Ketika telah berganti pakaian, Nyo Liong yang menanti di luar kamar berdiri bengong dan memandang ke arah gadis yang keluar dari kamar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Ternyata bahwa Yang Giok telah mengenakan pakaian wanita yang memang telah tersedia di dalam buntalan pakaiannya. Setelah mengenakan pakaian wanita nampak demikian cantik jelita hingga Nyo Liong menjadi merasa seakan-akan berada dalam mimpi.
“Moi-moi ....” hanya demikian mulutnya dapat mengeluarkan kata-kata, sedangkan matanya menyatakan pujian dan kekaguman yang lebih berarti daripada seribu kata.
“Liong-ko, jangan kau pandang aku demikian rupa!”
“Mengapa, adikku yang manis?”
“Aku .....aku malu!” Yang Giok benar-benar merasa malu dan seluruh mukanya menjadi kemerah-merahan.
Nyo Liong tertawa gembira dan keduanya lalu tertawa sambil saling pandang dengan penuh hati mencinta.
Pada saat itu terdengar suara kaki kuda di depan rumah penginapan dan ketika keduanya memandang, ternyata yang datang itu adalah serombongan orang-orang yang berpakaian sebagai petani, tetapi nampak sangat gagah dan di punggung mereka nampak gagang pedang hingga Nyo Liong dan Yang Giok dapat menduga bahwa mereka ini tentu bukan petani-petani biasa. Akan tetapi rombongan ini tidak berhenti, hanya memandang ke arah Nyo Liong dengan mata tajam, kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan kaki kuda mereka menimbulkan debu mengebul di pagi hari itu.
Kalu tidak salah, mereka adalah perwira-perwira kerajaan,” Nyo Liong berbisik.
“Mereka tentu tak bermaksud baik,” kata Yang Giok khawatir.
Mendengar suara gadis itu yang mengandung kekhawatiran, Nyo Liong berkata, “Jangan khawatir, moi-moi, betapapun juga, kita berdua akan dapat melawan mereka.”
Dengan tabah dan tenang Nyo Liong lalu mengajak Yang Giok melanjutkan perjalanan setelah membayar uang sewa kamar. Mereka tidak memperdulikan pandangan pengurus rumah penginapan yang merasa heran dan kagum melihat Yang Giok. Ia tak pernah menyangka bahwa pemuda yang kemaren itu kini telah berubah menjadi seorang gadis luar biasa cantiknya.
Kuil Thian-hok-si berada di luar dusun itu dan hanya terpisah paling banyak sepuluh lie, maka mereka lalu menjalankan kuda dengan perlahan. Akan tetapi, setelah berada di luar dusun, benar saja mereka melihat rombongan petani yang mencurigakan tadi telah berdiri menghadang di tengah jalan. Mereka berjumlah delapan orang dan kuda mereka dilepas di pinggir jalan dan sedang makan rumput sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
Nyo Liong dan Yang Giok menahan kuda mereka dan dengan tenang turun dari kuda. Karena Yang Giok telah menjadi seorang gadis, maka yang menghadapi mereka adalah Nyo Liong, sedangkan gadis itu lalu membawa kuda mereka ke sebuah pohon dan mengikatkan kendali pada pohon itu.
“Cuwi sekalian menghadang di tengah jalan ada keperluan apa?” tanya Nyo Liong dengan halus.
Tiba-tiba di antara orang itu maju seorang yang bertubuh tinggi kurus dan sambil menuding kepada Nyo Liong, ia berkata. “Kawan-kawan, benar, inilah Sasterawan Kedok Hitam yang dulu membantu para pemberontak. Tangkap pemberontak ini!”
Sambil berkata demikian, si kurus itu mencabut pedangnya, diikuti oleh tujuh orang kawannya. Akan tetapi Nyo Liong masih bersikap tenang. “Kalian ini bukankah para perwira istana yang telah kalah? Mengapa masih berani menjual lagak? Aku memang benar Sasterawan Berkedok Hitam, dan kalian mau apa?”
Tiba-tiba seorang perwira lain memandang Yang Giok dan berseru, “Eh, bukankah kau ini Liu siocia, puteri dari Pangeran Liu Mo Kong?”
Yang Giok yang mendengar bahwa Nyo Liong dianggap pemberontak menjadi heran dan terkejut sekali, sekarang setelah seorang perwira mengenalnya, ia makin bingung. Ia tidak menjawab pertanyaan perwira tadi, hanya memandang ke arah Nyo Liong dengan wajah mengandung pertanyaan. Benarkah tunangannya ini membantu pihak pemberontak?
“Harap kalian jangan mengganggu kami,” terdengar Nyo Liong menjawab pertanyaan perwira tadi. “Dia memang Liu siocia, akan tetapi sekarang tidak mempunyai hubungan pula dengan segala perwira kerajaan yang telah terjatuh dan kalah. Berilah jalan dan jangan mencari penyakit sendiri!”
“Kawan, inilah mereka yang kita cari!” Si kurus tadi berseru lagi. “Pedang yang dicari ada padanya dan sekarang sekali pukul kita akan dapat dua pahala. Merampas kembali Thian Hong Kiam dan membalas dendam kawan-kawan kita yang telah terjatuh dalam tangan pemberontak!”
Tanpa banyak cakap lagi kedelapan orang itu maju menyerang Nyo Liong.
“kalian mencari bencana sendiri!” Nyo Liong berseru dan ia lalu mencabut keluar Thian Hong Kiam yang tergantung di pinggang dan yang selalu tertutup oleh baju sasterawannya yang panjang.
“Nah, itu dia pedang yang kita cari!” Seorang perwira berseru ketika ia mengenali pedang pusaka itu di tangan Nyo Liong.
Nyo Liong tersenyum. “Ha, ha, bukankah sekarang lebih mudah lagi? Pedang dan orang yang kau cari telah berada di sini dan menjadi satu, kalian majulah!”
Maka terjadilah pertempuran yang hebat. Perwira-perwira ini adalah jagoan-jagoan kelas satu dari kerajaan dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi, dan sekarang mereka maju berbareng, dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan mereka. Juga senjata-senjata yang berada di tangan mereka bukanlah senjata sembarangan karena hampir semua perwira kerajaan memiliki senjata yang ampuh dan tajam. Dari gerakan mereka ketika menyerang, Yang Giok dapat mengetahui bahwa kepandaian mereka rata-rata lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri, maka tentu saja ia diam-diam merasa gelisah dan cemas. Ia merasa serba salah. Hendak membantu, kepandaiannya terlampau rendah. Tidak membantu, hatinya tidak puas dan tidak tenteram. Maka ia hanya berdiri dengan dada berdebar menonton pertempuran yang hebat itu.
Pertempuran yang terjadi kali ini berbeda dengan ketika Nyo Liong dikeroyok oleh kawanan Jian-jiu-pai, karena para perwira ini memang sengaja datang mencari Nyo Liong dan mereka tahu bahwa selain harus menghadapi Sasterawan Berkedok Hitam yang hebat, juga masih ada pihak Jian-jiu-pai yang hendak merampas pedang, maka di pihak mereka lalu mengutus delapan orang yang berkepandaian tinggi dan merupakan jago-jago pilihan dari istana.
Akan tetapi, ilmu silat Pat-kwa Im-yang yang telah dipelajari oleh Nyo Liong itu benar-benar hebat dan luar biasa sekali. Biarpun dikeroyok oleh delapan orang jago-jago pilihan dari istana, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak terdesak, bahkan dengan pedangnya yang juga merupakan senjata ampuh dan pusaka tua, ia dapat membuat delapan orang lawannya bermain silat dengan kacau karena pergerakannya sungguh cepat dan luar biasa. Dengan menggunakan ilmu silat pedangnya yang istimewa, Nyo Liong dapat bergerak sedemikian rupa hingga delapan orang itu tidak mendapat kesempatan untuk maju berbareng. Gerakan Nyo Liong lincah sekali dan sinar yang ditimbulkan oleh putaran pedangnya sangat kuat dan sukar diduga perubahan dan gerakannya.
Yang Giok benar-benar merasa kagum sekali. Baru sekali ini ia mendapat kesempatan untuk melihat kepandaian Nyo Liong yang sangat hebat itu. Ia menghela napas dan harus ia akui bahwa ilmu kepandaian tunangannya ini jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ayahnya sendiri. Akan tetapi ada sedikit perasaan kecewa dan ragu-ragu di dalam hatinya, karena bukankah para perwira tadi mengatakan bahwa pemuda ini adalah seorang pembantu pemberontak?
Di antara kedelapan orang perwira itu terdapat tiga orang saudara seperguruan yang memiliki kepandaian paling tinggi. Mereka ini dijuluki Bu-tong Sam-houw atau Tiga Macan dari Bu-tong, karena mereka ini memang anak murid Bu-tong-san. Ketika melihat betapa hebatnya Nyo Liong, mereka lalu berpencar menjadi segi tiga dan maju menyerang Nyo Liong dari tiga jurusan. Mereka tidak mau merobah kedudukan dan tetap menyerang dari tiga jurusan hingga tidak dapat dibikin kacau oleh perubahan gerakan Nyo Liong. Menghadapi tiga orang ini, diam-diam Nyo Liong berlaku hati-hati karena ia maklum bahwa apabila lawan-lawannya tidak terkacau oleh ilmu silatnya, maka berarti bahwa ia harus menghadapi lawan yang berat dan berbahaya, karena mereka ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan dapat mempertahankan diri dengan baik, maka kalau ia harus bertahan mengadu tenaga dan keuletan, mana ia dapat melawan delapan orang?
Oleh karena itu, Nyo Liong lalu mengerahkan semangat dan tenaganya dan ia lalu mencampur gerakan silatnya dengan pelajaran dari Li Lo Kun, hingga pedangnya bergerak makin ganas dan hebat. Benar saja, serbuannya ini membuat semua pengeroyoknya terkejut dan mereka mempertahankan diri sambil mundur. Nyo Liong mengerti bahwa kalau ia tidak mau menurunkan tangan kejam dan berlaku terlalu hati-hati dan kasihan, maka pertempuran ini akan berjalan lama sekali dan akhirnya ia akan kalah karena kehabisan tenaga. Maka ia maju terus mendesak dengan hebat dan sengaja menyerang bertubi-tubi kepada dua orang perwira yang agak berlaku lambat hingga terdengar pekik kesakitan dan dua orang perwira itu roboh, pundak dan lengan mereka luka.
Para pengeroyok itu terkejut sekali dan mereka berpencar menjauhi Nyo Liong, dan pada saat itu terdengar suara yang nyaring tapi halus. “Hebat sekali!”
Ketika semua orang memandang, tahu-tahu di tengah medan pertempuran itu telah berdiri seorang tua yang berjubah biru. Tosu ini kurus dan tinggi, kulit mukanya putih dan halus seperti muka anak-anak.
Ketika ketiga harimau dari Bu-tong melihat tosu ini, dengan girang lalu maju berlutut dan berkata, “Suhu!”