Beberapa orang petani sudah meninggalkan sawah dan hendak lari menjemputnya, akan tetapi sekarang para antek tuan tanah yang melihat betapa budak-budak itu melalaikan pekerjaan mereka, segera bertindak. Tendangan, pukulan dan makian menghujani budak-budak itu. Terdengar jeritan kesakitan dan para budak itu dengan panik kembali ke pekerjaan masing-masing.
Akan tetapi seorang budak perempuan yang bertubuh kurus kering tak dapat bangun setelah terkena tendangan kaki Thiat-tung Hwesio yang marah sekali, matanya melotot lebar, tongkat besinya sudah diayun-ayun mengancam para budak.
Tiba-tiba berkelebat bayangan hijau disertai bentak lembut. “Keparat keji!” dan tubuh Ong Hui sudah melompat dari atas kudanya, menyerbu para centeng yang sedang menghajar hamba-hamba tani. Dalam segebrakan saja dua orang kaki tangan tuan tanah roboh terpukul lehernya dan yang seorang lagi ditendang lambungnya.
Para centeng lain menjadi marah dan kaget melihat terjangan nyonya muda cantik ini. Sambil berteriak-teriak marah lima orang centeng dengan golok atau tongkat di tangan mengurung Ong Hui yang juga sudah mencabut pedangnya.
“Anjing-anjing srigala! Setelah aku datang, tidak bisa nyonya besarmu membiarkan kalian berbuat sewenang-wenang!” seru Ong Hui sambil memutar pedangnya yang berkelebatan cepat dan kuat sekali. Antek-antek tuan tanah itu adalah sebangsa manusia tiada gunanya, pandainya hanya menjilat majikan, gagahnya hanya kalau menghadapi hamba-hamba tani yang lemah, setiap hari kerjanya hanyalah berlagak gagah-gagahan dan menyiksa para budak.
Sekarang menghadapi amukan Ong Hui yang gagah perkasa, mana mereka sanggup melayani? Baru belasan jurus saja, dua di antara lima orang tukang pukul sudah roboh mandi darah dan yang tiga lalu berteriak-teriak ketakutan.
“Losuhu, tolong. !” Thiat-tung Hwesio melompat maju mengayunkan tongkat besinya dan tiga orang tukang pukul itu segera melompat mundur dan melarikan diri. Memang sebangsa pengecut baru kelihatan belangnya kalau sudah menghadapi keadaan genting dan berbahaya bagi mereka.
Thiat-tung Hwesio lihai sekali. Dia bertenaga besar dan toyanya yang berat itu menyambar-nyambar mengeluarkan angin. Dalam pertemuan pertama antara toya dan pedang di tangan Ong Hui, nyonya muda ini tergetar tangannya, maka cepat ia menarik kembali pedangnya, menyelusup ke kiri dan mengirim serangan cepat menusuk ke arah lambung pendeta itu. Inilah gerak tipu Giok-wi-yauw (Sabuk Kumala Melilit Pinggang), sebuah jurus ilmu pedang Kun-lun Kiam-hoat yang indah dan lihai.
Thiat-tung Hwesio tidak hanya bertenaga besar tetapi dia telah mendapat latihan dari Thouw Tan Hwesio, Lama yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja ilmu silatnya juga lumayan. Menghadapi serangan yang cepat dan tidak terduga dari samping ini ia tidak gugup, cepat ia miringkan tubuh dan memalangkan toya melindungi lambungnya.
Kembali dua senjata bertemu yang mengakibatkan Ong Hui merasa telapak tangannya menjadi panas. Nyonya muda ini tidak gentar, segera menggunakan kelincahannya untuk mengirim serangan-serangan selanjutnya.
Wang Sin melihat bahwa isterinya akan sukar mengalahkan hwesio kosen itu, tidak tinggal diam dan cepat ia melompat sambil memutar pedangnya.
“Thiat-tung Hwesio pendeta keparat. Sekarang tiba saatnya aku Wang Sin membalas dendam!” Pedang di tangan orang muda ini menyambar dan kagetlah hati hwesio itu. Tidak disangkanya bahwa Wang Sin masih hidup dan lebih-lebih di luar dugaannya pemuda itu sekarang memiliki kepandaian yang begini lihai. Sambaran pedang di tangan pemuda itu cepat dan kuat sekali. Dalam tangkisan toyanya menghadapi pedangnya amat berbahaya. Namun ia masih membuka mulut besar.
“Ha-ha-ha, budak hina dina. Baik sekali kau mengantarkan diri, tidak susah-susah aku mencari. Ha-ha!” Suara ketawanya terpaksa berhenti ketika pedang di tangan Wang Sin dan isterinya berkelebatan merupakan tangan-tangan maut yang berlumba merenggut nyawanya. Hwesio ini memutar tongkatnya dan berusaha memukul runtuh pedang dua orang lawannya menghandalkan tenaganya.
Akan tetapi, Ong Hui adalah puteri seorang tokoh Kun-lun-pai yang cerdik. Tidak mau ia mengadu senjatanya dengan tongkat musuh, sedangkan Wang Sin yang memiliki tenaga besar tidak takut menghadapi toya itu.
Di lain saat hwesio itu sudah tidak mempunyai kesempatan untuk tertawa sama sekali. Ia didesak hebat dan hanya sanggup bertahan saja sambil main mundur, tiada kesempatan lagi baginya untuk membalas serangan dua orang lawannya yang gagah.
Para hamba tani yang tadinya ketakutan diamuk kaki tangan tuan tanah, sekarang berdiri menonton dengan mata terbelalak kagum. Tidak ada lagi antek-antek tuan tanah di situ, kesemuanya lari ketakutan untuk melapor kepada majikan mereka, maka para hamba tani itu tidak takut untuk meninggalkan sawah. Maka sekarang terbangun semangat mereka ketika melihat betapa seorang bekas kawan mereka, Wang Sin, sekarang dengan gagahnya berani melawan Thiat-tung Hwesio, malah kelihatan mendesak hwesio yang mereka semua amat benci itu.
“Kawan-kawan, kenapa kita diam saja? Wang Sin telah datang mari kita bantu dia!” teriak seorang kakek dengan semangat meluap dan gembira. Mendengar ini, mereka bersorak dan majulah puluhan orang yang bekerja di bagian itu sambil mengamang- amangkan tinju, cangkul, pikulan, batu, dan alat-alat lain dengan sikap mengancam.
Bagaikan arus gelombang, mereka mendatangi tempat pertempuran. Empat orang tukang pukul yang tadi roboh oleh Ong Hui dan belum tewas akan tetapi belum sempat melarikan diri karena luka mereka, mereka memandang dengan mata terbelalak ke arah gelombang para budak ini. Mereka seperti mendapat firasat akan datangnya malapetaka, apalagi ketika para budak itu sudah datang dekat dan mereka melihat sinar kebencian memancar keluar dari mata para budak itu.
Seorang budak yang membawa arit, yaitu seorang perempuan setengah tua yang bertubuh kurus sekali menghampiri seorang antek yang tadi terkena pukulan Ong Hui. Dengan mata melotot penuh kebencian ia mengangkat aritnya yang tajam. Perempuan ini teringat akan puteranya yang dulu disiksa sampai mati oleh antek tuan tanah ini dan sekarang tiba saatnya untuk membalas dendam yang sudah ia tahan bertahun- tahun lamanya.
Anjing tuan tanah itu memekik ketika sabit diayun ke arah kepalanya. Ia berusaha mengelak, akan tetapi karena tadinya terkena pukulan Ong Hui dan membuat seluruh tubuhnya lemas, elakannya kurang cepat dan “crakkk!” ujung arit itu menembus kulit dan daging pundak, menghantam tulang punggungnya.
“Aduuhhh....... ampunnnn..... nenek Namal...... ampunkan aku. ” Ia merengek-
rengek dan terdengar suara mengejek dari nenek itu, diikuti oleh suara ketawa para hamba tani lainnya. Kembali arit itu diayun “crak-crak-carak!” Darah menyembur keluar dan terdengar anjing tuan tanah itu melolong-lolong kesakitan dan ketakutan.
Pekik dan jerit pengecut para tukang pukul yang tiga orang lagi segera menyusul kawannya ketika para hamba tani mendatangi mereka dan menghujankan senjata- senjata kepada empat orang tukang pukul yang apes itu. Akan tetapi tidak lama, karena sebentar saja tubuh mereka sudah hancur lebur, habis dihajar oleh puluhan orang yang rata-rata menyimpan sakit hati dan dendam yang amat besar turun temurun.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati Thiat-tung Hwesio melihat hal ini. Permainan tongkatnya kacau balau dan ujung pedang Wang Sin sudah melukai pahanya, membuat celananya penuh darah. Para hamba bersorak girang dan mereka ini tiada ubahnya seperti harimau-harimau yang haus darah. Mereka mendesak maju hendak membantu Wang Sin dan isterinya. Mereka tidak kenal takut dan sama sekali tidak mau mundur ketika tongkat hwesio itu yang disapukan ke belakang membuat dua orang hamba terjungkal roboh dengan kaki luka- luka. Mereka maju terus.
Sakit hati dan dendam yang ditahan-tahan bisa membuat orang menjadi kejam hati. Kebencian yang meluap-luap dapat membuat orang mata gelap. “Tangkap pendeta cabul ini!” teriak seorang wanita muda dengan rambut riap-riapan dan mata berputaran penuh kebencian.
“Jangan bunuh dulu, siksa biar dia minta-minta ampun.” “Potong sedikit-sedikit dagingnya.”
“Kubur dia hidup-hidup.” “Bakar dia.”
Demikianlah teriakan-teriakan para hamba tani, laki-laki dan perempuan, kakek- kakek, nenek-nenek, dan kanak-kanak. Mendengar teriakan-teriakan ini, wajah hwesio itu menjadi pucat sekali dan diam-diam ia memeras otak mencari hafalan doa- doa selamat yang pernah ia pelajari sebagai seorang pendeta. Akan tetapi karena selama ini kerjanya hanya menurutkan nafsunya menjadi kaki tangan tuan tanah Yang Can, ia sudah lupa lagi akan semua doa.
Rasa takut dan ngerinya membuat ia tidak dapat bertahan lagi menghadapi pedang Wang Sin dan Ong Hui. Ujung pedang Ong Hui lagi-lagi mencium pundaknya dan sekali pedang Wang Sin menyambar darah mengucur dari dadanya.....
“Mati aku. !” Thiat-tung Hwesio mengeluh ketika ia terhuyung roboh. Puluhan
pasang tangan hamba tani menyambutnya dan di lain saat tubuhnya sudah diseret- seret ke tengah sawah seperti seekor babi hutan yang baru saja ditangkap untuk disembelih beramai-ramai.
Melihat semangat para hamba tani bangkit, Wang Sin gembira. Apalagi ketika melihat dari kanan kiri, hamba-hamba tani yang lain datang pula berlari-lari untuk berkumpul sehingga mereka merupakan serombongan hamba tani yang jumlahnya seratus orang lebih, hatinya menjadi makin gembira.
Ternyata bahwa para kaki tangan tuan tanah di bagian lain segera melarikan diri meninggalkan pekerjaan ketika mendengar bahwa Wang Sin datang bersama seorang wanita Han yang cantik dan mengamuk.
“Kawan-kawan, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk menghancurkan tuan tanah Yang Can. Aku, Wang Sin yang kalian sudah kenal, dan ini isteriku, Ong Hui, kami sudah bertekad untuk membasmi tuan tanah Yang Can dan membebaskan kalian dari penindasan. Siapa ikut?” Para hamba tani bersorak dan semua mengacungkan tangan yang kini sudah berlumur darah, darah empat orang centeng dan darah Thiat-tung Hwesio, di mana mereka bercucuran air mata.