Halo!

Pedang Keramat Chapter 11

Memuat...

******

Beberapa hari kemudian, Nyo Liong dan Yang Giok tiba di luar desa Bi-siang-lun. Ketika metreka hendak memasuki pintu dusun yang terbuat dari pada pagar bambu, tiba-tiba dari depan mendatangi serombongan orang dan ternyata orang-orang itu sengaja menghadang di tengah jalan hingga Nyo Liong dan Yang Giok terpaksa menahan kuda mereka. Setelah dekat, Yang Giok terkejut sekali karena orang-orang ini tidak lain ialah Tan Kok si Maling Kate bersama kawan-kawannya.

Yang Giok mendahului meloncat turun dari kudanya dan menghadapi mereka dengan tabah. Si Kate Tan Kok kembali menjadi wakil pembicara dan kini si kate itu bersungguh-sungguh, bahkan ia menjura dan memberi hormat kepada Yang Giok dan Nyo Liong.

“Jiwi, sudah lama kami menanti di sini.”

“Orang she Tan, kembali kau menghadang dan menahan kami. Apakah kehendakmu kali ini?”

“Kwee-kongcu, kali ini kami sengaja mengambil jalan terang-terangan, kami telah mengambil keputusan untuk mengundang kau bersama kawanmu itu berkunjung ke tempat kami, yakni di cabang kami dalam desa Bi-siang-lun ini. Kami mengundang kau dan kawanmu untuk berpibu, yakni jika kau berani. Kami hendak menebus kekalahan kami yang berkali-kali itu.”

“Orang she Tan, sudah ku katakan kepadamu bahwa pedang itu tidak berada padaku, mengapa kau tetap mendesakku?” Yang Giok mencoba mencegah.

“Ha, ha, Kwee kongcu, kami tidak percuma menjadi anggauta-anggauta Jian-jiu-pai yang tidak saja mempunyai seribu tangan, tapi juga seribu mata. Pedang itu belum kau berikan kepada orang lain, maka sekarang kami minta kau memberi sedikit pelajaran kepada kami. Kalau ternyata kau memang seorang gagah perkasa dan dapat mengalahkan jago yang kami ajukan, kami mengaku kalah dan takkan mengganggumu lagi. Sebaliknya jika kau atau si Kedok Hitam itu kalah, bagaimanapun kau harus memberikan pedang itu kepada kami. Kecuali jika kau takut dan tidak berani menerima undangan kami, maka kami akan menganggap kau seorang pengecut.”

Bukan main marahnya Yang Giok mendengar ini hingga wajahnya berubah merah. Biarpun ia tahu bahwa kepandaiannya masih belum mencukupi untuk menghadapi anggauta-anggauta Jian-jiu-pai yang hebat itu. Akan tetapi, ia lebih baik binasa dari pada dianggap seorang pengecut. Akan tetapi, sebelum ia sempat menjawab, Nyo Liong telah mendahuluinya dan berkata dengan suara lantang,

“Eh, eh kau berani sekali menganggap kawanku ini pengecut. Dia adalah seorang gagah yang tidak takut menghadapi cacing-cacing seperti kalian ini. Saudaraku yang baik terimalah tantangan mereka dan aku akan menjadi wasit dan saksi agar dalam pibu ini tidak terjadi kecurangan.”

Semua orang memandang kepada Nyo Liong dan Tan Kok tersenyum menghina, “Siapa yang akan main curang? Marilah kalau kalian memang benar-benar lelaki!”

Dengan hati panas Yang Giok dan Nyo Liong mengikuti mereka menuju ke desa Bi-siang-lun. Di sepanjang jalan rombongan maling yang ditakuti penduduk dan sudah terkenal sebagai orang-orang yang berkepandaian tinggi itu memberitahu kepada para penduduk bahwa di rumah perkumpulan mereka akan diadakan pibu, maka banyaklah orang mengikuti mereka hendak menonton orang mengadu kepandaian.

Gedung perkumpulan Jian-jiu-pai cukup besar dan mempunyai pekarangan depan yang luas. Agaknya para maling itu telah mengetahui dari para penyelidik mereka bahwa kedua pemuda itu akan lewat di situ, maka mereka telah siap sedia dan di pekarangan itu telah dibangun sebuah luitai. Mereka dapat menduga bahwa diam-diam si Kedok Hitam tentu melindungi pemuda she Kwee itu, maka mereka sengaja memancing agar si Kedok Hitam muncul di waktu siang sehingga mereka akan dapat mengetahui siapa adanya si Kedok Hitam itu.

Untuk menghadapi si Kedok Hitam, mereka sengaja mendatangkan tiga orang jago mereka yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada Tan Kok. Dan telah mereka rencanakan bahwa apabila ketiga jago itu akhirnya takkan dapat melawan si Kedok Hitam, mereka akan mengeroyok.

Yang Giok dan Nyo Liong mendapat tempat kehormatan yang sengaja diadakan di kepala panggung luitai hingga tempat duduk mereka dapat terlihat dari segenap penjuru dan dari luar. Setelah dengan tabah kedua anak muda itu duduk di tempat yang disediakan untuk mereka, maka tak heran apabila keduanya merasa menjadi tontonan orang.

Sebentar saja semua penduduk yang datang hendak menonton tahu bahwa kedua anak muda itulah yang hendak berpibu melawan rombongan anggauta Jian-jiu-pai, maka diam-diam mereka merasa heran dan kuatir. Kedua pemuda itu kelihatan begitu pendiam, lemah lembut dan tak bertenaga. Bagaimana mereka ini hendak mengadu kepandaian melawan orang-orang Jian-jiu-pai yang kasar dan bertenaga besar serta berkepandaian silat tinggi?

Kemudian Tan Kok menghampiri kedua pemuda itu dan berkata kepada Yang Giok, “Kwee kongcu, karena kalian datang berdua, maka kamipun hendak mengajukan dua orang jago. Sekarang, di antara jiwi, siapakah yang hendak maju terlebih dahulu?” Sambil berkata demikian, Tan Kok si pendek ini tersenyum mengejek, karena ia memandang rendah sekali kepada pemuda tamunya ini.

Yang Giok segera berdiri dan berkata, “Aku sendirilah yang hendak maju melayani kalian, sedangkan kawanku ini tidak tahu apa-apa dan tidak ikut campur. Dalam hal pibu yang kalian adakan ini, kalah atau menang adalah menjadi tanggung jawabku sendiri dan kuharap kawanku yang lemah ini jangan sekali-kali diganggu.”

Memang Yang Giok sudah dapat menduga bahwa kali ini kawanan maling itu tentu tidak mau melepaskannya dan karenanya ia hendak berlaku nekad dan melawan mati-matian. Akan tetapi ia tidak ingin melihat Nyo Liong diganggu, pertama karena pemuda ini lemah tak berdaya, kedua karena pedang Thian Hong Kiam telah dititipkan kepada pemuda ini.

Akan tetapi, dengan bersemangat Nyo Liong juga berdiri dan berkata, “Tidak, tidak begitu. Karena kami datang berdua, maka pertandingan boleh dilakukan dua kali. Saudara Kwee ini maju terlebih dulu dan aku maju di bagian kedua. Tapi ingat, pertandingan yang diadakan ini hanyalah sekedar pibu yakni untuk mengukur kepandaian belaka, maka tidak boleh sekali-kali sampai mempertaruhkan jiwa.”

Tan Kok tertawa gelak-gelak. “Bagus, kau agaknya pemberani juga, anak muda. Bukankah kau ini Nyo kongcu yang terkenal karena dalam usia muda telah merebut ijazah dan lulus dalam ujian? Rupanya, selain cerdik pandai, kau juga gagah berani. Boleh, boleh memang seharusnya diatur demikian. Sekarang kami persilakan Kwee Kongcu maju untuk menghadapi seorang jago kami.”

Tanpa ragu-ragu, biarpun sambil mengerling ke arah Nyo Liong dengan heran dan kuatir, Yang Giok menuju ke panggung dan dari pihak tuan rumah muncullah seorang tinggi besar bermuka hitam. Orang itu menjura kepada Yang Giok dan berkata dengan suaranya yang besar dan parau. “Saya sudah mendengar dari kawan-kawan tentang kehebatan Kwee-sicu, maka beruntung sekali hari ini aku mendapat kesempatan untuk mengenalmu.”

Yang Giok memandang muka orang itu dan bertanya. “Sebetulnya aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa akan tetapi pihakmu yang mendesak dan memaksa. Siapakah tuan?”

“Aku adalah Gan Sin Kun, suheng dari Tan Kok.”

Diam-diam Yang Giok terkejut karena baru melawan Tan Kok saja ia tak dapat menang, apalagi harus menghadapi suhengnya. Akan tetapi, memang pada dasarnya Yang Giok berhati tabah dan bersemangat baja, hingga sedikitpun ia tidak memperlihatkan perasaan takut.

“Gan enghiong, marilah kita mulai,” ia mengajak dan memasang kuda-kuda.

“Harap kau berlaku murah hati, Kwee sicu,” jawab orang bermuka hitam itu yang lalu maju menyerang. Yang Giok tahu bahwa ia kalah tenaga menghadapi orang ini, maka ia hanya menggunakan kegesitannya untuk menjaga diri dan membalas serangan lawannya. Sebaliknya, Gan Sin Kun memang sudah tahu dari sutenya, Tan Kok, bahwa kepandaian Yang Giok tidak seberapa hebat, maka ia tidak merasa kuatir dan bertempur seenaknya saja.

Biarpun ia bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam menyeramkan, akan tetapi orang she Gan ini mempunyai hati yang halus dan lemah. Begitu melihat muka Yang Giok yang tampan sekali dan kulitnya yang lemas itu, hatinya telah menaruh rasa kasihan dan ia tidak tega untuk mencelakakan atau melukainya, apalagi kalau ia ingat bahwa permusuhan di antara golongannya dengan pemuda ini bukanlah permusuhan besar dan soal yang timbul di antara mereka hanyalah merupakan perebutan sebuah benda belaka. Oleh karena itu, ia hanya akan mendesak kepada Yang Giok agar pemuda itu mengaku kalah tanpa melukainya.

Karena Gan Sin Kun mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat dan bertenaga besar, maka benar saja, Yang Giok segera terdesak dan hanya mampu mengelak serta kadang-kadang menangkis saja. Bahkan tiap kali menangkis ia merasa betapa lengan tangannya sakit dan pedas. Orang-orang yang menonton pertandingan ini menahan napas dan merasa kuatir sekali melihat betapa Yang Giok terdesak dan hanya dapat mengelak sambil mundur.

Ketika Nyo Liong melihat betapa kawannya terdesak, diam-diam ia merasa gelisah sekali. Kalau ia bertindak, tentu akan terbuka rahasianya, akan tetapi untuk berdiam diri saja, juga tak benar karena Yang Giok berada dalam bahaya. Ia gelisah dan merasa serba susah.

Akhirnya, karena tidak tega melihat Yang Giok terdesak terus dan melihat peluh memenuhi wajah Yang Giok yang keras hati dan tetap melawan tak mau menyerah kalah itu, Nyo Liong lalu berdiri dan dengan berlari ia menghampiri ke atas panggung. Dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya ia mencegah dilanjutkannya pertempuran sambil berkata,

“Sudah, sudah! He, muka hitam, sudahilah!” Nyo Liong dengan gerakan kacau menyerbu di antara mereka hingga Gan Sin Kun terpaksa mundur karena ia tidak mau salah tangan memukul kepada anak muda yang hanya bermaksud menghentikan pertempuran itu. Yang Giok berdiri dengan muka merah karena malu dan memandang kepada Nyo Liong dengan mata melotot karena marahnya.

“Liong-ko, mengapa kau bertindak setolol ini? Apa kau kira aku takut mati? Biarkan orang she Gan itu menyerangku, walaupun kepandaianku kalah tinggi, akan tetapi aku tidak takut sama sekali!”

Mendengar ucapan Yang Giok ini, Gan Sin Kun merasa kagum akan ketabahan dan kekerasan hati anak muda itu, maka ia lalu berkata.

Post a Comment