Halo!

Nona Berbunga Hijau Chapter 07

Memuat...

“Bangsat, budak hina dina! Kau mau melawan?” bentak kepala rombongan yang memegang toya.

Tiba-tiba Wang Tun tertawa bergelak, tangannya bergerak dan sebatang pedang sudah berada di tangannya. “Hayo, majulah kalian anjing-anjing penjilat pantat tuan tanah! Majulah, ini saat yang kutunggu-tunggu sejak dahulu!”

Tukang-tukang pukul itu maklum bahwa si pandai besi ini biarpun tua, amat kuat dan pandai silat, akan tetapi mereka mengandalkan keroyokan. Dengan memaki-maki marah mereka lalu maju menyerbu Wang Tun yang segera mengamuk sambil memutar-mutar pedangnya.

Dengan garangnya Wang Tun menerjang maju, seputaran pedangnya dapat menangkis semua penyerang dan cepat sekali ia lanjutkan dengan menyerampang ke depan sambil merendahkan tubuhnya. Para tukang pukul yang sedikit-sedikit juga pernah belajar ilmu silat, meloncat ke atas, akan tetapi seorang di antara mereka kurang cepat loncatannya sehingga sebelah kakinya, dekat mata kaki, terbabat pedang sampai putus berikut sepatu-sepatunya.

Ia menjerit kesakitan dan tubuhnya menggelinding ke belakang, lalu berdiri lagi melonjak-lonjak dengan sebelah kaki, berputaran saking sakitnya. Tak lama kemudian ia terguling dan pingsan.

Para tukang pukul menjadi makin marah. Kepungan makin rapat dan datangnya senjata yang menyerang seperti hujan. Namun Wang Tun tidak keder. Ia malah tertawa bergelak ketika pedangnya merobohkan korban pertama. “Ha-ha-ha-ha!”

Tukang pukul yang memegang toya menggebuknya dari belakang dan karena pada saat itu Wang Tun menghadapi hujan senjata dari depan dan kanan kiri, gebukan ini tepat mengenai punggungnya.

“Blek!” dan toya yang terbuat dari kayu itu patah. Wang Tun mengeluarkan seruan menahan sakit. Cepat memutar tubuh dan pedangnya meluncur. “Cepp !” Pedang

itu amblas memasuki perut tukang pukul itu sampai tembus ke belakang.

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Wang Tun tertawa terbahak-bahak ketika darah lawan menyemprot membasahi bajunya. Ia cepat mencabut pedangnya dan menggulingkan tubuh ke kiri untuk menghindarkan hujan senjata. Akan tetapi karena kedua kakinya terikat, gerakannya ini kurang cepat dan sebuah penggada menghantam pundaknya.

Punggung dan pundaknya sudah terkena pukulan. Namun Wang Tun benar-benar kuat sekali. Ia hanya mengeluarkan gerakan seperti harimau terluka lalu mengamuk lagi.

Dalam beberapa gerakan pedangnya sudah merobohkan lagi tiga orang pengeroyok. Para tukang pukul yang tinggal tujuh orang menjadi gentar menghadapi amukan pandai besi itu yang seperti harimau terganggu ini. Kepungan mengendur dan mereka hanya menyerang secara hati-hati sekali sambil berteriak-teriak memaki.

“Mundurlah, anjing-anjing tiada guna. Biarkan aku menghadapi sendiri!” Teriakan ini membuat para tukang pukul mundur dengan muka pucat karena mengenal suara tuan muda Yang Nam. Tidak berhasil mengalahkan seorang budak dengan pengeroyokan dua belas orang, benar-benar merupakan kesalahan besar dan kalau mereka nanti hanya menerima makian-makian saja sudah boleh dibilang untung.

Melihat kedatangan tuan muda yang membawa sebatang toya kuningnya, Wang Tun hanya berdiri, dengan pedang melintang di depan dada. Seperti pedang ditangannya yang berlumur darah, juga pakaiannya penuh oleh darah para korbannya dan darahnya sendiri ia telah menderita luka di sana sini. Wajahnya beringas dan matanya berapi- api.

“Wang Tun baik kau katakan saja di mana Ci Ying dan Wang Sin. Kalau kau mau berterus terang, aku akan mengampunkan kau dan biarlah anjing-anjing yang sudah kau robohkan ini karena memang mereka tak berguna. Mengakulah, di mana adanya anakmu itu dan di mana ia menyembunyikan Ci Ying?” kata Yang Nam dengan nada suara halus.

Tergetar pedang di tangan kakek pandai besi itu. Sudah tahu ia akan kelicikan pemuda ini yang lebih jahat dari pada ayahnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata. “Hamba tidak dapat memberitahu karena tidak tahu di mana adanya mereka.”

“Wang Tun, jangan kau membohong kepadaku,” suara Yang Nam mulai mengeras, penuh gertakan.

“Hamba tidak membohong. Akan tetapi, lepas dari pada soal membohong atau tidak, hamba tidak setuju kalau Ci Ying yang sudah dijodohkan dengan putera hamba itu hendak tuan rampas,” jawabnya ini membayangkan ketegasan dan kenekatan.

Yang Nam tersenyum, mengangguk-angguk. “Ah, begitukah? Wang Tun apa kau kira aku begitu serakah? Kalau Ci Ying tidak mau, biarlah sekarang juga aku atur perkawinan antara dia dan anakmu. Pokoknya keluarkan dulu mereka dari tempat persembunyian mereka.” Ucapan ini halus dan membujuk.

Namun Wang Tun sudah cukup mengenal pemuda licik ini, ia menggeleng kepala. “Hamba tidak tahu di mana mereka ”

“Eh, itulah mereka!” Tiba-tiba Yang Nam menuding ke kanan, “Wang Sin! Ci Ying, kalian ke kanan saja?”

Wang Tun terkejut sekali dan menengok ke arah yang ditunjuk oleh tuan muda itu. Ia tidak melihat apa-apa dan tahulah dia bahwa tuan muda yang licik itu telah menipunya. Cepat dia berpaling kembali untuk bersiap sedia, akan tetapi terlambat.

Toya di tangan Yang Nam sudah menyerangnya dengan hebat dan sebuah sodokan ke arah dadanya tak dapat ia hindarkan lagi. Tubuhnya terjengkang ke belakang dan pukulan kedua yang amat keras mematahkan lengannya yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas dan terlempar.

Namun Wang Tun tidak bersambat, hanya memandang dengan mata melotot.

Melihat pandai besi itu sudah roboh tak berdaya, menyerbulah tukang-tukang pukul itu dengan senjata mereka dan di lain saat mereka sudah memukuli tubuh Wang Tun. “Bak-bik-buk” mereka menggebuki Wang Tun seperti kelompok anak-anak menggebuki seekor ular sampai Wang Tun tak dapat bergerak lagi, rebah mandi darah.

“Tuan muda sungguh gagah perkasa ...” seorang tukan pukul menyeringai dan memuji Yang Nam.

Akan tetapi jawaban pujian ini adalah sebuah tendangan kaki tuan muda itu yang membuat si pemuji terjengkang.

“Gentong-gentong nasi tak punya guna. Hayo lekas cari lagi Ci Ying dan Wang Sin. Biarkan bangkai pandai besi ini membusuk di sini dan dimakan binatang buas.”

Mereka lalu pergi sambil menyeret kawan-kawan yang terluka dalam pertempuran tadi. Juga Yang Nam setelah meludah ke arah tubuh Wang Tun yang mandi darah, lalu pergi uring-uringan. Yang Nam dan antek-anteknya tidak tahu betapa sejam kemudian setelah mereka pergi tubuh yang dikira sudah menjadi mayat itu bergerak lemah, mengerang perlahan lalu mata yang bengkak-bengkak itu terbuka.

“Wang Sin .... Wang Sin ” demikian bisik Wang Tun lirih, kemudian dia diam

kembali tak bergerak. Darah menetes turun dari keningnya.

******

Ci Leng tergesah-gesah berjalan menuju ke kuil besar yang menjadi tempat pujaan seluruh rakyat di daerah itu. Ia membawa sebuah “hata” yaitu sehelai kain selendang yang menjadi tanda penghormatan dan kebaktian, dan sekeranjang gajih. Hata dan gajih ini merupakan barang sumbangan yang harus dibawa oleh setiap orang yang hendak bersembahyang. Tanpa barang-barang itu jangan harap akan dapat memasuki ruangan kuil. Jadi benda-benda itu merupakan pembuka kunci pintu kuil.

Ketika Ci Leng tiba di luar kuil, di situ sudah banyak terdapat budak-budak yang berlutut di atas batu-batu lantai di luar kuil. Mereka ini datang untuk minta berkah. Selain patung-patung di dalam kuil, siapa lagi yang menaruh kasihan kepada mereka? Siapa lagi yang dapat menolong mereka? Kepada patung-patung inilah para budak itu berlari untuk minta perlindungan dan minta berkah.

Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di antara pemuja. Batu-batu lantai itu sampai licin sekali, halus dan di sana sini berlubang saking sering dan banyaknya orang datang berlutut. Lubang-lubang kecil bekas telapak tangan dan lutut. Sambil berlutut dan berkali-kali mengangguk-anggukkan kepala, Ci Leng seperti yang lain menggerak- gerakkan bibir membisikkan doa-doa sambil memutar-mutar tasbeh. Serombongan pendeta lama yang masih kecil-kecil, di antaranya baru berusia lima enam tahun, lewat di dekat mereka sambil menggotong ember-ember berisi air. Anak- anak kecil yang berkepala gundul dan berpakaian gerombongan itu dengan susah payah menggotong air, terhuyung-huyung ke kanan kiri. Mereka ini adalah pendeta- pendeta Lama kecil, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah budak juga dalam pakaian Lama dan berkepala gundul.

Mereka bekerja setengah mati, diperas sampai tak kuat lagi untuk melayani para pendeta Lama yang merupakan “orang suci” di dalam kuil. Anak-anak ini mencuci, memasak, mencari kayu bakar, mencari air, menyapu yah pekerjaan apa saja mereka lakukan untuk para pendeta Lama. Kalau para budak hamba dijadikan ternak- berbicara oleh para tuan tanah, adalah kacung-kacung ini diperkuda oleh para pendeta Lama.

Setelah mengucapkan doa-doa di depan kuil bersama para tamu kuil yang datang bersembahyang, Ci Leng memasuki halaman kuil di mana orang-orang itu secara bergiliran menyerahkan kain-kain, harta dan barang sumbangan atau disebut juga “korban” kepada seorang pendeta Lama yang bertugas untuk menerima barang- barang berharga itu. Setelah menyerahkan barang sumbangannya, Ci Leng memasuki bangunan sebelah kiri.

Ia berjalan melalui gang di mana penuh dengan lukisan-lukisan di tembok kanan kiri lorong, lukisan tentang manusia-manusia lelaki perempuan bertelanjang bulat yang sedang disiksa dan menderita di dalam neraka. Bermacam-macam lukisan yang mengerikan, dan cukup mendatangkan rasa takut dalam hati para pengunjung kuil, sehingga mereka itu takkan berani melakukan dosa-dosa di dalam hidup agar kelak jangan disiksa seperti dalam lukisan itu?”

Lukisan-lukisan itu betapapun juga merupakan lukisan indah, dan patung-patung yang tak terbilang banyaknya menghias di sana sini. Akan tetapi sepasang mata Ci Leng seakan-akan tidak melihat ini semua. Ia langsung menuju ke sebelah bangunan kecil yang letaknya di ujung kiri, di dekat dapur dan dekat tembok pagar pekarangan kuil. Inilah ruang kerja di mana Lama-Lama yang ahli dalam membuat patung-patung bekerja.

“Losuhu !” Ci Leng memberi hormat ketika ia melihat seorang hwesio seorang diri

bekerja di dalam ruangan itu.

Hwesio ini usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya lembut dan kulit mukanya putih tak pernah terbakar sinar matahari, agak pucat. Kedua tangannya penuh dengan lumpur karena ia tengah bekerja, membentuk tanah lihat untuk dijadikan patung. Di seluruh ruangan itu penuh dengan patung-patung yang sudah jadi, setengah jadi dan belum jadi. Pakaiannya yang butut penuh dengan kotoran lumpur dan cat.

Post a Comment