, lekas turun tangan!" Sekarang pemuda itu percaya orang tidak bermaksud menguji kesungguhan hatinya, tapi benar-benar menyuruhnya membuntungi lengan kanan sendiri baru mau menerimanya sebagai murid, karuan ia menjadi ketakutan, pedang lantas dibuang dan cepat merangkak bangun, katanya; "Sudahlah, aku.

aku tidak.

tidak jadi berguru padamu.

" "Tidak, tidak bisa," kata Tio Tai-peng dengan tertawa, "Sudah pasti kuterima kau menjadi muridku dan tidak dapat ditawar lagi." Pemuda perlente itu tambah ketakutan, mukanya menjadi pucat, ia menyurut mundur beberapa tindak dan berseru dengan tergagap; "Meng.

mengapa.

" "Habis kemana lagi mencari orang berbakat bagus seperti kau?" ucap Tio Tai-peng dengan menarik muka dan berlagak serius, "Calon murid bagus seperti kau ini setiap orang ingin menerimanya, kesempatan baik mana boleh tersia-sia.

Nah, lekas maju kemari, jika kau tidak berani mengutungi lenganmu, biar aku saja yang melakukannya." Melihat orang menjemput pedangnya dan benar-benar hendak membuntungi lengannya, pemuda itu menjadi ketakutan dan cepat lari pergi dengan ter-birit2.

Seumpama sekarang ada ilmu pedang nomor satu didunia juga dia tidak berminat lagi.

Karena sang majkan sudah kabur, segera sikacung hendak menyusul kesana.

Tapi dengan suara halus Tio Taipeng lantas berseru padanya; "Tio Peng-say, kemari dulu, ingin kubicara dengan kau!" Soat Peng-say menoleh dan bertanya; "Kau bicara padaku?" Dengan senyum ramah Tai-peng mengangguk.

"Jika begitu kau telah membuat kesalahan." kata Soat Peng-say.

"Aku tidak she Tio, tapi she Soat." Tai-peng menggeleng, katanya, "Ibumu she Soat bukan?" "He, darimana kau tahu?" jawab Soat Peng-say dengan heran.

Diam-diam Tai-peng menghela napas gegetun, sedapatnya ia berkata dengan tersenyum; "Coba jawab, adakah aturan didunia ini orang ikut she ibunya?" Soat Peng-say tampak muram, jawabnya, "Aku tidak punya ayah, terpaksa ikut she ibu." Hati Tai-peng seperti tertusuk, sungguh ia ingin memeluk anak muda itu dan menceritakan duduknya perkara kepadanya, Tapi ia kuatir Soat Peng-say akan ketakutan, mungkin apa yang diceritakannya nanti juga takkan mendatangkan pengertian anak muda itu, terpaksa ia menahan rasa ingin memeluk dan mengenalkan dirinya.

Ia pikir akan mengikat dulu kesan baik anak muda itu, baru kemudian menjelaskan persoalannya secara pelahan.

Maka ia lantas berkata; "Siapa bilang kau tidak punya ayah" Kukenal ayahmu she Tio, makanya kupanggil kau Tio Peng-say." "Kau kenal ayahku?" tanya Soat Peng-say tidak percaya.

"Jika begitu, coba katakan, siapa nama ibuku" Jika benar kau kenal ayahku, tentu kaupun tahu nama ibuku." "Sudah tentu kutahu nama ibumu." jawab Tai-peng, "Lebih dua tahun kukenal baik ibumu, masakah aku tidak tahu namanya.

Ibumu she Soat dan bernama Ciau-hoa bukan?" "Salah!" mendadak Soat Peng-say menggeleng.

"O, ya, ibumu mempunyai nama lain lagi, Soat Ih-nio, betul tidak?" demikian cepat Tio Tai-peng menambahkan.

Ia yakin sekali ini pasti tidak salah lagi.

Tak terduga Soat Peng-say tetap menggeleng dan berkata; "Kau ngawur! Hakikatnya kau tidak tahu nama ibuku dan tentu juga tidak kenal ayahku." Habis berkata ia terus angkat kaki pula.

Tio Tai-peng menjadi gelisah, segera ia memburu maju dan bertanya; "Habis siapa nama ibumu yang benar?" "Tidak nanti kukatakan padamu," jawab Soat Peng-say sambil berpaling, "Bukankah kau bilang kenal baik ibuku selama lebih dua tahun.

Jika kau kenal beliau, mengapa malah tanya padaku?" Tai-peng meng-garuk2 kepalanya yang tidak gatal, katanya pula; "Ah, jangan2 ibumu mempunyai nama lain lagi.

Namanya yang ketiga justeru tidak kuketahui.

Akan tetapi, aku bicara sungguh-sungguh, aku tidak bohong, aku memang benar-benar berkawan baik dengan ibumu selama dua tahun lebih, sedangkan ayahmu she Tio, hal inipun jelas dan pasti." Tentu saja, jika dia tidak tahu jelas dan pasti akan she sendiri, lalu siapa lagi yang lebih tahu" Tertampak Soat Peng-say tidak sabar lagi, katanya; "Sudahlah aku tidak mau bicara ber-tele2 dengan kau.

Kau mengincar diriku, sengaja ber-putar2 lidah, Huh, jangan kau salah sasaran, biarpun kecil aku Soat Peng-say tidak nanti tertipu." Diam-diam Tio Tai-peng merasa geli, ia tahu anak muda itu menyangka sang ayah hendak menipu mutiara mestika Pi-tun-cu itu.

Maka sambil menggeleng ia berkata; "Siapa yang mengincar kau" Jangan kau kira kuincar mutiaramu itu." "Habis untuk apa kau menahanku disini dan mengajak omong tak karuan, apa maksudmu?" tanya Soat Peng-say.

Tai-peng tersenyum getir karena dituduh mempunyai maksud tertentu, katanya kemudian; "Maksud tujuan lain tidak ada, aku cuma ingin menerima kau sebagai muridku." Soat Peng-say terkejut, cepat ia menggoyang tangan dan menjawab, "O, tidak, jangan, aku ini bodoh seperti kerbau, jangan kau salah pilih." "Tapi bakatmu sama sekali tidak dibawah kaum Kongcu tadi." ujar Tai-peng.

Timbul pikiran Soat Peng-say hendak mengeluyur pergi seperti majikannya, ia berlagak tenang dan menjawab; "Kau maksudkan Siauyaku tadi?" "Siauya apa" Hakikatnya dia tidak ada harganya untuk menjadi Siauyamu," kata Tai-peng dengan mendongkol.

Ia pikir hanya anakku yang pantas menjadi Siauya orang, tiada orang lain yang boleh menjadi Siauyanya.

Post a Comment