Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 10

Memuat...

******

Kalau orang sudah menjelajah daerah Tibet, baru ia akan mengerti mengapa para budak yang hidupnya diperas oleh para tuan tanah, jarang ada yang berani melarikan diri. Selain bahaya besar yang merupakan kaki tangan tuan tanah yang tentu akan mengejar mereka dan menyiksa mereka secara keji kalau mereka tertangkap kembali, dan ancaman bahaya dari tuan tanah-tuan tanah di lain daerah yang tentu akan menggencet hidup mereka seperti tuan-tuan tanah lainnya, juga daerah yang amat sukar itu merupakan ancaman bagi hidup para pelarian.

Daerah Tibet sebagian besar terdiri dari bukit-bukit salju, padang rumput yang amat luas, hutan-hutan di sana sini. Orang akan mudah sesat jalan dan dalam jarak ratusan kilometer takkan bertemu dengan manusia. Selain bahaya kelaparan di jalan, juga masih banyak bahaya mengancam, seperti binatang buas dan lain-lain.

Hanya oleh kenekatan luar biasa Ci Ying dapat mengemudi perahunya yang hanyut oleh air sungai Yalu-cangpo. Baiknya Wang Sin membekali seekor domba yang dapat ia ambil air susunya untuk Wang Tui, bayi yang ia bawa lari itu. Kalau tidak, tentu bayi itu akan mati kelaparan. Baginya sendiri, daging domba yang ia bawa cukup untuk menyambung nyawanya.

Siang malam perahunya bergerak terus ke depan, makin jauh meninggalkan kampungnya yang telah merupakan neraka baginya itu. Ci Ying berlaku tabah dan ini semua karena ia mempunyai harapan akan tersusul oleh Wang Sin. Kalau saja ada pemuda itu di sisinya, tentu akan lebih besar dan tabah lagi hatinya.

Pada hari ke lima ia sudah mendekati belokan sungai Yalu-cangpo yang mengalir ke selatan. Malam itu perahunya bergerak perlahan karena aliran sungai di daerah ini tidak cepat. Wang Tui sudah tidur nyenyak setelah diberi air susu domba yang kini kelihatan agak kurus karena kekurangan rumput segar.

Ci Ying duduk di kepala perahunya, memandang ke sekeliling. Hatinya agak gentar juga ketika perahunya memasuki daerah berhutan yang nampak mengerikan. Ia memperhatikan sungai terus menerus, mengharap-harap melihat sungai itu berbelok untuk mendarat dan menanti Wang Sin di tempat itu. Malam itu indah sekali. Bulan purnama sudah muncul dan menyulap keadaan di sekitar dan di sepanjang kanan kiri sungai menjadi pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Di permukaan air tampak bulan dan pohon-pohon yang menjadi bayang- bayang mengagumkan.

Tiba-tiba Ci Ying menahan napas wajahnya berubah pucat sekali. Anehnya, pada saat itu Wang Tui menangis, agaknya digigit nyamuk, Ci Ying cepat mengangkat bayi itu dan dipeluknya erat, disuruh diam.

Yang mengejutkan hatinya adalah munculnya bayangan orang di pantai sebelah kiri.

Orang itu agaknya sudah melihat perahu kecil itu dan seorang di antara mereka berseru, “Hai, siapakah yang berperahu pada malam hari membawa anak kecil itu?”

Ci Ying tidak berani menjawab, takut sekali karena mengira bahwa mereka tentulah kaki tangan tuan tanah yang berhasil mengejarnya. Otaknya sudah diperas untuk mencari jalan melarikan diri dari mereka. Akan tetapi bagaimana? Ia melihat mereka bertiga meloncat ke dalam sebuah perahu dan mendayung perahu itu ke tengah.

Ci Ying menaruh bayi yang menangis itu, lalu dengan kedua tangannya ia mendayung sekuat tenaga untuk melarikan diri. Namun, perahu yang didayung oleh tiga orang itu cepat sekali meluncur mendekati perahunya, malah kini melampauinya dan menghadang di tengah, dan tiga orang laki-laki itu memberi isyarat supaya berhenti.

“Seorang perempuan muda!” seru seorang di antara mereka, heran dan terkejut. Ci Ying menjadi lega hatinya. Bukan, melihat pakaian dan sikap mereka, tiga orang ini bukanlah kaki tangan tuan tanah, biarpun mereka itu orang-orang Tibet, mungkin pemburu-pemburu binatang. Ia tidak takut lagi. Biasanya, bangsanya sendiri adalah orang-orang ramah dan hampir tak pernah terjadi ada orang lelaki mengganggu wanita, kecuali tentu saja, kaki tangan tuan-tuan tanah yang merupakan serigala- serigala liar.

“Kawan-kawan harap memberi jalan kepadaku. Biarkan aku meneruskan perjalanan,” katanya ramah.

Bulan purnama memancarkan cahayanya sepenuhnya ke wajah Ci Ying, membuat tiga orang itu dapat melihat bahwa dia adalah seorang gadis Tibet yang cantik dengan bentuk tubuh yang menarik.

“Eh, bukankah ini gadis bernama Ci Ying yang melarikan diri dari tuan besar Yang Can?” tiba-tiba seorang di antara mereka berseru.

Kekagetan Ci Ying seperti pada saat itu ia disambar geledek mendengar seruan itu, sampai ia menjadi bengong terbelalak memandang mereka tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

“Betul, tentu ini anaknya. Ah, pantas saja tuan muda Yang Nam itu mau mengambilnya sebagai selir. Kiranya begini cantik. Aha, kalau kita tangkap dan bawa kepada tuan muda Yang Nam, tentu kita mendapat hadiah besar!” kata orang kedua. “Apa tidak baik antarkan kembali kepada tuan tanah Yang Can? Tentu kita dihadiahi

....” kata yang ke tiga.

“Ah, keliru. Bunga begini cantik amat dibutuhkan oleh tuan tanah Nam, mengapa harus jauh-jauh diantar kepada tuan tanah Yang Can?”

Mendengar percakapan mereka, makin takutlah hati Ci Ying. Tidak salah lagi, mereka ini tentulah antek-antek tuan tanah lain yang tidak kalah kejam dan jahat dari pada Yang Can. Akan tetapi ia masih mencoba dan meletakkan bayi itu di atas geladak perahu.

“Saudara-saudara harap kasihani aku yang berusaha melarikan diri dari neraka, melarikan diri dari tindasan tuan tanah yang selalu menggencet kita semua para budak. Harap saudara lepaskan aku dan aku akan selalu berdoa kepada Dewi Putih Sgrol-ma untuk kalian bertiga ”

“Ha-ha-ha, berkah Dewi dan Dewa tidak akan sebaik berkah tuan tanah berupa pakaian dan bahan makanan anak manis. Lebih baik kau menurut saja, menjadi selir tuan Nam. Dia tentu akan membuat hidupmu serba cukup dan bahagia.”

Ci Ying tidak dapat mencari jalan untuk melarikan diri. Lebih baik mati, pikirnya. Ia melarikan diri karena tidak sudi diselir tuan muda Yang Nam, masa sekarang harus menyerahkan diri untuk diselir oleh tuan tanah lain yang selama hidupnya belum pernah ia lihat? Lebih baik mati! Cepat sekali ia lalu melompat dari perahu dan membuang diri ke dalam sungai.

“Setan, dia membuang diri ke sungai!” seru seorang di antara tiga orang laki-laki yang ternyata adalah orang-orang Tibet yang biarpun bukan antek-antek tuan tanah namun mereka itu adalah sebangsa keliaran yang pekerjaannya memburu atau berdagang atau melakukan apa saja untuk mendapat hasil, termasuk pekerjaan jahat merampok atau melakukan sesuatu untuk tuan tanah-tuan tanah dan mendapatkan upah.

Melihat Ci Ying melempar diri ke air, dua orang di antara mereka cepat melepas pakaian dan terjun berenang dan tak lama kemudian mereka telah dapat menangkap dan menaikkan ke perahu mereka tubuh Ci Ying yang sudah pingsan. Mereka tertawa-tawa dan sama sekali tidak perdulikan lagi kepada Wang Tui, bayi yang menangis menjerit-jerit terbawa oleh perahu yang sudah hanyut lagi ke depan.

Ketika siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di atas kuda dipeluk oleh seorang di antara tiga orang penculiknya yang tertawa-tawa gembira, Ci Ying merontah dan menangis, menjerit-jerit minta dilepaskan. Namun segala usahanya sia- sia belaka, malah membuat gelak tiga orang itu makin menjadi. Ci Ying memaki-maki saking marahnya.

“Ha-ha-ha, sekarang kau memaki-maki kami. Akan tetapi kelak kalau sudah menjadi nyonya besar, kau akan bersyukur kepada kami dan memberi hadiah. “Ha-ha-ha!”

Pada saat itu, tiba-tiba mereka menjadi kaget dan menghentikan kuda mereka. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan mereka. Di tengah jalan menghadang berdiri seorang wanita tua berpakaian putih seperti pendeta, wajahnya bersih dan matanya bersinar terang, usianya kurang lebih lima puluh tahun sedangkan kedua tangannya memegang seuntai tasbeh dan sebuah kebutan warna merah.

Tiga orang itu adalah orang-orang kasar yang tidak takut apapun juga, akan tetapi ada sesuatu pada diri nenek ini yang membuat mereka tidak berani berlaku sembrono.

Mereka adalah orang-orang yang percaya akan tahyul, maka munculnya nenek ini membuat mereka selain kaget dan heran, juga serem di hati. Apalagi nenek ini berpakaian pendeta, golongan orang yang mereka pandang tinggi.

“Nenek tua, harap minggir agar jangan tertubruk kuda,” kata seorang di antara mereka.

“Akan tetapi nenek itu tidak mau minggir, malah memandang tajam ke arah Ci Ying.

“Kalian mau apa dengan perempuan muda itu?” tanyanya, dalam bahasa Tibet yang agak kaku tapi cukup jelas.

Tiga orang itu ketika mendengar suara ini, berkurang rasa hormat mereka karena maklum bahwa nenek ini adalah bangsa Han dari timur dan karenanya tak mungkin merupakan pendeta suci titisan para dewi. Orang yang memeluk Ci Ying tertawa sambil menjawab.

“Ha-ha, perempuan ini adalah biniku yang bandel, tidak mau diajak pulang.”

Ci Ying merontah dan berteriak, “Bohong! Mereka ini orang-orang jahat yang menculikku, hendak menjualku kepada tuan tanah ” Ci Ying tak dapat bicara terus

karena tangan yang lebar dari orang itu menutupi mulutnya.

Sepasang mata nenek itu yang tadinya bening dan lembut, kini menyinarkan pandangan tajam berapi. Mukanya yang putih menjadi kemerahan dan ia membentak nyaring. “Keparat-keparat jahanam, di tempat sesunyi ini masih ada saja manusia berhati binatang! Lepaskan dia!”

Akan tetapi tiga orang ini mana mau menurut? Terhadap orang-orang kuat belum tentu mereka takut, apalagi menghadapi seorang nenek tua yang lemah? Yang paling depan tertawa, menggerakkan kudanya sambil berkata, “Kau nenek bawel, tidak mau minggir jangan menyesal kalau mampus terinjak kuda!”

Kudanya tersentak maju, akan tetapi tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan orang yang menunggang kuda itu terguling roboh dari atas kudanya yang lari ketakutan ke kanan. Ketika kedua orang kawannya memandang, ternyata orang itu sudah tak bernapas lagi, mati dengan mata mendelik dan lidah keluar!

Post a Comment