Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 11

Memuat...

Bukan main herannya mereka. Nenek itu tidak terlihat menggerakkan tangan, bagaimana kawannya bisa tewas secara demikian mengerikan? Akan tetapi kemarahan mereka melebihi keheranan itu dan serentak orang kedua maju sambil memaki. “Siluman dari mana berani kurang ajar?”

Untuk kedua kalinya terdengar pekik mengerikan dan sekarang karena orang ketiga memandang penuh perhatian, ia melihat nenek itu menggerakkan kebutannya dan ujung kebutan merah itulah yang mengenai dada kawannya yang terguling sambil menjerit dan tewas di saat itu juga. Gerakannya itu demikian cepat dan lemah sehingga hampir tidak kelihatan.

Orang kedua juga tewas seketika itu juga. Sebelum orang ketiga yang menjadi pucat itu dapat bergerak, nenek lihai ini sudah menggerakkan tubuh ke depan, tasbehnya bergerak berbareng dengan kebutannya. Orang yang memeluk tubuh Ci Ying sudah mencabut golok dan mencoba untuk menangkis tasbeh.

Namun goloknya terlepas dan tasbeh terus menimpa kepalanya. Terdengar suara “prakk!” dan orang inipun terguling tak bernyawa lagi dengan batok kepala retak- retak. Adanya kebutan itu telah membelit tubuh Ci Ying dan tahu-tahu gadis ini telah melayang turun dari kuda.

Kalau tidak mengalami sendiri, mungkin Ci Ying takkan mau percaya. Tak mungkin ada manusia, apalagi wanita sesakti itu, kecuali kalau seorang dewi yang menjelma menjadi manusia. Dewi! Ah, nenek itu memang masih kelihatan cantik dan kulitnya putih. Tidak salah lagi, dia tentulah Dewi Putih Sgrol-ma! Serta merta Ci Ying yang dipengaruhi oleh jalan pikirannya yang sudah penuh ketahyulan itu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil berkata.

“Dewi yang mulia, terima kasih atas pertolongan Dewi. Harap Dewi sudi menolong Wang Tui yang terbawa hanyut oleh perahu di sungai. Dewi tolonglah segera !”

Nenek itu memang kurang pandai bahasa Tibet. Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh gadis itu menyebut-nyebutnya Dewi Sgrol-ma segala macam. Ia tidak tahu bahwa ia dianggap Kwan Im Pousat oleh gadis itu.

“Aku bukan Dewi, jangan ngaco!” bentaknya dan suaranya berubah keren galak. “Juga aku tidak sudi menolong orang lain. Kalau ia hanyut, biarkan hanyut. Masa bodoh!”

Kaget sekali Ci Ying mendengar ini. Betapa jauh bedanya dengan tadi. Tadi nenek itu menolongnya, mengapa sekarang bisa mengeluarkan kata-kata begitu kejam dan tidak mau menolong Wang Tui?

“Nenek budiman, tolonglah dia. Wang Tui masih bayi, dia tadi bersamaku di perahu sampai aku diculik oleh penjahat dan bayi itu dibiarkan hanyut di dalam perahu.

Kasihanilah dia, dia anak baik ” ia memohon lagi, bingung teringat nasib Wang

Tui.

“Hu, anak baik? Tidak ada orang baik di dunia ini. Yang baik hanya kita sendiri. Tidak usah kau banyak ribut, aku bukan orang yang biasa diperintah. Kau bernama siapa dan dari mana? Bagaimana kau bisa diculik orang-orang rendah ini?”

Biarpun bingung sekali karena nenek itu tidak mau menolong, Ci Ying terpaksa menjawab dengan singkat. “Aku bernama Ci Ying, seorang budak yang melarikan diri karena hendak dipaksa menjadi selir tuan tanah. Nenek yang baik kalau kau tidak mau menolong Wang Tui, biarlah aku mencoba untuk menolongnya.” Setelah berkata demikian, Ci Ying lalu lari secepatnya menuju ke sungai kembali untuk mengejar perahu yang hanyut. Akan tetapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba pinggangnya terlibat sesuatu dan ia tidak dapat maju lagi. Ternyata kebutan di tangan nenek itu telah melibat pinggangnya.

“Berhenti kau!” bentak nenek itu, “Kau berjodoh untuk menjadi muridku. Kau telah hidup tergencet, sengsara dan menderita. Apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian dan kelak membasmi orang-orang jahat yang telah merusak hidupmu?”

Mendengar kata-kata ini, teringatlah Ci Ying akan semua sakit hatinya. Teringat ia betapa ayahnya tentu akan disiksa atau mungkin dibunuh. Teringat pula akan kesaktian wanita tua ini dan kalau saja ia bisa mempelajari ilmu seperti tadi, tentu ia akan dapat menolong ayahnya, atau kalau sudah terlambat dapat menolong para budak lain dan membasmi tuan tanah dan kaki tangannya. Tentang Wang Tui, seandainya ia kejar juga, mana ia bisa menyusul?

Dengan tersedu-sedu menangisi nasib Wang Tui, Ci Ying lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata perlahan, “Teecu bersedia menjadi murid Dewi. ” Ia lupa dan

menyebut Dewi.

“Aku manusia biasa, namaku Cheng Hoa Suthai. Ci Ying marilah ikut aku ke tempatku di gunung Heng-toan-san.”

“Baik, Suthai.” Dan berangkatlah dua orang wanita ini meninggalkan tempat itu.

Siapakah Cheng Hoa Suthai ini? Namanya tentu saja asing dan tidak ada yang kenal di daerah Tibet, akan tetapi makin ke Timur, makin dikenal oranglah wanita perkasa ini. Dia seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan, seorang sakti yang lihai dan terkenal berwatak aneh dan ganas terhadap musuh-musuh atau orang-orang yang dibencinya. Cheng Hoa Suthai bertapa di puncak gunung Heng-toan-san, akan tetapi ia suka sekali berkelana sampai jauh ke timur, pernah menggegerkan pantai lautan timur.

Sekarang ia sedang berkelana ke barat sampai di Tibet. Melihat Ci Ying, ia amat tertarik dan ingin sekali mengambil murid gadis sengsara itu. Keanehan wataknya terlihat ketika ia membantu Ci Ying membunuh para penculik gadis itu, akan tetapi sama sekali tidak perduli akan nasib bayi yang hanyut terbawa perahu di sungai Yalu- cangpo. Memang wanita ini aneh dan berwatak keras, malah lebih sering bersikap ganas dan jahat dari pada baik sehingga di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai tokoh yang ganas dan jahat.

Ci Ying gadis yang semenjak kecil menderita sengsara lahir batin, sekarang menjadi murid wanita aneh ini dan pengalaman-pengalaman pahit getir dalam hidupnya membuat ia mudah saja mengoper watak gurunya, yakni membenci orang-orang dan selalu menaruh dendam di dalam hatinya.

Ci Ying juga seorang gadis yang berwatak keras sekali, tahan uji dan sudah mengeras oleh penderitaan-penderitaan, biarpun sebelah kakinya tidak bersepatu karena sepatu bututnya yang kiri terlepas ketika ia meronta-ronta ditangkap tiga orang penjahat tadi. Akan tetapi biarpun kakinya pecah-pecah ketika ia mengikuti Cheng Hoa Suthai, ia tidak mengeluh dan dengan keras kepala berjalan terus sampai akhirnya ia roboh dan oleh gurunya ia diangkat dan dibawa lari cepat seperti angin.

Bagaimana dengan nasib Wang Tui, bayi itu? Sungguh kasihan, anak yang usianya baru beberapa hari ini menangis sampai megap-megap di atas perahu tanpa ada yang menolongnya. Agaknya suara tangisnya menarik perhatian seekor ikan besar yang sudah sejak tadi berenang mengikuti perahu, menyentuh-nyentuh perahu dengan moncongnya yang besar.

Apalagi bunyi domba betina mengembik-embik di atas perahu membuat ikan itu maklum bahwa di dalam perahu terdapat mangsa yang akan mengenyangkan perutnya. Ketika perahu itu tiba di sebuah belokan di mana air memutar, ikan itu menyabet dengan ekornya dan perahu itu terguling.

“Siancai .... siancai setelah pinto menyaksikan ini, bagaimana pinto bisa berpeluk

tangan saja?” terdengar suara halus dan ringan seperti kabut, sesosok bayangan seorang kakek berjenggot panjang melayang ke tengah sungai, hinggap di atas perahu yang sudah terbalik. Tangan kirinya bergerak dan di lain saat ia telah menyambar tubuh bayi yang hampir tenggelam. Di saat itu juga, seekor ikan yang besar melebihi orang dewasa menyambar domba betina dan sekali caplok domba itu lenyap dari permukaan air.

Sambil mendukung bayi itu, kakek ini melompat kembali ke darat. Ia pegang kedua kaki bayi itu sehingga kepala anak itu tergantung ke bawah dan air itu tumpah keluar dari mulutnya. Setelah menggerak-gerakkan beberapa kali dan menepuk sana-sini, bayi itu baru bisa menangis lagi.

“Kasihan, anak siapakah ini?” Kakek itu celingukan memandang ke kanan kiri, akan tetapi sekitar tempat itu sunyi saja. Perahu yang tadi dibikin terbalik oleh ikan besar, terus hanyut bersama sisa-sisa daging domba yang kini dijadikan rebutan oleh ikan- ikan kecil.

Kakek itu menarik napas dan mendukung bayi di dalam bajunya supaya hangat. Ia adalah seorang yang sudah sangat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya jangkung kurus dengan rambut dan jenggot panjang sudah putih semua. Pakaiannya berwarna kuning sederhana potongannya, kuku tangannya panjang terawat bersih. Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Kakek ini adalah seorang tokoh besar di Kun-lun-san, seorang kakek pertapa yang tidak tentu tempat tinggalnya. Ia jarang dikenal orang, malah orang-orang kang-ouw jarang ada yang mengenalnya kecuali para tokoh dan ketua partai persilatan yang besar. Namun, nama julukannya, yaitu Pek-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Sinar Putih) selalu menjadi buah bibir para ahli silat biarpun mereka belum pernah melihat orangnya. Nama aselinya adalah To Tek Cinjin dan dia seorang pertapa yang condong kepada agama To sungguhpun ia bukan seorang tosu (pendeta To). “Anak baik, tidak kusangka setua aku ini masih menerima tugas yang berat. Kau tercipta di tengah sungai Yalu-cangpo, biarlah kuberi nama Yalu Sun (cucu sungai Yalu). Ha-ha-ha!”

Kemudian ia lalu membawa pergi anak itu dengan berlari cepat sekali, mencari pedusunan di mana ia dapat mencarikan air susu untuk bayi itu.

******

Tanpa memperdulikan letih dan lapar, Wang Sin memacu kudanya, terus ke timur mengikuti aliran sungai Yalu-cangpo. Kadang-kadang ia meninggalkan kudanya dan dengan hati-hati ia menuju ke pinggir sungai sambil sembunyi-sembunyi, takut kalau- kalau terlihat oleh kaki tangan tuan tanah, untuk melihat apakah sungai itu masih belum berkelok.

Post a Comment