Halo!

Pedang Keramat Chapter 04

Memuat...

Demikianlah pedang Thian Hong Kiam masih dapat berada dalam tangan Yang Giok, dalam hal ini adalah karena kebetulan saja. Kalau saja Tan Kok dan Khu Lok tidak datang pada waktu yang sama, tentu Yang Giok takkan mampu mempertahankan pedang itu, karena baik Tan Kok maupun Khu Lok, keduanya memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padanya.

Tanpa berhenti, kecuali kalau kudanya sudah lelah sekali atau kalau rasa lapar di perutnya sudah tak dapat ditahan lagi, Yang Giok memacu kudanya menuju kota Siu-bi-koan untuk mencari keluarga Nyo Seng Hwat.

******

Nyo Seng Hwat adalah seorang hartawan besar di kota Siu-bi-koan. Dahulu Nyo-wangwe (hartawan Nyo) ini pernah tinggal di ibukota, maka ia mempunyai banyak kenalan para pembesar di situ, dan di antaranya, yang paling akrab adalah Pangeran Liu Mo Kong.

Kedua orang ini saling mengenal dengan baik dan pergaulan mereka demikian akrab hingga akhirnya mereka lalu mempertunangkan anak tunggal mereka yang ketika itu masih kecil. Liu Mo Kong hanya mempunyai seorang anak perempuan, yakni Liu Yang Giok, sedangkan Nyo wan-gwe pun hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Nyo Liong.

Nyo Liong lebih tua setahun dari Yang Giok dan pemuda ini berbadan tegap dan gagah serta bermuka tampan. Semenjak kecil, Nyo Liong telah mempelajari ilmu kesusasteraan hingga dalam usia lima belas tahun sebelum kerajaan Tang roboh, ia telah berhasil menempuh ujian yang diadakan di kota raja dan telah lulus dengan hasil baik sekali.

Akan tetapi Nyo Liong tidak suka memegang jabatan, bahkan setelah lulus dari ujian itu ia tidak pulang ke rumah orang tuanya dan hanya memerintahkan pelayan tua yang mengantarnya untuk pulang terlebih dahulu ke Siu-bi-koan sedangkan ia sendiri pergi merantau.

Lebih dari tiga tahun Nyo Liong pergi merantau hingga kedua orang tuanya merasa sangat kuatir dan bersedih karena anak itu tidak mengirim berita apa-apa.

Tiba-tiba saja, pada suatu pagi, Nyo Liong datang dan tubuh anak muda ini bertambah tegap dan mukanya kini nampak selalu berseri, akan tetapi sikapnya lemah lembut seperti dulu. Tentu saja kedua orang tuanya merasa girang sekali dan kedatangan pemuda ini disambut dengan sebuah pesta yang meriah.

Nyo Liong memiliki pengertian sastera yang luas dan pemuda ini paling suka membaca buku-buku sejarah para kesatria di zaman dahulu. Semenjak kecil ia suka sekali membaca buku-buku kuno seperti Sam Kok, See Yu, Hong Sin, dan buku-buku lain lagi.

Oleh karena Nyo wan-gwe sangat sayang kepada puteranya dan suka melihat puteranya membaca buku-buku untuk menambah pengetahuannya, maka orang tua ini telah membeli banyak sekali buku-buku kuno hingga semenjak kecil Nyo Liong sudah biasa membaca kitab-kitab sejarah dan filsafat kuno yang jarang dimiliki atau dibaca orang. Di dalam kamar anak muda ini terdapat berpeti-peti buku-buku kuno yang tak ternilai harganya.

Di antara kitab-kitab kuno yang sudah lapuk dan kuning itu, terdapat sebuah kitab kuno yang dibeli oleh Nyo wan-gwe dengan perantaraan seorang pelayan dari dalam sebuah kuil. Oleh karena hwesio pengurus kuil itu tidak dapat membaca kitab yang memuat tulisan-tulisan kuno yang sukar dipahami itu, maka buku itu dapat dibeli dengan harga murah.

Nyo wan-gwe sendiri biarpun telah banyak mempelajari sastera, akan tetapi ia tidak dapat mengerti isi kitab itu. Bahkan baru membaca beberapa kalimat saja, kepalanya sudah menjadi pusing dan ia lalu memberikan buku itu kepada Nyo Liong.

Buku itu pada sampulnya ditulis dengan tulisan yang bergaya seperti naga-naga menari dan berbunyi “Pat Kwa Im Yang Coan Si” dan isi buku menerangkan tentang rahasia-rahasia Pat-kwa dan tenaga-tenaga Im dan Yang (negatif dan positif) yang menguasai alam raya. Oleh karena ini, baru membaca sedikit saja, Nyo Seng Hwat sudah merasa pusing.

Tidak demikian dengan Nyo Liong. Pemuda ini, biarpun ketika itu baru berusia paling banyak tiga belas tahun, ketika membaca kitab ini, nampaknya menjadi tertarik sekali. Memang mula-mula sangat sukar baginya untuk mengerti arti tulisan kuno itu, akan tetapi berkat ketekunan dan kerajinannya, sedikit demi sedikit, dapat juga ia menangkap artinya.

Dan semenjak ia membaca kitab itu, kedua orang tuanya merasa adanya perubahan yang luar biasa pada anak mereka. Karena Nyo Liong lalu menjadi pendiam sekali, akan tetapi otaknya menjadi luar biasa terangnya karena segala macam pelajaran dengan sekali menghafal saja telah melekat di dalam ingatannya. Adapun buku kuno itu telah dilupakan oleh Nyo Seng Hwat, karena ia tidak melihatnya lagi. Ia tidak tahu bahwa Nyo Liong telah menyembunyikan buku itu dan sama sekali.

Ia tak pernah menyangka bahwa tiap malam, setelah semua orang tidur pulas, anak itu mengeluarkan kitab kuno yang lapuk itu dan membacanya sampai lewat tengah malam. Ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa kitab “Pat Kwa Im Yang Coan Si” sebetulnya adalah sebuah kitab pelajaran yang sangat hebat.

Kitab ini adalah peninggalan seorang sakti di zaman dahulu yang menuliskan semua kepandaiannya di dalam kitab ini. Di situ terdapat pelajaran-pelajaran ilmu silat yang tinggi sekali juga terdapat cara-cara berlatih lweekang serta siulan (samadhi) yang dapat mengumpulkan tenaga batin dan dapat membersihkan darah dan menyehatkan otak.

Inilah yang menyebabkan mengapa Nyo Liong yang masih kecil itu tiba-tiba menjadi pendiam. Ketika ia membaca kitab itu, karena di antara pelajaran di dalam kitab itu, berkali-kali disebutkan bahwa siapa yang ingin memelihara kekuatan batin, ia harus banyak berdiam dan jangan sembarangan mengeluarkan kata-kata. Dan juga, sebetulnya Nyo Liong menjadi pendiam bukan hanya karena taat kepada pesan dalam kitab ini, akan tetapi juga ia merasa kecewa dan bingung sekali.

Ingin benar ia mengerti isi kitab ini, akan tetapi terlampau sukar baginya hingga banyak bagian yang tidak dimengertinya. Maklumlah, semenjak kecil ia tak pernah diberi pelajaran silat, maka tentu saja kini menghadapi sebuah pelajaran persilatan yang sangat tinggi dan sukar tanpa ada yang memimpinnya. Ia merasa bingung dan tidak mengerti.

Ia tidak berani memberitahukan hal ini kepada ayahnya, karena selain ayahnya tidak pandai ilmu silat, juga ia kuatir kalau-kalau ayahnya akan merampas kitab itu dan melarang membacanya. Oleh karena ini, ia tinggal diam, bahkan untuk membaca kitab itu ia selalu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.

Bertahun-tahun Nyo Liong membaca dan mempelajari isi kitab itu, dan pada waktu malam ia mencoba untuk mempraktekkan pelajaran itu. Ia mulai melatih napas dan bersamadhi menurut petunjuk di dalam kitab dan heran sekali, baru beberapa bulan saja ia belajar, ia rasakan tubuhnya menjadi segar, dan ingatannya kuat sekali. Oleh karena itu, ia makin tekun mempelajari kitab “Pat Kwa Im Yang Coan Si”. Ketika ia pergi ke kota raja untuk menempuh ujian, kitab itu diam-diam dibawanya pula.

Setelah ia berhasil dalam menempuh ujiannya, tiba-tiba timbul sebuah pikiran dalam hatinya. Untuk dapat mempelajari kitab itu dengan sempurna, ia harus mencari seorang guru yang pandai. Maka, ia lalu menyuruh pelayannya pulang dan ia sendiri lalu merantau ke barat, karena ia tahu dari buku-bukunya bahwa di daerah barat banyak terdapat orang pandai.

Jodoh dan nasib baik membawa ia ke propinsi Cing-hai dan membawanya ke sebuah pegunungan, yakni pegunungan Ceng-liong-san. Dan di lereng bukit Ceng-liong-san, dalam sebuah kuil tua, ia bertemu dengan seorang pertapa tua yang tidak lain adalah Li Lo Kun, seorang pendekar tua, yang kenamaan dan yang telah mengasingkan diri di bukit itu. Melihat sikap pemuda yang baik dan yang berbakat untuk memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, Li Lo Kun tertarik sekali.

Alangkah terkejutnya ketika pada malam hari, dari kamar pemuda itu ia mendengar pernapasan yang teratur dan ditarik secara luar biasa hingga menerbitkan angin bersiutan. Ia cepat mengintai dari atas genteng dan aneh sekali, tiba-tiba Nyo Liong yang pendengarannya telah maju hebat di luar tahunya sendiri karena melatih diri menurut petunjuk kitabnya, dapat mendengar tindakan kakinya dan pemuda yang sedang berlatih napas itu berkata.

“Tuan yang berada di atas genteng, jika mempunyai keperluan, silakan turun saja!”

Li Lo Kun merasa kagum dan terkejut sekali. Ia telah merantau puluhan tahun lamanya dan kepandaian ginkangnya telah terkenal hingga jarang ada orang yang demikian tajam pendengarannya hingga bisa mendengar tindakan kakinya di atas genteng.

Akan tetapi, pemuda yang nampaknya seperti bodoh dan hijau ini, telah dapat mengetahui dan mendengarnya. Maka buru-buru Li Lo Kun melompat turun dan dengan heran ia bertanya,

“Anak muda yang luar biasa. Kau belajar dari siapa maka pendengaranmu sehebat ini?”

Karena tahu bahwa yang berdiri dihadapannya adalah seorang berilmu, Nyo Liong lalu menjatuhkan diri berlutut .

“Suhu, teecu yang bodoh mana ada harga untuk dipuji. Mohon suhu sudi memberi petunjuk dan jika suhu tidak keberatan, mohon suka menerima teecu sebagai murid.”

Li Lo Kun makin merasa heran. Pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi, mengapa masih hendak berguru kepadanya? Nyo Liong lalu menuturkan dengan terus terang bahwa ia melatih diri menurut petunjuk dari sebuah kitab kuno.

Li Lo Kun terbelalak heran dan minta melihat kitab itu, akan tetapi karena ia hanya sedikit mempelajari ilmu surat, tentu saja tak dapat mengerti sama sekali, dan orang tua ini hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata,

“Kongcu, kau benar-benar telah berjodoh untuk menjadi murid orang sakti yang menulis buku ini. Kalau untuk menjadi suhumu, aku tidak berani karena ilmu yang terdapat di dalam kitab ini jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaianku. Akan tetapi, kalau kau ingin supaya aku membantumu dalam mempelajari kitab ini, yakni pada bagian-bagian pergerakan kaki tangan, tentu saja aku akan suka sekali membantu.”

Post a Comment