Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama beberapa hari, akhirnya ia tiba di bagian sungai yang berbelok ke selatan. Akan tetapi alangkah kecewa dan gelisah hatinya ketika ia tidak melihat Ci Ying di tempat itu. Ia turun dari kuda, menambatkan kendali kudanya pada pohon dan berjalan menyusuri pantai sungai, mencari-cari.
Bukan main kagetnya ketika akhirnya ia melihat sebuah perahu kecil terbalik, berhenti di pinggir tertahan batu karang. Tak salah lagi, itulah perahu yang dipergunakan Ci Ying ketika melarikan diri. Hatinya berdebar-debar penuh kekhawatiran. Terbalikkah perahu gadis itu? Celaka, apa jadinya dengan Ci Ying dan bayi yang dibawanya? Setelah mencari-cari tanda tanpa menemukan sesuatu.
Wang Sin mencari-cari di dalam hutan dekat pantai itu, mengharapkan kalau-kalau Ci Ying dapat berenang ke pinggir dan bersembunyi di dalam hutan. Akan tetapi kegelisahannya memuncak ketika ia menemukan sebuah sepatu butut. Itulah sepatu Ci Ying.
Wang Sin menjadi girang sekali. Ditemukannya sepatu ini di dalam hutan menjadi tanda bahwa gadis ini tidak mati tenggelam dan sudah bisa mendarat. Akan tetapi mengapa sepatunya tertinggal di situ? Biarpun butut, sepatu ini masih dapat melindungi kaki dari tajamnya batu-batu karang. Ia memasukkan sepatu butut itu di kantong bajunya, lalu menunggangi kudanya memasuki hutan, terus mencari sambil memanggil-manggil, “Ci Ying ...... Ci Ying !”
Sehari semalam ia menjelajahi hutan itu sambil memanggil-manggil, lupa akan lapar di perutnya, lupa bahwa kudanya sudah terlampau lama ia pacu sampai akhirnya kuda itu terguling roboh kelelahan. Namun Wang Sin tidak memperdulikannya, malah meninggalkan kuda itu dan melanjutkan usahanya mencari Ci Ying dengan jalan kaki. Akhirnya iapun terpaksa menghentikan usahanya ini ketika pada keesokkan harinya ia sendiri terguling roboh pingsan di bawah pohon saking lelah, lapar dan gelisah.
Matahari telah naik tinggi ketika Wang Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa sekuruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas semangatnya yang penuh diliputi kekhawatiran. Di mana adanya Ci Ying? Apakah, setelah bersusah payah melarikan diri, akhirnya gadis itu terjatuh juga ke dalam tangan tuan tanah, atau ke dalam tangan orang lain yang jahat? “Ci Ying. ” keluhnya dan ia segera bangkit kembali dan berjalan terhuyung-
huyung melanjutkan perjalanannya mencari gadis yang dicintainya itu.
Lewat tengah hari ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia kucek- kucek matanya ketika melihat seorang gadis duduk membelakanginya. Gadis ini pakaiannya sudah tambal-tambalan di sana sini, duduk seorang diri di atas sebuah batu besar, melamun dan agaknya menikmati tiupan angin yang memberisik.
“Ci Ying. !” seru Wang Sin lemah sambil berjalan terhuyung menghampiri gadis itu
dari belakang. Mungkin karena berisiknya suara rumput saling bergesek, gadis itu tidak mendengar ada orang mendekatinya.
“Ci Ying. !” Wang Sin menjadi gembira sekali sampai ia lupa diri dan menubruk
gadis itu, merangkulnya dari belakang saking girangnya.
Gadis itu terkejut, tangannya bergerak dan “Plaakk!” kepala Wang Sin sudah ditamparnya, tamparan ini keras sekali, membuat tubuh pemuda itu terpelanting dan jatuh telentang di antara rumput-rumput tebal. Gadis itu berdiri membelalakkan matanya sambil memaki.
“Keparat, berani kau kurang ajar kepadaku?!!”
Kagetnya Wang Sin bukan kepalang ketika kini ia melihat dengan jelas bahwa yang dipeluknya itu bukanlah Ci Ying melainkan seorang gadis cantik, seorang gadis bangsa Han yang memaki-maki kepadanya tanpa ia ketahui apa yang dimakinya karena ia tidak mengerti sepatapun kata-kata Han. Akan tetapi ia dapat mengerti bahwa gadis itu marah sekali malah kini gadis itu mencabut pedangnya dan menghampirinya dengan mata mengancam.
Wang Sin sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya memang sudah lemah dan tidak bertenaga saking lelah dan lapar, ditambah lagi oleh tamparan yang keras lagi membuat pandang matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia hanya bisa meramkan mata ketika gadis itu menodongkan ujung pedang yang runcing itu di hulu hatinya. Juga tidak mengerti ketika gadis itu membentaknya.
“Keparat, siapa kau dan apa maksudmu berlaku begitu kurang ajar?”
Karena Wang Sin hanya rebah telentang tak bergerak sambil meramkan mata, gadis itu makin marah. “Bangsat, apa kau sudah bosan hidup?” Ia angkat pedangnya hendak membacok.
“Hui-ji (anak Hui). jangan bunuh orang!” tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan
muncullah seorang laki-laki gagah perkasa, berusia kurang lebih empat puluh tahun bertubuh tegap dan di pinggangnya tergantung pedang. Dengan lompatan yang cekatan laki-laki ini sudah berada di samping anak gadisnya dan mencekal pergelangan tangan gadis itu yang sudah siap membacok leher Wang Sin. “Ada apakah? Siapa dia ini dan kenapa kau hendak membunuhnya?”
“Dia kurang ajar, ayah. datang-datang ia. ia menubruk dan memelukku. Biar
kubunuh anjing gila ini!!” “Ssttt, jangan. Kulihat dia seperti orang sakit,” kata ayahnya sambil memandang kepada Wang Sin yang kini sudah membuka matanya dan bangun duduk dengan kepala masih puyeng.
“Orang muda, kau siapakah?” tanya ayah gadis itu. Akan tetapi Wang Sin sama sekali tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan.
Orang tua itu memandang dengan tajam dan kini terlihatlah olehnya raut wajah Wang Sin raut wajah seorang Tibet. Ia lalu mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Tibet yang cukup lancar dan jelas.
“Agaknya kau orang pedalaman. Siapa kau dan mengapa kau bersikap kurang ajar?”
Wang Sin menjadi lega hatinya. Setidaknya orang Han ini bisa bicara dalam bahasanya. Ia lalu merayap bangun dan memberi hormat. “Harap tuan besar sudi memaafkan hamba tadi, hamba tidak mengenal nona ini, hamba kira dia. ”
Kakek itu mengangguk. “Kau tentu seorang budak, bukan? Mencuri dan melarikan diri, ya?”
Wang Sin kaget sekali dan seketika semangatnya bangkit untuk melakukan perlawanan. Tak mungkin orang akan dapat menangkapnya begitu saja, tekadnya.
“Tidak...., tidak. ! Jangan harap kau akan dapat menangkap aku kembali!” serunya
dan tiba-tiba ia melakukan serangan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada kakek itu dengan sepenuh tenaga. Biarpun tidak sangat sempurna Wang Sin pernah mempelajari ilmu pukulan dari ayahnya dan pukulannya selain cepat, juga mantap sekali.
Kakek itu mengeluarkan seruan heran sambil mengelak dari pukulan itu. Bukankah itu gerakan Pek-wan-hian-ko (Lutung putih berikan buah), sebuah jurus dari ilmu silat Kun-lun-ciang-hoat? Melihat pukulannya mengenai angin kosong, Wang Sin menyusul dengan pukulan kedua, lebih hebat dari yang pertama.
Sekali lagi kakek itu terkejut. Inilah gerak tipu Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku Sawah) tidak bisa keliru lagi, biarpun gerakannya kaku namun kedudukan kaki dan tangan adalah seratus prosen ilmu silat Kun-lun-pai. Ia sengaja menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya dan ia merasa betapa tenaga pemuda ini besar sekali, tenaga luar yang mengagumkan.
Namun ia belum mau merobohkan Wang Sin, memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menyerang terus karena ia ingin melihat gerakan-gerakan pemuda yang bisa mainkan Kun-lun-ciang-hoat ini. Dan makin lama kakek itu makin heran.
Wang Sin benar-benar telah mengeluarkan banyak jurus Kun-lun-ciang-hoat yang kesemuanya kaku gerakannya, akan tetapi adalah ilmu silat aseli dari Kun-lun-pai, belum bercampur ilmu pukulan lain cabang. Aneh, bagaimana seorang pemuda Tibet bisa mainkan ilmu silat ini? “Tahan dulu, orang muda. Aku mau bicara!” kata kakek itu sambil menangkis sebuah pukulan.
Namun Wang Sin yang sudah ketakutan kalau-kalau ia akan ditangkap oleh orang ini dan dibawa kembali kepada tuan tanah, tidak perduli dan terus menyerang seperti kerbau gila. Karena terlalu bernafsu melihat pukulannya selalu tidak mengenai lawan, ia menjadi ngawur dan kini bergerak asal memukul saja. Juga tubuhnya mulai menjadi lemas sekali.
Melihat kenekatan pemuda itu, kakek tadi lalu menggunakan jari tangannya menotok dan robohlah Wang Sin tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi ia masih memandang kakek itu dengan sepasang mata melotot, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut atau menyerah.
“Jangan nekat menyerang terus, orang muda, mari kita bicara baik-baik,” kata kakek itu sambil membebaskan totokannya tadi.
Begitu terbebas dari totokan, Wang Sin berkata, “Aku tidak sudi kembali, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!”
Gadis yang sama sekali tidak mengerti percakapan antara ayahnya dan pemuda itu, melihat sikap Wang Sin terus melawan dan melotot-lotot, menjadi gemas. “Ayah, mampuskan saja orang kurang ajar ini, habis perkara!”
Ayahnya memberi tanda dengan tangan supaya gadisnya bersabar. Lalu ia berkata kepada Wang Sin, “Orang muda kau salah duga. Aku sama sekali tidak akan membawamu kembali, hanya ingin bertanya. Kau siapa dan kenapa tadi kau bersikap kurang ajar? Pula, kau mempelajari ilmu silat dari siapakah?”
Wang Sin masih menaruh curiga maka ia segan untuk menceritakan keadaannya, akan tetapi ia menjawab juga, “Aku belajar dari ayahku sendiri.”
“Siapa nama ayahmu?”
“Ayah bernama Wang Tun. ”
Kakek itu nampak tercengang. “Apa? Ayahmu bernama Wang Tun? Ah, dia murid suheng Cin Kek Tosu. Orang muda kita adalah orang-orang sendiri. Di mana ayahmu? Mengapa kau sampai di sini?” Dia memegang pundak Wang Sin dengan girang.
Wang Sin juga terkejut. Ayahnya telah berpesan supaya ia mencari guru ayahnya yang bernama Cin Kek Tosu di Kun-lun-san dan kalau kakek ini masih adik seperguruan Cin Kek Tosu, berarti kakek ini adalah paman guru ayahnya. Pantas demikian lihai.
“Ayah...... ayah telah dibunuh oleh tuan tanah. ”
Kakek itu menarik napas panjang. “Hemmm, lagu lama terulang kembali. Tuan tanah- tuan tanah di Tibet mulai mengganas, memperlakukan hamba-hambanya seperti hewan. Anak, ceritakanlah dengan sejujurnya apa yang telah terjadi. Jangan ragu- ragu, ketahuilah bahwa aku adalah Ong Bu Khai, terhitung paman guru dari ayahmu sendiri dan ini adalah puteriku, Ong Hui. Di antara orang sendiri kau tidak perlu menyembunyikan sesuatu, barangkali kami akan dapat menolongmu.”
Kemudian ia berkata kepada gadis itu. “Hui-ji bocah ini bukan orang lain. Dia adalah putera dari Wang Tun si pandai besi, murid dari supekmu Cin Kek Tosu.”
“Kenapa dia kurang ajar?”
“Hushh, dengarkan dulu riwayatnya, tentu ada sebab-sebabnya.”
Wang Sin mulai percaya dan berceritalah dia tentang semua penderitaannya. Tentang para budak yang dijadikan “ternak berbicara” oleh tuan tanah Yang Can, tentang semua penindasan dan akhirnya tentang Ci Ying yang melarikan diri karena hendak dipaksa menjadi selir tuan muda, tentang ayahnya yang terbunuh dan dia sendiri yang melarikan diri sampai ke tempat itu.
“Aku tidak dapat menemukan Ci Ying, hanya sepatunya...... dan anak bayi itu. ah,
apa yang terjadi dengan mereka?” Wang Sin mengakhiri penuturannya yang disalin dalam bahasa Han oleh Ong Bu Khai kepada puterinya.
Ayah dan anak itu terharu sekali mendengar penuturan Wang Sin.
“Ayah, dia memang patut dikasihani. Akan tetapi dia belum menceritakan tentang sikapnya yang kurang patut kepadaku tadi,” kata Ong Hui kepada ayahnya setelah ia mendengarkan pula penuturan itu melalui terjemahan ayahnya.
“Wang Sin, penuturanmu mengharukan kami, biarpun aku tidak heran lagi mendengar akan kekejaman para tuan tanah. Akan tetapi, kenapa kau tadi bersikap tidak patut kepada anakku?”
Wajah Wang Sin menjadi merah dan ia melirik kepada Ong Hui, kelihatan jengah sekali. “Lo-enghiong, aku. aku tadi mengira bahwa puterimu adalah Ci Ying. Dari