Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 14

Memuat...

Diam-diam Cin Kek Tosu merasa terharu, juga mendongkol melihat kecongkakan pandai besi ini. Namun ia harus akui bahwa dalam ucapan kasar tadi terkandung kebenaran. “Kawan, sebetulnya aku mencari baja yang baik untuk bahan membuat pedang. Kulihat bahan baja yang kau tempa itu amat baik, maka kalau kau mau memberi untuk bahan pedang aku mau menukarnya dengan apa yang kau minta.”

“Setan, kau malah hendak mencuri dan membujuk aku menjadi pencuri? Wang Tun biarpun budak hina dina kurang makan, belum begitu rendah untuk mencuri barang orang lain. Tahu?”

Cin Kek Tosu menarik napas panjang, kagum sekali. “Sukar mencari orang sejujur engkau, segagah engkau, akan tetapi juga sebodoh engkau.”

“Keparat, kalau tidak pergi kupatahkan batang lehermu.”

“Cobalah kalau bisa,” Cin Kek Tosu menantang karena ia ingin menyaksikan gerakan dan tenaga orang yang diam-diam menimbulkan rasa suka dihatinya ini.

“Kau. kau menantang?” Terbayang keheranan dalam pandang mata Wang Tun. Ia

melangkah maju dan kedua lengan tangannya yang kuat berotot itu sudah bergerak maju hendak mencekik leher tosu tua kurus di depannya, akan tetapi ia turunkan lagi tangannya dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Tidak, aku tidak mau menjadi pengecut, hanya berani menyerang seorang kakek kurus selemah engkau. Pergilah!” Wang Tun kembali ke tempat kerjanya dan menempa besi lagi dengan kuatnya untuk menghilangkan kegemasan hatinya.

Cin Kek Tosu tertawa, makin suka kepada pemuda sederhana ini. Ia melihat sebatang tombak di dekat situ, diambilnya tombak ini dan dengan mudah ia membekuk dan membelit-belitkan besi itu ke lengannya.

Wang Tun menghentikan pekerjaannya dan memandang dengan mata terbelalak. “Kau mempunyai ilmu sihir...... seperti pendeta-pendeta Lama. !” serunya.

“Bukan ilmu sihir, orang muda. Melainkan ilmu mempergunakan tenaga secara baik. Oleh karena itu aku tadi berani menantangmu untuk mencoba tenagamu kepadaku.

Kau takkan menang.” “Betulkah? Kalau begitu, coba kau menerima pukulanku, hendak kulihat sampai bagaimana kuat tanganmu.”

Wang Tun meloncat maju dan tangannya yang besar melayang mengirim pukulan ke arah dada tosu itu. Akan tetapi hampir saja ia terjungkal karena pukulannya yang ia lakukan dengan sekuat tenaga itu mengenai angin belaka dan tahu-tahu kakek itu sudah berada di sebelah kanannya. Ia membalik dan memukul lagi bertubi-tubi sampai lima kali, akan tetapi sia-sia belaka.

“Kau curang! Kenapa tidak membiarkan aku memukulmu?”

“Ini namanya ilmu silat, orang muda. Ilmu silat mengajar orang supaya jangan sampai terpukul oleh lawan.”

“Kalau begitu, balaslah memukul!”

Cin Kek Tosu tersenyum. Sambil mengelak sekali lagi ia berkata, “Coba kau terima tamparan ini.” Dan tangan kirinya menampar pundak Wang Tun.

Wang Tun berseru kesakitan dan terguling roboh. Ia merasa seakan tadi ditumbuk oleh sebuah toya besi yang amat kuat. Ia menjadi penasaran marah. Tangannya bergerak dan sebuah pisau belati telah berada ditangannya. Tanpa banyak cakap lagi ia menyerbu, pisau itu bergerak dan sinar kebiruan meluncur ke arah dada Cin Kek Tosu.

Tosu itu mengeluarkan seruan kaget, cepat mengelak dan ketika tangannya menyambar, pisau itu sudah terampas olehnya. Wang Tun menubruk, tapi sebuah dorongan tangan kiri tosu itu lagi-lagi membuat ia tercengang. Pemuda itu tidak segera berdiri, hanya memandang dengan mata terbelalak keheranan. Ia melihat kakek itu memegang belatinya, bukan untuk balas menyerangnya melainkan untuk diamat- amati secara seksama sambil berkali-kali mengeluarkan seruan kagum.

“Baja bagus..... luar biasa. ” Ditekan-tekannya pisau itu, dikerahkannya tenaga

untuk membuat pisau itu patah atau melengkung, namun sia-sia. Pisau itu terbuat dari pada bahan yang benar-benar kuat luar biasa.

Wang Tun tertawa dan merayap bangun. “Biarpun kau sekuat seratus ekor lembu yak, tidak nanti kau dapat membuat pisau itu patah,” katanya.

Cin Kek Tosu memandang kepadanya.

“Orang muda, dari mana kau memperoleh bahan baja sehebat ini?”

“Sukar. carinya sukar, orang tua yang gagah. Akan tetapi, betapun baiknya pisau

itu, menghadapi orang sepandai engkau, tiada gunanya. ” Pemuda itu menarik napas

panjang dan mukanya membayangkan kekecewaan hatinya. Baru sekarang ia tahu bahwa dia adalah seorang yang tidak ada artinya. Menghadapi seorang kakek tua kurus lemah saja ia kalah dan tidak berdaya sama sekali. “Dengar orang muda. Mari kita berjanji dan mengadakan pertukaran. Kau carikan bahan baja seperti ini untukku dan aku akan memberi pelajaran ilmu berkelahi seperti yang kupergunakan mengalahkan kau tadi kepadamu. Bagaimana?”

Wang Tun girang sekali. “Bagus, aku suka sekali. Akan tetapi ketahuilah, bahan baja itu adanya hanya di dasar sungai, merupakan pasir-pasir biru yang hanya seperseratus bagian daripada pasir-pasir di dasar sungai. Untuk membuat pisau itu saja, aku mengumpulkan pasir-pasir biru itu selama berbulan-bulan.”

“Aku membutuhkan bahan untuk membuat pedang,” kata kakek itu. “Carikanlah, biar sampai berapa lama akan kunanti dan selama itu pula kau boleh belajar ilmu silat kepadaku.”

Demikianlah, selama setengah tahun lebih Wang Tun belajar ilmu silat dari Cin Kek Tosu dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan pasir biru itu. Setelah cukup banyak untuk membuat sebatang pedang pendek, selesai pula Cin Kek Tosu mengajarnya dan pada waktu itu Wang Tun telah mewarisi ilmu silat Kun-lun-pai yang cukup kuat.

Demikian pula riwayat singkat bagaimana Wang Tun mengaku sebagai murid Cin Kek Tosu. Tosu ini lalu kembali ke Kun-lun-pai dan bahan baja yang biru itu dibuatnya menjadi sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan, amat tajam dan kuat mengalahkan semua bahan logam yang bagaimanapun kerasnya.

Kemudian ketika ia mendengar riwayat Wang Sin, hatinya tergerak dan biarpun sudah amat tua, ia menyediakan tenaga untuk memimpin pemuda putera Wang Tun itu untuk mempelajari ilmu silat Kun-lun-pai. Malah dengan suka rela ia memberikan pedang sinar biru yang dulu bahannya ia dapatkan dari Wang Tun kepada pemuda Tibet ini sehingga Wang Sin memperoleh ilmu silat pedang yang luar biasa.

Waktu berjalan amat cepatnya dan lima tahun terlewat sudah selama Wang Sin belajar ilmu silat di Kun-lun. Dia memang berbakat baik dan berkemauan keras. Susioknya (paman guru) Ong Bu Khai dan suhunya Cin Kek Tosu, merasa amat kagum melihat pemuda ini tiada hentinya siang malam berlatih diri sehingga sebentar saja sudah melampaui kepandaian Ong Hui, malah sudah dapat menyamai tingkat Ong Bu Khai sendiri.

Melihat watak yang baik dari Wang Sin, diam-diam Ong Bu Khai timbul niatan untuk mengambil mantu pemuda Tibet ini. Dengan terus terang ia merundingkan hal ini dengan suhengnya, Cin Kek Tosu yang juga merasa setuju dan girang sekali bahwa sutenya tidak memiliki watak tinggi hati seperti kebanyakan orang Han yang memandang suku bangsa-suku bangsa lain lebih rendah derajatnya dari pada tingkat bangsa mereka sendiri.

Adapun hubungan antara Wang Sin dan Ong Hui juga akrab. Ong Hui memang seorang gadis lincah yang peramah dan jujur. Juga gadis ini menaruh simpati kepada pemuda Tibet yang telah mengalami hidup penuh penderitaan ini. Setelah Wang Sin menjadi saudara seperguruannya, ia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini memang berjiwa gagah dan berwatak baik, sayang agak pendiam. Di pihak Wang Sin, semenjak pertama bertemu memang ia menaruh kekaguman terhadap gadis ini. Hal ini adalah wajar. Di tempatnya yang dahulu, orang-orang perempuan merupakan makhluk lemah yang selalu hanya menjadi permainan laki- laki.

Maka melihat Ong Hui yang selain cantik jelita juga gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, siapa orangnya tidak menjadi kagum? Malah sering kali sebelum matang ilmu silatnya, ketika mula-mula sedang belajar seringkali ia mendapat petunjuk dan bantuan gadis ini sehingga timbul kasih sayang dan hormatnya kepada sumoi (adik seperguruan) ini.

Biarpun kalau menurut tingkat, Ong Hui lebih dulu belajar daripadanya dan terhitung suci (kakak seperguruan), akan tetapi karena dia adalah murid Cin Kek Tosu yang menjadi kakak seperguruan ayah gadis itu, maka ia menjadi lebih tua kedudukannya dan menyebut sumoi kepada Ong Hui. Sebaliknya gadis itu menyebut suheng.

Tidak bisa dibilang bahwa dua orang muda ini mengandung hati saling mencintai, terutama di pihak Wang Sin, akan tetapi tak dapat disangkal pula bahwa mereka saling suka dan menaruh simpati. Wang Sin yang pendiam tak pernah menceritakan hubungannya dengan Ci Ying kepada orang lain, akan tetapi sebetulnya tak pernah ia dapat melupakan Ci Ying. Yang menjadi kenangan malam menjadi impian.

Pada suatu hari Wang Sin dipanggil oleh suhunya dan ia menjadi agak heran melihat suhunya sudah duduk di situ bersama susioknya, menanti kedatangannya. Wajah mereka berisi dan pandangan mata mereka kepadanya membuat hatinya berdebar karena tidak seperti biasa. Tentu ada sesuatu yang amat penting, pikirnya. Setelah ia maju berlutut dengan hormat, suhunya yang sudah tua sekali itu mengurut-urut jenggot sambil berkata.

“Wang Sin, muridku. Kau telah lima tahun belajar di sini dan pinto harus mengaku bahwa kami merasa puas melihat ketekunanmu. Karena itu, pinto hadiahkan pedang sinar biru itu kepadamu. Sebetulnya bukan hadiah karena sesungguhnya pedang itu tadinya ayahmu yang mencari bahannya, maka sudah semestinya pinto kembalikan kepadamu. Pergunakanlah pokiam ini baik-baik, jangan sekali-kali kau pergunakan untuk menurutkan nafsu belaka. Tentu kau masih ingat akan semua nasehat pinto.”

Post a Comment