Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 08

Memuat...

Sepasang mata yang jernih dan muka yang agak muram itu berseri ketika Gi Hun Hosiang pendeta Lama itu, memandang kepada Ci Leng.

“Eh, kaukah itu, saudara Ci Leng? Terima kasih bahwa kau tidak melupakan pinceng dan mau menjenguk pinceng di tempat ini.” Akan tetapi pendeta itu menjadi heran dan kaget ketika tiba-tiba Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di depannya, mengangguk-angguk dan berkata dengan suara penuh permohonan.

“Losuhu yang mulia, tolonglah kami ”

Gi Hun Hosiang meletakan tanah lempung yang dikerjakannya dan mengangkat bangun Ci Leng. “Eh, eh ada apakah, saudara yang baik? Sang Buddha telah memberi jalan kepada semua manusia untuk menolong diri sendiri. Hanya dengan perbuatan baik orang dapat menolong diri sendiri, tidak ada orang lain dapat menolong kita terbebas kesengsaraan.”

“Malapetaka telah menimpa keluarga kami, losuhu. Dewa-dewa telah menampakan kemurkaan kepada kami.” Dengan singkat Ci Leng menceritakan betapa tuan muda hendak merampas Ci Ying dan betapa gadis itu karena tidak sudi dijadikan selir dan karena sudah bertunangan dengan Wang Sin, telah melarikan diri membawa pergi cucu nenek lumpuh.

“Sekarang Wang Sin dicari-cari dan kalau pemuda itu bisa ditangkap tentu akan disiksa oleh mereka. Oleh karena itu, tolonglah losuhu beri jalan kepada Wang Sin agar supaya dia bisa melarikan diri dari tempat ini. Malam nanti tentu dia akan datang ke sini dan memohon perlindungan losuhu.”

“Omitohud !” Hwesio itu mengucapkan pujian sambil merangkap kedua tangan di

depan dada. “Tuan Yang dan anaknya terlalu menghumbar nafsu. Apa jadinya kelak dengan mereka dalam penjelmaan mendatang? Jangan kau khawatir, saudaraku Ci Leng. Pinceng tak dapat berbuat banyak akan tetapi kalau Wang Sin berada di sini, tentu ia akan terlindung dan pinceng akan berusaha mencarikan daya upaya ”

Ci Leng berlutut lagi menghaturkan terima kasih. “Keluarlah supaya jangan menimbulkan kecurigaan. Semoga Sang Buddha melindungimu,” kata pendeta itu sambil merangkap kedua tangan.

Ci Leng lalu keluar dari ruangan itu dan Gi Hun Hosiang berkemak-kemik membaca doa, lalu disambungnya dengan kata-kata lirih. “Aku hendak membuatkan sebuah patung Sang Buddha yang indah dan besar, patung emas yang akan menjadi kebanggaan kuil ini. Itulah pekerjaanku terakhir setelah itu akan bersihlah aku dari pada dosa-dosaku. Akan tetapi sebagai tambahan baik juga kutolong anak-anak yang patut dikasihani itu ” Kembali Hwesio yang baik hati dan saleh ini membaca

mantra sebelum ia melanjutkan pekerjaannya membuat patung.

Baru saja Ci Leng keluar dari ruangan pembuatan patung dan berjalan sampai di lorong: “hukuman di neraka,” tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan parau. “Hemm, kau di sini?”

Ketika Ci Leng menengok, ia melihat Thouw Tan Hwesio, seorang Buddha hidup, seorang pendeta besar yang mengepalai kuil itu. Thouw Tan Hwesio berjubah kuning bersih, bertopi tinggi dan wajahnya keren sekali. Tubuhnya tinggi besar dan lengan tangannya berbulu. Sepatunya juga dilapis besi dan sepasang matanya yang bundar itu kini menatap wajah Ci Leng yang ketakutan. Ci Leng cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada manusia dewa ini.

“Hemmm, Ci Leng. Keluargamu telah membuat kacau. Anakmu yang tak tahu malu minggat bersama setan cilik Wang Sin. Calon besanmu Wang Tun memberontak dan membunuh beberapa orang penjaga sebelum ia sendiri terbunuh. Kau yang dilumuri dosa-dosa keluargamu sekarang berani menginjak lantai kuil ini? Benar-benar kau mengotori kuilku. Hayo, keluar cepat sebelum aku memanggil halilintar untuk menyambarmu menjadi abu!”

Ci Leng dengan muka pucat, bukan hanya takut mendengar ancaman ini namun juga terkejut mendengar tentang kematian Wang Tun, cepat-cepat ia keluar dari kuil itu. Akan tetapi baru saja sampai di luar kuil, beberapa orang antek tuan tanah telah menyergapnya, mengikatnya dan menyeretnya ke gedung tuan tanah Yang Can.

“Jahanam keparat tak kenal budi!” datang-datang ia dimaki oleh tuan tanah Yang Can. “Semejak belasan tahun kau dan anakmu dapat hidup karena ada aku yang menolong, setiap hari kau dan anakmu yang keparat itu makan dan minum dari pemberianku. Dan semua ini kau balas dengan penghinaan hari ini?” Muka Yang Can merah saking marahnya.

“Ampun tuan besar. Hamba sekali-kali tidak merasa telah melakukan penghinaan,” bantah Ci Leng.

“Plakk!” tangan Yang Nam menampar pipi orang tua itu. Karena Yang Nam adalah seorang pemuda ahli silat, tamparannya keras dan seketika darah menyembur dari mulut Ci Leng karena beberapa buah giginya copot. Matanya berkunang-kunang, dan terpaksa ia meramkan mata.

“Iblis tua, pintar kau bicara!” maki Yang Nam. “Kalau bukan kau yang mengaturnya, mana bisa anakmu, seorang gadis muda, berani melarikan diri. Hayo mengaku di mana sembunyinya Ci Ying dan Wang Sin?”

“Hamba tidak tahu .... hamba tidak tahu ”

Beberapa kali pukulan dan tendangan jatuh di tubuhnya, akan tetapi Ci Leng hanya mengucapkan, “Hamba tidak tahu .... hamba tidak tahu ” Sampai akhirnya ia tidak

bisa mengeluarkan suara lagi karena telah pingsan.

“Jangan bunuh dia, kau merugikan kita saja,” bentak Yang Can. “Bawa dia pergi,” perintahnya kepada para tukang pukul. “Suruh bekerja keras dan ikat kakinya dengan rantai supaya tidak mencoba untuk lari.”

Tubuh Ci Leng yang sudah lemas itu diseret keluar dari halaman gedung tuan tanah Yang Can.

******

Wang Sin memang memiliki tubuh yang sangat kuat. Sehari penuh tubuhnya terendam di dalam air sungai tak sekejap pun ia berani memperlihatkan kepala ke atas permukaan air. Tak perlu diceritakan lagi penderitaannya selama sehari itu, direndam di dalam air yang amat dingin. Beberapa kali ia hampir tidak kuat menahan, hampir pingsan dan hasrat untuk naik ke dalam udara segar membuat ia hampir tak kuat menahan lagi. Namun kekerasan hatinya memang luar biasa. Dengan hanya menghisap hawa dari jerami panjang yang ia gigit, ia dapat bertahan menyelam sampai sehari.

Setelah kegelapan malam menembus air, baru ia berani muncul. Paru-parunya serasa akan meledak ketika tiba-tiba ia dapat menghisap hawa udara sepuasnya, tidak melalui jerami kecil-kecil itu. Setelah melihat bahwa dipinggir sungai tidak ada orang menjaga, ia berenang ke pinggir, mendarat dan sambil menahan hawa dingin yang makin meresap ke dalam tulang, ia menyusup ke tempat gelap, hendak menuju ke kuil untuk menemui Gi Hun Hosiang sebagaimana telah dipesan oleh Ci Leng.

Tiba-tiba ia merandek dan cepat bersembunyi ke balik batang pohon. Ia mendengar suara berkeresekan, lalu terdengar keluhan perlahan sekali disusul suara bisikan, “Wang Sin ”

“Ayah !” Wang Sin mengenal suara ayahnya dan cepat menghampiri. Di lain saat

ia telah memangku ayahnya yang ternyata lebih baik mati dari pada hidup, dengan tubuh rusak berlumur darah dan hanya hati dan semangat membaja saja yang dapat menahan nyawa itu belum meninggalkan raga. Malah Wang Tun dengan kemauan keras tiada bandingnya lagi, berhasil merangkak menuruni bukit dan sengaja mencegat di situ untuk menemui anaknya untuk memberi pesan terakhir.

“Syukur .... Dewata masih kasihan kepadaku ....Wang Sin ..... dengar baik-baik ” Ia

terengah-engah. Sukar sekali kata-kata keluar dari kerongkongannya yang sudah tersumbat darah.

“Tuan muda .... dia curang ...Wang Sin, kalau kau bisa lari kelak pergilah cari

guruku .... Cin Kek Tosu .... di Kun-lun-san .....kelak .... tolonglah para budak .....

tolonglah mereka, bebaskan dari cengkeraman tuan tanah .... ahhh ... selamat ” Dan

kakek yang kuat ini akhirnya tak dapat menahan nyawanya yang melayang meninggalkan raganya.

Wang Sin mengepal tinju. Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia mengamuk, membalas dendam ini dan kalau mungkin membunuh tuan muda Yang Nam dan yang lain-lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman getir membuat pemuda ini dapat menahan nafsu dan dapat berpikir panjang. Tiada gunanya, pikirnya. Ayahnya yang gagah perkasa sekalipun tak dapat menang.

Apalagi dia yang hanya memiliki kepandaian terbatas sekali. Ia harus dapat keluar dari neraka ini, harus mempelajari kepandaian dan kelak kembali untuk membalas dendam. Ah, tidak, ayahnya lebih betul. Bukan semata-mata membalas dendam, melainkan yang terutama sekali membebaskan saudara-saudaranya para budak.

“Ayah, ampunkan anakmu tidak dapat merawatmu sebagaimana mestinya.” Dengan airmata bercucuran saking sedih melihat mayat ayahnya rebah tak terawat atau terurus, ia terpaksa meninggalkan mayat itu di situ kalau tidak mau tertangkap oleh kaki tangan tuan tanah. Wang Sin mencari jalan di dalam gelap dan akhirnya ia berhasil memasuki kuil. Tak seorangpun kaki tangan tuan tanah menjaga tempat ini. Siapa mengira bahwa pemuda yang mereka kira sudah melarikan diri bersama Ci Ying itu berani bersembunyi di dalam kuil?

Perhitungan Ci Leng memang tepat. Tempat sembunyi di kuil itu baik sekali. Seandainya Wang Sin mengikuti jejak Ci Ying, melarikan diri menggunakan perahu, tentu ia akan tertangkap karena para antek tuan tanah sudah menjaga sampai jauh di bawah.

Gi Hun Hosiang menerimanya dengan ramah, tanpa banyak suara. Ternyata hwesio ini sudah membuat persiapan lebih dulu karena begitu Wang Sin masuk ia lalu mengambil satu stel pakaian hwesio berikut topinya yang tinggi.

“Buka pakaianmu dan pakai ini,” perintahnya.

Wang Sin juga tidak banyak cakap lagi, segera menanggalkan pakaian budak yang butut dan melemparkan pakaian ini di sudut ruangan. Kemudian ia mengenakan pakaian hwesio itu dan tak lama kemudian ia sudah menjadi seorang pendeta Lama.

Post a Comment