Halo!

Pedang Keramat Chapter 08

Memuat...

“Anak muda, ada hubungan apa engkau dengan penjahat Liu Mo Kong?” tiba-tiba orang itu bertanya kepada Yang Giok sambil menuding dengan jari telunjuknya.

Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba ini, berdebarlah hati Yang Giok, akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan menjawab,

“Eh, tuan, apakah maksud pertanyaanmu yang kurang ajar ini?”

Orang itu menyengir dan memandang rendah. “Mukamu hampir sama dengan seorang yang bernama Liu Mo Kong, dan kau patut menjadi puteranya. Akan tetapi orang itu tidak mempunyai putera, maka kalau kau masih keluarganya, tentu kau adalah kemenakannya. Katakanlah terus terang, masih ada hubungan apa kau dengan Liu Mo Kong?”

Yang Giok tak dapat menjawab, karena ia tidak sudi mengaku dan tak mau pula menyangkal. Nyo Liong tahu bahwa mereka berdua ini tentu bukan orang-orang yang mempunyai maksud baik, maka ia lalu bertanya.

“Jiwi, sebetulnya kami tidak mengerti ucapanmu itu. Siapakah adanya Liu Mo Kong yang jiwi sebutkan tadi dan mengapa kalian menyangka bahwa sobatku she Kwee ini keluarganya?”

Orang itu memandang tajam kepada Nyo Liong, kemudian ia berkata. “Memang muka pemuda ini hampir sama dengan Pangeran Liu Mo Kong.”

“Kalau begitu, Pangeran Liu itu tentu berwajah tampan?” kata Nyo Liong tersenyum.

“Pangeran Liu Mo Kong adalah seorang pengkhianat, pencuri, dan penjahat besar!” kata orang itu dengan mata terbelalak merah.

Sepasang mata Yang Giok yang bagus itu mengeluarkan cahaya marah mendengar ini. “Apa maksudmu mengucapkan makian-makian kotor di depan kami?” tegurnya.

“Kau peduli apa? Memang Pangeran bangsat she Liu itu bukan orang baik-baik dan kalau saja aku dapat bertemu dengan dia, tentu dia akan kupenggal kepalanya, kubeset kulitnya dan kuinjak-injak kepalanya!”

“Bangsat rendah!” Yang Giok memaki karena tak dapat menahan sabarnya pula. “Mulutmu yang kotor itu bawa pergi jauh-jauh dari kami!”

“Ha, ha, ha! Kenapa kau marah? Kalau kau bukan keluarganya, mengapa marah mendengar aku memaki-makinya?” orang itu lalu memandang tajam dan sikapnya mengancam sekali.

Sebelum Yang Giok menjawab, Nyo Liong cepat berkata. “Sobat, bukankah kau tadi mengatakan bahwa wajah kawanku ini serupa benar dengan wajah Pangeran Liu? Nah, tentu saja ia marah kalau kau maki-maki seorang yang berwajah hampir sama dengannya!”

“Kalau memang ia bukan keluarganya, perduli apa? Aku memaki dangan mulutku sendiri dan sama sekali tidak menyinggung-nyinggungnya!” kata orang itu dengan marah.

Akan tetapi Yang Giok berkata keras, “Pendeknya kau tak usah memamerkan kepandaianmu memaki dan bermulut kotor di depanku dan lekas pergi dari sini! Mari, Liong-ko, kita pergi!”

Akan tetapi sebelum ia dan Nyo Liong dapat memajukan kudanya, orang itu mendahului dan menghadang mereka.

“Anak muda, mukamu mencurigakan, biarlah kami menggeledahmu lebih dulu. Turunlah dari kuda dan biarkan kami memeriksa barang-barangmu!”

“Eh, kalian ini orang-orang apa dan ada hak apakah memeriksa barang-barang kami? Apakah kalian ini hendak merampok?” Yang Giok membentak.

“Jangan banyak cakap!” Orang itu berkata marah. “Ketahuilah, kami adalah perwira-perwira kerajaan yang sedang menjalankan tugas. Lekas kamu berdua turun dari kuda!” Perwira itu dan kawannya lalu mendahului turun dari kuda dan mereka menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon. Yang Giok memberi tanda dan isyarat mata kepada Nyo Liong, kemudian sambil mencabut pedang, Yang Giok melompat turun.

“Bangsat-bangsat rampok, sebelum kalian menyentuh barang-barangku lebih dulu hadapilah pedang ini!”

“Ha, ha! Kau galak benar, anak muda. Baiklah, mari kita main-main sebentar!” Perwira itu bersama kawannya sambil tertawa mengejek lalu mencabut pedang dan maju bersama-sama. Akan tetapi, Nyo Liong lalu berkata, “Tahan dulu!”

Setelah turun dari kuda pemuda ini lalu membawa sebuah bungkusan kecil yang dikeluarkan dari buntalan pakaiannya, kemudian ia membawa bungkusan itu kepada mereka. Sambil membuka bungkusan kecil yang berisi emas dan permata mahal itu, ia berkata,

“Kalian berdua seharusnya malu untuk maju mengeroyok kawanku ini. Lihatlah, barang-barang ini kujadikan taruhan. Kalian boleh maju seorang demi seorang, jangan main keroyokan. Kalau di antara kalian ada yang mampu mengalahkan kawanku ini, barang-barangku ini boleh kalian ambil. Akan tetapi, kalau kalian kalah, kalian anggap saja sebagai pelajaran agar lain kali jangan suka mengganggu orang.”

Bukan main marah kedua orang perwira itu. Yang tadi bicara dengan Yang Giok lalu berkata dengan suara keras, “Anak muda, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Aku adalah Ciu Gin Hok dan kawanku ini adalah suteku Thio Sam, dan kami adalah perwira-perwira kerajaan yang berkedudukan tinggi, bukan bangsa rampok. Akan tetapi karena kau sendiri yang mengajak bertaruh, jangan kau anggap kami curang kalau nanti kawanmu ini kalah dan barang taruhanmu kami ambil.”

“Tentu saja, dan sekarang kau mulailah. Hadapilah kawanku she Kwee ini seorang demi seorang.”

Perwira kedua yang bernama Thio Sam segera maju dengan pedang di tangan karena ia hendak mendahului suhengnya mengalahkan Yang Giok agar barang taruhan yang mahal itu dapat ia miliki.

“Majulah anak muda,” katanya sambil memutar-mutar pedangnya.

Biarpun merasa mendongkol sekali kepada Nyo Liong yang menganggapnya sebagai domba aduan untuk bertaruh, namun Yang Giok tak berkata apa-apa dan segera memutar pedangnya menyerang Thio Sam. Gerakan pedangnya cepat dan lincah. Karena hatinya gemas sekali terhadap para perwira yang memaki-maki ayahnya itu, Yang Giok lalu menyerang dengan sengit. Akan tetapi Thio Sam adalah seorang perwira kerajaan yang berkepandaian tinggi hingga ia dapat menangkis serangan Yang Giok dan balas menyerang tak kalah serunya.

Kiam-hoat (ilmu pedang) Yang Giok memang bagus dan hebat, dan biarpun terhadap Thio Sam ia kalah tenaga, akan tetapi ia menang gesit dan ginkangnya lebih tinggi, maka dengan geraka-gerakan tubuh yang cepat serta gerakan-gerakan pedang yang tak terduga, ia dapat mengurung lawannya. Setelah bertempur kira-kira tiga puluh jurus, Thio Sam mulai terdesak hebat dan keadaannya berbahaya sekali.

Melihat keadaan sutenya, Ciu Gin Hok lalu berseru, “Sute, mundurlah kau!” Dan ia lalu menyerbu dan menangkis pedang Yang Giok. Thio Sam terpaksa melompat ke belakang dan berdiri sambil terengah-engah dan heran karena tak disangkanya sama sekali bahwa kiam-hoat pemuda sasterawan yang tampan itu demikian hebat.

“Bagus, saudara Kwee! Seorang telah dapat dikalahkan! Ha, ha!” Nyo Liong bertepuk tangan memuji hingga Thio Sam merasa mendongkol sekali. Akan tetapi ia tak dapat membalas ejekan ini, dan ia hanya melihat pertempuran yang berlangsung antara suhengnya dan pemuda itu dengan harap-harap cemas.

Ternyata bahwa ilmu pedang orang she Ciu itu biarpun sejalan dengan ilmu pedang Thio Sam, akan tetapi gerakannya jauh lebih cepat dan kuat. Yang Giok terkejut sekali dan ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, akan tetapi Ciu Gin Hok menerjang dengan serangan-serangan berbahaya. Yang Giok diam-diam mengeluh dan merasa khawatir sekali. Lagi-lagi ia merasa kecewa karena Nyo Liong tak dapat membantunya dan “tunangan” yang lemah itu hanya bisa bertaruh dan menonton.

Setelah mempertahankan diri selama lima puluh jurus lebih, Yang Giok mulai lelah dan kegesitannya berkurang. Lawannya menggunakan ilmu pedang dari cabang Kun-lun untuk mendesaknya dan kini Yang Giok hanya dapat menangkis saja sambil mundur.

“Sudahlah, sudahlah! Kami mengaku kalah !” Nyo Liong berkata, sambil maju menghampiri mereka dan membawa bungkusannya.

Ciu Gin Hok tertawa gelak-gelak dan menyambar bungkusan di tangan Nyo Liong. “Sekarang kau baru ketahui kehebatanku!” katanya sambil tertawa-tawa lalu mengajak Thio Sam pergi dari situ.

Yang Giok memandang kepada Nyo Liong dengan gemas dan marah.

“Bagus, bagus, kau tidak membantuku bahkan enak-enak bertaruh dan menganggap aku sebagai ayam aduan!” ia mengomel.

“Saudara Yang Giok, kulakukan hal itu untuk menyimpangkan perhatian mereka agar pedang kita jangan sampai terampas oleh mereka.” Nyo Liong membela diri.

Yang Giok terpaksa membenarkan ucapan ini. “Marilah kita lanjutkan perjalanan kita,” katanya dengan merengut.

Nyo Liong tersenyum dan melanjutkan perjalanan dengan masih tersenyum-senyum, hingga beberapa kali Yang Giok memandang kepadanya dengan heran dan mendongkol.

“Kau agaknya senang sekali melihat aku kalah oleh perwira itu!” katanya.

“Bukan begitu, aku hanya geli memikirkan betapa mereka akan sangat marah kalau membuka bungkusan barang-barang taruhan tadi. Kau cukup gagah berani, sahabatku. Tentu saja tadi kau kalah karena kau lelah setelah mengalahkan Thio Sam.

Yang Giok diam saja, lalu ia mempercepat jalan kudanya hingga Nyo Liong terpaksa mengejarnya. Ah, celaka benar, pikir Yang Giok. Pemuda tunangannya ini benar-benar tidak tahu apa-apa tentang persilatan. Tadi ia kalah oleh Ciu Gin Hok karena memang kalah tinggi kepandaiannya, bukan karena lelah seperti yang diduga Nyo Liong.

Akan tetapi, apa gunanya menerangkannya? Biarpun tunangannya itu tidak tahu siapa dia sebenarnya, namun diam-diam Yang Giok merasa malu dan kecewa karena ia dikalahkan orang di depan mata Nyo Liong.

Post a Comment