Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 13

Memuat...

belakang ia seperti Ci Ying, yaitu.... bentuk tubuhnya dan. dan pakaiannya yang

tambal-tambalan ”

“Apanya sih Ci Ying itu?” tanya Ong Hui setelah mendengar jawaban ini, merasa lega bahwa pemuda itu tadi memeluknya bukan karena kurang ajar, melainkan karena salah lihat. Pertanyaan ini diulang oleh Ong Bu Khai dalam bahasa Tibet.

Mendengar pertanyaan ini, Wang Sin menjadi bingung dan ragu-ragu. “Dia. dia

itu..... adalah adik misanku puteri tunggal paman Ci Leng yang pandai membaca

dan menulis dan juga berani berkorban menolong bayi cucu nenek lumpuh,” kata Wang Sin dengan suara bangga.

Mendengar jawaban ini, Ong Hui mengangkat dadanya. “Akupun pandai membaca dan menulis kiranya tidak kalah oleh gadis bernama Ci Ying itu. Akupun berani membela orang, kalau tuan tanah jahat itu berada di sini, akan kupatahkan lehernya.”

Ayahnya tersenyum dan kata-kata ini tidak ia terjemahkan kepada Wang Sin yang memandang kepada gadis itu dengan kagum. Ia tadi sudah merasai tamparan gadis ini dan tahulah ia bahwa gadis ini tentulah pandai silat. Teringatlah ia akan pesan mendiang ayahnya dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Bu Khai.

“Lo-enghiong, setelah mendengar riwayat teecu, harap lo-enghiong sudi memberi pelajaran silat kepada teecu, agar kelak teecu dapat membalaskan kematian ayah, dapat membebaskan kawan-kawan budak dari cengkeraman tuan tanah jahat dan antek-anteknya.

Ong Bu Khai menarik napas panjang, teringat akan keadaan di tanah airnya sendiri, di pedalaman Tiongkok. “Dunia ini di mana sama saja,” katanya mengeluh, “Si kaya memeras si miskin, si kuat menindas si lemah. Nafsu jahat menguasai manusia, hukum negara diinjak-injak, yang berwajib silau oleh harta dunia melupakan tugas, pembesar-pembesar tidak merupakan pimpinan bijaksana hanya berusaha mati-matian membesarkan kesenangan pribadi melupakan rakyat. Di Tiongkok, di Tibet dan di mana-mana rakyat kecil menderita. ”

Diam-diam Wang Sin merasa heran mendengar ini. Apakah di lain tempat juga terjadi penindasan seperti di Tibet?

“Lo-enghiong, apakah di negerimu juga terdapat budak-budak yang hidupnya lebih sengsara daripada kuda atau kerbau?” ia memberanikan hatinya bertanya.

Kembali orang gagah itu menarik napas panjang. “Perbudakkan sudah hapus, tidak ada lagi budak-budak yang dapat diperjual belikan. Akan tetapi apa bedanya? Yang bekerja paling berat mendapatkan hasil paling sedikit. Para petani yang menggarap sawah, dari meluku tanah sampai menanam dan menuai padi, mereka yang menghasilkan bahan makan dengan pupuk peluh dan darah, malah kadang-kadang tidak dapat makan dan mati kelaparan. Memang aneh, tidak sesuai dengan hukum alam, akan tetapi nyata. Yang membuat tidak memakai, yang menanam tidak memakan hasilnya. Celaka...... celaka. ”

Wang Sin menjadi makin penasaran. “Kalau begitu, lo-enghiong, para dewa tidak adil! Siapa menjadi penegak hukum yang adil kalau para pembesar sendiri tidak melakukan kewajibannya dan silau oleh harta dunia?”

“Kita yang harus bertindak, kita yang harus turun tangan membela keadilan. Biarpun tenaga kita terbatas, biarpun tindakan kita hanya merupakan setetes air dalam samudera, setidaknya kita bisa menghukum orang-orang jahat dan membela yang lemah tertindas. Itulah tugas pendekar-pendekar yang mempelajari ilmu semenjak kecil dengan susah payah. Untuk membela keadilan, aku dan anakku ini tidak segan- segan mempertaruhkan nyawa.”

Wang Sin kagum bukan main dan kini ia memandang kepada gadis itu dengan hormat. Ia lalu berlutut kembali. “Lo-enghiong kalau begitu mohon kau sudi menerimaku sebagai murid agar akupun dapat ikut-ikut membela kebenaran membasmi yang jahat.”

Ong Bu Khai mengangguk-angguk, lalu berkata, “Wang Sin, oleh mendiang ayahmu kau disuruh menemui suhengku Cin Kek Tosu di Kun-lun-san. Oleh karena itu marilah kau ikut dengan kami ke Kun-lun-san dan sesampainya di sana terserah keputusan suheng. Kalau suheng suka menerimamu sebagai murid, itu baik sekali.

Kalau seandainya suheng yang sudah tua itu sekarang malas mengajar, barulah kau boleh belajar sedikit ilmu yang kumiliki.”

Bukan main girangnya hati Wang Sin. Sambil berlutut ia menghaturkan terima kasihnya berulang-ulang. Dan beberapa hari kemudian ia telah kelihatan berjalan di samping ayah dan anak itu, dengan rukun ia berjalan di sebelah Ong Hui sambil mempelajari bahasa Han sedikit demi sedikit.

******

Cin Kek Tosu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal, sudah terlalu tua untuk menerima murid baru. Akan tetapi mendengar bahwa Wang Tun dianiaya sampai tewas oleh tuan tanah, dan mendengar pula penuturan tentang riwayat Wang Sin, kakek ini menjadi marah dan minta kepada sutenya, Ong Bu Khai untuk mendidik pemuda Tibet itu di bawah pengawasannya sendiri. Kesempatan baik ini dipergunakan pula oleh Ong Hui untuk memperdalam ilmu silatnya dibawah petunjuk supeknya yang memang memiliki tingkat lebih tinggi daripada ayahnya.

Sebetulnya, biarpun Wang Tun mengaku sebagai murid Cin Kek Tosu, akan tetapi pandai besi Tibet ini sebetulnya hanya belajar selama setengah tahun saja kepada tosu Kun-lun itu. Terjadi dua puluh tahun lebih yang lalu, ketika rombongan besar yang mengantar Puteri Wen Ceng datang di Tibet. Karena peristiwa ini juga merupakan hal yang menarik, baiklah kita mundur dua puluh empat tahun yang lalu dan mengikuti jalannya peristiwa pernikahan antara seorang raja Tibet dengan seorang Puteri dari Tiongkok, yaitu Puteri Wen Ceng puteri dari maharaja Tai Cung dari dinasti Tang.

Pada masa itu, raja di Tibet yang bernama Turfan atau Sron Can Gampo yang baru berusia enam belas tahun, mendengar berita dari orang-orang yang datang dari timur bahwa puteri maharaja yang cantik jelita dan terkenal cerdas dan pandai dalam hal bermacam-macam pekerjaan tangan, juga pengetahuannya tentang ilmu luas sekali. Gandrunglah raja yang masih muda ini dan ia segera mengutus seorang menterinya yang terkenal cerdik dan gagah perkasa bernama Gar untuk pergi ke Tiang-an dan meminang puteri itu.

Berangkatlah menteri ini dengan membawa berpeti-peti barang berharga, pusaka- pusaka terbuat daripada emas dan perak, dihias ratna mutu manikam yang tidak ternilai harganya. Benda-benda ini dibawa untuk dihaturkan kepada maharaja Tang sebagai mahar atau boleh juga disebut sebagai mas kawin.

Ketika menteri Gar tiba di Tiang-an, ternyata bahwa selain dia, banyak juga utusan- utusan dari negara lain yang berdatangan di ibukota kerajaan Tang untuk meminang Puteri Wen Ceng. Maharaja Tai Cung yang tidak ingin membeda-bedakan dan menyinggung perasaan negara lain, lalu mengadakan sayembara, yaitu ia menguji kecerdikan para utusan itu.

Akhirnya, berkat kecerdikan Menteri Gar, ia menang dan pinangan rajanya diterima. Dengan diantar rombongan-rombongan ahli kerajinan tangan, ahli pertanian, ahli musik dan lain-lain, Puteri Wen Ceng diboyong ke Tibet. Dalam rombongan inilah Cin Kek Tosu ikut, yaitu diperintahkan oleh pembesar yang bertugas mengumpulkan orang-orang gagah untuk mengawal perjalanan Puteri Wen Ceng ke barat.

Setelah puteri itu tiba dengan selamat di Lasha ibu kota Tibet, Cin Kek Tosu lalu menjelajah daerah Tibet. Ia tertarik oleh keadaan penduduknya yang masih amat sederhana hidupnya, dan terutama ia mencari bahan pedang yang baik, yang kabarnya banyak terdapat di daerah liar ini.

Dalam penjelajahannya inilah ia bertemu dengan Wang Tun, pandai besi yang pandai membuat pedang. Ketika itu Wang Tun baru berusia dua puluhan tahun, biarpun sudah menjadi budak, namun masih berdarah panas dan suka memberontak.

Cin Kek Tosu tertarik ketika kebetulan datang di dusun itu dan mendengar bahwa di situ terdapat seorang pandai besi yang pandai. Didatanginya pondok pandai besi ini dan ia melihat dengan kagum seorang pemuda Tibet sedang menempa besi merah dengan kuatnya. Melihat sinar kebiruan yang berpijar setiap kali besi merah itu dipukul, diam-diam Cin Kek Tosu mengagumi baja tulen itu. Ia lalu masuk dan pandai besi menunda pekerjaannya, memandangnya dengan mata marah.

Wang Tun ketika itu sedang marah. Terlalu banyak pesanan pekerjaan dihujankan oleh tuan tanah kepadanya. Hendak menolak tidak berani karena antek-antek tuan tanah selalu siap mengeroyok dan menyiksanya. Kalau diterima, berarti siang malam ia akan bekerja keras.

“Kau siapa dan mau apa?” bentaknya melihat seorang berpakaian pendeta berwajah asing dan kepucatan.

Cin Kek Tosu tersenyum. Ia sudah cukup lama berada di Tibet dan sudah mempelajari bahasa daerah itu. “Namaku Cin Kek Tosu dan aku datang hendak menonton kau bekerja.”

Wang Tun merasa diejek. Pekerjaan baginya bukan pekerjaan lagi, melainkan siksaan dan orang yang menonton dia disiksa tiada lain artinya hanya untuk mengejek.

“Apa kau datang hendak menertawakan aku?” bentaknya dengan mata merah.

Cin Kek Tosu terheran, lalu tersenyum melihat sikap yang galak dari pandai besi yang hitam penuh arang dan debu tubuhnya itu. “Tidak kawan. Aku tidak mengejek melainkan mengagumi pekerjaanmu. Mengapa pula aku harus mengejek?”

“Apalagi kerjaan orang-orang Han selain untuk mengejek kami para budak?” “Eh, kenapa kau bilang begitu? Apa salahnya orang Han?”

Wang Tun makin mendongkol. Ditinggalkannya pekerjaannya dan ia menghampiri Cin Kek Tosu dengan langkah lebar dan sikap mengancam. “Kau masih pura-pura bertanya? Katanya negara orang Han adalah negara besar, orang-orangnya adalah orang-orang pandai, tidak tahunya tiada bedanya dengan bangsa penjilat. Kalian datang hanya untuk menyenangkan hatinya para bangsawan dan para tuan tanah. Apa peduli kalian akan budak-budak yang hidup tersiksa? Siksaan yang diderita para budak kalian anggap tontonan yang menyenangkan, ya? Hayo lekas minggat dari sini, jangan sampai kesabaranku hilang. Kalau terjadi begitu, jangan salahkan Wang Tun kalau sampai lehermu patah-patah.”

Post a Comment