“Aku akan pergi kepadanya! Aku yang akan membantah, aku yang akan melarang. Biar kuputar batang leher si keparat.”
“Wang Sin, apa kau gila? Kau takkan menang melawan anjing-anjing penjaga, kau akan dipukul sampai mati !”
“Tidak apa mati untuk membelamu!” Pemuda itu hendak pergi akan tetapi Ci Ying memegang lengannya sambil menangis.
“Wang Sin, kalau kau dipukuli sampai mati, apa kau kira aku dapat terlepas dari malapetaka ini? Tiada bedanya! Lebih baik aku melarikan diri. Bantulah aku lari dari neraka ini.”
Wang Sin sadar akan kebenaran kata-kata gadis itu. Kalau ia mengamuk, berarti ia mengantar nyawa dengan sia-sia dan gadis itu tetap saja akan dipaksa menjadi selir tuan muda. Kalau sudah begitu, apa arti pengorbanannya? Tidak ada sama sekali.
“Lari Ci Ying? Ke mana?”
“Ke mana saja asal terlepas dari tangan tuan muda. Biar aku pergi dibawa aliran sungai Yalu-cangpo ke timur. Wang Sin, kau carikan sebuah perahu untukku, aku akan naik perahu itu mengikuti aliran Yalu-cangpo.”
“Akan tetapi ke mana tujuanmu dan bagaimana kita bisa bertemu lagi?”
“Aku akan terus mengikuti aliran Yalu-cangpo sampai sungai itu berbelok. Aku pernah mendengar cerita ayah bahwa jauh di timur sungai itu membelok ke selatan. Nah, di belokan itulah aku mendarat dan menanti kau. Lekaslah, Wang Sin, sebelum kaki tangan tuan muda menyusul ke sini.”
Karena hanya itu jalan satu-satunya, Wang Sin cepat bekerja. Ia menangkap dua ekor domba yang gemuk, membunuhnya untuk dipakai bekal rangsum tunangannya sedangkan domba yang mempunyai susu itupun ia bawa ke pinggir sungai. Mudah baginya mencuri sebuah perahu dan tak lama kemudian Ci Ying yang menggendong bayi itu sudah naik ke atas perahu. Domba yang menyusui itu diikat mulutnya sehingga tidak bisa mengeluarkan suara, lehernya diikat pada tiang. Bangkai dua ekor domba ditumpuk di situ dan di dekatnya terdapat sepikul rumput untuk makanan domba yang menyusui.
Untuk penghabisan kali Wang Sin memegang pundak Ci Ying, matanya membasah. “Hati-hatilah, Ci Ying. Mudah-mudahan kita bisa bersua kembali.”
Ci Ying juga mengucurkan air mata, mengangguk dan berkata. “Mungkin aku akan tewas diperjalanan. Akan tetapi lebih baik mati diperjalanan dari pada mati di tangan tuan muda, bukan?” Wang Sin mengangguk dan mendorong perahu itu ke tengah, lalu Ci Ying mendayung perahu itu terus ke tengah sampai aliran air yang kuat membawa perahu itu meluncur cepat.
Dengan air mata berlinang Wang Sin berdiri di pinggir sungai melihat perahu itu lenyap ditelan kabut yang masih tebal menutupi permukaan sungai. Hatinya lega. Dengan adanya kabut itu, tak mudah perahu yang melarikan Ci Ying itu terlihat oleh para centeng tuan tanah.
“Wang Sinnn !!” Teriakan keras ini membuat pemuda itu terkejut dan cepat-cepat
ia lari kembali ke bukit di mana tinggalkan domba-dombanya. Kembali suara panggilan itu menggema dan ternyata ayahnya yang memanggil dari bukit itu.
Melihat Wang Sin muncul, Wang Tun menegur. “Ke mana saja kau meninggalkan domba-dombamu?” Tiba-tiba orang tua itu menudingkan telunjuknya ke bawah.”Eh, ini banyak darah. Celaka! Tentu domba-dombamu ada yang ganggu!”
Wang Sin bersikap tenang. “Ayah, sebelum aku menjawab pertanyaan ini, ada keperluan apakah ayah mendaki ke sini? Mengapa ayah bersusah payah mencariku?” Memang tidak mudah bagi Wang Tun yang terikat rantai kedua kakinya itu untuk mendaki bukit. Hal ini membuktikan bahwa tentu ada keperluan yang amat penting yang membawa orang tua ini datang ke situ menyusul puteranya.
“Ada peristiwa hebat. Ci Ying hendak dijadikan selir tuan muda. Ayahnya sudah menghadap akan tetapi ditolak malah diancam supaya segera menghantarkan Ci Ying ke gedung. Celakanya, Ci Ying dicari-cari tidak ada. Aku khawatir kau yang menyembunyikannya. Betul tidak?”
Wang Sin mengangguk. “Ci Ying sudah pergi dengan aman, ayah. Melarikan diri dengan perahu kubawai bekal dua bangkai domba dan sebuah domba hidup untuk memberi susu bagi bayi yang dibawanya.”
“Bayi?”
“Cucu nenek lumpuh.”
Pandai besi itu menggeleng kepalanya. “Hebat! Kalian orang-orang muda sungguh hebat! Ci Ying menolong bayi itu mempertaruhkan nyawa sendiri dan kau menolong Ci Ying, tidak perduli akan bahaya yang mengancam dirimu. Ah, kalau semua budak bersemangat seperti kalian dan bersatu melawan tuan tanah, kiranya nasib kita takkan begini.”
“Ayah, kau tidak marah ?”
Ayahnya tersenyum. “Mengapa mesti marah? Lihat, akupun sudah siap mempertaruhkan nyawa.” Kakek itu mengeluarkan dua batang pedang panjang yang dibuatnya secara sembunyi di dalam dapur pekerjaannya. Ia berikan sebatang kepada Wang Sin. “Mereka tentu akan mencurigaimu, tentu akan memaksa kita dan menyiksa kita supaya mengaku di mana adanya Ci Ying. Daripada mampus seperti domba, lebih baik mati sebagai harimau, bukan?” Wang Sin mengangguk-angguk tak kuasa mengeluarkan kata-kata saking terharunya, akan tetapi tangannya menangkap lengan ayahnya kuat-kuat. Dua orang laki-laki gagah, satu tua satu muda, dalam saat itu merasa bersatu dan senasib sependeritaan.
Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berlari-lari naik ke bukit itu. Terengah-engah ia berhenti di depan Wang Tun dan Wang Sin.
“Paman Ci Leng !” tegur Wang Sin.
“Apa kalian melihat Ci Ying?” tanya orang tua ini terengah-engah, memandang tajam kepada Wang Sin.
“Aku tidak melihatnya,” jawab Wang Tun.
“Paman, untuk apa kau mencari Ci Ying? Untuk diserahkan kepada tuan muda?” tanya Wang Sin penuh curiga.
Ci Leng melangkah maju dan dengan mata melotot tangannya menampar pipi Wang Sin. “Kau kira aku orang macam apa?”
Wang Sin mengusap-usap pipinya yang panas dan tersenyum puas lalu memberi hormat. “Bagus paman, Ci Ying sudah kubantu melarikan diri dengan perahu.” Dengan singkat ia menuturkan apa yang terjadi.
Ci Leng merangkapkan kedua tangannya, berdongak ke udara.
“Terima kasih kepada Dewi Sgrolma Putih. Semoga Dewi melindunginya.” Kemudian ia teringat. “Wang Sin, mereka tentu akan menyiksamu!” Ia nampak terkejut.
“Saudara Ci Leng, demi untuk kebaikan anakmu sendiri, Wang Sin juga harus dapat melarikan diri menyusul Ci Ying. Biar kita yang tua-tua bertanggung jawab menghadapi kemurkaan tuan tanah.” Kata Wang Tun.
“Tidak, ayah! Bagaimana aku bisa membiarkan kau dan paman Ci Leng menjadi korban?”
“Diam kau! Kami sudah tua, tak lama lagi kalau tidak mampus di tangan tuan tanah, tentu akan mampus juga. Kau masih muda, kau diharap-harap oleh Ci Ying.”
“Betul sekali,” sambung Ci Leng. “Biar aku pergi ke kuil menemui Gi Hun Hosiang. Sehari ini kau harus dapat bersembunyi Wang Sin, dan malam nanti kau pergilah ke kuil Gi Hun Hosiang. Dia pasti ada jalan untuk menolongmu. Kalau kau pergi sekarang, terlambat. Semua jalan keluar melalui air tentu sudah terjaga. Aku pergi dulu.” Setelah berkata demikian, dengan terburu-buru Ci Leng meninggalkan ayah dan anak itu. Tak lama kemudian dari bawah bukit terdengar teriakan orang-orang. Dari jauh nampak serombongan tukang pukul antek-antek tuan tanah yang mencari-cari Ci Ying. “Tangkap Wang Sin! Tentu dia tahu di mana adanya Ci Ying!” terdengar teriakan-teriakan mereka.
“Wang Sin, kau harus bersembunyi. Lekas!” kata Wang Tun.
Memang Wang Sin sudah bersiap sedia. Ia telah mempersiapkan sebuah jerami panjang dan dengan benda itu di tangan kiri dan pedang pemberian ayahnya di tangan kanan, ia lalu berlari ke jurusan lain, menuju ke sungai. Ayahnya maklum apa yang akan diperbuat anaknya karena memang ia sudah memberi nasehat anaknya, yaitu kalau tiba masanya anak itu hendak menyembunyikan diri, tempat yang paling aman adalah di bawah permukaan air sungai dan jerami itu dapat dipasang di mulut untuk menyedot hawa dari permukaan air.
Belum lama Wang Sin melenyapkan diri, berlarilah dua belas orang antek tuan tanah mendaki bukit itu. Melihat Wang Tun seorang diri di situ dan domba-domba yang biasa digiring oleh Wang Sin berkeliaran di situ pula, mata para tukang pukul itu liar mencari-cari Wang Sin. Namun tidak terlihat bayangan orang muda itu.
“Pandai besi Wang Tun, kenapa kau di sini? Mana Wang Sin anakmu?” tanya pemimpin rombongan tukang pukul.
“Aku sendiripun sedang mencari anak itu.” Jawab Wang Tun yang terkenal pendiam di antara tukang-tukang pukul. Seperti juga terhadap Wang Sin, terhadap kakek pandai besi ini, para begundal tuan tanah itu tidak begitu berani bersikap kasar dan sewenang-wenang seperti terhadap budak-budak lain.
Hal ini karena selain Wang Tun merupakan pandai besi satu-satunya yang tangannya amat dibutuhkan tuan besar, juga kakek ini sikapnya keras dan suka melawan. Akan tetapi pada waktu itu, para tukang pukul ini sudah mendapat kekuasaan penuh oleh tuan muda untuk mencari Ci Ying sampai dapat dan kalau perlu orang-orang seperti Wang Tun, Wang Sin, dan Ci Leng boleh disiksa untuk memaksa mereka mengaku di mana adanya gadis itu.
“Pandai besi tua bangka, jangan pura-pura. Kalau tidak ada hubungan dengan hilangnya Ci Ying, masa sepagi ini kau sudah di sini? Hayo katakan di mana adanya Wang Sin yang menyembunyikan Ci Ying? Mengakulah sebelum kami hilang kesabaran!”
“Kalian punya mata, carilah sendiri dan jangan ganggu aku!”
“Tangkap saja dan siksa, tentu mengaku si tua bangka ini,” kata seorang tukang pukul sambil mengamang-amangkan tombaknya.
“Ketemu si Wang Sin tentu ketemu pula Ci Ying, tentu si tua bangka ini yang menyembunyikan.”
“Tangkap ” Mendengar suara-suara ini dan melihat sikap mereka mengancam, Wang Tun tersenyum mengejek, matanya bersinar-sinar. Ia mengedikkan kepala dan mengangkat dada, kakinya bergerak sehingga rantai yang mengikat kedua kakinya mengeluarkan bunyi berdencingan. “Kalau aku tidak sudi memberitahu, kalian mau apa?”