Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 15

Memuat...

Berdebar hati Wang Sin. Ucapan ini sekaligus memperingatkan dia bahwa tentu dia sudah akan diperbolehkan turun gunung, kembali ke Tibet untuk membalas dendam, eh. salah, seperti yang dinasehatkan oleh suhunya, soal balas dendam itu hanya

akibat, yang terutama adalah menolong para budak dari penindasan. “Segala nasehat suhu akan tetap teecu ingat dan taati,” jawabnya tegas.

“Wang Sin,” kata lagi tosu itu, “karena usiamu sudah lebih dari cukup dan mengingat sudah sepatutnya kalau kau mempunyai teman hidup, pinto dan susiokmu sudah bersepakat untuk menjodohkan kau dengan sumoimu. Kalian akan menjadi suami isteri yang cocok sekali.”

Bukan main kagetnya hati Wang Sin mendengar ini, apalagi ketika ia melihat susioknya memandang kepadanya sambil mengangguk-angguk membenarkan kata- kata suhunya itu. Inilah suatu kejadian yang amat langka, malah terhitung aneh dan tak masuk akal baginya. Dia, seorang bekas budak, hendak dijodohkan dengan Ong Hui? Ia telah ditolong oleh Ong Bu Khai.

Di dalam lubuk hatinya ia menganggap susioknya ini seperti tuan penolongnya, seperti tuan besar, Ong Hui seperti nona muda. Mana ia pantas menjadi suami Ong Hui? Jodohnya yang paling tepat adalah seorang budak pula, Ci Ying. Teringat kepada Ci Ying ia lalu menundukkan mukanya yang tadi merah, sekarang berubah pucat.

“Wang Sin, kau tidak lekas menghaturkan terima kasih susiokmu, calon mertuamu?” Cin Kek Tosu berkata lagi, tertawa melihat muridnya tunduk kemalu-maluan.

Sambil berlutut Wang Sin berkata, suaranya terharu.

“Teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada suhu dan susiok yang sudah demikian baik terhadap diri teecu yang miskin dan yatim piatu. Sesungguhnya kalau tidak ada suhu dan susiok, entah menjadi apa orang macam teecu ini, oleh karena itu, sampai matipun teecu takkan dapat melupakan budi suhu berdua dan akan selalu mentaati perintah suhu dan susiok. Hanya saja..... tentang perjodohan. ” Pemuda

itu ragu-ragu dan tidak berani melanjutkan ucapannya.

“Ada apa dengan perjodohan? Lanjutkan, jangan takut dan ragu,” kata Cin Kek Tosu ramah.

Dengan kepala masih tunduk Wang Sin menjawab. “Sesungguhnya ..... teecu. telah

bertunangan, ditunangkan oleh ayah semenjak kecil. Dan tunangan teecu itu. Ci

Ying. entah kemana. Setelah oleh ayah ditunangkan, bagaimana teecu bisa

menerima ikatan jodoh lain?”

Mendengar ini, Ong Bu Khai mengerutkan keningnya. Baru sekarang ia tahu akan hal ini dan mengerti pula ia kenapa lima tahun yang lalu pemuda itu bersikap kurang ajar ketika melihat Ong Hui yang disangkanya Ci Ying tunangannya itu.

“Ah, kiranya gadis yang hilang itu tunanganmu?” katanya. “Wang Sin, kau memang betul sekali menyatakan hal ini kepada kami. Memang seorang anak harus berbakti terhadap pesan orang tua, juga harus mempunyai watak setia. Akan tetapi gadis tunanganmu itu lenyap tidak meninggalkan bekas.

Selama ini, belum pernah aku mendengar tentang dia, biarpun diam-diam aku ikut menyelidiki untuk mencari gadis yang tadinya kusangka hanya adik misanmu itu. Usiamu sudah dua puluh lebih, demikianpun anakku sudah cukup usia, tidak bisa menanti lagi. Andaikata tunanganmu itu sudah tidak berada lagi di dunia ini seperti kukhawatirkan, apakah kau juga tidak menerima ikatan jodoh lain?”

Wang Sin bingung. Memang iapun sudah bersangsi apakah Ci Ying masih hidup? Ke mana mencarinya? Sudah lima tahun tiada kabar ceritanya tentang gadis itu masih hidup. Susioknya sudah begitu baik kepadanya, tidak saja ia berhutang budi malah boleh dibilang berhutang jiwa karena tanpa bantuan susioknya sukarlah hidup merdeka di daerah Tibet. Kalau sekarang ikatan jodoh itu ia tolak, bukankah itu berarti ia membalas kebaikan dengan penghinaan? Ia menjadi bingung, hatinya masih berat terhadap Ci Ying.

Menolak sukar menerimapun sulit.

“Wang Sin, kau tidak usah ragu-ragu. Baiknya diatur begini,” kata pula Ong Bu Khai. “Kau menikah dengan anakku dan kalau kelak ternyata Ci Ying masih hidup dan ia mau melanjutkan ikatan jodohnya denganmu, kau boleh menikah lagi dengan dia.”

Kembali Wang Sin terkejut mendengar ini. Memang iapun tahu bahwa pada waktu itu, menikah dengan lebih dari dua orang gadis adalah wajar, yakni bagi kaum bangsawan dan mungkin orang-orang Han. Akan tetapi bagi seorang bekas budak seperti dia, benar-benar merupakan hal yang amat ganji dan aneh. Betapapun juga, terhadap pemecahan persoalan jodoh ini ia tidak dapat membantah lagi dan terpaksa ia berkata.

“Teecu hanya dapat mentaati semua perintah susiok dan suhu.”

“Bagus!” Cin Kek Tosu berseru girang. “Wang Sin perjalananmu kelak ke selatan bukannya perjalanan mudah dan kau memerlukan seorang pembantu yang kuat dan boleh dipercaya. Hanya sumoimu yang dapat menjadi kawan seperjalanan yang tepat. Akan tetapi kalau kalian belum menikah, hal itu bukan merupakan sesuatu yang patut dan baik. Karena itu, sebelum kau turun gunung mengembara ke Tibet, lebih baik kau melangsungkan perjodohanmu lebih dulu dengan Ong Hui.”

Demikianlah, secara sederhana dan hanya diramaikan oleh para penduduk di sekitar pegunungan Kun-lun-san, dirayakan perjodohan antara Wang Sin dan Ong Hui. Dan pada malam harinya, Ong Hui menangis di dalam kamar penganten.

“Mengapa kau menangis, sumoi?” tanya Wang Sin perlahan.

Mula-mula Ong Hui tidak menjawab, malah tangisnya makin menjadi.

“Sumoi, apakah.... apakah sedih hatimu karena pernikahan ini? Tidak sukakah kau......

?”

Ong Hui menggeleng kepala dan menyusut air matanya.

“Aku berjanji......” katanya terputus-putus, “aku.... akan mencari Ci Ying. mencari

dia untukmu. ”

Wang Sin terkejut, juga terharu. Tidak disangkanya bahwa gadis ini sudah tahu akan hal ini. Tentu susioknya yang berterus terang kepada gadisnya. Memang aneh watak orang-orang kang-ouw ini. Dengan terharu Wang Sin memegang tangan isterinya.

“Harap kau tidak menaruh hati cemburu. Pertunanganku dengan Ci Ying adalah pertunangan semenjak kecil, oleh orang tua kami. Kini Ci Ying sudah lenyap dan sebagai gantinya aku mendapatkan kau. Aku tidak menyesal, malah girang sekali, karena. karena aku cinta padamu Hui-moi, mencinta semenjak pertama kali aku

melihatmu. ” Ong Hui menarik napas panjang, lega dan bahagia.

Sebagai isterimu, aku akan membantumu, suamiku. Membantumu mengangkat kehidupan saudara-saudara di Tibet, membantumu mencari Ci Ying cici. ”

Suasana menjadi sunyi, sunyi yang mengamankan hati dan mendatangkan kebahagiaan bagi dua suami isteri baru itu.

******

Semenjak itu, selama lima tahun itu telah terjadi perubahan di dusun Loka, dusun sebelah utara sungai Yalu-cangpo itu. Tuan tanah Yang Can sudah mulai tua dan tidak lagi dibantu oleh puteranya karena Yang Nam sudah menikah dengan puteri seorang bangsawan dari ibukota Lasha dan pindah ke sana karena berkat pertolongan mertuanya Yang Nam mendapat kedudukan pula di sana.

Akan tetapi, perubahan yang banyak terjadi hanya di dalam rumah tangga tuan tanah itu. Nasib para budak tetap saja buruk seperti dulu, tetap mereka diperas dan bekerja seperti binatang ternak. Kalau di dalam rumah tuan tanah sudah lupa akan peristiwa lima tahun yang lalu, mereka ini, para budak masih ingat dan sering kali mereka menarik napas panjang kalau mereka teringat akan keluarga Ci Ying dan Wang Sin.

Pada suatu pagi, para budak sudah sibuk bekerja di sawah. Hari itu panen dimulai dan keadaannya tidak ada bedanya dengan lima tahun yang lalu ketika peristiwa pembasmian dua keluarga itu mulai terjadi. Tiada bedanya.

Para budak bekerja mati-matian dan di pinggir sawah nampak tukang pukul-tukang pukul dan pendeta-pendeta Lama menjaga dan mengawasi, untuk mencegah para budak bekerja lambat atau mencuri hasil panen. Juga Thiat-tung Hwesio, si pendeta bertongkat besi, masih tetap berjaga di situ, berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, memanggul tongkat besinya dan diam tak bergerak seperti sebuah patung yang menakutkan.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari sebelah timur datang dua ekor kuda yang ditunggangi oleh sepasang orang muda. Kejadian yang ganjil ini tentu saja menarik perhatian orang. Para budak sampai berani melupakan pekerjaan mereka dan para tukang pukul memandang pula ke arah dua orang penunggang kuda itu.

Setelah dua orang penunggang kuda itu dekat, terdengar seruan-seruan perlahan di antara para budak.

“Wang Sin. bukankah dia itu Wang Sin.”

Memang, seorang di antara dua orang penunggang kuda itu adalah Wang Sin. Mudah saja mengenal wajahnya yang tampan dan keras penuh garis-garis yang yang membuat ia kelihatan gagah, tubuhnya yang makin tegap berisi. Akan tetapi dia sekarang mengenakan pakaian Han dan dipinggangnya tergantung sebatang pedang. Orang kedua adalah isterinya, Ong Hui yang cantik jelita dan bersikap gagah pula. Setelah para budak mengenalnya, semua tidak memperdulikan lagi pekerjaan mereka, yang jauh datang berlari dan berkumpullah para budak menjadi gerombolan, penuh keheranan, kekaguman, dan kecemasan. Bagaimana pemuda yang telah berhasil melarikan diri, membebaskan diri dari mereka ini sekarang datang kembali?

Demikian mereka bertanya-tanya.

Sebaliknya para tukang pukul dan hwesio yang tua, yang masih mengenal Wang Sin, menjadi terheran dan marah bercampur gelisah. Mau apakah pemuda setan ini sekarang tiba-tiba muncul? Toya, tongkat, dan golok dipegang erat-erat, para antek tuan tanah itu siap menghadapi segala kemungkinan. Malah beberapa orang di antara mereka sudah gatal-gatal tangan untuk menangkap pemuda yang telah melarikan diri dan berdosa kepada tuan tanah maupun kepada pendeta kepala itu.

Sementara itu, ketika Wang Sin melihat para budak, mengenal banyak wajah-wajah lama di antara wajah budak-budak baru, tak tertahan lagi dua titik air mata menuruni pipinya. Namun ia memaksa sebuah senyum lebar dan tangan kanannya ia angkat, dilambaikan. “Selamat bertemu kembali saudara-saudaraku yang tercinta.”

Post a Comment