Halo!

Pedang Keramat Chapter 15

Memuat...

Ternyata bahwa pendeta tua ini tidak lain ialah Kim Kong Tosu seorang tokoh Bu-tong-pai kenamaan karena ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Tosu ini adalah guru dari pada Ketiga Harimau dari Bu-tong-pai, maka tentu saja semua perwira girang sekali melihat kedatangannya.

Ketika melihat gerakan tosu yang cepat itu Nyo Liong maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pendeta yang berilmu tinggi, maka dengan hormat sekali ia menjura.

Sebaliknya, Kim Kong Tojin memandang Nyo Liong dengan kagum sekali, lalu katanya “Anak muda yang gagah perkasa, siapa kau dan dari manakah kau memperoleh ilmu kepandaian yang hebat itu?”

“Teecu bernama Nyo Liong dan suhu adalah Li Lo Kun. Tidak tahu siapakah losuhu yang telah menahan teecu dan dengan maksud apa losuhu menghalangi teecu menempur semua perwira ini?”

Tosu itu memandang heran. “Kau murid Li Lo Kun? Ah, kalau begitu, ternyata Li Lo Kun telah maju pesat sekali kepandaiannya. Kalau muridnya sudah sehebat ini, tentu ia telah mencapai tingkat tinggi sekali. Aneh, aneh! Ketahuilah, anak muda, pinto adalah Kim Kong Tojin dari Bu-tong-pai. Ketiga orang perwira yang bodoh itu adalah murid-muridku, dan mengapakah kau bertempur dengan mereka?”

“Suhu, dia adalah Sasterawan Kedok Hitam yang membantu pemberontak. Bahkan sekarang ia telah berani membela pencuri pedang kerajaan, Thian Hong Kiam!” berkata seorang dari pada Harimau Bu-tong itu.

Pandangan mata Kim Kong Tosu menjadi dingin ketika mendengar laporan muridnya ini. “Ah, kiranya kau adalah seorang anggauta pemberontak, Sayang, sayang sekali!”

Nyo Liong juga merasa tidak senang mendengar ucapan ini, maka ia membantah, “Losuhu, sungguh heran bahwa kau tidak mengetahui betapa buruknya kerajaan Tang memerintah negeri kita. Sudah selayaknya kalau rakyat memberontak dan menghancurkan pemerintah yang pandainya hanya memeras rakyat jelata itu, dan sudah menjadi kewajibanku sebagai putera ibu pertiwi untuk membela bangsa!”

“Hm, kau anak kecil hendak memberi pelajaran kepada pinto?” jawab Kim Kong Tojin tidak senang. “Dengarlah anak muda. Kaisar adalah seorang yang telah mendapat anugerah dewata dan sudah ditakdirkan menjadi orang yang tertinggi kedudukannya dan yang harus ditaati oleh semua rakyat. Tidak sembarang orang bisa menjadi kaisar, dan kewajiban kita sebagai rakyat hanyalah taat dan menghormat semua perintahnya. Kalau kau memberontak terhadap kaisar, itu berarti bahwa kau memberontak melawan takdir. Daripada kau memberontak dan mengambil jalan sesat, lebih baik kau membantu usaha kaisar untuk mengusir pemberontak dan memulihkan kembali keamanan di dalam negeri untuk menebus dosamu. Kita tidak boleh menyimpang dari pada tugas sebagai rakyat dan tidak boleh menjadi hakim sendiri atas kesalahan seseorang. Andaikata benar bahwa kaisar telah melalaikan tugasnya dan melakukan kesalahan, tidak semestinya kalau rakyat bertindak sendiri melakukan hukuman.”

Mendengar ucapan yang penuh nafsu ini, Nyo Liong tersenyum.

“Maaf, losuhu, jadi kalau menurut pendapatmu, rakyat harus tinggal diam dan menerima saja diperas, ditindas, dan dicekik lehernya? Jadi rakyat harus bersabar saja dan menerima hidup penuh sengsara dan derita sedangkan kaisar dan semua pembesar durjanah hidup serba mewah dan penuh kesenangan?”

“Kalau memang demikian halnya, tentu dewata yang adil tidak akan tinggal diam, dan siapa bersalah akan mendapat bagiannya. Ini adalah hukum alam yang tak dapat dielakkan lagi,” kata Kim Kong Tojin.

“Kalau begitu, pandanganmu masih picik sekali, losuhu. Aku yang muda terpaksa tidak dapat menyetujui dan aku tetap membenarkan pemberontakan yang terdorong oleh kesengsaraan rakyat,” jawab Nyo Liong.

Kim Kong Tojin berkata kepada murid-muridnya, “Yang manakah yang kau katakan pencuri pedang tadi?”

Murid-muridnya menuding ke arah Yang Giok. “Nona itu adalah puteri dari Liu Mo Kong dan Pangeran itu serta puterinya yang mencuri pedang kerajaan. Sekarang Pangeran Liu itu juga bersekutu dengan para pemberontak di kota raja!”

“Bohong! Ayahku tidak pernah bersekutu!” jawab Yang Giok marah. “Ayah telah tertawan ketika hendak melarikan diri bersamaku!”

Kim Kong Tojin memandang kepada Yang Giok dan berkata dengan senyum sindir. “Nona, kau adalah puteri bangsawan, mengapa sekarang kau bersahabat dengan seorang pemberontak?”

“Aku .... aku tidak tahu bahwa ia seorang pemberontak!” jawab Yang Giok gagah.

“Dan pedang Thian Hong Kiam pun kau berikan kepadanya. Sekarang kembalikan pedang milik kaisar itu!”

“Tidak! Biarpun ayahku bukan seorang pemberontak, namun beliau tidak suka melihat pedang itu kembali ke tangan kaisar yang lalim! Kaisar tidak berhak memegang pedang itu!”

“Eh, eh, kalau begitu kau juga seorang pemberontak! Walaupun lain sifatnya dengan pemberontak barisan jembel dan tani itu!” kata Kim Kong Tojin marah.

“Tutup mulutmu, tosu kurang ajar!” Yang Giok balas membentak karena gadis ini sedikitpun tidak takut kepada tosu itu dan hatinya yang keras tidak mengizinkan ia disebut pemberontak tanpa balas membentak.

“Kau harus dilenyapkan dulu!” kata Kim Kong Tojin dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah berkelebat dan tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangan dan digunakan untuk menyerang Yang Giok.

Gadis ini tidak berdaya menghadapi serangan Kim Kong Tojin yang memiliki gerakan cepat, maka ia hanya memejamkan mata menanti datangnya serangan. Pedang Kim Kong Tojin berkelebat ke arah leher Yang Giok dan “trang!” terdengar suara nyaring karena pedang tosu itu telah beradu dengan sebatang pedang lain. Pertemuan tenaga ini demikian hebat hingga bunga api memercik keluar, sedangkan Kim Kong Tojin sendiri terhuyung ke belakang. Ternyata Nyo Liong dengan cepat dan tepat sekali telah berhasil menolong Yang Giok dari pada bahaya maut.

Kim Kong Tojin adalah seorang tokoh besar dari Bu-tong-pai, maka tenaga dan kepandaiannya telah mencapai tingkat tinggi. Maka tidak heran bila ia merasa gemas dan marah sekali.

“Bagus, anak muda, mari kita main-main sebentar!” ia berkata halus karena berusaha menekan perasaannya yang menggelora. Orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi maklum bahwa nafsu amarah mempunyai pengaruh melemahkan dan berbahaya sekali apabila menghadapi seorang lawan tangguh dalam keadaan marah. Oleh karena itu, seberapa dapat ia menahan nafsunya untuk menghadapi pemuda yang berkepandaian tinggi ini.

Akan tetapi Nyo Liong tinggal berdiri dengan tenang dan menjawab. “Ingat, losuhu, bukan aku yang menghendaki pertempuran ini. Kalau kau orang tua tetap hendak turun tangan mengganggu, silakan!”

Sebetulnya kalau ia tidak sedang dipengaruhi oleh rasa dendam dan marah, Kim Kong Tojin tentu dapat melihat sikap mengalah dan tenang dari pemuda ini dan maklum bahwa sebenarnya pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan sedikitpun tidak jerih terhadapnya. Akan tetapi, karena ia merasa kecewa dan malu, apalagi di situ terdapat tiga orang muridnya dan perwira-perwira lain yang menjadi saksi, ia menjadi nekad dan lupa akan kewaspadaan.

“Baik, kalau begitu, waspadalah terhadap pedangku!” Tosu ini lalu menyerang bagaikan kilat menyambar. Ia mengeluarkan ilmu pedang Bu-tong-pai yang hebat dan ganas. Nyo Liong tidak mau berlaku semberono dan ia menghadapinya dengan tenang dan hati-hati sekali. Berkat ilmu pedang yang dipelajarinya dari kitab Pat-kwa Im-yang Coan-si memang sebuah ilmu silat yang jarang terdapat di dunia ini, maka ia dapat melawan serangan tosu itu dengan baiknya, bahkan ia masih dapat membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Mengetahui bahwa ia sama sekali tidak dapat mendesak pemuda itu dengan pedangnya, Kim Kong Tojin menjadi heran dan kagum sekali. Belum pernah seumur hidupnya ia menyaksikan ilmu pedang seperti ini, padahal ia telah mengalami banyak sekali pertempuran dan boleh dibilang ia telah mengenal semua gerakan ilmu pedang. Akan tetapi kali ini benar merasa malu karena ia sama sekali tidak mengenal ilmu pedang Nyo Liong. Menghadapi ilmu pedang yang sama sekali gelap baginya, tentu saja ia menjadi bingung, apalagi kalau yang memainkan memiliki kepandaian khikang dan ginkang sehebat Nyo Liong.

Sebenarnya Nyo Liong telah banyak mengalah dan sengaja tidak mau mempergunakan kesempatan-kesempatan baik untuk merobohkan lawan karena ia tidak mau menjatuhkan namanya di depan murid-muridnya. Kalau saja Kim Kong Tojin tidak begitu gemas dan marah, tentu ia akan tahu pula akan hal ini dan menyudahi pertempuran. Akan tetapi tosu ini bahkan menjadi murka sekali dan menyerang dengan nekad.

Menghadapi serangan yang dilakukan secara mati-matian oleh Kim Kong Tojin yang berkepandaian tinggi, terpaksa Nyo Liong tak dapat tinggal bertahan saja, karena kalau ia bertahan terus, tentu ia akan mendapat celaka. Maka ia segera merobah gerakan pedangnya dan kini gerakannya menjadi ganas dan cepat sekali hingga dalam beberapa jurus sajaKim Kong Tojin terdesak hebat. Mereka telah bertempur seratus jurus lebih dan sekarang mereka tidak menjadi lambat, bahkan makin cepat hingga merupakan dua gulung sinar yang saling menyambar.

Beberapa puluh jurus lagi telah berlalu dan tiba-tiba pedang tosu itu terpental ke udara hingga terputar-putar tinggi sekali dan ketika pedang itu meluncur turun, Kim Kong Tojin melompat dan menyambutnya dengan tangan. Wajahnya pucat sekali dan mulutnya tersenyum pahit.

“Anak muda she Nyo, kau benar-benar hebat sekali.”

Nyo Liong menjura. “Totiang, kaulah yang hebat dan telah mengalah terhadap aku yang muda.”

“Anak muda, kalau kau suka memandang mukaku dalam tiga hari lagi aku hendak bertemu kembali denganmu.”

Nyo Liong maklum bahwa tosu yang keras kepala ini masih belum mau mengaku kalah dan masih mengandung dendam, maka ia merasa mendongkol sekali. Akan tetapi, terpaksa ia menjawab juga.

“Totiang, yang memulai adalah kau sendiri, maka selanjutnya terserah kepadamu untuk memutuskan. Aku yang muda tak dapat menanti lebih lama lagi karena aku hendak pergi bersama kawanku ini ke kuil Thian-Hok-si.”

“Apa? Kau hendak pergi menemui Kok Kong Hwesio di Thian-hok-si? Ada hubungan apakah kau dengan Kok Kong Hwesio?” tanya Kim Kong Tojin.

“Dia adalah sucouwku!” jawab Yang Giok.

Kim Kong Tojin mengerling ke arah gadis itu. “Hm, jadi Pangeran Liu adalah murid Kok Kong Hwesio? Pantas, pantas! Gurunya berjiwa pemberontak, tentu muridnya sama saja! Baiklah, anak muda she Nyo, tiga hari lagi, aku akan datang mencarimu di Thian-hok-si!” Setelah berkata demikian, Kim Kong Tojin lalu mengajak murid-muridnya dan perwira lain untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Post a Comment