Halo!

Pedang Keramat Chapter 03

Memuat...

Malam itu Yang Giok tidak berani tidur dan ia menyembunyikan pedang Thian Hong Kiam di bawah bantal kepalanya, sedangkan pedangnya sendiri yang juga adalah sebuah pedang pusaka bernama Pek-lian-kiam, siap sedia di atas pembaringannya. Setelah menjelang tengah malam dan matanya mulai mengantuk, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan di atas genteng. Yang Giok cepat memegang pedangnya dan duduk di atas pembaringan.

Ia mencurahkan perhatian dan pendengarannya ke arah suara itu. Akan tetapi suara itu hilang lagi, dan ia menduga bahwa itu tentu suara kucing atau tikus, karena kalau suara orang berjalan di atas genteng, tidak mungkin demikian perlahan suaranya. Karena hatinya masih berdebar, Yang Giok lalu bersila dan mengatur pernapasan untuk menenteramkan hatinya dan untuk mencegah kantuknya.

Tiba-tiba terdengar genteng dibuka orang dan tahu-tahu dari atas melayang turun bayangan orang ke dalam kamarnya. Bukan main hebatnya gerakan orang itu dan diam-diam Yang Giok merasa khawatir sekali. Orang ini memiliki kepandaian yang demikian luar biasa hingga tidak saja tindakan kakinya tidak terdengar, bahkan gerakannya ketika melompat masuk ke kamarnya tidak beda seperti melayangnya seekor burung. Yang hebat sekali ialah ketika orang itu melompat turun, di tangan kirinya memegang sebuah obor hingga kamar itu menjadi terang sekali.

Yang Giok melihat wajah seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh kate, akan tetapi gadis ini tidak sempat memperhatikan lebih jauh, karena ia segera menggerakkan pedang Pek-lian-kiam untuk menyerang. Orang kate itu mengelak dan sebagai serangan balasan ia majukan obornya ke arah muka Yang Giok yang cepat sekali melompat mundur. Saat itu digunakan oleh lawannya untuk menubruk maju dan sekali tangan kanannya bergerak ke arah pembaringan, maka pedang pusaka Thian Hong Kiam telah berada di tangannya.

“Aku hanya perlu dengan pedang ini!” orang itu berkata sambil tertawa dan suaranya parau dan besar.

“Kembalikan pedangku!” Yang Giok membentak marah dan ia mengirim serangan kilat dengan pedangnya ke arah punggung orang yang hendak melarikan diri itu. Serangan Yang Giok ini dilakukan dengan penuh kemarahan dan ia menggunakan gerak tipu Chong-eng-kim-touw atau Garuda Menyambar Kelinci, maka serangan ini benar-benar hebat dan berbahaya.

Akan tetapi, orang itu lebih cepat lagi. Sekali tiup saja ia telah memadamkan obor di tangan kirinya dan keadaannya menjadi gelap gulita. Bersamaan dengan itu, ia menghindarkan diri dari tusukan Yang Giok dengan sebuah loncatan indah dan cepat ke arah jendela kamar Yang Giok yang masih tertutup. Dengan menendang kaki, orang itu berhasil menendang pecah daun jendela dan langsung melompat keluar sambil tertawa. Terdengar kata-katanya mengejek,

“Anak muda, kau seorang yang lemah tidak pantas memegang pedang pusaka ini!”

Yang Giok merasa sangat gemas dan marah sekali, hingga tiba-tiba timbul keberaniannya ketika mendengar orang itu menyebutnya anak muda dan siucai, tanda bahwa pencuri itu belum tahu bahwa ia adalah seorang wanita dan puteri Pangeran Liu Mo Kong.

“Bangsat pencuri hina dina jangan lari!” dengan gerak loncat Rajawali Menyambar Ikan, ia melompat keluar dari jendela itu pula sambil memutar-mutar pedangnya.

Ketika ia tiba di luar, ia masih sempat melihat pencuri pedang itu melompat ke arah genteng, maka segera ia melompat pula menyusul. Yang Giok telah mempelajari ilmu silat semenjak kecil di bawah pimpinan ayahnya yang hebat, hingga dara ini memiliki ginkang yang tidak rendah.

Melihat kegesitan Yang Giok yang mengejarnya, pencuri itu tiada bernafsu untuk melayani. Maka ia lalu mempercepat larinya dan sekali lompat saja ia telah berada di wuwungan rumah lain. Yang Giok terkejut sekali melihat lompatan indah dan hebat ini, maka iapun lari mengejar dengan cepat. Ia maklum bahwa kepandaian orang itu lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri, akan tetapi ia tidak akan melepaskan orang yang mencuri Thian Hong Kiam itu begitu saja.

Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan orang lain datang dari jurusan lain dan langsung menyerang pencuri itu. Yang Giok cepat mengejar dan di bawah sinar bulan purnama ia dapat melihat bahwa yang datang menyerang pencuri itu adalah seorang perwira dari kaisar yang bernama Khu Lok.

Khu lok ini adalah seorang di antara banyak perwira yang berkepandaian tinggi dan yang menjadi perwira istana sebelum kerajaan Tang jatuh ke dalam tangan pemberontak. Telah beberapa kali Khu Lok datang ke rumah ayahnya, maka Yang Giok mengenal pula orang itu. Akan tetapi karena ia melihat bahwa Khu Lok mengenakan pakaian biasa, dan juga karena ia ingat bahwa iapun sedang menyamar sebagai seorang pemuda, maka ia tidak mau menegurnya, hanya diam-diam lalu maju mengeroyok pencuri itu.

Tapi rupanya Khu lok kenal kepadanya dan sambil tersenyum ia berkata, “Ha, ha, ha pencuri kecil kecurian. Hayo kita bereskan pencuri besar ini dulu, baru aku dapat memberi ampun kepadamu!”

Yang Giok maklum bahwa Khu Lok telah mengenalnya dan ia menjadi marah karena dimaki sebagai pencuri kecil. Memang, ayahnya telah mencuri pedang kerajaan itu karena menurut anggapan ayahnya, pedang itu tidak pantas berada di tangan kaisar yang lalim dan hendak disimpan untuk kelak dipersembahkan kepada kaisar yang lebih baik dan yang berhak. Akan tetapi, karena keadaan pedang itu sedang dalam bahaya tercuri oleh orang lain, ia tidak berkata sesuatu hanya memperhebat gerakan pedangnya mengepung pencuri itu.

“Ha, ha! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau adalah utusan dari kaisar yang telah jatuh dan melarikan diri itu? Jangan harap kau dapat mengambil pedang ini!”

Pencuri Kate itu mengejek dan melayani keroyokan itu dengan hebat pula. Ternyata kepandaian si Kate ini benar-benar tinggi karena dengan sabetan ujung baju ia telah dapat menggetarkan tangan Yang Giok yang memegang pedang. Akan tetapi, Khu Lok yang terkenal sebagai ahli lweekeh dan ia telah banyak punya pengalaman bertempur, maka pedangnya lalu membuat gerakan mengurung hingga pencuri yang bertangan kosong itu terdesak juga.

Pada suatu kesempatan yang baik, pedang Khu Lok telah berhasil membabat ujung lengan baju pencuri itu hingga terpotong dan ketika pencuri itu karena kagetnya berlaku lambat, Khu Lok mengulur tangan kirinya dan berhasil merampas pedang itu.

“Anjing kaisar rasakan pembalasanku!” teriak pencuri itu dan ia lalu melepaskan jubah luarnya dan menggunakan sebagai sebuah senjata. Biarpun hanya baju dari kain biasa, akan tetapi dalam tangannya, baju itu berubah menjadi senjata yang ampuh, dan hal ini menyatakan betapa tingginya tenaga lweekang dari pencuri itu. Segera ia bertempur dengan dengan hebat sekali melawan Khu Lok dan Yang Giok akan tetapi Yang Giok yang tadinya membantu Khu Lok, sekarang tiba-tiba saja ia menujukan pedangnya untuk berbalik menyerang perwira itu.

“Eh, eh, anak kecil! Apakah kau mau berkhianat?” Khu Lok membentak kaget, akan tetapi Yang Giok hanya menjawab, “Kembalikan pedangku!” lalu menyerang lebih keras. Kini Khu Lok yang dikeroyok hingga perwira itu terdesak hebat.

Khu Lok merasa gemas sekali akan tetapi ia mendapat sebuah pikiran. Kalau pedang itu terjatuh ke dalam tangan pencuri yang berilmu tinggi ini, sukarlah untuk merampasnya atau mencarinya kembali. Sebaliknya, ilmu kepandaian Yang Giok tak berapa aneh, maka lebih baik pedang itu biar untuk sementara waktu berada di dalam tangan gadis itu agar mudah baginya untuk merampasnya kembali kelak. Karena pikiran inilah, maka Khu Lok tiba-tiba berkata.

“Nah, kalau kau tetap menghendaki pedang ini, ambillah!” Ia lalu melemparkan pedang Thian Hong Kiam kepada Yang Giok yang menyambutnya dengan heran dan girang. Ia lalu memegangi erat-erat dan melompat pergi ke arah kamarnya. Si Pencuri hendak mengejar, akan tetapi pedang Khu Lok menghalanginya hingga terpaksa pencuri itu melayani perwira ini sambil memaki-maki.

Sementara itu, Yang Giok segera mengumpulkan buntalan dan barang-barangnya, lalu malam itu juga ia pacu kudanya secepat-cepatnya. Sampai keesokan harinya setelah matahari timbul, ia tidak menghentikan kudanya dan berlari terus. Sambil melarikan kudanya, dara ini merasa heran sekali. Ia tidak mengerti bagaimana pencuri itu tahu bahwa ia membawa Thian Hong Kiam dan tidak tahu pula bagaimana Khu Lok tiba-tiba bisa di situ pula.

Sebenarnya pencuri itu adalah seorang anggauta dari sebuah perserikatan pencuri dan pencopet yang bernama Jian-jiu-pai atau Perkumpulan Tangan Seribu. Perkumpulan ini telah terkenal sekali dan mempunyai cabang-cabang yang meluas sampai di mana-mana dan hampir di tiap kota dalam propinsi Honan terdapat cabangnya.

Oleh karena perkumpulan ini mempunyai banyak sekali mata-mata yang tajam sekali pandangan dan pendengarannya, maka tidak heran bahwa mereka mengetahui adanya seorang pemuda sasterawan membawa-bawa sebatang pedang kerajaan yang sangat berharga. Maka seorang yang dianggap cukup tinggi kepandaiannya, yakni si Kate yang bernama Tan Kok dan berjuluk Malaikat Kate, mendapat tugas untuk mencuri pedang itu.

Juga di pihak kaisar yang telah mengungsi ke Secuan, tidak tinggal diam karena hilangnya pedang pusaka Thian Hong Kiam, maka kaisar mengutus beberapa orang perwira yang pandai untuk mencari dan merampas kembali Thian Hong Kiam. Para perwira ini telah mendengar akan tertawannya Liu Mo Kong dan kaburnya Yang Giok, maka mereka dapat menduga bahwa pedang itu tentu dibawa oleh gadis puteri Pangeran itu.

Akhirnya mata Khu Lok yang tajam dapat melihat Yang Giok di kota Lun-tien. Diam-diam ketika Yang Giok berjalan-jalan, ia lalu memasuki kamar gadis itu dan menggeledah, akan tetapi ia tidak mendapatkan pedang itu. Dengan sabar ia menanti dan ketika pada malam hari itu ia hendak menyerbu ke kamar Yang Giok, ternyata ia telah didahului oleh si Kate Tan Kok hingga mereka lalu bertempur.

Setelah melihat betapa pedang itu terjatuh ke dalam tangan Yang Giok kembali Tan Kok juga berpikir bahwa mudah baginya untuk mencuri pedang itu kembali dari tangan Yang Giok dari pada dari tangan perwira yang tangguh ini, maka iapun lalu melompat pergi karena ia anggap tidak ada perlunya bertempur lebih lama dengan perwira itu karena barang yang diperebutkan telah dibawa pergi orang lain.

Post a Comment