Halo!

Pedang Keramat Chapter 02

Memuat...

“Hati-hati, Yang Giok, dan ingat pesanku.” Kata Liu Mo Kong kepada anaknya. Yang Giok mengangguk dan dadanya berdebar.

Barisan berkuda itu datang menimbulkan debu tebal. Tiba-tiba pemimpinnya berhenti dan memerintahkan anak buahnya berhenti pula. Ia adalah seorang panglima setengah tua yang nampak sangat gagah. Ketika melihat dua orang petani itu berdiri memandang mereka, panglima ini segera menghampiri dan bertanya dengan suara manis budi.

“Maaf lopeh. Apakah kau pernah melihat seorang Pangeran tua dengan puterinya lewat di sini?” Sambil berkata demikian, sepasang mata panglima itu dengan tajam menatap wajah mereka.

Liu Mo Kong menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tiba-tiba panglima itu berkata, “Jangan kau marah, lopeh, terpaksa aku akan memeriksa buntalan-buntalan kalian itu, karena aku mendapat tugas mencari dua orang yang melarikan diri. Siapa tahu kalau-kalau mereka itu menyamar sebagai petani-petani.”

“Kami petani-petani biasa, apa perlunya ciangkun mengganggu?” kata Liu Mo Kong dengan berani. “Bukankah kita sama-sama petani dan rakyat kecil?”

Kata-kata ini membuat panglima itu tertegun dan ia tidak dapat segera melakukan niatnya karena merasa ragu-ragu. Akan tetapi, ketika Liu Mo Kong berbicara sambil menggerak-gerakkan tangannya, panglima yang berpemandangan tajam itu melihat betapa telapak tangan Liu Mo Kong berkulit putih bersih dan halus, sama sekali bukan tangan seorang petani yang seharusnya kasar dan berkulit tebal. Maka ia segera memberi perintah,

“Tangkap mereka ini!”

Karena tahu bahwa rahasianya terbuka, Liu Mo Kong lalu mencabut pedangnya yang disembunyikan di bawah jubahnya yang panjang, lalu berteriak kepada Yang Giok.

“Pergilah kau, tunggu apa lagi?”

“Ayah ....” gadis itu ragu-ragu tidak tega meninggalkan ayahnya.

Sementara itu panglima yang memimpin barisan itu dengan girang berkata, “Bagus kalian tentu Pangeran dengan puterinya itu! Hayo tangkap!” Ia sendiri lalu mencabut goloknya dan menyerbu.

Liu Mo Kong memutar pedangnya dan menghadapi keroyokan yang dilakukan oleh beberapa belas orang tentara yang memiliki kepandaian lumayan juga. Yang Giok hendak membantu, akan tetapi ayahnya membentak,

“Lekas pergi! Kau hendak membantah??”

Dengan mengucurkan airmata, Yang Giok terpaksa melompat mundur kembali dan melarikan kakinya secepat mungkin.

“He ...........tahan .....jangan lari!” Panglima itu berteriak dan hendak mengejar, akan tetapi pedang Liu Mo Kong menghalanginya dan karena gerakan pedang Pangeran itu hebat dan cepat, maka terpaksa panglima itu mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Pangeran tua ini.

Lima orang perajurit lalu memacu kuda mengejar Yang Giok. Akan tetapi, sambil berlari Yang Giok mengayunkan tangannya dan dua orang pengejarnya roboh karena piauw (senjata rahasia yang disambitkan) gadis yang jitu itu. Tiga orang pengejar lainnya berlaku hati-hati hingga ketika piauw dari Yang Giok menyambar lagi, mereka dapat mengelakkannya dengan membungkuk rendah-rendah di atas punggung kuda mereka.

Setelah mereka tiba di dekat Yang Giok, ketiganya lalu meloncat turun dan mengepung dengan senjata masing-masing. Akan tetapi Yang Giok memiliki gerakan yang cepat dan gesit sekali. Ia menyambut seorang pengeroyok dengan sebuah tendangan kilat hingga orang itu kena tendang lututnya dan roboh sambil meringis-ringis dan tak kuasa bangun lagi.

Ketika dua orang yang lain maju menyambar dengan golok mereka, Yang Giok mengelak dengan sebuah lompatan jauh dan sebelum kedua orang itu dapat mengejar, tahu-tahu gadis itu telah meloncat ke atas seekor kuda mereka dan melarikan binatang itu cepat-cepat.

Sambil berteriak-teriak kedua orang itu menaiki kuda mereka dan mengejar, akan tetapi Yang Giok yang sengaja memilih kuda terbaik sudah pergi jauh sekali, hingga akhirnya kedua pengejar ini terpaksa kembali ke tempat di mana Liu Mo Kong dikeroyok.

Pangeran tua ini memang gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi dia tak mau menjatuhkan tangan kejam kepada para perajurit yang mengeroyoknya. Karena maksudnya hanya hendak menghalangi mereka mengejar Yang Giok. Ketika melihat bahwa para perajurit yang mengejar Yang Giok itu kembali dengan tangan kosong, Liu Mo Kong lalu berkata kepada panglima tadi.

“Sudahlah, aku menyerahkan diri! Kini tangkaplah!” Ia lalu melempar senjatanya dan iapun segera diikat kedua tangannya. Orang tua ini dengan bungkusannya yang besar lalu dibawa kembali ke kota raja dan dihadapkan kepada Oey Couw.

Oey Couw adalah seorang perwira yang tahu juga bahwa Pangeran tua ini berbeda dari pada kebanyakan pembesar yang korup, maka ia lalu membuka sendiri belenggu yang mengikat tangan Liu Mo Kong.

“Maafkan kalau kawan-kawanku berlaku kasar kepadamu, Pangeran Liu,” katanya.

Liu Mo Kong memandang kepada pemimpin besar ini dengan kagum. Akan tetapi ia tidak berkata apa-apa, kecuali.

“Oey sicu, aku merasa kagum akan pergerakanmu yang berhasil ini. Harus ku akui bahwa pemerintah Tang kurang bijaksana dan tidak pandai memerintah rakyat, oleh karena itu, tak heran bahwa ia kehilangan kedudukannya. Akan tetapi, betapapun juga aku adalah seorang anggauta kerajaan Tang dan sekarang aku telah tertangkap, kini terserah kepadamu!”

Oey Couw tersenyum. “Kami tidak bermaksud buruk terhadapmu, karena kamipun bukanlah orang-orang buta yang tak dapat membedakan mana lawan mana kawan. Kami hanya mohon supaya kau suka mengembalikan pedang pusaka Thian Hong Kiam, karena pedang itu harus disimpan di dalam istana ini.”

Liu Mo Kong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu apa-apa tentang pedang itu.”

Oey Couw maklum bahwa Pangeran tua ini masih bersikap kukuh dan percaya akan tradisi lama, maka ia tidak mendesak lebih jauh.

“Biarlah, kalau kau menghendaki pedang itu, kami tidak membutuhkannya. Bukan segala macam pusaka yang mendatangkan kebaikan kepada sesuatu pemerintah, akan tetapi kebijaksanaan para pelaksananya. Sekarang kami harap tuan suka tetap tinggal di sini dan menjadi penasehat kami karena betapapun juga, kau lebih tahu akan segala peraturan pemerintah.”

“Terima kasih, sicu. Kau memang benar pahlawan dan berpemandangan luas. Akan tetapi, biarpun pemerintah yang lalu buruk dan tidak mampu, aku tetap adalah seorang hamba yang setia hingga tak pantas bagiku untuk membantu kalian yang betapa pun juga adalah pemberontak!”

Oey Couw tidak menjadi marah, akan tetapi sikapnya berubah dingin. “Kalau begitu, kau yang menentukan nasibmu sendiri Pangeran!” Pemimpin ini lalu memerintahkan amak buahnya untuk memasukkan Pangeran Liu dalam penjara, dengan pesan supaya mereka melayani Pangeran tua ini baik-baik dan jangan mengganggunya.

Demikianlah, mulai hari itu, Pangeran Liu menjadi seorang tahanan yang istimewa hingga diam-diam Pangeran ini kagum sekali akan kebijaksanaan Oey Couw. Ia kini hanya melakukan samadhi di dalam penjaranya dan menuliskan sebuah buku catatan yang kelak akan menjadi semacam catatan sejarah yang penting artinya bagi ahli-ahli sejarah.

******

Dengan hati bingung dan sedih karena teringat akan nasib ayahnya, Yang Giok melarikan kudanya dengan secepat mungkin. Setelah melihat bahwa tidak ada musuh yang mengejarnya, ia merasa lega dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Propinsi Honan. Biarpun sebagian besar barang-barang berharga berada di dalam bungkusan yang dibawa oleh ayahnya, akan tetapi di dalam bungkusan pakaiannya ia membawa perhiasan-perhiasannya sendiri yang terbuat dari pada emas dan batu permata, hingga untuk biaya perjalanan dan makan selanjutnya ia tak perlu kuatir lagi.

Tiga hari kemudian ia tiba di kota Lun-tien dan bermalam di dalam sebuah rumah penginapan yang besar. Ia tetap mengenakan pakaian sebagai seorang pemuda, akan tetapi karena ia membawa barang-barang berharga, agaknya akan menimbulkan kecurigaan apabila ia mengenakan pakaian yang sederhana. Oleh karena itu, ia kini menyamar sebagai seorang siucai (sasterawan).

Ia tetap mnggunakan nama Yang Giok, karena nama inipun dapat digunakan oleh seorang pria. Hanya shenya saja ia ganti, bukan she Liu lagi, akan tetapi she Kwee.

Kota Lun-tien cukup ramai dan indah, hingga sore hari itu Yang Giok merasa perlu keluar dari kamarnya untuk melihat-lihat kota. Ia meninggalkan bungkusannya, akan tetapi ia cukup berhati-hati untuk meninggalkan pedang Thian Hong Kiam yang dibawanya. Ia sembunyikan pedang itu di pinggang, tertutup oleh baju sasterawan yang lebar dan membawanya ke mana saja ia pergi.

Ketika ia kembali dari berjalan-jalan dan memasuki kamarnya, ia terkejut sekali karena melihat bahwa kamarnya telah dimasuki orang yang telah membongkar bungkusannya dan membalik-balikkan kasur pembaringannya seakan-akan pencuri itu mencari-cari sesuatu. Yang Giok merasa kuatir. Kemudian ia mengadakan pemeriksaan. Ternyata semua barang berharga berupa perhiasan yang berada di dalam buntalan pakaiannya itu masih lengkap dan tidak sebuahpun lenyap.

Ia merasa lega, akan tetapi seketika ia merasa makin kuatir. Kalau saja perhiasannya lenyap, maka terang bahwa yang datang itu tentu seorang pencuri biasa dan ia tak perlu ambil pusing pula. Akan tetapi, karena barang-barangnya masih lengkap, maka terang yang datang itu bukanlah pencuri biasa, tentu mereka itu mencari-cari sesuatu, yakni pedangnya. Hati Yang Giok berdebar.

Apalagi ketika ia memeriksa ternyata baik pintu maupun jendela kamarnya tidak ada tanda bekas dibongkar. Ia dapat menduga bahwa yang telah memasuki kamarnya tadi tentulah seorang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi dan memasuki kamar itu dari atas genteng.

Post a Comment