" Mendengar sidara cilik mau terima bujukannya, segera sikacung melepaskan tangan dan mundur kebelakang.
Maka tidak tahan lagi rasa duka Beng Siau-gi atas kematian ayahnya yang tercinta itu, ia terus memburu ketempat jenazah sang ayah dan mendekapnya dan menangis ter-gerung2, begitu sedih tangisnya sehingga suaranya sangat memilukan.
Tidak lama kemudian, suara tangis Siau-gi semakin lirih, tapi suara sedu-sedannya itu tambah membuat orang terharu, Kay Hiau-thian mendekati dara cilik itu, seperti mau membujuknya tapi juga seperti enggan.
Rupanya orang she Kay ini diam-diam dendam kepada gurunya yang pilih kasih, tapi menghadapi keadaan sekarang, sebagai murid tertua, tentunya dia tak dapat tinggal diam, maka dia sengaja mendekati Siau-gi dengan lagak serba susah, padahal dalam hati menggerutu, "Menangislah, budak busuk, menangislah lebih keras! Kalau kau mati menangis tentu si setan tua tak punya keturunan dan intisari ilmu pedangnya tentu akan diajarkan padaku." Melihat Beng Siau-gi menangis sedemikian sedihnya, diam-diam Tio Tai-peng sangat menyesal, ia menyesali pedang kedua sendiri itu hanya dapat digunakan dan tak dapat dikendalikan, asalkan pedang itu menyerang pasti akan membunuh orang.
Padahal ia sendiri bukan orang yang gemar membunuh, tentu dia akan memberi jalan hidup bagi Beng Si-hian kalau bisa.
Diam-diam ia menggeleng kepala, ia berdiri ter-mangu2 sejenak, ia masukkan pedang pada sarungnya, lalu melangkah pergi.
Tapi sebelum dia keluar pintu ruangan itu, mendadak si pemuda perlente tadi menyusulnya sambil berseru, "Berhenti dulu, Suhu!" "Siapa Suhumu"!" jawab Tio Tai-peng sambil menoleh dan melotot gusar.
Pemuda itu lantas menonjolkan nama ayahnya yang berkuasa itu, katanya.
"Aku putera Kiu-bun-te-tok di Pakkhia sini." "Biarpun kau anak raja juga aku tidak peduli!" jengek Tio Tai-peng.
Tapi pemuda perlente itu tidak menghiraukan ucapan yang bernada mengejek ini, ia memberi hormat dan berkata pula, "Ayahku paling menghormati ahli silat, sewaktu aku masih kanak-kanak ayah sudah berniat mencarikan seorang guru ternama untuk mengajari diriku, cuma sayang.
" "Ilmu silatmu sekarang sudah lumayan, kurang apa lagi?" dengus Tio Tai-peng pula.
Dia pikir kalau kacungnya saja memiliki Kungfu yang tidak lemah, dengan sendirinya ilmu silat sang majikan pasti lebih hebat.
Ini berdasarkan kekuatan sikacung waktu menyikap Beng Siau-gi tadi.
Pemuda perlente itu jadi melengak malah, ia menggeleng dan menjawab dengan tertawa, "Aku belum pernah berguru." Tentu saja Tio Tai-peng tidak percaya, ia tidak tahu bahwa kacungnya bisa ilmu silat sebaliknya pemuda perlente ini memang sama sekali tidak paham ilmu silat, Maka ia mendengus pula, "Barangkali karena belum ketemukan guru pandai maka belum mengangkat guru?" Cepat pemuda itu mengangguk, jawabnya, "Betul,betul, memang begitulah.
Sayang didunia Kangouw ini banyak orang yang bernama kosong belaka, sebab itulah sejauh ini ayah belum menemukan seorang guru yang baik bagiku, akhirnya didengarnya Beng Eng-kiat dikota ini adalah seorang ahli silat." "Makanya hari ini ayahmu mengundang ketiga murid Beng Eng-kiat dan menjamunya dengan harapan agar mereka suka bicara didepan sang guru supaya kau diterima menjadi murid, begitu bukan?" jengek Tai-peng pula.
"Ya, terkaan Suhu sangat jitu dan tepat." sahut pemuda itu dengan mengangguk.
Pemuda ini tidak malu sebagai putera seorang pembesar, belum lagi menduduki sesuatu jabatan sudah mahir katakata menjilat dan suka mengumpak.
Namun Tio Tai-peng tidak doyan umpakan, ia tidak suka dipuji, dengan suara keras ia mendamperat, "Jika kau panggil lagi Suhu padaku, bisa kurobek mulutmu." Pemuda itu terkejut, cepat ia berkata pula, "Ya, ya, ayahku Kiu-bun-te-tok.
" Tio Tai-peng menjadi gusar, bentaknya, "Jangan kau tonjolkan lagi pangkat ayahmu untuk menggertak padaku! Coba kutanya padamu, kau benar-benar ingin mengangkat guru padaku?" "Be.
betul, entah.
entah Suhu.
eh salah.
Entah.
entah Cianpwe sudi menerima diriku atau tidak?" ucap pemuda itu dengan gelagapan dan mem-bungkuk2 badan.
"Melihat perawakan dan tulangmu, kau memang pilihan untuk belajar ilmu silat kelas tinggi." jengek Tio Tai-peng.
Pemuda perlente itu mengira ada harapan, dengan girang ia berkata pula, "Ya, Kay, Nge dan Kau bertiga Suhu juga bilang begitu, mereka telah berjanji pada ayah bahwa guru mereka pasti akan menerimaku." "Aha, jika begitu kan sudah beres, tunggu saja pulangnya Beng Eng-kiat nanti, boleh kau angkat padanya," kata Tai-peng.
Si pemuda mengira Tio Tai-peng salah artikan ucapannya tadi, cepat-cepat ia menambahkan, "Tapi Kay bertiga Suhu bilang guru mereka sudah menyatakan tidak menerima murid lagi, namun mereka yakin apabila Beng Eng-kiat melihat diriku, tentu guru mereka akan menarik kembali keputusannya dan menerimaku sebagai murid, inipun membuktikan bahwa diriku memang berbakat bagus untuk belajar ilmu silat." Dengan sorot mata dingin Tio Tai-peng memandang sekejap pemuda perlente ini lalu mengangguk dan berkata, "Untuk hal ini kau memang boleh omong besar, kalau Beng Eng-kiat mau menerima kau, maka bolehlah kau belajar padanya dengan senang, tentunya kau tahu Gway-hoatkiam-hoat keluarga Beng.
" "Tidak, tidak!" mendadak pemuda itu menyela.
Tio Tai-peng sangat mendongkol karena orang memotong ucapannya dengan cara tidak sopan, tanyanya dengan kurang senang, "Tidak bagaimana?" "Beng Eng-kiat juga orang yang bernama kosong belaka." ujar pemuda itu.
"Hm, darimana kau tahu?" jengek Tio Tai-peng.
"Coba pikir, jika Beng Eng-kiat bukan orang yang bernama kosong, tentu Gway-hoat-kiam-hoat kebanggaannya takkan dikalahkan oleh ilmu pedang Cianpwe," kata pemuda itu.
"Salah kau," ucap Tai-peng, "Ketidak becusan ketiga murid Beng Eng-kiat memang benar, tapi ilmu pedang Beng Si-hian boleh dikatakan jarang ada bandingannya didunia persilatan, kemenanganku tadi hanya secara kebetulan saja." Segera sipemuda perlente itu mengeluarkan pula Kungfu keturunan keluarganya, yaitu menjilat dan mengumpak, dengan tertawa dia berkata, "Ah, Cianpwe suka rendah hati saja, padahal setiap orang yang melek dapat melihat dengan jelas bahwa ilmu pedang Cianpwe jauh lebih hebat daripada Gway-hoat-kiam-hoat, hanya ilmu pedang Cianpwe saja yang jarang ada bandingannya, bukankah kemenangan Cianpwe boleh dikatakan tiada artinya sama sekali." Tio Tai-peng justru seorang yang tidak suka diumpak, dia lantas menjengek, "Hm, jika menurut jalan pikiranmu, bilamana kelak akupun dikalahkan orang lain, tentu kau akan bilang ilm pedangku juga tiada artinya sama sekali." "O, tidak, tidak mungkin," seru sipemuda sambil menggeleng-geleng kepala, "Ilmu pedang Cianpwe boleh dikatakan seperti sang surya tinggi ditengah cakrawala, didunia ini tiada Kiam-hoat lain yang dapat mengalahkan ilmu pedang Cianpwe." "Jika demikian, jadi kau anggap didunia ini guru yang terbaik hanya aku seorang saja?" tanya Tai-peng.
Pemuda perlente itu mengira jilatannya telah membawa hasil, dengan girang ia menjawab, "Betul, betul, didunia ini hanya engkau saja yang dapat menerima orang berbakat bagus untuk belajar silat seperti diriku ini." "Ya, murid yang berbakat bagus pasti diharapkan setiap orang, akupun tidak terkecuali," kata Tai-peng.
Mengira Tio Tai-peng tidak menolak lagi, segera pemuda itu hendak menyembah dan mengangkat guru.
Tapi baru saja sebelah kakinya tertekuk, mendadak Taipeng berseru, "Nanti dulu!" Pelahan pemuda itu berbangkit dan bertanya, "Apakah Cianpwe ingin bicara tentang syarat mengangkat guru?" Tai-peng tambah gemas mendengar pemuda itu bicara tentang mengangkat guru dengan syarat, seperti orang jual-beli saja, tapi ia menahan perasaannya dan berkata: "Tentang syarat, tidak perlu.
Dengan pengaruh ayahmu, bilamana kuterima kau sebagai murid, tentu harta dan pangkat akan mudah kuperoleh." "Ya, ya, sudah tentu," tukas sipemuda dengan girang.
"Memang ayahku.
" Tapi Tai-peng lantas memberi tanda agar pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya yang cuma membikin keki saja, Katanya: "Syarat memang tidak ada, tapi ada satu peraturan yang kutetapkan." "Peraturan" Peraturan apa?" tanya pemuda itu.
"Peraturanku tidak sama dengan peraturan perguruan lain yang melarang membunuh, melarang main perempuan dan sebagainya.
Asalkan kau jadi belajar padaku, setelah tamat belajar dan keluar dari perguruan, apapun yang akan kau lakukan takkan kupersoalkan." "Kebetulan," demikian pikir pemuda itu, "Tanpa larangan dan ikatan apa-apa, tentu aku dapat berbuat sekehendak hatiku.
Dengan Kungfuku yang tinggi nanti, siapa yang dapat merintangi aku?" "Tentang peraturanku," Tai-peng melanjutkan pula, "Yaitu murid harus serupa dengan sang guru." "Urusan apa yang harus serupa dengan sang guru?" tanya pemuda itu.
"Bukan urusan, tapi pengalaman," jawab Tai-peng, "Pengalamanku membuatku kehilangan sebelah lenganku, maka muridku biarpun tidak menjalani pengalamanku diharuskan menerima akibat seperti pengalamanku itu." Keruan pemuda itu terkesiap, tanyanya, "Jadi maksud Cianpwe hanya orang yang terkutung sebelah lengannya yang boleh mengangkat guru kepada Cianpwe?" "Betul," jawab Tai-peng dengan ketus, "Jika kau ingin mengangkat guru padaku, lebih dulu mengutungi lengan kanan sendiri." Pemuda itu berjingkat kaget dan menyurut mundur.
Tay-peng ter-bahak2 geli, ucapnya, "Hahaha, takut bukan" Jika takut sakit, maka batalkan saja niatmu hendak mengangkat guru padaku." Tiba-tiba pemuda itu berpikir peraturan yang dikatakan Tio Tai-peng itu bisa jadi hanya untuk menguji tekadnya saja, untuk menguji kesungguhan hatinya.
Mendadak ia tabahkan diri terus bertekuk lutut.
Hal ini diluar dugaan Tio Tai-peng malah, tanyanya, "Eh, kau benar-benar mau mengangkat guru padaku"!" Dengan mengertak gigi pemuda itu mengangguk, tampaknya sangat mantap dan teguh pendiriannya.
"Baik, jika begitu boleh kau kutungi dulu lengan kanan sendiri!" jengek Tio Tai-peng sambil melolos pedangnya dan dilemparkan kedepan pemuda perlente itu.
Pemuda itu tetap mengira orang hanya ingin menguji tekadnya saja, ia pikir aku harus memperlihatkan tekadku yang sejati, maka tanpa pikir diraihnya pedang itu, diangkat terus menabas kelengan kanan sendiri.
Tindakan ini membuat sikacung tadi kaget setengah mati, cepat ia memburu maju dan memegang tangan kiri sipemuda yang memegang pedang itu sambil berseru, "He, jangan, Siauya (tuan muda)!" "Minggir sana!" bentak pemuda perlente itu dengan lagak sungguh2, sekuatnya ia hendak melepaskan pegangan sikacung.
Betapapun kacung itu masih terlalu muda, masih hijau dan polos, ia tidak tahu sang majikan cuma pura-pura saja, sebaliknya ia memegangnya dengan erat dan tidak mau melepaskannya.
Bagi Tio Tai-peng yang sudah berpengalaman, permainan pemuda perlente itu tentu saja tak dapat mengelabui dia, malahan dia mengira sikacung sengaja membantu main sandiwara dengan sang majikan, maka sekali depak ia bikin kacung itu terjungkal.