“Tan-ko, perlu apa banyak cakap dengan boca ini?” seorang kawannya menegur.
“Anak muda, lihat, kawan-kawanku sudah tak sabar lagi. Lekas serahkan pedang itu kepada kami.”
Yang Giok menggeleng-gelengkan kepala, “Pedang itu tidak berada ditanganku lagi.”
Muka Tan Kok menjadi merah. “Jangan kau main-main anak muda. Aku sudah cukup sabar dan jangan bikin aku marah. Di mana pedang itu?”
Yang Giok mengangkat pundak dan bersiap sedia dengan pedangnya. “Kalau kalian tidak percaya, boleh kalian periksa sendiri kamarku, dan kalian juga dapat melihat bahwa pedang itu tidak kubawa.”
Dengan marah sekali Tan Kok memberi tanda dan tiga orang kawannya melayang turun memasuki kamar Yang Giok melalui jendela. Mereka mengadakan pemeriksaan dengan teliti, akan tetapi pedang itu tak mereka temukan. Tak lama kemudian mereka melayang naik kembali untuk memberi laporan kepada Tan Kok. Dari gerakan-gerakan mereka, Yang Giok maklum bahwa kepandaian kawan-kawan Tan Kok ini benar-benar hebat hingga ia menghela napas berat.
Bukan main marah Tan Kok. Ia lalu menanggalkan baju luar yang merupakan senjata ampuh dan berkata, “Anak muda, kalau kau tidak lekas memberitahu di mana adanya pedang itu, malam ini jangan harap kau akan dapat terlepas dari tanganku lagi. Lekas katakan, di mana adanya pedang itu?”
Akan tetapi, Yang Giok tidak menjawab dan hanya berdiri dengan memasang kuda-kuda untuk menghadapi serangan mereka. Melihat kebandelan Yang Giok, Tan Kok marah sekali. Sambil berseru keras ia menggerakan jubahnya dan menyerang dengan hebat. Yang Giok melompat dan mengelakkan serangan itu, lalu balas menyerang dengan nekad. Akan tetapi empat orang kawan Tan Kok tidak tinggal diam dan ikut menyerbu hingga keadaan Yang Giok berbahaya sekali.
Pada saat itu, berkelebat bayangan orang yang gerakannya gesit sekali dan tahu-tahu sebatang pedang yang berkilau menahan serangan lima orang anggauta Jian-jiu-pai itu. Semua orang, termasuk Yang Giok, memandang dan hampir bersamaan Yang Giok dan musuh-musuhnya berseru.
“Sasterawan Kedok Hitam”
Si Kedok Hitam itu tertawa nyaring. “Kalian ini benar-benar panjang tangan, dan kerjanya hanya mencuri saja. Akan tetapi sebelum mengulurkan tangan, lihatlah dahulu baik-baik, barang apa yang kalian hendak curi dan lebih-lebih perhatikan dulu apakah tidak ada orang yang melihatnya. Aku berada di sini, apakah kalian kutu-kutu busuk ini masih hendak berani berlaku kurang ajar?”
Tan Kok marah sekali dan menjawab, “Biarpun namamu sudah tersohor sebagai seorang gagah perkasa, akan tetapi apa kau kira kami dari Jian-jiu-pai takut kepadamu? Bagi kami kau tak lain hanyalah seorang pengecut!”
Sepasang mata yang bersembunyi di balik kedok dan mengintai melalui dua lubang itu memancarkan sinar tajam.
“Apa katamu, anjing pendek? Aku pengecut?”
“Hanya seorang pengecutlah yang tidak berani berlaku terang-terangan. Kau menyembunyikan mukamu di balik kedok, apakah itu dapat dianggap laki-laki sejati dan jantan? Kalau kau tidak bersifat pengecut, bukalah kedokmu!”
“Ha, ha, ha! Ini hanyalah akal bulus yang licik untuk mengetahui rahasia orang. Eh, orang kate. Majulah bersama kawan-kawanmu, dan kalau aku sampai kalah, barulah kau akan dapat melihat dan mengenal siapakah aku sebenarnya.”
Sementara itu, Yang Giok mendapat kesempatan ketika si Kedok Hitam berbantah dengan kawanan maling itu, untuk memperhatikan kesatria perkasa ini baik-baik. Dan ia berdebar dengan hati penuh dugaan. Biarpun suaranya agak berlainan, karena suara orang ini gagah dan keras, sedangkan suara Nyo Liong lemah lembut, akan tetapi suara ketawanya dan potongan tubuhnya benar-benar mirip dengan Nyo Liong. Nyo Liongkah orang ini? Ah, tak mungkin sekali.
Pada saat itu, kelima orang anggauta Jian-jiu-pai itu telah maju menyerbu dan segera terjadi pertempuran ramai dan seru sekali. Yang Giok sekali lagi menjadi kagum melihat permainan pedang si Kedok Hitam. Dulu ia telah menyaksikan betapa dengan tangan kosong si Kedok Hitam dapat melayani Tan Kok dan dua orang kawannya.
Akan tetapi, kini lebih-lebih ia merasa kagum sekali melihat ilmu silat pedang yang luar biasa sekali gerakan-gerakannya. Juga Tan Kok merasa sangat gemas karena telah dua kali si Kedok Hitam ini menghalang-halangi maksudnya dan menggagalkan usahanya yang hampir berhasil. Maka ia berlaku nekad dan menyerang dengan hebat.
Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba si Kedok Hitam berseru keras dan panjang dan tahu-tahu semua senjata kelima orang itu telah terpental dan tangan mereka yang tadi memegang senjata telah mendapat luka dan mengucurkan darah. Mereka berteriak-teriak kesakitan dan tanpa diberi komando lagi, kelimanya lalu melompat turun dari atas genteng dan lari dalam gelap, diikuti suara ketawa yang nyaring dari si Kedok Hitam.
Yang Giok menghampiri penolongnya dan menjura. “lagi-lagi in-kong (tuan penolong) telah menolongku dari pada bahaya. Sungguh kau berbudi sekali dan tidak tahu bagaimanakah aku dapat membalas budi itu,” kata Yang Giok.
Si Kedok Hitam tersenyum. “Tak perlu bicara tentang budi kalau hendak membalas budi, kau jagalah pedang itu baik-baik !”
Yang Giok menghela napas dan tiba-tiba ia mendapat pikiran baik.
“In-kong, inilah yang menyusahkan hatiku. Kepandaianku masih rendah sekali, mana aku dapat menjaga pedang itu dengan baik? Dan kawan seperjalananku demikian bodoh dan lemah hingga berkawan dengan dia dalam melakukan perjalanan berbahaya ini, tidak ada faedahnya sama sekali. Kalau saja kau sudi menolongku, maka perbolehkanlah aku berjalan bersama-sama denganmu, agar aku tak usah merasa kuatir lagi tentang gangguan segala penjahat itu.”
Sambil berkata begini Yang Giok memandang dengan penuh harapan. Alangkah akan senangnya kalau ia bisa melakukan perjalanan dengan seorang seperti si Kedok Hitam ini, sebagai pengganti Nyo Liong yang bodoh dan lemah.
Akan tetapi si Kedok Hitam malahan tertawa geli mendengar permintaan itu. “Saudara Kwee yang baik, kalau kau tinggalkan Nyo kongcu dan pergi dengan aku, bukankah itu akan melukai perasaan Nyo kongcu dan mungkin membuat dia berduka?”
“Biarlah, hal itu adalah tanggung jawabku!” jawab Yang Giok, dan pula, jika ia tidak ikut aku pergi melakukan perjalanan ini, keselamatannya takkan terancam. Aku selalu merasa kuatir, karena kalau sampai terjadi sesuatu, ia takkan berdaya dan kalau sampai ia mendapat luka celaka, bagaimana aku harus mempertanggung jawabkannya di depan Nyo wan-gwe?”
Sekali lagi si Kedok Hitam tertawa, “Kau tidak tahu, saudara Kwee bahwa sebenarnya Nyo kongcu adalah seorang sahabat baikku, maka aku tak sampai hati membuat ia berduka. Belajarlah kau berlaku sabar dan tenang. Nah, selamat tinggal!” Setelah berkata demikian, si Kedok Hitam lalu berkelebat dan lenyap dari situ.
Yang Giok merasa kecewa sekali, akan tetapi ia teringat akan kecurigaannya tadi dan akan dugaannya bahwa si Kedok Hitam ini mirip-mirip Nyo Liong. Maka cepat-cepat ia melompat turun dan menghampiri kamar pemuda itu. Ia dorong-dorong pintunya, akan tetapi agaknya terkunci dari dalam, maka dengan jalan memutar ia berhasil melompat masuk ke dalam kamar dari lubang jendela.
Dan apa yang ia lihat membuat ia menggertakkan gigi karena mendongkol. Nyo Liong sambil berselimut nampak tidur nyenyak dan mendengkur.
Ketika Yang Giok hendak meninggalkan kamar itu, tiba-tiba Nyo Liong menggeliat dan terjaga dari tidurnya. Ia serentak bangun dan duduk sambil memandang kepada Yang Giok dengan mata masih mengantuk. “Eh, saudara Yang Giok. Kau di sini ....?? Dari mana, bagaimana kau bisa masuk?” Ia lalu memandang ke arah jendela yang terbuka.
“Eh, tidak ada apa-apa, Liong-ko. Aku hanya hendak melihat kalau-kalau ada penjahat memasuki kamarmu!”
“Ah, kau baik sekali,” kata Nyo Liong. Akan tetapi Yang Giok dengan mendongkol telah melompat keluar dan langsung memasuki kamarnya sendiri. Hatinya kecewa karena tidak mungkin si Kedok Hitam yang menarik hati dan gagah perkasa itu dengan Nyo Liong yang malas dan lemah adalah satu orang! Tak mungkin! Tapi benarkah bahwa si Kedok Hitam itu adalah sahabat Nyo Liong? Orang itu telah mengakui dan dari Nyo Liong ia mungkin akan dapat mengetahui siapa adanya si Kedok Hitam sebenarnya. Kalau saja ia dapat berkenalan dengan dia ....?
Pada keesokan harinya, Yang Giok menuturkan pengalamannya semalam, dan Nyo Liong hanya berkata, “Untung sekali ada si Kedok Hitam yang menolong!”
“Apakah kau kenal kepadanya?” Yang Giok bertanya dengan pandangan tajam.
Nyo Liong termenung sejenak, lalu berkata, “Sebetulnya hal ini adalah rahasia, akan tetapi kepadamu baiklah aku berterus terang bahwa dia memang seorang kawan baikku,”
“Siapakah dia sebenarnya dan siapa pula namanya? Apakah kau tahu di mana tempat tinggalnya?”
“Eh, eh, agaknya kau tertarik sekali kepadanya, kawanku?” tanya Nyo Liong dan tiba-tiba saja tak dapat dicegah lagi, wajah Yang Giok berubah marah.
“Siapa tertarik? Aku telah dua kali ditolong olehnya, bukanlah wajar kalau aku hendak mengetahui nama dan tempat tinggalnya?” jawabnya bersungguh-sungguh.
Melihat Yang Giok menjadi marah, Nyo Liong tersenyum dan berkata, “Aku sendiripun hanya kenal dia sebagai si Kedok Hitam saja. Sudahlah, jangan kita bicarakan lagi halnya, lebih baik kita percepat perjalanan ini agar segera sampai di tempat tujuan kita.”
“Masih jauhkah puncak Go-bi-san yang kita tuju itu?” tanya Yang Giok.
“Kalau melalui jalan raya, paling cepat memakan waktu sebulan. Akan tetapi, aku mengetahui sebuah jalan yang lebih dekat, Cuma saja, jalan ini karena bukan jalan umum, agak sukar dan melalui hutan-hutan lebat.”
“Tidak apa, lebih baik kita ambil jalan terdekat,” kata Yang Giok.