Yang Giok menghela napas. Alangkah gagah dan berbudi orang itu. Ia lalu melayang turun dan disambut oleh Nyo wan-gwe dengan seruan heran.
“Kwee hiante, tak kusangka bahwa kau adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bagaimana hiante? Mencuri apakah penjahat-penjahat itu?”
Yang Giok lalu minta supaya semua pelayan mengundurkan diri sebelum memberi keterangan. Kemudian ia mengajak orang tua itu memasuki ruang belakang. Sebelum ia menceritakan keadaannya kepada Nyo wan-gwe, muncullah Nyo Liong. Pemuda ini dengan takut-takut lalu bertanya,
“Sudah pergikah penjahat-penjahat tadi? Heran sekali, mereka itu datang hendak mencuri apa? Ayah, barang apakah yang mereka curi?”
Melihat munculnya pemuda tunangannya ini, diam-diam Yang Giok membandingkannya dengan si Kedok Hitam, dan seballah melihat Nyo Liong yang tiada gunanya ini. Ia tidak memperdulikan pemuda itu dan mulai menceritakan kepada Nyo wan-gwe tentang pedang Thian Hong Kiam.
“Menurut pesan Pangeran Liu, pedang ini harus disembunyikan dan jangan sampai terjatuh ke dalam tangan siapapun, karena pedang ini hanya boleh diberikan kepada seorang yang kelak akan menjadi kaisar yang bijak di negeri kita. Banyak sekali pihak yang hendak merampasnya, bahkan ada utusan dari kaisar yang menghendaki kembalinya pedang ini, akan tetapi Pangeran Liu mempunyai anggapan bahwa pedang itu tidak pantas berada di dalam tangan kaisar lalim itu.”
“Itu benar! Benar dan tepat sekali! Memang Pangeran Liu seorang yang bijaksana dan baik!” tiba-tiba Nyo Liong berkata dan mau tidak mau Yang Giok merasa senang juga mendengar betapa pemuda itu memuji-muji ayahnya.
“Habis pedang yang menimbulkan perebutan ini harus diserahkan kepada siapa?” tanya Nyo wan-gwe yang merasa kuatir kalau-kalau akan ada banyak orang jahat yang datang menyerbu gedungnya.
“Paling tepat harus diserahkan kepada pemimpin besar Oey Couw!” kata Nyo Liong.
“Mengapa demikian pikiranmu?” tiba-tiba Yang Giok bertanya sambil memandang kepada Nyo Liong dengan mata tajam hingga Nyo Liong terkejut melihat pandangan mata ini.
“Karena .... karena ......bukankah sekarang dia yang menjadi pemimpin dan menduduki istana kerajaan?” katanya gagap.
“Biarpun Oey Couw telah menduduki istana, namun dia bukanlah seorang yang mengerti tentang pemerintahan. Mungkin ia adalah seorang pemimpin pemberontak yang cakap dan mungkin ia pandai tentang ilmu perang, akan tetapi aku merasa sangsi apakah ia juga pandai tentang ilmu tata negara!”
“Habis, kalau menurut pikiranmu, saudara Kwee, pedang ini harus diberikan kepada siapa? Apakah kepadaku?” Nyo Liong berkelakar.
Nyo Seng Hwat menegur puteranya, “Liong jangan kau main-main!”
Akan tetapi, alangkah herannya orang tua ini ketika Yang Giok berkata sambil mengangguk-angguk dan memandang kepada Nyo Liong, “Ya, pedang ini hendak kuberikan kepadamu!”
“Kwee hiante, jangan main-main dalam perkara besar ini!” Nyo wan-gwe menegur Yang Giok.
“Saudara Yang Giok, jangan kau memperolok-olok aku!” kata Nyo Liong.
“Aku tidak main-main, memang untuk sementara waktu ini kuharap saudara Nyo Liong suka menyimpan pedang ini untukku. Kau adalah seorang sasterawan, saudara Nyo Liong, dan takkan ada orang yang akan menduga bahwa pedang ini berada di tanganmu. Kalau aku yang membawanya, maka tentu aku selalu akan dikejar-kejar dan akhirnya pedang pusaka ini takkan dapat kupertahankan lagi. Demi kepentingan kerajaan dan demi memenuhi pesan Pangeran Liu, kuharap kau tidak menolaknya.”
“Tapi ..... bukankah itu berbahaya sekali bagi keselamatannya?” tanya Nyo wan-gwe dengan kuatir.
“Jangan takut, lopeh. Ada aku yang menjaga di sini, dan pula masih ada seorang kawan baikku yang gagah perkasa dan yang ikut menjaganya dengan diam-diam.”
“Aku sudah menyaksikan kepandaianmu ketika kau melompat naik ke atas genteng tadi, saudara Yang Giok, akan tetapi tidak tahu bagaimanakah kepandaian kawanmu ini, dan siapakah dia?” tanya Nyo Liong.
“Kepandaian kawanku ini jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku sendiri, dan ia tidak lain adalah si Kedok Hitam!”
Nyo Seng Hwat terkejut sekali. “Apa? Kau maksudkan Sasterawan Kedok Hitam yang tersohor itu yang menjadi kawanmu? Ah, hiante, mengapa kau datang dari kota raja ternyata selain memiliki kepandaian bu yang tinggi juga bergaul dengan segala orang kasar dari dunia kang-ouw ? Ah, celaka ..... celaka .... Kalau aku tahu akan begini jadinya .... ah .....
Tak enak sekali hati Yang Giok mendengar ucapan “calon mertuanya” ini, maka ia segera menjawab.
“Nyo lopeh, jangan kau kuatir tentang hal ini, karena sesungguhnya aku hanya ikut mondok di sini untuk bersembunyi sementara waktu saja. Akan tetapi, karena sekarang orang-orang yang mengejar Thian Hong Kiam telah mengetahui tempat tinggalku di sini, tiada gunanya lagi aku berdiam lebih lama di sini. Aku hendak pergi mencari tempat kediaman sucouw (kakek guru) dan menyerahkan pedang ini kepada sucouw agar untuk sementara waktu ini Thian Hong Kiam disimpan dengan aman oleh sucouw dan takkan dapat diganggu atau dirampas oleh orang-orang yang menginginkannya.”
“Itu baik sekali Kwee hiante,” jawab Nyo Seng Hwat cepat-cepat, sambil memandang wajah Yang Giok dengan mata tajam, “memang, pedang pusaka yang sangat berharga ini seharusnya berada di bawah perlindungan seorang yang berilmu tinggi hingga orang lain tidak berani mengganggunya. Bukan aku tidak suka kau tinggal di sini, akan tetapi dengan adanya pedang ini, maka aku yang bertubuh lemah dan telah tua ini, akan selalu merasa kuatir dan takut akan serangan penjahat seperti yang telah terjadi malam tadi.”
“Dimanakah tempat tinggal sucouwmu itu, saudara Yang Giok?” Nyo Liong bertanya.
“Beliau adalah Kok Kong Hosiang yang bertapa di puncak Go-bi-san di sebuah kuil yang disebut Thian-hok-si. Sucouw adalah guru dari Pangeran Liu sendiri.”
“Eh, eh kalau begitu kau adalah murid Pangeran Liu?”
Yang Giok mengangguk. “Ya, Ie-thio (paman) juga suhuku.”
“Saudara Yang Giok orang-orang yang mengejarmu telah tahu bahwa kau membawa pedang Thian Hong Kiam, maka apakah tidak berbahaya kalau kau membawa-bawa pedang itu ke Go-bi-san?”
Yang Giok menghela napas. “Apa boleh buat, aku harus berani menghadapi bahaya itu.”
“Kalau begitu, aku ikut pergi dengan kau!” kata Nyo Liong dengan suara tetap hingga baik Yang Giok maupun Nyo Seng Hwat memandang heran.
“Liong, orang selemah kau ini akan dapat membantu apa kepada Kwee hiante? Kau hanya akan menyukarkan saja, dan pula, apa perlumu ikut pergi ke tempat yang sangat jauh itu?” kata ayahnya.
“Saudara Nyo Liong, biarpun maksudmu itu baik sekali, akan tetapi kata-kata ayahmu betul juga. Biarlah aku sendiri menghadapi bahaya itu karena akulah yang bertugas, bukan kau,” sambung Yang Giok.
Nyo Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Agaknya kau lupa, saudara Yang Giok bahwa aku sebagai seorang sasterawan lemah justeru takkan diganggu oleh mereka itu dan jika pedang kusembunyikan di bawah pakaianku, siapakah yang akan tahu?”
Kemudian Nyo Liong berkata kepada ayahnya dengan suara memohon.
“Ayah, perkenankanlah anakmu pergi. Telah lama aku mendengar tentang keindahan pengunungan Go-bi, maka sekarang kebetulan ada kawan yang gagah perkasa, biarlah aku sekalian berpesiar ke sana meluaskan pemandangan. Jangan kuatir, ayah, aku bukan seorang gadis yang perlu dikuatirkan, dan aku tentu akan dapat menjaga diri baik-baik.”
Setelah membujuk-bujuk ayahnya dan Yang Giok, akhirnya Nyo Liong diperkenankan juga, dan diam-diam Yang Giok merasa senang juga melihat keberanian Nyo Liong yang biarpun telah tahu akan banyaknya bahaya jika berjalan bersamanya, namun tetap hendak mengawaninya ke Go-bi-san. Pula, siapa tahu kalau-kalau sucouwnya akan memberi bimbingan ilmu silat kepada pemuda tunangannya ini agar ia kelak menjadi seorang pemuda yang sedikitnya tidak begitu lemah.
Begitulah, setelah mendapat pesan banyak-banyak dari orang tuanya dan menerima uang dan pakaian, dengan naik dua ekor kuda bagus yang disiapkan oleh Nyo wan-gwe, Nyo Liong dan Yang Giok pada keesokan harinya mulai dengan perjalanan mereka ke Go-bi-san.
******
Di luar dugaan Yang Giok, ternyata Nyo Liong pemuda sasterawan yang kelihatan lemah itu pandai sekali menunggang kuda. Dan bukan itu saja, bahkan pemuda ini agaknya kenal baik jalan yang menuju ke Go-bi-san. Oleh karena itu, Yang Giok sendiri masih asing sekali dengan daerah itu, maka Nyo Liong yang menjadi petunjuk jalan dan gadis itu terpaksa menurut saja ke mana Nyo Liong membawanya.
Beberapa hari telah lewat tanpa ada gangguan dari pihak-pihak yang hendak merampas Thian Hong Kiam, hingga mereka bernapas lega. Di dalam perjalanan ini, mau tidak mau, Yang Giok selalu merasa curiga dan berkuatir kalau-kalau musuh-musuhnya dapat mengejarnya, akan tetapi ia merasa mendongkol melihat betapa Nyo Liong agaknya enak-enakan saja biarpun pedang itu berada di bawah jubahnya, tergantung di pinggang dan tertutup oleh jubahnya yang panjang.
Pemuda ini sama sekali tak pernah bicara tentang hal pedang dan orang-orang yang mungkin datang mengejar atau menghadang di jalan. Akan tetapi dengan sikap gembira ia selalu bercakap-cakap tentang pemandangan alam yang permai dan menceritakan segala macam dongeng dan sejarah yang mempunyai hubungan dengan tempat-tempat yang mereka lewati. Kalau saja hati Yang Giok tak sedang kuatir karena tugasnya itu, tentu ia akan merasa senang melakukan perjalanan bersama pemuda ini.
Sepekan kemudian, pada suatu pagi ketika mereka tiba di sebuah hutan pohon cemara yang indah, tiba-tiba dari jurusan lain mendatangi dua orang penunggang kuda yang berpakaian seperti ahli-ahli silat dengan gagang pedang nampak di belakang punggung mereka. Kedua orang ini telah berusia tiga puluh tahun lebih dan nampak sangat gagah, sedangkan dua ekor kuda tunggangan mereka juga tinggi besar dan baik.
Karena di tempat itu sunyi sekali maka pertemuan ini tentu saja menarik perhatian kedua pihak hingga mereka saling pandang dengan penuh perhatian. Bagi Nyo Liong dan Yang Giok, kedua orang itu tidak pernah mereka jumpai, akan tetapi seorang di antara mereka melihat Yang Giok, segera berseru,
“Hai, sahabat-sahabat muda, berhenti dulu!”
Nyo Liong dan Yang Giok menahan kendali kuda mereka dan orang yang menegur itu lalu mendekatkan kudanya sambil memandang wajah Yang Giok dengan mata tajam.