Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 09

Memuat...

“Kau sembunyi di sini dulu, pinceng akan memeriksa keadaan di luar,” kata hwesio itu kemudian, lalu ia pergi ke luar dengan tenang.

Wang Sin yang ditinggal seorang diri di ruangan penuh patung itu, merasa seram juga. Semenjak kecil ia sudah dijejali dongeng dan kepercayaan bahwa patung-patung itu menjadi tempat tinggal para roh suci, para dewa yang menghubungi manusia melalui patung. Ia merasa seram dan takut, akan tetapi ketika melihat sebuah patung Dewi Kwan Im yang berwajah cantik sekali dan membayangkan budi luhur.

Ia cepat berlutut di depan patung ini, bersujud dan merasa aman. Ia tahu bahwa patung ini adalah pujaan Ci Ying dan patung yang mempunyai wajah demikian lembut tak mungkin jahat. Tentu Ci Ying akan mendapat perlindungannya.

Menjelang tengah malam, Gi Hun Hosiang kembali. Melihat Wang Sin berlutut memuja patung Dewi Kwan Im, ia mengangguk-angguk.

“Kau akan selamat,” gumamnya. Setelah Wang Sin berdiri, ia berkata lagi, lirih akan tetapi bersungguh-sungguh. “Kau pergilah ke kandang kuda. Penjaganya sudah pulas semua terkena obatku. Ambillah seekor kuda yang baik, kemudian tuntun kuda itu ke luar terus ke tempat sepi. Kemudian kau boleh mulai dengan perjalananmu. Ke mana tujuanmu pertama?”

“Menyusul Ci Ying, di mana air sungai Yalu-cangpo berbelok ke selatan,” jawab Wang Sin dengan suara tetap.

“Baik, akan tetapi kalau sudah bertemu, harus pergi ke utara. Pergilah ke Kun-lun- san.” “Memang ayah memesan supaya teecu pergi ke Kun-lun-san mencari guru ayah, Cin Kek Tosu.”

Gi Hun Hosiang mengangguk-angguk. Ia merogo saku dan mengeluarkan segumpal emas. “Benda ini di dunia luar dihargai orang. Bawalah untuk bekal. Nah berangkatlah, Wang Sin!”

Pemuda itu menghaturkan terima kasih, lalu menyelinap ke luar dengan hati-hati, terus menuju ke kandang kuda milik tuan tanah. Tiga puluh ekor lebih kuda yang berada di situ, akan tetapi Wang Sin yang sudah kenal baik kuda-kuda itu tahu harus memilih yang mana. Ia pilih kuda berbulu putih tunggangan tuan tanah Yang Can pribadi. Inilah kuda terbaik dan terkuat.

Karena kuda-kuda itu sudah mengenal Wang Sin, mereka tidak menimbulkan gaduh, bahkan kuda putih yang dituntun ke luar juga menurut saja. Pemuda itu terus menuntunnya dengan hati-hati sampai mereka berada jauh dari situ, baru ia melompat dan mengaburkan kuda itu, jauh dari sungai, akan tetapi terus ke timur menurutkan aliran sungai Yalu-cangpo.

Menjelang pagi Wang Sin masih terus larikan kudanya, kini sudah jauh sekali meninggalkan perkampungan itu. Hatinya lega dan girang seperti seekor burung yang terlepas dari sangkar. Akan tetapi kalau ia teringat akan nasib ayahnya, ia menjadi sedih sekali.

“Aku akan kembali ..... aku akan kembali ” katanya kepada diri sendiri, penuh

kebencian kepada tuan tanah dan antek-anteknya. Teringat akan ini, kedukaannya lenyap dan ia menggigit bibir mengepalkan tinju, terus membedal kudanya lebih cepat lagi, menyongsong matahari di timur, menyongsong kemerdekaan.

Sama sekali ia tidak tahu bahwa bukan hanya ayahnya dan ayah Ci Ying saja yang menjadi korban pelariannya. Pada keesokan harinya, gegerlah tuan tanah dan kaki tangannya ketika melihat bahwa kuda milik tuan tanah telah lenyap dicuri orang.

“Tentu si bedebah Wang Sin, tak bisa lain orang!” maki tuan tanah Yang Can sambil membanting-banting kaki dengan muka merah. “Kalian anjing-anjing tolol!” makinya kepada semua anteknya yang menundukkan kepala. “Masa puluhan orang tidak mampu menangkap seorang anak-anak seperti Wang Sin. Kalian melapor tidak ada, sudah minggat dan lain-lain obrolan kosong. Ternyata malam tadi ia masih berada di sini bahkan dapat mencuri kudaku. Setan!”

“Tuan besar, keparat itu dapat bersembunyi di sini, tentu ada pembantunya. Kalau tidak ada orang yang membantunya, kiranya tak mungkin dia bisa bersembunyi,” seorang di antara antek-anteknya memberanikan diri.

Yang Can berpikir. Betul juga pendapat ini. Akan tetapi pikiran ini malah membangkitkan marahnya. “Tentu ada budak pengkhianat yang menyembunyikan di gubuknya. Kalian semua buta barangkali, tidak dapat melihat dia bersembunyi di gubuk para budak!” Tukang pukul yang mengajukan pendapat itu terkejut. Celaka, pendapatnya malah memukul mereka sendiri.

“Tidak mungkin tuan besar, tidak mungkin. Hamba sekalian teliti, malah semalam suntuk meronda di sekitar gubuk para budak dan di pinggir kali, sepanjang lembah sungai.”

“Hemm, kalau begitu di mana sembunyinya?”

“Hamba rasa kalau tidak salah dugaan hamba, tentu di sekitar kuil. Di sanalah

yang tidak terjaga.”

Yang Can sadar, namun penuh kesangsian. Para pendeta Lama boleh dibilang semua membantunya. Mungkinkah Wang Sin dapat bersembunyi di sana? “Kita selidiki ke kuil!” akhirnya ia berkata dan beramai-ramai para anteknya mengikuti majikan mereka ini menuju ke kuil pada pagi hari itu.

Thouw Tan Hwesio, pendeta Lama jubah kuning ketua kuil itu, mengerutkan kening dan menggerak-gerakkan alisnya yang tebal ketika ia mendengar penuturan tuan tanah Yang Can.

“Hemm, pinceng sudah menaruh curiga ketika kemaren Ci Leng berkeliaran di kuil. “Jangan-jangan Gi Hun ” Hwesio tinggi besar ini bangkit dari tempat duduknya.

“Harap duduk dulu, biar pinceng pergi menyelidiki.” Kemudian dengan langkah lebar hwesio tua yang masih kuat itu memasuki kuil, langsung menuju ke ruangan pembuatan patung, tempat kerja Gi Hun Hosiang.

Gi Hun Hosiang menyambut kedatangan pendeta kepala itu dengan tenang dan hormat. Ia memberi hormat dan melanjutkan pekerjaannya yang dimulai pagi-pagi sekali. Thouw Tan Hwesio pura-pura melihat-lihat patung, pura-pura memeriksa pekerjaan hwesio bawahannya itu, akan tetapi matanya yang besar itu melirik ke sana ke mari. Akhirnya ia melihat setumpuk pakaian butut, pakaian Wang Sin yang dilemparkan di pojok. Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia menghempaskan kakinya ke atas lantai sambil membentak.

“Gi Hun. Apa yang telah kau lakukan malam tadi?”

“Apa yang dimaksudkan twa-suhu yang mulia?” balas tanya Gi Hun Hosiang penuh ketenangan karena ia memang sudah siap sedia memikul semua akibat bantuannya kepada Wang Sin.

“Ha! Kau masih berani berpura-pura? Kau penjahat yang masih bodoh, melakukan perbuatan terkutuk tanpa membersihkan bekas kejahatanmu. Pakaian kotor siapa ini?”

“Itu bekas pakaian Wang Sin.”

Thouw Tan Hwesio tercengang juga mendengar pengakuan terang-terangan ini. “Keparat, kau telah membantu seorang penjahat melarikan diri dan mencuri kuda, kau telah membikin kotor kuil ini. Manusia tak tahu budi. Ketika kau datang keleleran, bukankah pinceng yang menolongmu dan memberi pekerjaan serta makan dan tempat tinggal? Kiranya kau berkhianat, membantu orang jahat dan memalukan pinceng!”

“Twa-suhu yang baik, teecu tidak pernah melakukan pekerjaan jahat.”

“Keparat, kau telah membantu Wang Sin melarikan diri. Apa kau mau bilang itu tidak jahat?”

“Tidak twa-suhu. Teecu mentaati pelajaran dari Sang Buddha yang menghajarkan kita harus mengutamakan keadilan dan prikebajikan. Wang Sin adalah seorang budak yang baik, seorang yang hidupnya penuh derita dan karenanya patut dikasihani. Akan tetapi, oleh keganasan orang lain, ayahnya dibunuh, tunangannya dirampas dan dia sendiri kalau tidak dapat melarikan diri tentu dibunuh pula. Teecu membantu dia terlepas dari pada ancaman angkara murka, bukankah teecu berarti mengutamakan keadilan dan kebajikan?”

“Tikus busuk! Dasar kau murid tosu gila. Kau hanya mengotorkan kuilku. Kau harus dihukum mati!” Sambil berkata demikian Thouw Tan Hwesio yang sudah marah sekali menyerang Gi Hun Hosiang dengan toyanya yang tadi memang sudah ia bawa- bawa.

Gi Hun Hosiang berlaku cepat, mengelak sambil berkata, suaranya keren.

“Thouw Tan Hwesio, kau lah yang tersesat. Ucapan dan sikapmu ini menyatakan bahwa kau bukanlah murid Buddha yang baik.”

“Jahanam!” Thouw Tan Hwesio menyerang lagi lebih hebat, menghantamkan toyanya ke arah kepala Gi Hun Hosiang. Gi Hun Hosiang kembali mengelak, dan “prakkkk!” sebuah patung Buddha yang hampir jadi hancur berkeping-keping terkena pukulan toya.

“Kau hwesio sesat! Berani kau menghancurkan patung suci, hasil jerih payahku!” Gi Hun Hosiang berseru marah sambil menyambar sebuah pisau yang biasa ia pergunakan untuk membuat patung. Terjadilah pertempuran yang seru di ruangan itu. Toya di tangan Thouw Tan Hwesio menyambar-nyambar ganas dan beberapa buah patung hancur lagi terkena angin pukulan toya.

Repot juga Gi Hun Hosiang menghadapi serangan in. Ia adalah seorang murid Kun- lun, murid dari Cin Kek Tosu seorang tokoh Kun-lun, akan tetapi dibandingkan dengan Thouw Tan Hwesio, ia masih kalah jauh, baik dalam ilmu silat maupun dalam kekuatan. Ia masih mencoba untuk membela diri, namun akhirnya ia mengakui keunggulan Thouw Tan Hwesio ketika toya yang berat itu tepat menangkis pisaunya sampai terlempar disusul oleh sambaran toya yang meremukkan kepalanya. Nyawa Gi Hun Hosiang melayang pergi tanpa mulutnya sempat bersambat lagi.

Pada saat itu Yang Can dan Yang Nam mendengar suara ribut-ribut, menyusul ke dalam dan melihat Thouw Tan Hwesio berdiri dengan muka merah dan memandang mayat Gi Hun Hosiang. “Pinceng kehilangan ahli patung yang pandai. Apa boleh buat, dia telah berkhianat dan membantu larinya Wang Sin. Akan tetapi, pinceng akan menyuruh beberapa orang hwesio mengejarnya sampai dapat. Tak salah lagi tentu keparat itu lari ke Kun- lun-san.”

Setelah diketahui bahwa yang membantu Wang Sin melarikan diri adalah Gi Hun Hosiang yang telah dibunuh, Yang Can tidak mengganggu para budak lainnya, kecuali Ci Leng yang semenjak hari itu makin celaka hidupnya, disuruh bekerja berat sampai jauh malam, dikurangi makannya sehingga orang tua ini menjadi kurus dan pucat. Namun ia masih mempertahankan hidupnya karena di dalam hatinya, Ci Leng menaruh kepercayaan akan kembalinya Wang Sin dan Ci Ying untuk membalas dendam, untuk membebaskan para budak.

Post a Comment