Nyo Liong merasa girang sekali dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukan kepala berkali-kali sambil menyebut “Suhu!” demikianlah, semenjak hari itu, tiga tahun lamanya Nyo Liong berdiam di kuil itu dan mempelajari isi kitab di bawah pimpinan Li Lo Kun yang menerangkan bagian-bagian ilmu silatnya. Dan benar-benar ilmu silat yang terkandung oleh kitab itu luar biasa sekali. Di dalam kitab itu terdapat dua macam ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang.
Li Lo Kun merasa kagum sekali karena benar-benar ilmu silat yang terdapat dalam kitab itu luar biasa gerakan-gerakannya. Dan dengan membantu Nyo Liong belajar saja, orang tua ini telah mendapat kemajuan hebat dalam kepandaiannya karena terbukalah banyak rahasia-rahasia ilmu silat yang rumit-rumit.
Apalagi Nyo Liong yang dapat belajar sambil membaca, tentu saja kemajuan dan kepandaian yang didapat oleh anak muda ini mengagumkan sekali. Setelah mempelajari kitab itu untuk tiga tahun lamanya, Li Lo Kun dengan kagum dan girang sekali berkata,
“Nyo Liong, kitab ini sungguh-sungguh telah ditulis oleh seorang dewa yang sakti. Kalau kau melatih dirimu baik-baik dalam waktu setahun atau dua tahun lagi saja, ilmu silatmu takkan ada keduanya di dunia ini.”
Nyo Liong sambil berlutut berkata, “Ini semua berkat bantuan suhu yang berbudi.”
Li Lo Kun merasa girang sekali. Walaupun pengetahuan pemuda ini dalam ilmu silat telah tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri, namun pemuda ini ternyata dapat membawa diri dan bersikap sopan dan merendah, hingga sukar sekali dapat ditemukan seorang pemuda sebaik ini.
Oleh karena itu, maka dengan sepenuh hatinya Li Lo Kun lalu menurunkan kepandaiannya sendiri kepada muridnya ini, dan karena Nyo Liong telah mempunyai dasar-dasar yang tebal karena pelajarannya dari kitab itu, maka dalam waktu beberapa bulan saja, ilmu kepandaian Li Lo Kun yang terhebat telah dapat ia warisi.
Demikianlah, kurang lebih tiga setengah tahun semenjak ia pergi merantau, Nyo Liong lalu kembali ke tempat tinggal orang tuanya dan disambut dengan girang dan meriah oleh Nyo wan-gwe.
Semenjak kembali ke rumah orang tuanya, biarpun Nyo Liong selalu bersikap biasa dan setiap hari membantu pekerjaan dagang ayahnya sambil membaca-baca buku-buku yang selalu menjadi kesukaannya, akan tetapi diam-diam pada waktu malam anak muda ini merobah dirinya menjadi seorang pendekar rahasia yang pergi melakukan tugasnya membela orang-orang tertindas dan membasmi para penjahat.
Semenjak ia kembali dalam beberapa bulan saja bersihlah kota Siu-bi-koan dari pada para penjahat dan perampok. Dan ketika terjadi pemberontakan terhadap terhadap pemerintah dinasti Tang, Nyo Liong juga tidak tinggal diam dan membantu dengan sepenuh tenaga.
Bahkan ia berhasil membongkar sebuah goa kuno dan menggali harta terpendam, memperebutkannya dengan kawanan kang-ouw yang menginginkan harta tersebut, lalu berhasil membawa harta itu kepada Oey Couw, pemimpin besar pemberontak itu.
Dalam semua sepak terjangnya Nyo Liong selalu mengenakan sebuah topeng hitam hingga ia mendapat julukan Sasterawan Topeng Hitam.
Semua pekerjaan yang dilakukannya dan yang telah menggemparkan dunia kang-ouw ini, dilakukan tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya dan Nyo wan-gwe suami isteri hanya menganggap bahwa puteranya kini seringkali pergi berpesiar untuk beberapa hari lamanya.
******
Ketika tiba di kota Siu-bi-koan, dengan mudah sekali Yang Giok dapat mencari gedung keluarga Nyo atau calon mertuanya itu, karena siapakah yang tak mengenal Nyo wan-gwe?
Biarpun hatinya tabah dan biasa menghadapi orang-orang besar, namun ketika memasuki halaman muka dari gedung Nyo wan-gwe, mau tidak mau Yang Giok merasa gugup sekali. Dengan tangan kirinya ia tuntun kudanya dan tangan kanannya tiada hentinya membereskan pakaian dan rambutnya, lupa bahwa sebenarnya ia masih menyamar sebagai seorang pemuda.
Berkat sinar matahari yang tiap hari menimpa dan membakar kulit muka dan tangannya, maka kulitnya agak hitam kemerah-merahan hingga tak seorangpun akan dapat menyangka ia seorang wanita. Ia telah mengambil keputusan untuk tidak mengaku bahwa ia adalah puteri Liu Mo Kong, karena ia hendak menyelidiki lebih dulu keadaan tunangannya, dan juga selama pedang Thian Hong Kiam berada di tangannya dan belum diterimakan kepada orang yang berhak menerimanya, ia takkan merubah diri menjadi seorang gadis.
Seorang pelayan menyambutnya dengan hormat, dan pelayan lain lalu menyambut kudanya untuk dibawa ke kandang kuda. Mereka berlaku hormat kepada Yang Giok, dan pelayan tua sambil menjura bertanya,
“Kongcu dari mana dan hendak bertemu dengan siapa?”
“Tolong beritahukan kepada Nyo wan-gwe bahwa aku seorang she Kwee dari ibukota datang membawa berita penting.”
Mendengar bahwa pemuda itu datang dari kota raja, pelayan itu lalu bergegas memberi laporan ke dalam setelah mempersilahkan Yang Giok menanti di ruang tamu. Tak lama kemudian, Yang Giok melihat seorang laki-laki setengah tua yang berwajah peramah keluar menyambut.
Di belakang laki-laki ini terdapat seorang pemuda berpakaian sasterawan. Mereka berdua lalu memandangnya dengan mata heran karena mereka tidak mengenal kepadanya. Yang Giok buru-buru menjura memberi hormat dan berkata,
“Mohon dimaafkan jika saya mengganggu. Sesungguhnya saya membawa berita penting dari Pangeran Liu Mo Kong.”
Mendengar ini, Nyo wan-gwe lalu cepat-cepat berkata,
“Ah, kau datang membawa berita dari Pangeran Liu? Silakan masuk saja, anak muda!”
Yang Giok lalu diantar masuk ke dalam dan dibawa ke ruang belakang, karena Nyo wan-gwe maklum bahwa pemuda ini tentu membawa berita penting sekali. Setelah mereka duduk mengitari sebuah meja yang terukir indah, Nyo Seng Hwat lalu bertanya,
“Kau siapa, hiante? Dan pernah apakah dengan Pangeran Liu?”
Saya bernama Kwee Yang Giok dan Pangeran Liu adalah pamanku, karena Liu hujin (nyonya Liu) adalah bibiku.”
Nyo Seng Hwat lalu memperkenalkan dirinya dan sambil menunjuk kepada pemuda yang bersamanya itu, ia berkata, “Dan ini adalah puteraku bernama Nyo Liong.”
Yang Giok merasa betapa mukanya menjadi panas dan untuk menyembunyikan warna merah yang menjalar pada mukanya, ia gunakan ujung lengan baju untuk pura-pura menyeka peluhnya. Ia diam-diam memperhatikan pemuda itu.
Tak disangkal bahwa Nyo Liong adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, sedangkan tubuhnya tinggi tegap, akan tetapi sayang sekali, dalam pandangan Yang Giok, pemuda ini terlampau lemah dan begitu sopan santun dan pendiam hingga sama sekali tidak nampak sifat-sifat gagah, bahkan agak bodoh nampaknya.
Oleh karena ini, diam-diam hatinya merasa kecewa sekali. Ia adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian bun (kesusasteraan) dan bu (keperwiraan), maka tentu saja iapun menginginkan seorang pasangan yang selain pandai ilmu sastera, juga pandai ilmu silat pula agar sesuai dengan kepandaiannya sendiri. Dengan seorang pemuda kutu buku macam ini, apakah keselamatan hidupnya kelak akan terjamin?
“Sekarang ceritakanlah, Kwee hiante, bagaimana keadaan Pangeran Liu setelah kota raja jatuh ke dalam tangan pemberontak,” tanya Nyo wan-gwe.
Yang Giok menghela napas dan wajahnya menjadi berduka. “Kaisar dan pembesar-pembesar lain mengungsi ke Secuan, akan tetapi pamgeran Liu yang semenjak dulu tidak suka dengan kelaliman kaisar, telah mengambil jalan sendiri. Tadinya Pangeran Liu hendak melarikan diri ke sini, akan tetapi malang baginya, di tengah jalan beliau telah tertangkap oleh perajurit-perajurit tani dan ditawan.”
Nyo wan-gwe menjadi pucat mendengar ini dan ia mengeluh, akan tetapi tiba-tiba Nyo Liong berkata, “Ayah, tak perlu dikhawatirkan nasib Pangeran Liu. Ia terkenal sebagai seorang Pangeran yang jujur dan tidak menjalankan kecurangan-kecurangan seperti pembesar lain, bahkan terang-terangan ia menentang kelaliman kaisar, maka kurasa ia akan selamat. Bukankah sepanjang pendengaran kita, kaum pemberontak tidak memusuhi mereka yang memang jujur dan melakukan tugas kewajibannya dengan baik? Yang dibasmi adalah para penindas rakyat.”
Yang Giok merasa heran juga mendengar ucapan ini dan mulailah ia menaruh perhatian kepada “tunangannya” itu, karena ternyata bahwa pemuda ini tidak sebodoh yang ia sangka. Akan tetapi Nyo wan-gwe menghela napas dan berkata.
“Mudah-mudahan saja begitu. Dan bagaimanakah dengan keadaan puterinya?” tanyanya kemudian kepada Yang Giok.
“Liu siocia juga telah melarikan diri dan berpisah dengan ayahnya, akan tetapi saya sendiri tidak tahu ke mana perginya.”
Nyo wan-gwe menggeleng-gelengkan kepala dan mukanya menyatakan bahwa ia ikut berduka dan bingung hingga melihat keadaannya ini, diam-diam Yang Giok merasa suka kepada “calon mertua” ini.
Akan tetapi, ia mendongkol sekali melihat betapa Nyo Liong agaknya tidak ambil perduli sama sekali, bahkan tidak bertanya sesuatunya tentang diri puteri Pangeran Liu, bahkan sebaliknya, cuma mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang penyerangan yang terjadi di kota raja.
“Saudara Kwee,” katanya sambil memandang tajam, “kau datang dari kota raja, tentu kau tahu tentang terjadinya penyerbuan barisan tani yang dipimpin oleh Oey Couw itu. Bagaimanakah? Apakah tentara kerajaan melakukan perlawanan? Dan bagaimana sepak terjang barisan tani itu?”
Dengan mendongkol Yang Giok menjawab. “Mereka itu buas sekali dan rata-rata bertempur dengan nekat hingga tentara kerajaan terpukul mundur. Kaisar dan para panglimanya tiap hari kerjanya hanya bersenang-senang saja dan sama sekali tidak melatih tentaranya, mana bisa para gentong nasi itu melakukan perlawanan terhadap musuh yang menyerbu? Boleh dikata bahwa pintu kota raja dibuka begitu saja untuk para penyerbu, dan kaisar sendiri bersama panglima dan pembesar lain siang-siang sudah melarikan diri. Aku tidak tahu banyak tentang pertempuran itu, karena setelah tentara musuh menyerbu masuk, aku bergegas melarikan diri dan sekarang aku berada seorang diri, sebatang kara tak tentu arah tujuan dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”
“Kwee hiante, jangan kau kuatir. Karena kau adalah keponakan sendiri dari Pangeran Liu, maka berarti bahwa kaupun adalah keluarga kami sendiri. Kuharap kau suka tinggal saja di sini sambil menanti berita dari Pangeran Liu yang tertawan itu, atau aku akan menyuruh orang mencari tahu tentang nasib Liu siocia.”