Yang Giok berdiri sambil menjura. “Kau ternyata baik sekali, Nyo wan-gwe, dan aku yang muda berterima kasih sekali atas kebijakanmu ini.”
“Ah, kita adalah orang-orang sekeluarga, janganlah berlaku terlalu hormat, Kwee hiante, dan jangan menggunakan sebutan wan-gwe, panggil saja lopeh (paman) kepadaku,” kata Nyo Seng Hwat yang baik hati.
Nyo wan-gwe lalu memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untuk Yang Giok dan gadis ini lalu tinggal di dalam gedung calon mertuanya dengan aman. Karena semua orang menyangka bahwa ia adalah seorang pemuda sasterawan, maka ia dapat bergaul bebas dengan Nyo Liong dan pemuda ini tiap hari mengajaknya membaca buku, menulis sajak, atau bermain thioki.
Juga seringkali Nyo Liong bertanya tentang keadaan di kota raja, hingga Yang Giok benar-benar menyangka bahwa pemuda ini adalah seorang kutu buku yang betul-betul tidak mengerti ilmu silat. Hanya dalam permainan thioki atau catur ia selalu dikalahkan oleh Nyo Liong, dan juga dalam kepandaian menulis, pemuda ini benar-benar mengagumkan.
Kalau saja Nyo Liong pandai ilmu silat tentu Yang Giok akan merasa puas sekali melihat tunangannya ini, akan tetapi karena gadis itu menyangka bahwa Nyo Liong adalah seorang yang buta silat, maka tetap saja hatinya merasa kecewa.
******
Tiga hari berikutnya, pada waktu tengah malam yang gelap gulita, ketika seisi keluarga Nyo dan tidur nyenyak, tiba-tiba di atas genteng gedung besar itu berkelebat tiga bayangan orang-orang yang gesit sekali. Mereka ini tidak lain ialah anggauta-anggauta Jian-jiu-pai atau Perkumpulan Tangan Seribu. Seorang di antara mereka terdapat si Kate Tan Kok yang hebat.
Setelah mengadakan kontak dengan para penyelidik mereka yang berada di kota Siu-bi-koan, akhirnya perkumpulan itu dapat mengetahui bahwa pemuda sasterawan yang membawa pedang Thian Hong Kiam berada di rumah Nyo wan-gwe, hingga malam itu Tan Kok dan dua orang kawan lain sengaja datang hendak mencuri pedang itu.
Dengan secara cerdik sekali mereka telah dapat mencari keterangan di mana letak kamar Yang Giok dan setelah melompat turun, mereka dengan mudah dapat membongkar daun jendela kamar Yang Giok.
Akan tetapi, semenjak tinggal di gedung itu, Yang Giok selalu berlaku hati-hati dan waspada, maka iapun dapat mendengar ketika jendela kamarnya dibongkar orang. Dengan pedang di tangan, ketika daun jendelanya terbuka, gadis ini melompat dan menerjang melalui jendela sambil memutar pedangnya dan berseru.
“Maling hina, kau datang mencari mampus!”
Melihat bahwa “pemuda sasterawan” itu telah mengetahui kedatangan mereka, maka ketiga maling itu lalu mencabut senjata masing-masing dan maju mengeroyok. Tan Kok yang memiliki kepandaian hebat itu kini bersenjata sebatang ruyung lemas sedangkan kedua kawannya bersenjata golok. Gerakan-gerakan mereka cukup hebat hingga baru beberapa jurus saja Yang Giok telah terdesak hebat.
Tan Kok maklum bahwa kedua kawannya cukup tangguh menghadapi Yang Giok, maka ia lalu melompat masuk ke dalam kamar itu. Yang Giok yang tahu akan maksud Tan Kok, hendak maju menghalangi, akan tetapi kedua lawannya mendesak hebat dengan golok mereka hingga ia tidak berdaya dan terpaksa menghadapi mereka ini sambil memutar-mutar pedangnya dengan gemas.
Karena bingung dan kuatir sekali kalau-kalau pedang Thian Hong Kiam akan tercuri, Yang Giok lau berteriak-teriak.
“Tolong, tolong, ...... maling ....!!”
Akan tetapi, Tan Kok sudah berhasil mendapatkan pedang Thian Hong Kiam yang disembunyikan dalam buntalan pakaian Yang Giok dan maling kate ini nampak telah melompat keluar dari jendela sambil membawa pedang itu.
“Kawan-kawan, pergi!!” katanya kepada kedua kawannya sambil melompat naik ke atas genteng. Kedua kawannya lalu meninggalkan Yang Giok dan ikut melompat naik.
Sementara itu, teriakan Yang Giok telah membangunkan tuan rumah dan para pelayan akan tetapi mereka ini hanya memandang dengan takut dan bingung, karena tidak berdaya menghadapi penjahat-penjahat yang dapat loncat naik ke atas genteng demikian gesitnya bagaikan seekor kucing layaknya.
Mereka ini hanya dapat ikut berteriak-teriak, bahkan Nyo Liong juga datang ke tempat itu ikut berteriak-teriak, “maling, maling!” Kemudian pemuda ini lalu berlari menyembunyikan diri ke dalam kamarnya.
Yang Giok merasa gemas dan mendongkol sekali. Dari orang-orang lemah yang mendiami gedung ini ia tak dapat mengharapkan bantuan apa-apa, maka iapun lalu nekad dan melompat naik ke atas genteng mengejar ketiga orang pencuri itu.
Alangkah heran dan girangnya ketika mendapat kenyataan bahwa ketiga pencuri itu kini sedang mengeroyok seorang yang berkedok sutera hitam. Si Kedok Hitam itu bertangan kosong, akan tetapi pedang Thian Hong Kiam telah berada ditangannya.
Ia melayani tiga orang pencuri itu dengan kegesitannya yang luar biasa akan tetapi sama sekali ketiga orang pengeroyoknya tidak berdaya menghadapinya. Bahkan ketika Yang Giok tiba di situ, seorang maling telah dapat tertendang pergelangan tangannya hingga goloknya terlempar ke atas genteng.
Bukan main kagetnya Tan Kok menghadapi orang aneh yang hebat ini. Ketika ia tadi melompat ke atas genteng tahu-tahu ada bayangan hitam berkelebat cepat dan tahu-tahu pedang Thian Hong Kiam di tangannya telah kena dirampas. Ia lalu maju mengeroyok dengan sengit sekali, akan tetapi baru beberapa jurus saja, si Kedok Hitam yang bertangan kosong itu telah dapat merobohkan seorang kawannya.
Maka ia lalu teringat dan maklum bahwa yang berada dihadapannya adalah si “Sasterawan Kedok Hitam” yang kesohor karena kehebatannya. Ia lalu memberi isyarat dan mereka bertiga dengan cepat lalu melarikan diri dalam gelap, diikuti suara ketawa si Kedok Hitam yang berseru,
“Hah, maling-maling kecil hina dina. Jangan sekali-kali kau berani lagi mengacau kota Siu-bi-koan, karena lain kali aku takkan mau memberi ampun pula.
Yang Giok berdiri memandang dengan bengong dan kagum sekali. Belum pernah selama hidupnya ia melihat kehebatan seperti itu. Ia sendiri yang memiliki kepandaian dan ilmu pedang cukup tinggi, merasa terdesak menghadapi pengeroyok tadi, bahkan harus ia akui bahwa kepandaian si Kate Tan Kok lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.
Akan tetapi si Kedok Hitam yang aneh ini dapat menghadapi keroyokan mereka bertiga dengan bertangan kosong saja, bahkan dengan seenaknya dan mudah saja menjatuhkan seorang di antara mereka. Ia belum pernah mendengar tentang nama Sasterawan Kedok Hitam, maka ia kini berdiri memandang dengan tercengang.
Si Kedok Hitam menghampiri Yang Giok dan menyodorkan pedang Thian Hong Kiam sambil berkata, “Pedangmukah ini saudara?”
Yang Giok mengangguk dan menerima pedang itu lalu ia menjura sambil berkata, “Sungguh siauwte merasa berterima kasih sekali atas budi pertolonganmu, dan siauwte merasa kagum sekali melihat kepandaianmu yang tinggi. Bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama enghiong yang mulia dan gagah perkasa?”
Si Kedok Hitam itu tertawa gelak-gelak lalu berkata, “Kepandaianmu sendiri hebat dan di luar persangkaan orang karena kau bersikap seperti seorang sasterawan, apa perlunya memuji-mujiku? Dan sedikit bantuan tadi perlu apa disebut-sebut? Saudara Kwee jangan kau terlalu berhormat!”
Yang Giok terkejut. “Kau telah mengenal namaku?”
Orang itu tertawa lagi. “Siu-bi-koan adalah kotaku bagaimana aku takkan tahu akan kedatangan seorang dari luar seperti kau?”
“Betapapun juga terimalah ucapan terima kasihku. Kau tidak tahu sahabat, betapa besar artinya pertolonganmu tadi. Pedang yang hendak mereka curi ini bukanlah pedang sembarangan.”
Yang Giok merasa heran mengapa ia tiba-tiba merasa begitu tertarik dan percaya penuh kepada si Kedok Hitam ini hingga tanpa ragu-ragu lagi ia membongkar rahasia pedang Thian Hong Kiam. Sebaliknya, si Kedok Hitam juga merasa tertarik dan sambil melihat pedang yang dipegang oleh Yang Giok, ia bertanya, “Pedang pusaka apakah itu, dan mengapa mereka ingin mencarinya?”
Entah perasaan apakah yang menyebabkan Yang Giok tiba-tiba merasa sangat percaya kepada orang yang tidak kelihatan mukanya itu. Entah suaranya yang lembut, entah sinar matanya yang tajam dan halus dan yang mengintai dari dua lubang di sutera hitam itu, akan tetapi tiba-tiba ia merasa tertarik dan percaya penuh kepada si kedok hitam yang tinggi sekali ilmu silatnya ini. Ia lalu bercerita tentang pedang itu.
“Pedang ini adalah pedang pusaka kerajaan yang bernama Thian Hong Kiam dan yang dianggap sebagai lambang jayanya kerajaan. Karena itulah agaknya maka banyak pihak yang menginginkan pedang ini, dan yang tadi mencoba untuk merampas pedang ini adalah pihak perkumpulan Jian-jiu-pai. Masih ada lagi pihak yang kuat dan yang juga pernah mencoba merampas pedang ini, yakni para perwira utusan kaisar yang mengungsi ke Secuan ini.”
Si Kedok Hitam itu nampak tertarik sekali. “Kalau begitu, kau berada dalam bahaya selalu saudara,” katanya. “Lebih baik diatur begini. Aku tahu bahwa Nyo wan-gwe mempunyai seorang putera yang terkenal sebagai seorang siucai, dan karenanya, ia takkan dicurigai orang. Kalau kau titipkan pedang ini kepadanya, maka takkan ada orang yang dapat menduga bahwa siucai ini menyimpan pedang pusaka Thian Hong Kiam.”
“Apakah siucai bodoh itu dapat dipercaya?” tanya Yang Giok dengan memperlihatkan muka sangsi.
“Tadi baru melihat datangnya penjahat saja ia sudah lari terbirit-birit dan menyembunyikan dirinya!”
Si Kedok Hitam tertawa. Itulah yang kumaksudkan! Dia seorang lemah dan tak mungkin orang seperti dia menyimpan pedang ini hingga takkan ada yang mencurigai ataupun menduganya. Dia dapat dipercaya sepenuhnya, karena aku mendengar bahwa dia adalah seorang yang jujur.”
Setelah berpikir-pikir sesaat lamanya, akhirnya Yang Giok berkata,
“Baiklah, aku akan menurut nasehatmu ini.”
“Nah, kalau begitu selamat berpisah, saudara Kwee yang gagah!”
Si Kedok Hitam itu hendak pergi, akan tetapi Yang Giok menahannya dan bertanya.
“Nanti dulu, Saudara!” Kau belum memberitahukan namamu!”
“Ah, apakah perlunya? Sebut saja aku si Kedok Hitam seperti orang-orang lain menyebutku!” Sehabis berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, si Kedok Hitam itu berkelebat dan lenyap.