Inilah benar-benar Gway-hoat-kiam-hoat keluarga Beng yang tak terkalahkan! Diam-diam Kay Hiau-thian menghela napas gegetun dan mengakui dirinya masih kalah jauh dibandingkan sang Sute.
Padahal ia sendiri sudah hampir dua puluh tahun belajar ilmu pedang dan mengira tiada tandingannya lagi, siapa tahu bedanya seperti langit dan bumi bila dibandingkan Beng Si-hian.
Hanya dalam waktu singkat saja entah berapa puluh jurus sudah berlangsung, mendadak terdengar suara keluhan tertahan, ini menandakan salah seorang sudah terluka dan kalah.
Siapakah yang terluka dan siapa yang kalah" Ternyata sibaju hitam sedang berdiri tegak dengan gagahnya, butiran keringat tampak menghiasi dahinya, sorot matanya yang tajam menatap Beng Si-hian, tangan kirinya tidak lagi memegang satu pedang, tapi dua.
Yang satu tetap tergenggam tapi yang lain bergelantung karena diberi tali mengikat antara gagang pedang dan pergelangan tangan.
Rupanya pedang cadangan yang tersandang dipunggungnya itu juga telah digunakan.
Bilakah pedang itu dilolos tak diketahui, cuma satu hal dapat dibayangkan yaitu waktu pedang pertama dilepaskan, secepat kilat ia melolos pedang kedua maka terjadilah serangan dua pedang sekaligus.
Agaknya dengan serangan dua pedang sekaligus itulah Beng Si-hian telah dikalahkan.
Pada saat sibaju hitam menarik tali pengikat pedang untuk menarik kembali pedang pertama itulah, "bluk", Beng Si-hian jatuh terkapar.
Pada saat Beng Si-hian roboh itulah setiap orang dapat melihat baju dada Beng Si-hian yang putih itu ada luka goresan panjang, darahpun menguncur dari luka itu.
Beng Siau-gi menjerit, menyusul robohnya sang ayah, segera pula ia menubruk keatas tubuh Beng Si-hian, mengangkat tubuh sang ayah, darah masih terus mengalir sehingga membasahi sekujur badan Siau-gi.
Bersandar pada pangkuan putrinya yang kecil itu, sedapatnya Beng Si-hian membuka matanya dan berkata dengan lemah, "Be.
beritahukan kepada Yaya (kakek), Siang.
Siang-liu-kiam.
" habis ucapan ini iapun menghembuskan napasnya yang terakhir.
Sesaat sebelum meninggal, dia menyesal karena tidak taat kepada pesan sang ayah Beng Eng-kiat.
Lantaran gusarnya karena terlukanya kedua Suhengnya, maka ilmu pedang yang dipelajarinya secara rahasia selama lebih dua puluh tahun ditonjolkan, akibatnya dia haris menebus kesalahan ini dengan nyawanya dibawah Siang-liu-kiamhoat (ilmu pedang dua aliran) yang dikuatirkan Beng Engkiat itu.
Beng Siau-gi ini kecil-kecil cabai rawit, ia tahu ayahnya sudah meninggal, sang ibu memang sudah wafat, sekarang tertinggal dia sebatang-kara.
Namun dia tidak menangis, ia rebahkan jenazah sang ayah, pedang yang masih tergenggam ditangan ayahnya itu diambilnya, begitu berbangkit segera ia menubruk kearah sibaju hitam yang tampak merasa menyesal itu.
Pada waktu sibaju hitam sedang memasukkan pedang kedua kesarungnya dipunggung, berbareng itu ia pun melompat mundur untuk menghindari terjangan Beng Siaugi.
Karena menubruk tempat kosong, segera Siau-gi memutar pedangnya, cepat ia menabas pula dengan jurus serangan Gway-hoat-kiam-hoat yang lihai.
Sungguh hal inipun sama sekali tak terduga oleh Kay Hiau-thian bahwa cucu perempuan sang guru ternyata juga mahir ilmu pedang, bahkan cukup lihai tampaknya.
Sambil mengelakkan serangan Siau-gi tadi, sibaju hitam lantas berjongkok untuk menjemput sarung pedangnya yang terlempar tadi.
Akan tetapi dalam sekejap itu pula Beng Siau-gi telah melancarkan sembilan kali serangan, ketika sibaju hitam selesai memasukkan pedang kesarungnya, tanpa terasa iapun sudah mundur sembilan langkah.
Padahal usia Beng Siau-gi baru dua belasan, tapi kelihaian ilmu pedangnya ternyata tidak kalah lihainya daripada Kay Hiau-thian yang telah belajar hampir dua puluh tahun.
Diam-diam Kay Hiau-thian merasa malu diri, tapi juga dendam kepada sang guru yang tidak mengajarkan intisari ilmu pedang padanya.
Nyata orang she Kay ini berjiwa sempit, dia tidak sedih atas kematian putra tunggal sang guru, juga tidak turun tangan membantu cucu sang guru satu2nya ini, tapi memikirkan kepentingannya sendiri.
Setelah mengelak belasan kali, lama-lama sibaju hitam mendongkol juga, mendadak ia lolos pedang pertama, sekali sampuk mencelatlah pedang Beng Siau-gi.
Sudah kehilangan pedang, tapi Beng Siau-gi tetap tidak gentar, dengan bertangan kosong dikeluarkannya ilmu kedua andalan keluarga Beng, yaitu Siau-yau-ciang-hoat, dengan cepat ia melancarkan pukulan.
Betapapun sibaju hitam sungkan melayani seorang dara cilik bertangan kosong dengan menghunus pedang, maka ia tidak balas menyerang, ber-turut2 iapun menyurut mundur belasan langkah.
Akhirnya sibaju hitam terdesak mundur sampai pojok dinding, mau-tak-mau ia naik pitam juga, mendadak pedangnya terayun.
Pada saat itulah, si kacung yang berdiri dibelakang pemuda perlente tadi berteriak, "Huh, tidak tahu malu!" Berbareng ia terus memburu maju.
Akan tetapi lantas dilihatnya gerakan pedang sibaju hitam hanya digunakan untuk menggertak Beng Siau-gi saja dan bukannya menyerang benar-benar, rupanya ia sendiri yang salah sangka.
Tapi dara cilik itu masih tetap tidak peduli, masih terus menyerang.
Si kacung menjadi kuatir kalau sibaju hitam menjadi kalap karena didesak oleh Beng Siau-gi dan bukan mustahil akhirnya bisa turun tangan keji.
Maka ia coba melerainya, "Nona cilik, harap berhenti saja." Tapi Beng Siau-gi terlalu berduka atas meninggalnya sang ayah yang selama ini menjadi sandarannya dan tidak pernah berpisah, ia sudah kalap dan nekat, maka ia menoleh dan mendamperat kacung itu, "Setan cilik busuk, tidak perlu kau ikut campur!" Sambil bicara pukulannya masih terus dilancarkan.
Terpaksa sibaju hitam berkelit kesana dan menghindar kemari, ia mendongkol dan repot juga, serunya kepada si kacung, "Setan cilik, seret pergi budak cilik ini, kalau tidak, bisa sekali tendang kurobohkan dia." Si kacung tahu ucapan sibaju hitam bukan cuma gertak sambal belaka, kalau sudah didesak hingga kepepet, untuk melepaskan diri memang bisa jadi dia menendang sianak dara.
Karena kuatir, segera sikacung menubruk maju, kedua tangannya terus menikap ditengah pukulan Beng Siau-gi yang gencar itu, dia berhasil mendekap dara cantik itu dengan erat.
Dipeluk oleh seorang anak muda yang cuma beberapa tahun lebih tua daripada dirinya, tentu saja Siau-gi malu dan juga gusar, teriaknya, "Lep.
lepaskan aku!" "Engkau harus sayang pada jiwamu sendiri," jawab sikacung, "Takkan kulepaskan kau jika engkau tidak menurut pada perkataanku." Bahwa dirinya disuruh jangan menyerang musuh yang membunuh ayahnya, tentu saja Siau-gi tidak mau menurut.
Ia kerahkan tenaga dan meronta sekuatnya.
Ia mengira sekali meronta pasti dapat melepaskan diri, tak terduga sama sekali tidak bergeser dan sikacung masih tetap mendekapnya dengan kencang.
Kejadian ini dapat diikuti sibaju hitam dengan jelas, diam-diam ia terkejut.
Dari angin pukulan Beng Siau-gi dapat dinilainya tenaga sidara cilik itu tidaklah lemah, sedikitnya sudah berlatih selama tujuh atau delapan tahun, tapi sikacung terlebih kuat, padahal usianya beru lima belas, kalau tidak berlatih Lwekang sejak lahir rasanya tidak mungkin dapat menahan daya rontakan Beng Siau-gi yang kuat itu.
Malahan sikacung lantas membujuk pula, "Nona cilik, ayahmu gugur dimedan tempur, hal ini tak dapat menyalahkan paman hitam itu.
Harus diketahui, bilamana ayahmu menang, paman hitam itupun mungkin akan mati dibawah pedang ayahmu." Diam-diam sibaju hitam menggurutu, "Kurang ajar! Sudah jelas setan cilik inipun mendengar keparat itu she Tio, mengapa dia sebut paman hitam, malahan kulit badannya cukup putih.
Mungkin karena bajunya serba hitam." Beng Siau-gi tidak menurut bujukan sikacung, ia meronta lagi dua-tiga kali dan tetap tidak dapat terlepas.
Kembali sikacung membujuk lagi, "Asalkan gunung tetap menghijau janganlah kuatir tiada kayu bakar.
Nona cilik hendaklah engkau dapat berpikir dengan panjang dan cermat." "Bagus kau setan cilik itu, berani menghasut putri Beng Si-hian itu bersabar dulu dan menuntut balas padaku dikemudian hari." demikian sibaju hitam menggerutu pula didalam hati.
Namun dasar wataknya juga angkuh, dia hanya memaki didalam hati saja, pikirnya, "Aku Tio Tai-peng adalah seorang lelaki yang tidak pernah main sembunyi2, setelah kau sibudak cilik ini dewasa boleh saja datang mencari aku lagi, andaikan aku kau bunuh juga aku tidak akan menyesal dan merasa penasaran, asal saja kau mampu." Lelaki berbaju hitam ini memang betul Tio Tai-peng yang telah meninggalkan Soat Ciau-hoa dipegunungan Soat-san lima belas tahun yang lalu itu.
Tio Tai-peng adalah anak murid perguruan ternama, kecuali cara kejinya terhadap Soat Ciau-hoa, biasanya dia memang seorang kesatria yang berbudi luhur.
Misalnya sekarang menghadapi keluarga Beng, bilamana orang lain mungkin sekali tabas sudah dibinasakan Beng Siau-gi agar tidak meninggalkan bibit bencana dikemudian hari.
Dalam pada itu Beng Siau-gi lagi serba susah, ia memang tidak sanggup melepaskan diri dari dekapan sikacung, hal ini membuatnya putus asa, selain itu ia menyadari apa yang dikatakan sikacung tadi, pikirnya, "Betul juga, bilamana kuadu jiwa dengan musuh sekarang, tentu sia-sia belaka, salah-salah malahan jiwaku bisa ikut melayang, Asalkan aku masih hidup, biarpun sepuluh atau dua puluh tahun lagi juga aku masih dapat menuntut balas padanya." Setelah tekad menuntut balas tertanam dilubuk hatinya, ia lantas berkata, "Baiklah, kuturut perkataanmu.