Tiba-tiba Nyo Liong berkata kepada Yang Giok. “Saudara Kwee, mari kita bersembunyi. Cepat!!”
Tanpa menanti jawaban, ia lalu memegang lengan Yang Giok dengan tangan kanan dan dengan tangan kiri ia kendalikan kudanya membelok ke kiri dan bersembunyi di balik tetumbuhan yang tebal dan gelap. Yang Giok heran sekali akan tetapi ia tidak membantah dan ikut bersembunyi. Mereka turun dari kuda dan sambil mengelus-elus leher kudanya. Nyo Liong berkata, “Mudah-mudahan kuda kita tidak akan mengeluarkan ringkikan.” Iapun mengelus-elus leher kuda Yang Giok.
Baru saja Yang Giok hendak bertanya, tiba-tiba telinganya dapat menangkap suara kuda yang dilarikan cepat dari belakang dan tak lama kemudian tampaklah kedua perwira tadi dengan muka marah sekali memacu kuda mereka lewat di jalan yang mereka lalui tadi. Setelah mereka pergi jauh, Yang Giok hendak bertanya, akan tetapi Nyo Liong menggunakan jari tangan untuk memberi isyarat di depan mulut hingga Yang Giok menunda maksudnya. Mereka bersembunyi untuk beberapa lama lagi, sampai tak lama kemudian, terdengar pula suara kaki kuda dilarikan perlahan.
Kedua perwira itu ternyata telah kembali dan terdengar mereka bercakap-cakap dengan suara mendongkol. Ketika mereka lewat di situ, Yang Giok dapat menangkap suara percakapan mereka.
“Kurang ajar benar! Pemuda baju biru itu telah menipu kita! Kalau aku dapat membekuk batang lehernya, tentu akan kupenggal kepalanya!” terdengar Thio Sam berkata.
“Hm, akan kubeset kulit mukanya!” Ciu Gin Hok bersungut-sungut.
Yang Giok memandang kepada Nyo Liong dengan muka heran dan ia menduga-duga mengapa kedua orang itu marah kepada Nyo Liong, karena yang dimaksudkan dengan pemuda baju biru tentulah Nyo Liong. Setelah kedua perwira itu pergi jauh, barulah Nyo Liong tertawa dengan senang hingga tubuhnya tergoncang-goncang.
“Eh, sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa mereka begitu marah?” tanya Yang Giok.
“Ha, ha! Tentu saja mereka marah karena isi bungkusan yang kuberikan kepada mereka tadi hanya berisi batu-batu hitam saja. Ha, ha!”
Yang Giok ikut tertawa dan diam-diam ia memuji kecerdikan pemuda ini karena ia menyangka bahwa ketika ia sedang bertempur tadi, tentu dengan diam-diam Nyo Liong telah mengganti isi bungkusan dengan batu-batu kecil.
Dengan gembira mereka melanjutkan perjalanan.
Pada suatu hari, Yang Giok dan Nyo Liong tiba di kota Tiang-hu. Mereka bermalam di sebuah rumah penginapan yang terbesar di kota itu dan seperti biasa apabila bermalam di rumah penginapan, Yang Giok minta dua kamar untuk mereka. Hal ini berkali-kali telah membuat Nyo Liong merasa mendongkol sekali. Kali ini ia marah-marah ketika ia berkata.
“Saudara Yang Giok, kau ini benar-benar aneh! Mengapa kita harus berpisah kamar? Bukankah lebih enak kalau kita berdua bermalam dalam satu kamar hingga kita dapat bercakap-cakap?”
Hampir saja Yang Giok lupa akan keadaan dirinya dan memaki, akan tetapi ia segera ingat bahwa pada saat itu ia adalah seorang pemuda maka ia hanya berkata, “Liong-ko sudah berkali-kali aku berkata padamu bahwa aku tidak bisa tidur berdua. Kalau ada orang lain tidur di pembaringanku, aku takkan dapat tidur nyenyak.
“Aneh kau ini, seperti seorang perempuan saja. Kalau kita sekamar, bukanlah akan lebih aman dan kita dapat saling menjaga? Pula sebelum tidur kita dapat bermain thioki lebih dulu.”
“Sudahlah, Liong-ko, perlu apa meributkan soal kecil ini? Kalau kau ingin main catur, akan kulayani sampai kita mengantuk dan pergi tidur.”
Nyo Liong masih hendak mengomel, akan tetapi Yang Giok menyetopnya sambil berkata, “Liong-ko, aku pernah dengar dari Liu-ithio, bahwa kau telah dipertunangkan dengan Liu siocia. Pernahkah kau bertemu dengan dia?”
Wajah Nyo Liong memerah. “Belum pernah, dan takkan pernah bertemu,” jawabnya singkat.
Yang Giok memandang heran. “Takkan pernah bertemu? Apa maksudmu? Bukankah kelak akan bertemu juga?”
Nyo Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak mau bertemu dengan dia!”
“Loh! Kau agaknya marah dan benci kepadanya, mengapa?”
“Tidak ada yang marah atau membenci. Aku belum pernah bertemu muka dengannya, bagaimana aku bisa marah atau benci? Soalnya ialah, aku dipertunangkan dengan seorang gadis yang belum pernah ku lihat.”
“Jadi kau menolak ikatan jodoh yang dilakukan oleh orang tuamu itu?”
“Menolak terang-terangan sih tidak berani, akan tetapi ...... ah, untuk apa kita bicarakan soal ini? Apakah kau sudah pernah melihatnya, saudara Yang Giok?”
“Melihat siapa? Kau maksudkan melihat Liu-siocia? Tentu saja sudah.”
“Apakah ia ..... cantik?”
Yang Giok menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak, tidak cantik malah menurut pendapatku, ia buruk sekali.”
Nyo Liong menghela napas, “Mengapa orang tuaku begitu bodoh? Dasar aku yang bernasib buruk, harus dijodohkan dengan seorang gadis buruk pula!”
Diam-diam Yang Giok tertawa geli di dalam hati.
Tiba-tiba Nyo Liong teringat akan sesuatu dan ia bertanya, “Serupa siapakah gadis she Liu itu? Apakah serupa dengan ayahnya?”
Yang Giok yang tidak menyangka sesuatu lalu mengangguk dan berserilah wajahnya Nyo Liong. “Kalau begitu, kau bohong! Kalau ia serupa ayahnya, tentu ia cantik!”
Yang Giok terkejut. “Eh, eh ..... bagaimana kau bisa menyangka begitu?”
Nyo Liong tertawa senang. “Lupakah kau akan ucapan perwira dulu itu? Sebelum bertempur, bukanlah ia katakan bahwa kau serupa benar dengan Pangeran Liu Mo Kong ? Nah, kalau Liu-siocia serupa ayahnya, itu berarti bahwa ia serupa dengan kau, dan kalau ia serupa dengan kau, tak dapat tidak tentu ia cantik!”
Wajah Yang Giok memerah. Ia merasa lega karena Nyo Liong tidak mengetahui rahasianya seperti yang ia kuatirkan tadi, akan tetapi ia merasa bangga karena pujian pemuda itu langsung tertuju kepada dirinya.
“Hm, kau ini aneh-aneh saja, Liong-ko!” Hanya itu kata-katanya dan selanjutnya ia tak banyak bercakap-cakap karena hatinya masih berdebar mendengar pujian pemuda ini.
“Saudara Yang Giok, kalau kau tidur di kamar lain, harap kau berhati-hati, karena betapapun juga, pihak lawan tentu takkan tinggal diam saja. Kalau terjadi apa-apa, harap kau suka berteriak agar aku dapat mendengarnya.”
Yang Giok diam-diam merasa girang karena biarpun lemah ternyata pemuda ini berhati baik dan ingin sekali menolongnya, maka ia berkata dengan sungguh-sungguh, “Liong-ko, kau sungguh baik hati. Aku akan berlaku sangat hati-hati, jangan kau khawatir.”
“Pedang sudah berada padaku, tentu mereka itu tidak akan menduga sesuatu, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah keselamatanmu. Kalau mereka tak bisa mendapatkan pedang itu dan karenanya marah padamu hingga mereka mencelakakan kau, aku takkan memberi ampun kepada mereka!” Kata-kata Nyo Liong bersemangat sekali hingga Yang Giok merasa makin terharu.
“Liong-ko, mengapa kau begini baik dan sangat memperhatikan keselamatanku?” tak terasa lagi ia bertanya.
Pemuda itu memandangnya tajam dan berkata dengan suara sungguh-sungguh pula. “Saudaraku yang baik, terus terang saja, aku sangat suka kepadamu dan menganggap kau sebagai kawan terbaik. Dan pula, jangan kau lupa, mukamu serupa benar dengan tunanganku bukan?” ia tambahkan dengan jenaka hingga lagi-lagi wajah Yang Giok memerah, maka ia lalu pergi meninggalkan pemuda itu ke dalam kamarnya.
Malam hari itu sunyi sekali karena habis turun hujan. Hawa di luar rumah dingin dan orang-orang yang berada di dalam rumah sore-sore telah tidur nyenyak di bawah selimut. Akan tetapi dua orang di dalam kamar terpisah dalam penginapan itu tak dapat tidur.
Nyo Liong tak dapat tidur karena ia merasa kuatir akan datangnya musuh-musuh yang mengejar mereka, sedangkan Yang Giok tak dapat tidur karena memikirkan Nyo Liong. Pemuda itu baik sekali dan ia mulai merasa suka kepadanya. Ternyata bahwa pemuda itu juga suka sekali kepadanya, walaupun ia tidak tahu bahwa pemuda yang menjadi kawannya itu sebetulnya tunangannya sendiri.
Yang Giok dapat membayangkan bahwa kalau Nyo Liong tahu akan penyamaran itu, tentu pemuda itu akan merasa makin suka. Hal ini dapat ia pastikan dan karenanya membuat hatinya berdebar girang dan malu. Akan tetapi, masih terdapat sedikit kekecewaan di dalam dadanya kalau ia memikirkan bahwa pemuda itu hanyalah seorang sasterawan yang lemah.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara kaki menginjak genteng di atas kamarnya. Cepat ia memadamkan api lilin yang masih bernyala di kamar itu dan sambil membawa pedangnya, ia diam-diam membuka daun jendela. Dengan penuh perhatian ia mendengarkan dan tahu bahwa di atas genteng itu sedikitnya terdapat empat atau lima orang, maka hatinya berdebar keras.
Dengan tindakan perlahan ia lalu keluar dari pintu kamarnya dan menghampiri kamar Nyo Liong. Ia ketuk-ketuk pintu pemuda itu dengan perlahan, akan tetapi tak terdengar jawaban. Akhirnya ia meninggalkan pintu kamar itu dan langsung menuju ke belakang. Setelah tiba di pekarangan belakang ia lalu melompat naik ke atas genteng dan benar saja, di atas rumah penginapan itu berdiri lima orang dengan senjata di tangan.
“Ah, baik sekali kau sudah mengetahui kedatangan kami, anak muda!” terdengar seorang di antara mereka berkata ketika melihat kedatangan Yang Giok. Ternyata yang bicara ini adalah si Kate Tan Kok yang hebat dan yang dulu pernah mencuri Thian Hong Kiam. Diam-diam Yang Giok merasa terkejut sekali, karena baru menghadapi si Kate seorang ini saja sudah sangat berat baginya, apalagi kalau si Kate ini masih dibantu oleh empat orang lain. Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kejerihannya dan berkata dengan suara lantang.
“Orang she Tan! Kau mengejar-ngejarku sampai ke sini dengan maksud apa? Kita tak pernah bermusuhan, mengapa kau terus mendesak?”
“Ha, ha, ha ! Coba lihat kawan-kawan! Alangkah berani dan tabahnya anak muda ini! He, anak muda, ketahuilah, kami dari Jian-jiu-pai selamanya tidak mau bekerja kepalang tanggung. Kami telah mengambil keputusan hendak mendapatkan pedang Thian Hong Kiam dan sebelum usaha kami ini berhasil, kami takkan tinggal diam. Lekas serahkan pedang itu dan jangan banyak membantah, karena kau sudah mengetahui sendiri kehebatanku, bukan?”
Yang Giok merasa heran juga mengapa mereka ini demikian berdungguh-sungguh hendak merampas pedang pusaka kerajaan Tang itu, maka ia bertanya. “Pedang itu adalah pedang kerajaan yang tidak banyak harganya, mengapa kalian ini bangsa ya-heng jin (orang jalan malam atau maling-maling) bersusah payah hendak mendapatkannya?”
“Ha, ha, agar jangan kau merasa kecewa, biarlah kuceritakan kepadamu sebab-sebabnya. Ada seorang Pangeran yang ingin sekali mendapatkan pedang itu dan bersedia menebus sebanyak dua puluh lima ribu tail perak jika kami bisa mendapatkan pedang itu!”
Terkejutlah Yang Giok. “Siapa Pangeran itu? Dan untuk apa ia menghendaki Thian Hong Kiam?”
Tan Kok tertawa menyeringai, “Jangan kau hendak permainkan aku, anak muda. Aku tidaklah begitu bodoh seperti yang kau kira. Kalau kau kuberitahu nama orang itu, tentu kau sendiri akan pergi ke sana dan menerima hadiah itu, ha, ha, ha!”