Halo!

Pedang Keramat Chapter 13

Memuat...

“Saudaraku, jangan kau memperolok-olokan, kau tahu bahwa aku tidak becus memegang senjata tajam!” Kemudian ia menghadapi Tan Kok kembali dan berkata, “Orang kate jangan banyak membuang waktu, hayo lekas memperlihatkan kehebatanmu!”

“Bangsat, kau mencari mampus sendiri!” Tan Kok membentak dan jubahnya menyambar menimbulkan angin hebat.

Melihat gerakan ini, Nyo Liong yang juga sudah tahu akan kehebatan Tan Kok, tidak mau bermain-main lagi. Ia segera memperlihatkan kegesitannya dan mengelak ke kiri, sebelum Tan Kok dapat menyerang lagi, Nyo Liong sudah mendahuluinya dan menotok ke arah iga kanannya. Tan Kok terkejut sekali karena serangan ini benar-benar merupakan gerakan yang sangat cepat dan hebat, maka ia cepat mengelak dan mencurahkan perhatiannya kepada serangan lawan ini, akan tetapi celaka baginya karena serangan ini sebetulnya hanyalah gertak belaka dan tahu-tahu tangan kiri Nyo Liong telah meluncur dan menotok sambungan sikunya yang memegang jubah. Tan Kok berteriak kesakitan dan jubahnya terlepas dari tangannya. Saat itu digunakan oleh Nyo Liong untuk mempergunakan akal kanak-kanak yang tadi telah diperlihatkan, yakni dengan kakinya menjegal kaki lawan ia mendorong sekerasnya hingga Tan Kok terjungkal.

Bukan main riuh rendahnya para penonton melihat hal ini. Juga pihak Jian-jiu-pai merasa heran sekali. Sungguh sukar dipercaya bahwa dalam dua jurus saja, Tan Kok yang mempergunakan senjatanya yang ampuh itu dapat dirobohkan oleh seorang pemuda yang bertangan kosong. Bukan Main!

Yang Giok kini tidak ragu-ragu lagi. Nyo Liong tentu tidak lain ialah si Kedok Hitam sendiri. Kalau tidak demikian, mana mungkin pemuda itu dapat memiliki kepandaian sehebat ini? Maka hampir saja ia ikut bersorak, akan tetapi ia dapat menahan perasaannya dan hanya bersorak sorai di dalam hati dengan perasaan girang dan bahagia. Kini Tan Kok merasa bahwa pemuda yang luar biasa ini benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi sekali, maka ia hanya dapat memandang dengan bengong sambil merintih-rintih karena sambungan sikunya telah terlepas. Sementara itu para kawanan Jian-jiu-pai ketika melihat betapa pemuda she Nyo itu hebat sekali, mereka serentak mencabut senjata dan maju mengepung Nyo Liong dan Yang Giok yang sementara itu telah melompat mendekati Nyo Liong. Yang Giok cepat mencabut pedangnya menghadapi segala kemungkinan, sedangkan Nyo Liong tiba-tiba mengubah sikapnya yang tadi bermain-main. Ia cabut sebatang pedang dari pinggangnya hingga baik Yang Giok sendiri maupun para kawanan Jian-jiu-pai berdiri bengong ketika melihat bahwa pemuda itu telah mencabut pedang Thian Hong Kiam yang diperebutkan.

“Kawanan perampok. Kalian menghendaki pedang ini? Baiklah, kalian maju semua dan hendak kulihat siapa di antara kamu sekalian yang sanggup merampas pedang ini dari tanganku.”

Untuk sejenak kawanan maling ini berdiri terpaku akan tetapi mereka segera maju menggerakkan senjata dan mengeroyok. Akan tetapi, pada saat itu Nyo Liong berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya telah lenyap, berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan yang menyambar ke sana ke mari. Ternyata ia telah mengeluarkan ilmu silat pedang Pat-kwa Im Yang Kiamsut. Terdengar teriakan-teriakan yang dikeluarkan oleh para anggauta Jian-jiu-pai yang menjadi panik karena mereka tidak melihat penyerang mereka dan tahu-tahu senjata mereka terbabat putus dan tangan mereka terkena ujung pedang Thian Hong Kiam hingga mengalirkan darah.

Akhirnya semua anggauta Jian-jiu-pai menjatuhkan diri berlutut, sedangkan semua penonton lari bubar karena takut. Gan Sin Kun sendiri terluput dari pada serangan Nyo Liong karena pemuda ini suka kepada orang yang tadi berlaku murah kepada Yang Giok, maka orang she Gan ini lalu berkata,

“Nyo taihiap, kau sungguh perkasa. Patut sekali pedang Thian Hong Kiam berada di tanganmu. Bolehkah kami mengetahui, apakah taihiap ini Sasterawan Berkedok Hitam?”

Nyo Liong menyimpan pedangnya dan sambil bertolak pinggang ia berkata, “Kalian tak perlu tahu tentang Sasterawan Berkedok Hitam. Dia adalah kawan baikku, dan jika kalian masih mengganas, maka ia tentu takkan memberi ampun!”

Setelah berkata demikian, dengan tenang Nyo Liong lalu mengajak Yang Giok pergi meninggalkan tempat itu dan menunggangi kuda mereka untuk melanjutkan perjalanan. Semua kawanan Jian-jiu-pai tak berani menghalangi mereka lagi.

******

“Liong-ko, kau sungguh terlalu. Pandai sekali berpura-pura bodoh dan telah mempermainkan aku,” berkata Yang Giok di tengah perjalanan ketika mereka duduk beristirahat di bawah sebatang pohon besar untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka makan rumput.

Nyo Liong memandangnya. “Siapa yang mempermainkan engkau, saudara Yang Giok? Aku hanya mempunyai sedikit kemampuan yang tidak ada artinya.”

“Telah berkali-kali kau menolongku, akan tetapi kau berpura-pura tidak mengenalku. Mengapa kau menyembunyikan diri dan tidak mau mengaku bahwa kau sebenarnya adalah tuan penolongku?”

“Kau ini aneh sekali adikku. Aku belum pernah menolongmu.”

“Liong-ko, untuk apa kau berpura-pura lebih lanjut? Bukankah kau sebenarnya Sasterawan Berkedok Hitam?”

Nyo Liong menggeleng-gelengkan kepala. “Dia adalah kawanku dan sedikit kepandaian yang kumiliki dapat kupelajari dari dia!”

Yang Giok mengerutkan jidat. Benarkah ini? Ia masih ragu-ragu dan kebandelan Nyo Liong ini membuatnya kecewa dan mendongkol. Awas kau, pikirnya, pada suatu waktu tentu akan kubuka rahasiamu.

Malam harinya mereka bermalam di sebuah kuil tua dan pada keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Go-bi-san.

Benar sebagaimana ucapan Nyo Liong dahulu, dengan mengambil jalan menerobos hutan-hutan, dalam waktu dua puluh hari mereka telah tiba di daerah Go-bi-san yang luas. Mereka lalu mencari keterangan kepada penduduk pegunungan dan mendapat tahu bahwa kuil Thian-hok-si berada di lereng gunung dan di luar dusun Cun-leng-koan.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di susun Cun-leng-koan, akan tetapi karena hari telah malam, mereka tidak melanjutkan perjalanan ke kuil Thian-hok-si, akan tetapi bermalam di dalam sebuah rumah penginapan yang sederhana. Karena rumah penginapan ini hanya mempunyai tiga buah kamar dan yang dua buah sudah ditempati orang, terpaksa Nyo Liong dan Yang Giok menyewa kamar ketiga. Di dalam dusun itu tidak terdapat rumah penginapan lain.

“Nah, akhirnya kita terpaksa bermalam sekamar,” kata Nyo Liong menggoda hingga wajah Yang Giok menjadi merah.

“Cis, tak tahu malu!” katanya sambil mendelik.

Nyo Liong tertawa, Yang Giok, kau .... lucu sekali kalau sudah bersikap seperti ini.”

“Biar aku tidur di luar saja.”

“He? Di luar? Apakah kau tidak takut masuk angin?”

“Tidak, lebih baik duduk di luar dari pada tidur sekamar dengan orang yang suka mendengkur, “kata Yang Giok.

“Eh, eh, saudara Yang Giok, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku mendengkur dalam tidurku?”

Akan tetapi Yang Giok tidak menjawab, dan dengan merengut ia benar-benar membawa selimut keluar dan mengambil keputusan hendak duduk di luar kamar semalam itu.

Menjelang tengah malam terdengar suara Nyo Liong mendengkur perlahan, tanda bahwa ia telah tidur pulas. Yang Giok menganggap bahwa saatnya telah tiba untuk ia mencoba membongkar rahasia anak muda itu. Karena pintu kamar memang tidak terkunci, ia lalu masuk dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Dengan meraba-raba ia menghampiri buntalan pakaian Nyo Liong dan hendak memeriksa dan mencari-cari kalau-kalau ia akan berhasil mendapatkan kedok hitam yang biasa digunakan oleh Sasterawan Berkedok Hitam. Akhirnya ia berhasil dan sebuah kedok hitam terpegang olehnya. Yang Giok cepat mengambil kedok hitam itu dan ia tidak merasa kuatir karena dengkur Nyo Liong masih tetap terdengar dan tidak berubah, tanda bahwa pemuda itu masih tidur.

Akan tetapi, ketika ia hendak keluar dari kamar itu dengan kedok di tangan, tiba-tiba terdengar angin menyambar dan tahu-tahu kedua tangannya telah dipegang kuat-kuat dari belakang oleh Nyo Liong.

“Liong-ko, lepaskan tanganku!” katanya lirih sambil mencoba untuk memberontak. Akan tetapi pegangan itu kuat sekali.

“Tidak,” jawab Nyo Liong, “Takkan ku lepaskan sebelum kau mengaku terus terang siapa sebenarnya engkau ini!”

“Liong-ko, kau mimpi. Bukankah kau sudah tahu bahwa aku adalah Kwee Yang Giok?”

“Hm, kau kira hanya kau seorang saja yang cerdik dan dapat menduga siapa sebenarnya aku ini? Kau kira aku tidak tahu dan mataku buta bahwa kau adalah seorang ..... gadis muda?”

Yang Giok terkejut sekali dan ia memberontak hingga pegangan tangan Nyo Liong terlepas.

“Apa ...... apa maksudmu?” tanyanya gagap.

“Gadis, kalau kau anggap aku keterlaluan karena menyembunyikan diriku yang sebenarnya, kau lebih terlalu lagi! Kau seorang gadis muda yang tabah, berani luar biasa, keras hati, dan nakal. Siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Pangeran Liu dan puterinya?”

“Kau ......kau selidiki sendiri!” jawab Yang Giok, dan Nyo Liong dapat mendengar suara yang menggetar itu. Ketika Yang Giok hendak melompat keluar kamar, cepat sekali Nyo Liong sudah dapat menangkap sebelah tangannya lagi. Nyo Liong lalu menggunakan sebelah tangan untuk membesarkan sumbu lampu yang masih menyala kecil di atas meja hingga keadaan menjadi terang. Ia melihat betapa gadis itu menjadi merah mukanya dan nampaknya bingung sekali.

“Kau sudah mengetahui rahasiaku, maka aku takkan melepaskanmu sebelum kau mengaku siapa sebenarnya dirimu!”

“Aku ...... aku .....ah ....,” Yang Giok tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ketika dengan sia-sia ia hendak menarik tangannya, tak terasa pula kedua matanya mengucurkan air mata.

Melihat ini Nyo Liong menjadi tidak tega lalu melepaskan pegangannya.

“Nona,” katanya dengan halus, “tidak salahkah dugaanku bahwa kau .....kau adalah ..... puteri Pangeran Liu sendiri? Tidak salahkah terkaan ku bahwa kau adalah .....Liu siocia sendiri?”

Ketika Yang Giok tidak menjawab, Nyo Liong lalu berkata pula dengan suara tetap halus. “Nona, kalau kau benar-benar Liu siocia, mengapa kau permainkan aku ..... tunanganmu sendiri? Apakah sebenarnya yang telah kau alami dengan ayahmu .....?”

“Semua yang kuceritakan dulu itu memang sebenarnya,” jawab Yang Giok sambil tunduk, “hanya mengenai diriku ....... ah, bukankah kau .... kau membenci tunanganmu yang buruk .......?”

“Aku membenci tunanganku, akan tetapi aku tidak membenci kau !” jawab Nyo Liong, “kau tahu betul akan hal ini!”

Yang Giok tidak menjawab, akan tetapi dengan bangga dan malu ia lalu berlari keluar sambil mengeluarkan suara isak tercampur tawa karena hati hatinya merasa tidak keruan di saat itu.

“Moi-moi, tidurlah di dalam, biar aku yang menjaga di luar!” kata Nyo Liong sambil mengejar keluar. Ia mendapatkan Yang Giok duduk di bangku luar, maka iapun lalu duduk di dekat gadis itu. Untuk beberapa lamanya mereka hanya duduk tak bergerak, hanya kadang-kadang saling lirik dan main senyum.

“Adikku, sebenarnya siapa namamu? Alangkah baiknya kalau namamu tetap Yang Giok, karena nama ini manis dan sesuai benar dengan orangnya,” akhirnya Nyo Liong berkata.

Yang Giok mengerling tajam dan tersenyum malu. “Ah kau memang suka sekali menggoda orang!” katanya. “Memang namaku Yang Giok, habis mau dirobah apa lagi?”

Keduanya lalu bercakap-cakap dan saling menuturkan pengalaman masing-masing, hingga malam itu mereka lewatkan dengan bercakap-cakap mesra dan lupa akan tidur hingga tahu-tahu fajar telah menyingsing dibarengi suara ayam jantan berkokok.

Ko-ko bagaimana kau bisa menduga bahwa aku adalah seorang wanita?” tanya Yang Giok.

“Mudah saja, pertama karena tak mungkin seorang pemuda mempunyai gerak-gerik sehalus gerak-gerikmu, dan watakmu yang keras dan manja menimbulkan dugaan bahwa kau adalah seorang gadis manja dan cantik. Kemudian, ketika diam-diam aku memeriksa pakaianmu dan mendapatkan barang-barang perhiasan wanita dan di antaranya terdapat satu stel pakaian wanita, maka tak salah lagi bahwa kau tentu seorang gadis. Hanya aku masih belum yakin betul siapa sebenarnya dirimu, hanya ada dugaan bahwa kau tentu puteri Pangeran Liu Mo Kong, karena Pangeran itu adalah seorang gagah perkasa, maka tak heran bahwa puterinya pun demikian pula.”

“Ah, kau mengejek! Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa, hanya kaulah yang berkepandaian benar-benar tinggi. Lain kali aku harus menambah pengertian ilmu silat yang kau miliki.”

Setelah saling mengetahui rahasia masing-masing, perasaan kedua anak muda itu makin mesra dan tanpa mengucapkan kata-kata mereka dapat mengetahui hati masing-masing yang saling mengasihi hingga mereka berbahagia sekali.

Post a Comment