Halo!

Pedang Keramat Chapter 12

Memuat...

“Kwee sicu telah berlaku murah hati dan mengalah.”

Sebaliknya sambil tersenyum Nyo Liong menghadapi Yang Giok dan berkata, “Saudaraku yang baik, ini hanyalah pibu yang biasa saja, mengapa harus berlaku nekad dan mati-matian ? Duduklah di sana dan biarkan aku merasai kehebatan orang-orang Jian-jiu-pai.”

“Apa kau mabok?” Yang Giok membentak. ”Bagaimana kau hendak menghadapi mereka yang hebat?”

Akan tetapi Nyo Liong tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya kepada Yang Giok. Apa boleh buat, dengan mengangkat kedua pundaknya, Yang Giok kembali ke tempat duduknya dan melihat ke arah Nyo Liong dengan hati berdebar.

Nyo Liong menjura kepada Gan Sin Kun, “Tuan muka hitam yang gagah, berilah aku sedikit pelajaran ilmu silat seperti yang telah kau berikan kepada kawanku tadi.”

Akan tetapi, sebelum Gan Sin Kun menjawab, tiba-tiba Tan Kok si pendek naik ke atas panggung. Ia tidak mau jika semua pahala direbut oleh suhengnya, maka ia berkata, “Gan suheng, harap kau suka mundur. Biarlah sute yang melayani pemuda ini.” Gan Sin Kun memang tidak suka melayani segala pemuda lemah, maka ia lalu mengundurkan diri dan duduk menjadi penonton.

Sementara itu, Tan Kok sambil tertawa berkata kepada Nyo Liong.

“Anak muda, kau tadi telah mendengar sendiri perjanjian kita. Sekarang kawanmu she Kwee itu sudah kalah dan sebentar lagi kalau kau telah kujatuhkan, maka kau dan kawanmu itu harus segera mengeluarkan benda yang kami inginkan?”

“Jadi kau hendak menjatuhkan aku?” Nyo Liong bertanya tanpa memperdulikan bicara lawannya tentang pedang itu.

Tidak saja Tan Kok yang tersenyum geli mendengar pertanyaan ini, bahkan dari pihak penonton ada juga yang tertawa terkekeh-kekeh mendengar pertanyaan Nyo Liong tadi.

“Sudah tentu aku akan menjatuhkan kau!” jawab Tan Kok. “Memang di dalam pibu, orang yang bertanding harus berusaha untuk menjatuhkan lawannya.”

“Oh, begitu? Jadi siapa yang terjatuh, maka ia dianggap kalah?” tanya Nyo Liong.

“Ya, begitulah,” jawab Tan Kok dan pada saat itu juga Nyo Liong cepat menggunakan kakinya menjegal dan tangan mendorong tubuh si Kate hingga Tan Kok yang sama sekali tidak menyangka pemuda ini akan melakukan serangan aneh ini, tidak dapat mempertahankan diri dan jatuh terguling. Para penonton tertawa geli dan bahkan ada yang bersorak, akan tetapi diam-diam Yang Giok mengeluh karena gerakan Nyo Liong adalah akal kanak-kanak yang digunakan pada waktu mereka berkelahi.

Sementara itu, melihat bahwa Tan Kok telah jatuh, Nyo Liong dengan wajah berseri lalu berkata lantang. “Nah, orang she Tan. Kau harus mengaku kalah. Kau telah terjatuh!!”

Bukan main marahnya Tan Kok mendengar ini. Ia melompat berdiri dengan muka merah.

“Bangsat rendah dan curang!” bentaknya.

“Eh, eh, mengapa kau marah-marah? Bukankah kau sudah kujatuhkan? Ingatlah perjanjian kita!”

“Apa, kau kira aku ini anak kecil!” bentak Tan Kok. Yang dimaksudkan dengan terjatuh di atas panggung luitai adalah jatuh karena dikalahkan dalam perkelahian. Hayo kau siap dan jaga datangnya seranganku!” Sambil berkata begitu Tan Kok lalu maju menyerang dengan kepalan tangannya. Serangan ini hebat sekali dan ditujukan ke arah dada Nyo Liong dengan sekuat tenaga.

Tak terasa lagi Yang Giok menjerit. Untung ia masih dapat menahan suara jeritannya dan karena pada saat itu terdengar banyak suara para penonton yang ramai membicarakan sikap Nyo Liong, ada yang pro dan ada yang kontra, maka suara jeritannya tak terdengar orang. Kalau sampai terdengar, tentu orang akan merasa heran mengapa pemuda ini mengeluarkan suara jeritan seperti suara perempuan. Akan tetapi karena hatinya benar-benar merasa cemas melihat serangan itu tak terasa lagi Yang Giok berteriak, “Awas, Liong-ko!” dan ia memejamkan mata karena tak tahan melihat betapa pemuda tunangannya itu akan terpukul jatuh dengan menderita luka berat. Akan tetapi, ketika mendengar suara teriakan Yang Giok, Nyo Liong bahkan berpaling dan memandang dengan tersenyum, sama sekali tidak memperdulikan datangnya kepalan lawan ke arah dadanya.

Yang Giok membuka mata dan masih sempat melihat, betapa setelah serangan itu hampir mengenai dada Nyo Liong, tiba-tiba pemuda itu seperti terjengkang ke belakang dengan gerakan yang canggung dan lucu. Akan tetapi justru karena gerakan itu ia terhindar dari serangan Tan Kok. Yang Giok melebarkan matanya dan hampir tak dapat percaya kepada matanya sendiri. Luar biasa benar gerakan mengelak tadi. Kebetulan sajakah atau memang Nyo Liong memiliki kepandaian tinggi?

Sementara itu, ketika melihat betapa serangan pertama yang hampir berhasil itu akhirnya gagal, Tan Kok makin marah dan terus menyerang dengan hebat. Ia tidak memperdulikan lagi apakah lawannya yang bersikap lemah itu akan terluka hebat atau akan mati sekalipun terkena serangannya karena amarah telah memenuhi dadanya dan menutupi hati nuraninya.

Akan tetapi, kini semua penonton bersorak riuh rendah dan Yang Giok tak terasa lagi bangun berdiri dari kursinya dan memandang dengan mata terbelalak heran. Ketika diserang secara bertubi-tubi oleh Tan Kok, Nyo Liong lalu bergerak ke sana ke mari dengan lincah sekali. Semua gerakan mengelak dari pemuda ini nampaknya kacau balau dan kakinyapun tak teratur, akan tetapi tak sebuahpun pukulan Tan Kok mengenainya. Bahkan ketika mendapat kesempatan, Nyo Liong berhasil menangkap ujung baju Tan Kok dan menariknya sekuat tenaga. Tan Kok mempertahankan diri karena ia merasa betapa tenaga tarikan itu kuat sekali, dan dalam adu tenaga ini, tiba-tiba terdengar suara “Brett!!” dan sobeklah baju Tan Kok. Tan Kok terhuyung-huyung ke belakang, terbawa oleh tenaga mempertahankan yang kini dilepas secara tiba-tiba. Akan tetapi ia dapat mempertahankan diri dan dengan muka merah ia bertanya.

“Anak muda, siapa kau sebenarnya? Mengakulah! Apa hubunganmu dengan si Kedok Hitam?”

Juga Yang Giok ingin sekali mendengar jawaban Nyo Liong karena diam-diam iapun menyangka bahwa Nyo Liong mungkin sekali adalah si Kedok Hitam sendiri. Akan tetapi, Nyo Liong hanya tersenyum dan menjawab.

“Eh, orang kate. Kau hendak bertanding kepandaian atau bertanding lidah? Kalau bertanding lidah, bukan di sini tempatnya!”

Tanpa berpikir panjang Tan Kok bertanya, “Di mana?”

“Di sekeliling meja yang penuh hidangan dan arak wangi!” Mendengar kata-kata yang jelas mempermainkan Tan Kok ini para penonton tertawa geli, juga Yang Giok tersenyum. Entah mengapa, ketika melihat bahwa Nyo Liong ternyata bukanlah seorang lemah seperti yang selama ini ia sangka dan yang selalu mendatangkan rasa kecewa di dalam hatinya. Yang Giok merasa sesuatu yang mesra dan yang menimbulkan perasaan girang dan bahagia meresap ke dalam hatinya dan yang membuatnya tiba-tiba memerah muka dan merasa bangga ketika memandang wajah Nyo Liong.

Tan Kok merasa bahwa ia dipermainkan segera melepaskan jubahnya yang sudah sobek itu, lalu sambil memutar-mutar jubahnya ia berkata, “Kalau begitu, hayo kita lanjutkan pertandingan ini dan kau boleh mempergunakan senjatamu!”

“Aku tidak bisa memegang senjata, dan kalau senjatamu hanya pakaian tua yang tak berharga lagi , sudah sobek ini, biarlah aku melayanimu dengan tangan kosong.”

Tan Kok terkenal sekali karena kepandaiannya memainkan jubahnya sebagai senjata karena dengan ilmu lweekangnya yang sudah tinggi, jubah itu dapat berubah menjadi sebuah senjata yang sangat ampuh di dalam tangannya. Tentu saja ia menjadi marah sekali mendengar betapa pemuda ini hendak menghadapinya dengan tangan kosong. Juga Yang Giok yang sudah mengenal kehebatan senjata aneh di tangan si Kate ini, tak terasa berseru lagi.

“Liong-ko, kau pakai pedangku ini!”

Nyo Liong berpaling lagi dan tersenyum sambil berkata,

Post a Comment